Hujan mengartikan banyak hal, berarti juga sebuah kerinduan. Sebuah momen kala air menetes deras dari langit kelabu, apapun itu semakin hari membuat dadaku semakin terasa sesak. Kau menciptakan lubang yang sangat dalam. Perlu waktu entah berapa lama untuk bisa sembuh. Kedatanganmu seperti enigma lalu hilang tanpa pernah bisa kuselesaikan. Andai saja dahulu aku tak pernah bertemu denganmu di toko buku itu, memberimu sepucuk surat, tersenyum melambaikan tangan hingga akhirnya memutuskan jatuh cinta pada kilauan matamu. Kamu wanita tercantik yang pernah kulihat selain ibuku. Setidaknya biarkan aku mengingatmu sejenak saat ini. kau ingat? Dahulu, betapa paniknya dirimu saat tidak kukirimkan pesan untukmu. Berjarak, berkilometer jauh nya sempat membuat pikiranmu kalut. Tapi, aku menyukai itu. Sesuatu hal yang membuatku merasa hangat hanya dengan mengingat namamu. Oh iya. Aku hampir lupa, hari ini adalah hari terakhir mengumpulkan tugas. Astaga, lagi-lagi pikiranku teralihkan. Aku harus cepat bergegas sebelum terlambat.
"Buuu.. aku pergi dulu yaaa". Pamitku pada ibu.
"Iya, hati-hati. Jangan lupa belikan ibu apel sepulang nanti".
"Siap. Apel kesukaan ibu pasti sampai ke meja sepulangku nanti".
Ibu. Satu-satunya orang yang selalu ada buatku. Semenjak aku berpisah denganmu, dia tahu betul bagaimana keadaanku. Seperti terluka ketika masih kecil, dia selalu menjadi penawar untukku.
Ini dia, akhirnya sampai ke kampus tepat waktu. Cepat kuhubungi dosenku atau aku terlambat dan kena marah. Wajar, dosenku ini sangat disiplin soal waktu. Tidak sepertiku yang selalu menunda-nunda bahkan disela-sela revisiku masih saja kusempatkan memikirkan hal lain. Tapi akhir-akhir ini yang ada dipikiranku hanya masa lalu yang masih terasa sulit untuk menjadi lalu. Bohong jika kukatakan bahwa aku baik-baik saja sampai saat ini. Aku butuh sebuah pelarian yang bukan hanya sekedar membuat kesibukan untuk melupakanmu. Saat ini hanya menulis yang benar-benar membuatku tenang. Meluapkan seluruh pikiranku pada secarik kertas kosong terasa begitu melegakan daripada membagikannya bersama orang lain yang mungkin mereka tidak bisa menjaga privasiku.
Ah, itu dia dosenku. Setelah cukup lama menunggu akhirnya.. "kenapa kamu selalu terlambat mengumpulkan tugas". Dia memarahiku.
"Eh, anu pak, aku agak kesulitan mencari referensi yang bagus. Terlebih akhir-akhir ini pikiranku sedang terganggu".
"Apa kamu serius mengikuti mata kuliah ini? Sepertinya kamu hanya membuang-buang waktu saja".
"Enggak pak bukan begitu.. aku cuma..."
"Sudah terlalu banyak alasan yang kamu buat. Apasih yang mengganggu pikiran kamu?". Tanya nya dengan memotong ucapkanku.
"Maaf pak, aku cuma sedikit terganggu dengan masalah pribadiku".
"Sedikit katamu? Jelas-jelas kamu itu sedang kalut. Begini saja, apa yang sedang terjadi dengan kamu ya biarkan saja terjadi dengan apa adanya secara natural karena begitulah hidup. Tidak perlu kamu tanggapi secara berlebihan meskipun kamu merasa sakit. Satu-satunya cara untuk sembuh ya kamu harus hadapi segala bentuk ketakutan, penyesalan, rasa sakit, apapun itu yang sedang hinggap di kepalamu".
"Ok, pak. Aku paham". Jawabku sambil tertunduk malu.
"Kita harus belajar menjadi dewasa dengan menerima kenyataan. Selama kamu masih menginjakan kaki di dunia, tidak ada rasa sakit yang abadi begitu pula dengan kebahagiaan".
"Iya pak, maaf. Aku janji ini terakhir kalinya aku menunda-nunda tugas".
Dia kemudian berdiri, membawa tugas kuliahku dan segera bergegas pergi.
Ini tahun yang berat. Serius. Jika aku tidak bisa memperbaiki diriku, ini bisa berakhir buruk untuk kedepan nya. Aku butuh ruang, butuh waktu. Tak apa jika prosesnya memakan waktu. Tapi ada benarnya apa yang dikatakan oleh dosenku tadi.
Tuhan, untuk sejenak dalam jangka waktu kebelakang ketika aku dan dia memutuskan untuk bersama, pikirku ini memang sudah menjadi bagian dalam jalan hidupku. Namun nyatanya tidak. Dia hanya singgah sejenak untuk kemudian bertemu dengan orang lain. Seharusnya ketika aku mulai menyadari bahwa aku jatuh cinta, akupun harusnya menyadari bahwa ada resiko yang harus aku terima. Patah hati, itu adalah bagian dari kisah terburuk dalam jatuh cinta. Pada akhirnya, semua hal harus kulepaskan begitu saja secara sadar. Selayaknya manusia, akupun tidak berdaya. Aku memilih menjadi rapuh dihadapanmu dan kamu memilih pamit pada waktu-waktu yang pernah kita habiskan bersama. Ah—sudahlah. Hari semakin larut. Aku harus bergegas untuk membeli apel kesukaan ibu. Sudah cukup aku mengecewakan dosenku tapi tidak untuk ibuku.
Se-tibanya di toko buah kuambil beberapa kantong buah apel agar persedian dirumah cukup banyak. Ibu sangat suka apel tapi aku tidak begitu suka terhadap apel. Entahlah. Jika saja apel ini adalah manifestasi dari masa laluku, maka semudah ini masa lalu kugenggam hahaha... Apa yang kupikirkan.
"Ssttt.. hey.."
Tengokku ke arah kiri. "Tidak ada siapapun". Dalam hati.
Tiba-tiba saja ada tangan yang merangkulku dari belakang. "Heyy.. apa kabar? Lama tak jumpa". Senyum manis melebar di pipinya. Aku berusaha mengingat karena ingatanku payah dalam menghafal nama.
"Aku dari tadi lihat kamu di seberang sana".
"Oh, begitu. Sedang apa disini?". Tanyaku sembari berpura-pura bahwa aku mengingatnya.
"Aku kebetulan lewat. Kebetulan juga aku lihat kamu disini".
"Hmmm.. kebetulan ya".
"Kenapa?".
"Aku agak ragu dengan yang namanya kebetulan karena bagiku semuanya sudah tersusun rapi dalam kehidupan kita. Sebuah pola yang kita pikir tidak beraturan namun ternyata semua sudah teratur sedemikian rupa, jadi—ah tunggu.. aku bilang apa tadi.."
"Sebuah keteraturan bla bla bla dan sebagainya". Balasnya dengan nada mengejek.
"Bukan itu maksudku... ah lupakan".
"Jadi, kita hari ini pulang bareng?".
"Ayok".
Kita berjalan dari toko buah sampai ke persimpangan jalan. Banyak hal yang kita bagikan selama perjalanan pulang. Dia cukup tangguh menurutku. Kisahnya lebih berat dari yang sedang kurasakan hari ini. Tapi dia cukup banyak energi untuk membuat dirinya bahagia. Syukurlah, dia menemukan cara untuk tetap membuat dirinya kembali seperti sediakala.
"Ibuu.. aku pulang. Ini apelnya kusimpan di meja yaa".
"Iya. Cepet mandi sana, habis itu langsung makan. Ibu sudah siapkan makan malam di dapur".
"Iya bu.. aku mau ke kamar. Masih ada hal yang harus aku kerjakan".
Aku melompat ke arah kasur. Kurebahkan tubuhku diatasnya dan membalikkan wajahku ke arah langit. Kupejamkan mata, aku teringat apa yang kukatakan tadi sebelum pulang. Tentang sebuah kebetulan. Kini hal itu berbenturan di kepalaku. Selama ini aku punya cara untuk melupakan masa laluku. Tidak, maksudku lebih tepatnya menerima masa laluku. Menerima setiap luka dari masa laluku dan memaafkan diriku sendiri atas apa yang pernah kulakukan. Selama ini aku hanya menghindar dari permasalahanku. Itu yang membuatku menjadi seorang pecundang. Tidak pernah berani untuk menerima. Tidak pernah berani untuk membuka hal-hal yang seharusnya memang terjadi. Ini memang sebuah pola. Aku punya kuasa atas diriku untuk bertemu siapapun, namun aku tidak punya kuasa atas apa yang sudah ditakdirkan untukku. Dia memang sudah seharusnya bertemu denganku, hanya saja alasan dia untuk hadir di hidupku sekedar memberikan pelajaran hidup. Pelajaran yang berharga. Aku tidak membencimu sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk marah padamu. Aku terima semua luka itu. Pengharapan yang berlebihan. Aku berterima kasih untuk cerita kemarin. Aku sudah mencintai takdirku.