Jam berdenting menandakan pukul dua belas malam. Saat itu, aku terjaga dari tidur karena mendengar suaranya.
Langkah kaki gontai menuju ke arah pintu ruang tamu setelah mendengar beberapa kali ketukan.
Tok tok tok
Pintu di ketuk berulang, menandakan jika ada seseorang yang datang bertamu. Tapi, kenapa harus selarut ini?
Masih dengan mata yang sedikit rapat, ku buka pintu dengan cara menariknya. Ku lihat, sesosok wanita tua dengan jubah hitam, berdiri di hadapanku dengan sebuah tongkat penopang di tangan kanannya.
Suara serak dan lirih itu berkata kepadaku. "Tuan, bisakah saya meminta sedikit makanan!" Pintanya dengan menengadahkan tangan kurusnya.
Aku menatapnya dengan mengerutkan kening. "Malam-malam begini nenek datang kemari hanya untuk meminta makan?" Tanyaku yang langsung di angguki-nya pelan. "Nek, aku hanya seorang diri di rumah. Aku tak pernah makan di rumah karena aku tak pernah masak. Jadi, nenek tidak bisa meminta makanan dariku karena di sini tak ada makanan!" Ucapku tegas.
Nenek menatap di balik kerudung jubah hitamnya. Seringai menakutkan dapat terlihat saat itu, walaupun tertutupi kerudung jubahnya yang panjang.
"Jadi, kau tak punya makanan tuan?" Aku mengangguk walaupun sedikit ragu. "Baiklah. Mulai hari ini dan selamanya, kau tak akan pernah punya makanan yang cukup untuk orang lain, bahkan dirimu sendiri. Walaupun kau bekerja sangat keras, tapi uang tidak akan pernah mencukupi semua kebutuhan hidupmu!"
Aku tersentak mendengar perkataan nenek tua tersebut. Bukan ku tak mau memberinya, tapi memang di rumah tak ada makanan yang tersisa. Aku seorang bujang tua yang belum punya pasangan. Hanya untuk memasak saja, rasanya aku sangat malas. Di tambah pekerjaan yang menumpuk di kantor, membuatku tak sempat mengerjakan pekerjaan rumah.
"Apa maksud perkataan nenek?" Suaraku sedikit keras karena jujur aku tak terima.
Lalu, nenek itu berkata lagi. "Aku mengutuk mu karena kau sangat pelit dalam berbagi." Ucapnya membuatku semakin geram. "Kau akan terbebas dari kutukan, jika kau menikah dengan seorang gadis yang berhati mulia. Wanita yang bisa menerimamu apa adanya." Lanjutnya kemudian.
Aku yang buta karena emosi, sontak meniarik tangannya dengan keras. "Nenek. Jangan asal mengutuk, ya. Nenek tidak tahu bahwa sebenarnya aku memang tidak punya makanan di rumah. Jadi, nenek tidak bisa menghakimiku seperti ini." Ucapku dengan nada tinggi.
"Kau masih punya makanan di meja dalam kotak, yang bisa kau berikan kepadaku seorang fakir. Tapi, kau tidak melakukannya karena kau sayang kan jika memberikannya pada orang lain." Cibirnya kemudian.
Sial, kenapa dia tahu jika aku punya makanan di meja dalam sebuah kotak. Bodohnya, aku yang lupa kalau masih ada makanan. Tapi sayang jika harus di berikan pada nenek tua itu. Makanan itu bisa untuk sarapan besok sebelum berangkat ke kantor.
"Tidak, nek. Aku sungguh lupa kalau ada makanan di meja. Jika nenek mau, aku akan membaginya sedikit saja." Ujarku menawarkan dengan ragu.
Nenek tua mendelik sebal. Dia berkata sebelum akhirnya menghilang entah kemana. "Nantikan hari dimana kau tak bisa mendapat apapun di dunia ini, walaupun kau telah berusaha dengan sekuat tenaga." Ucap nenek tua dan menghilang saat itu juga.
Aku terkejut dengan hilangnya nenek yang tiba-tiba itu. Aku mengucek mataku takutnya itu hanya mimpi, namun itu nyata. Ku cari di teras rumah takutnya dia hanya bersembunyi, tapi, nenek itu benar-benar lenyap tak meninggalkan jejak apapun di tempatnya berdiri tadi. Hanya kata-kata kutukan yang tadi aku dengar.
Lekas ku tutup dan ku kunci pintu rumahku. Langkah kaki mengayun ke kamar dan ku baringkan tubuh jangkungku di ranjang. Mencoba menutup mata ini, namun rasanya sulit untuk tidur kembali.
Kata-kata nenek tadi terngiang di telinga. Tapi, aku tak percaya akan takhayul. Jadi, perkataan itu segera ku tepis dari pikiranku.
Besoknya, aku terbangun di pagi hari. Seperti biasa, aku berangkat ke kantor setelah membersihkan diri dan sarapan pagi. Awalnya, aku merasa ada hal aneh dalam tubuhku. Ya, perasaan minder kala bertemu dengan siapapun. Padahal, aku terkenal sebagai orang yang paling percaya diri dan rajin di segala hal. Namun hari ini, keberanian dan keyakinanku hilang begitu saja.
Tiga bulan kemudian, aku tiba-tiba di pecat tanpa alasan. Dengar dari gosip di kantor, kinerjaku tak seperti dulu. Katanya, aku sekarang banyak melakukan kesalahan dan sering mengeluh sakit. Padahal, aku sudah mencurahkan seluruh pikiran dan tenagaku untuk pekerjaanku ini, walaupun memang tak ku pungkiri jika aku melakukan kesalahan. Bos sendiri yang memecatku dan memberikan upah PHK sesuai ketentuan perusahaan. Karena aku adalah karyawan lama, uang PHK pun cukup banyak.
Langkah kaki terasa berat saat menuju pulang ke rumah. Aku bingung harus berbuat apa jika tidak bekerja. Jujur saja, di usiaku yang sudah hampir berkepala empat ini sangat sulit untuk kembali mendapat pekerjaan. Apalagi, seenak dan senyaman di kantor lamaku.
Satu bulan telah berlalu, aku masih belum mendapat pekerjaan kembali. Uang PHK pun sudah hampir menipis karena aku boros menggunakannya. Aku terbiasa hidup enak karena merasa bisa mendapatkan uang tiap bulan. Maka dari itu, aku tak pernah berpikir untuk berhemat.
Semakin lama, pikiranku tak karuan. Sudah berbulan-bulan, aku menganggur dan hanya berdiam diri di rumah. Wajah serta tubuhku yang dulu terlihat gagah memakai pakaian formal, kini terlihat lusuh hanya mengenakan kaos oblong.
Listrik di rumah di putus karena aku tak bisa membayar tagihannya. Jangankan untuk membayar tagihan listrik, untuk makan saja aku kesulitan. Terkadang, aku mencuri singkong di kebun tetangga saat malam hari hanya sekedar untuk mengganjal perut saat tak menemukan makanan.
Hidup terlunta-lunta seperti ini, sangat menyedihkan bagiku yang terbiasa serba ada. Walaupun aku hidup sendiri, tapi tetap saja ini sangat menyiksa diri. Apalagi jika seperti tetanggaku yang bernama Burhan. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki istri dan dua orang anak. Walaupun pekerjaannya sebagai buruh bangunan, tapi ku lihat hidupnya harmonis. Istri dan anaknya bisa tercukupi kebutuhannya, bahkan dia punya kambing sebagai tabungan dari hasil kerjanya.
Sedangkan diriku. Apa yang menjadi tabungan di hari tua? Saat aku bekerja di kantor, gajiku lumayan besar. Tapi aku tak punya tabungan apapun. Alhasil, sekaranglah deritanya aku rasakan. Aku tak punya apapun hanya untuk membiayai perutku saja. Sedangkan mereka mampu mencukupi keluarga dengan gaji yang tidak seberapa.
Entah mengapa, aku jadi teringat perkataan nenek tua malam itu. Dia mengutukku dengan mengatakan bahwa aku akan menderita walaupun aku bekerja sekuat tenaga. Benar, ternyata benar perkataan nenek itu. Sekarang, aku hidup terlunta-lunta walau hanya untuk sekedar makan saja.
Aku menyesal waktu itu tak memberikan makanan itu kepada si nenek. Jika aku memberikannya dulu, mungkin hidupku tak kan seperti ini. Miskin segala-galanya.
Aku terpuruk ke dalam lembah hitam. Pikiranku melayang entah kemana. Otakku tak merespon karena kelebihan beban pikiran karena terlalu stres. Terkadang aku tertawa, terkadang aku menangis. Sehingga, aku di jauhi oleh para tetangga.
Setahun berlalu, aku semakin hilang kesadaran. Aku tak bisa berpikir layaknya orang normal. Sehingga, semua orang menyebutku dengan panggilan Udin gelo.
Aku sering marah jika ada orang yang memperhatikanku dan mengejekku. Sering aku berbuat kasar kepada warga, sehingga aku di masukan ke rumah sakit jiwa karena sering melakukan kekerasan terhadap mereka.
Bertahun-tahun aku di sana bersama semua orang yang menderita penyakit sepertiku, yaitu stres. Mereka berteriak, tertawa, menangis, bahkan melompat-lompat jika sedang memikirkan hal yang menyenangkan. Begitu juga denganku. Aku terbiasa menghitung uang dan bekerja di drpan komputer, maka dari itu tanganku terlihat seperti sedang mengetik di keyboard sebuah komputer yang padahal hanya batu bata. Ku hitung lembaran dedaunan layaknya uang di berangkas.
Ah, hidupku menjadi normal saat itu karena tak memikirkan kesulitan apapun. Tapi, sebenarnya itu adalah kehidupan terburuk selama hidupku. Menjadi orang gila bukan keinginanku, tapi karena beban pikiran yang menumpuk sampai membuatnya hilang kesadaran.
Di sana, aku bertemu wanita cantik yang selalu merawat orang-orang sepertiku. Dia terlihat sabar saat menghadapi kami. Anehnya, semua orang gila di sini menurut saat dia berkata.
Anisa, nama wanita cantik itu. Paras cantik dengan tubuh di tutupi pakaian longgar, serta hijabnya itu mampu meluluhkan hatiku. Ingatanku seakan terpancing dan berangsur kembali sedikit demi sedikit. Melihat kemajuan dalam diriku, Anisa pun semangat untuk membantuku sembuh dari keterpurukan ini.
Setahun berlalu, akupun di nyatakan sembuh dan kembali pulang ke rumah. Tapi aku bingung, jika harus pulang ke rumah. Tetanggaku semua pasti membenci dan menjauhiku. Akupun memutuskan untuk bekerja membantu perawat disini untuk menyembuhkan mereka yang sepertiku dulu.
Pimpinan rumah sakit mengizinkanku tinggal dan membantu mereka dalam merawat orang gila. Hatiku senang karena selain bisa menggantungkan hidupku di sini, akupun bisa berdekatan dengan dek Anisa.
Lambat laun hubungan kami semakin dekat dan terus ada kemajuan. Tadinya aku ragu untuk menyatakan cinta, namun ku dengar teman perawat di sana juga mencintai dek Anisa. Keberanianku muncul karena takut akan kehilangannya.
Ku utarakan perasaanku padanya siang itu saat kami berjaga di pos penjaga. Untuk urusan di tolak atau tidak, itu belakangan. Yang penting aku mengatakannya, pikirku.
"Dek, abang suka sama adek. Melihat kelembutan hati adek, abang yakin adek adalah wanita yang tepat buat abang. Jadi, mau kah adek menerima cinta abang?"
Terlihat dia syok saat aku mengungkapkan isi hatiku. Dia hanya diam mematung tanpa berniat mengatakan sesuatu.
Memang, jika dia menolak juga wajar. Karena aku hanya seorang pria miskin yang tak punya apa-apa. Untuk hidup saja aku menggantungkan diri dengan cara mengabdi di tempat ini.
Namun di luar dugaan, ternyata dia malah merespon ucapanku tadi. Dia mengangguk sambil berkata, "adek mau jadi istri abang. Asalkan abang berubah menjadi orang yang lebih baik dengan hati yang tulus."
Perkataannya sukses membuatku tertohok. Aku memang orang yang perhitungan dulu. Tapi sekarang, aku akan berubah demi mendapatkan hidup yang bahagia dan harmonis.
"Bisakah adek mengajari abang ketulusan hati?"
Dia tersenyum dan mengangguk pasti. "Mari kita sama-sama berpegangan tangan dan saling menuntun ke jalan yang benar." Ucapannya membuat hatiku tentram.
Tak lama kemudian, kami pun menikah dengan pesta sederhana. Hanya ijab kabul di drpan penghulu dengan di saksikan para pekerja rumah sakit jiwa.
Setelah menikah, Anisa ku bawa pulang ke rumah. Para tetangga tentu takut saat melihatku pulang, namun mereka juga menyindirku dan memperingatkan Anisa bahwa aku ini orang gila yang suka ngamuk tiba-tiba.
Anisa tersenyum mendengar perkataan para tetangga. Dia menjelaskan apa yang harus di ucapkan seorang muslim kepada sesama.
"Jangan lah kalian menghakimi orang yang telah hilang kesadarannya di masa lalu. Mungkin akan lebih baik jika kita mengajaknya dan membimbing mereka kembali ke jalan yang benar. Allah Swt tak membeda-bedakan umatnya yang ingin bertobat. Yang membunuh saja akan di ampuni jika dia benar-benar bertobat dan memohon pengampunan dosa. Apalagi orang gila yang kehilangan kesadarannya!"
Ucapannya selalu sukses membuat orang terpaku tanpa bisa berkata apapun. Mereka mengangguk dan tak mencemoohku lagi. Kemudian, Anisa mengatakan kepada mereka bahwa dia adalah istriku.
Terlihat raut wajah berbeda dari para tetangga. Ada yang senang karena aku pasti berubah menjadi lebih baik, ada juga yang tak suka karena aku mendapatkan wanita yang cantik dan baik hati seperti Anisa.
Kehidupanku berangsur membaik dengan di dampingi Anisa sebagai seorang istri. Aku membuka usaha kuliner dari uang tabungan istriku dan kini berkembang menjadi besar. Berkat dia lah hidupku berubah menjadi lebih baik. Aku sungguh bersyukur mendapatkannya. Di tambah lagi, kami di karuniai anak kembar buah dari pernikahan kami.
Sungguh kenikmatan hidup yang tiada tara. Rasa syukur selalu ku panjatkan kepada sang ilahi. Karena berkah dari yang maha kuasa, aku mendapat hidup yang layak sebagaimana mereka.
Kini putra-putri kami tumbuh besar. Mereka sudah memiliki kekasih di usia remaja. Tapi, aku tak bisa membimbing mereka selayaknya seorang ayah krpada anaknya. Karena di usiaku yang ke enam puluh, aku harus meninggalkan mereka untuk selamanya bertemu dengan sang khalik.
Ku tinggalkan mereka dengan duka yang mendalam. Tapi, ku titipkan pesan agar mereka selalu patuh terhadap perkataan ibunya. Aku tersenyum saat akan pergi untuk selamanya. Anisa sudah merelakan kepergianku, sehingga aku tak di persulit untuk menemui ajalku.
Tubuhku di semayamkan dekat makam kedua orang tuaku atas permintaan terakhirku. Kini, tak ada lagi Udin gelo yang selalu di ejek para tetangga karena stres dengan kehidupannya. Sekarang, hanya sebuah nama yang tertulis di batu nisan yang bertuliskan WAHYUDIN BINTI HAJI MAHMUDIN. Lahir tanggal 23 Agustus 1961, wafat tanggal 30 agustus 2021.
~~~
Untuk kalian, jangan pernah melakukan kesalahan sepertiku. Jika kalian punya harta benda lebih, ingat untuk berbagi. Karena, nasib orang tak tahu kedepannya. Disaat kita kaya sekarang, belum tentu hari esok masih sama. Maka dari itu, jadilah orang yang suka berbagi terhadap sesama. Jangan jadi orang yang kikir dan tamak.
Terima kasih untuk semua yang mendukungku selama hidup di dunia, dan do'akan aku agar selamat di akhirat.
Salam sejahtera dari author yang termanis.
~Kucing manis~