Kiranya perlu diketahui apa tujuan hidup kita. Proses yang perlu dilalui untuk menjadi apa. Sesuatu yang tulus keluar dari keinginan diri sendiri. Sedari kecil mungkin banyak sekali hal yang kita inginkan hingga beranjak dewasa, keinginan itu hanya sampai pada semacam kesalahan dalam keteguhan hati karena tidak adanya persiapan mengenai sikap dalam ucapan yang keluar. Dewasa ini aku percaya bahwa suatu keinginan itu bukan hanya sekedar impian tapi juga sebuah jalan hidup, dimana perjalanan hidup kita ditentukan oleh cara berpikir kita disamping takdir Tuhan yang mengatur. Aku berpikir untuk menjadi penulis sejak saat itu. Pram, salah satu penulis favoritku telah banyak memberiku inspirasi serta motivasi untuk giat dalam menulis. Banyak pula yang telah kulakukan dalam setiap kegiatan literasi bersama kawan-kawan aksi demi terbentuknya generasi yang gemar membaca dan menulis. Oh ya, namaku Bintang. Ibuku yang memberi nama itu. Dia bilang, Bintang itu nama yang bersinar. Aku berharap memang begitu. Senang sekali jika aku bisa menjadi cahaya bagi mereka yang sedang dihinggapi kegelapan. Buku-bukuku sudah banyak yang terbit. Jika di ingat-ingat untuk aku bisa sampai ketiktik ini membutuhkan proses perjalanan yang sangat panjang. Berawal dari menulis puisi untuk teman hinggaku beranikan membuat sebuah novel yang kukira tidak akan banyak yang menyukai. Latar belakang pendidikanku bukan sastra. Aku belajar sendiri bermodalkan keinginan.
Pernah kutemukan satu tulisan di toko buku favoritku yang berkata bahwa "Menulislah untuk keabadian" yang artinya dengan menulis, kita sedang menuju keabadian. Kita akan hidup dipikiran orang melalui karya yang kita buat. Namun, tak pernah aku berpikir untuk dikenang melalui sastra. Aku hanya berpikir, ini aku, ini yang aku suka dan ini yang aku pilih untuk hidupku. Selebihnya itu hanyalah bonus ataupun sebab akibat dari apa yang telah kita perbuat. Percayalah, dengan sastra kita dapat menyelamatkan hidup seseorang. Meskipun hanya membaca untuk sekedar pengalaman, namun seiring bertambahnya kualitas bacaan itu semakin banyak perbendaharaan kata ataupun pengetahuan yang kita dapat, artinya ketika seseorang sudah bisa memaknai apa pentingnya membaca, sudah pasti kualitas hidupnya semakin membaik karena cara berpikirnya yang semakin maju. Ini yang perlu diketahui oleh orang-orang selayaknya manusia yang berpikir.
Besok aku dan teman-teman akan kembali berkumpul. Kami akan mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk kegiatan nanti. Jadi—untuk sekarang yang kuperlukan hanyalah mandi hahaha... Entah sudah berapa lama aku berdiam diri di depan layar komputerku. Ibu mungkin sudah menyiapkan makan malam dibawah. Sebelum makanan nya menjadi dingin, aku harus begegas untuk segera menyantapnya.
"Bii.." Panggil ibu padaku.
"Iya bu, ada apa?". Ucapku santai sembari mengelap wajahku dengan handuk.
"Kamu sudah besar. Bukan lagi anak laki-laki kecil ibu. Kamu sudah yakin dengan masa depan kamu?"
"Sangat yakin bu. Aku pasti bertanggung jawab atas pilihanku ini".
"Sudahlah kalau begitu. Ibu sekedar memastikan bahwa kamu tidak ragu".
Lalu kusantap masakan ibu yang kehangatan nya belum menghilang. Astaga. Aku meneteskan air mata. Masakan ibu selalu terasa enak dimulutku. Terkadang dia selalu merasa khawatir ketika aku memutuskan untuk menjadi penulis. Ya, wajar saja menurutku. Karena penghasilan dari tulisanku masih belum teratur. Yang kulakukan hanya sekedar meyakinkan bahwa ini memang jalan hidupku. Dari awal kuputuskan untuk menulis, tulisanku banyak ditolak oleh penerbit. Kualitas diriku saat itu masih belum sampai pada level standar. Aku masih belum mampu membuktikan dan itu yang menjadikan ibuku sangat khawatir akan masa depanku. Tapi aku tidak pernah patah semangat dengan terus kucoba sampai aku bertemu dengan waktuku sendiri. Waktuku untuk bersinar.
"Kring.. kringg.." Bunyi dering ponselku.
Alea, tumben meneleponku. "Hallo, al. Ada apa?"
"Bii.. bisa tolong bantu aku?".
"Bantu apa memangnya?".
"Aku butuh referensi untuk menyelesaikan tugas kuliahku". Dengan nada bicaranya yang lusuh. Tanpa berpikir panjang kuterima tawarannya.
"Besok tunggu aku di toko buku ya, al".
"Aaaaa.. terima kasih biii..."
Aneh, rasanya senang sekali aku membantunya. Teman lama. Sejak kecil aku memang sudah mengenalnya. Hanya saja, sejak dia pindah kota, aku jadi jarang bertemu dengan nya. "Baiklah, hari ini sudah cukup. Aku harus istirahat". Menutup mulutku karena sudah menguap menandakan jam tidurku sudah lewat.
Keesokan harinya.
"Biii.. bangunnn Biiii.. sudah siang". Teriak ibu juga mengetuk pintu kamarku.
Sampai kubuka mataku, aku sedikit pusing. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Kulihat ponselku penuh pesan dari kawan-kawanku. "Jadi hari ini aku—oh, astaga". Bodoh, sekarang jadwalku berkumpul dengan mereka. Kenapa aku membuat janji dengan Alea hari ini juga. "Mampus akuuu..." Ucapku kesal dalam hati. "Apa harus aku beri kabar Alea untuk membatalkannya? Atau sebaiknya kuajak saja dia ketempatku bersama kawan-kawan? Ah.. aku bingung".
Disaat aku berpikir untuk memutuskan... "Biii.. sarapan nya sudah ibu simpan di dapur. Ibu mau ke pasar beli bahan-bahan buat besok masak". Teriak ibu memberi tahu.
"Iya bu. Nanti aku makan. Hati-hati dijalan".
Dengan ponsel ditanganku dan kukirim pesan, kuputuskan untuk membawa Alea bersamaku ke tempat kami berkumpul. Dengan tergesa-gesa membersihkan diri juga sarapan, motorku sudah siap dinyalakan hingga aku melaju kencang menjemput Alea dirumah nya.
Setiba disana.. "Tunggu. Aku merasa gugup". Dengan sisir ditangan, kurapikan rambutku melalui kaca spion motor.
"Hallo Biii... Apa kabar?". Nada bicaranya yang lembut dengan sedikit lesung pipi dan senyumnya yang menyeripit membuat mata nya tertutup sedikit.
"Oh, ha—loooo ju—ga Al". Balasku terbata-bata.
"Maaf ya hari ini aku lupa ada jadwal dengan kawanku. Jadi, kuubah saja rencananya sekarang". Lanjut ucapku dengan tertunduk malu.
"Tidak apa Bii.. ayok, kita kemana sekarang?".
"Kita ke depan jalan sebelum persimpangan. Disitu ada sekretariat tempat kami berkumpul".
"Baiklah. Let's gooo".
Selama diperjalanan kami saling bertukar cerita tentang hal-hal yang sedang ingin kita capai. Memang, sejak kecil dia gemar sekali melukis. Tidak heran jika sekarang dia ingin menjadi seorang artistic profesional.
Tiba-tiba tangan nya memeluk badanku. "Bii.. kamu ingat waktu kamu beri aku buku Pram kesukaan kamu?".
"Tentu saja aku ingat".
"Kamu beri buku itu di hari ulang tahunku".
"Memangnya ada apa, Al?".
"Ah, bukan apa-apa. Aku cuma mau bilang kalau bulan depan aku mau ikut papaku ke Den Haag".
"Hahhh.. yang benar, Al?".
"Iya, Bii.. mungkin buku itu satu-satunya benda yang bisa membuatku merasa terhubung denganmu selama disana". Ucapnya dengan tangan yang menggenggam erat jaketku.
Dan seketika dalam lamunanku— "Yang benar saja. Den Haag? Jauh sekali". Termenung.
"Maaf yaa.. aku baru bilang sekarang. Maaf juga sebenarnya aku tidak punya tugas kuliah apapun hari ini. Aku cuma mau ketemu kamu sebelum berangkat kesana".
"Aku turut berbahagia untuk kamu, Al. Apapun itu, demi masa depan kamu. Terlebih kamu masih bisa kabari aku lewat email".
Dan setelah percakapan itu, suasana menjadi hening. Entah aku merasa benar-benar Bahagia atau tidak, hanya saja separuh nuraniku menolak kepergiannya yang sangat jauh itu.
“Kita sudah sampai”. Ucapku memecah keheningan.
“Bii.. tunggu. Aku mau bicara”.
“Ada apa?”
“Kita sering bicara tentang cita-cita masa depan kita sejak dari dulu. Segala bentuk kegiatan literasi yang kamu lakukan dan buku-buku yang kamu terbitkan semoga benar-benar membawamu pada hidup yang lebih baik. Lebih bermakna tentunya”.
“Kamupun, Al. Kekagumanmu pada Picasso dan Van Gogh semoga memberimu motivasi untuk tetap konsisten di bidang seni”.
“Janji ya Bii.. kita bertemu kembali setelah kita mendapatkan apa yang sedang kita perjuangkan kan hari ini”.
“Tentu, Al. Tentu”.
Sebuah senyum melebar di wajahnya. Kami berjanji, saling menautkan jari. Hari-hari yang panjang menanti kami di depan sana. Setelah ini kami harus berpamitan. Selamat tinggal bukanlah ucapan perpisahan, namun teriakkan penghubung kita dengan mimpi-mimpi kita. Selama kita mempunyai kemauan untuk berusaha maka tidak ada yang mustahil.