14 Februari
Saat ini Nadia adalah satu²nya orang yang tidak memiliki pasangan di pesta perayaan hari kasih sayang di kotanya. Ia harus menerima kenyataan bahwa pacarnya Eden tidak bisa pulang untuk merayakan valentine bersamanya tahun ini.
Eden sedang berada di luar negeri dan tidak bisa pulang ke negaranya karena adanya karantina akibat wabah virus yang menyebar di berbagai negara.
Eden harus tinggal di luar negeri untuk melanjutkan studinya. Sedangkan Nadia yang memilih untuk kuliah di dalam negeri harus rela menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya itu.
Beratnya hubungan jarak jauh beda negara membuat Nadia merasa khawatir akan diduakan oleh Eden. Eden memang bukanlah pria sempurna tanpa cacat atau kekurangan, tapi ketampanan Eden cukup untuk diidolakan oleh banyak wanita.
Nadia akan merasa gelisah jika Eden telat memberikan kabar padanya. Sama seperti saat ini. Sejak sore tadi Eden belum juga menghubunginya.
Memang sulit bagi mereka untuk bisa memberikan kabar karna perbedaan negara apalagi waktu. Tapi siang tadi melalui pesan singkat Eden berjanji akan menghubunginya sebelum pesta perayaan hari kasih sayang di mulai. Dia akan memberikan ucapan selamat valentine di waktu itu. Bahkan sekarang pesta sudah hampir berakhir.
Sudah berulang kali Nadia menghubunginya tapi tidak pernah tersambung. Perasaan Nadia mulai tidak tenang.
"Apakah Eden melupakan janjinya? atau jangan² dia sedang menghabiskan hari valentine dengan perempuan lain. Mungkinkah telah terjadi sesuatu yang buruk padanya?"
Pikiran buruk Nadia tentang Eden terus memenuhi kepalanya. Malam itu Nadia tidak bisa tidur karnanya.
Sampai keesokan harinya pun Eden belum juga menghubungi Nadia. "Apa benar Eden sedang mengalami masalah?" pikir Nadia.
Hal ini terus berlanjut hingga 3 bulan lamanya. Nadia sampai sering keluar masuk rumah sakit karna kondisi kesehatannya yang memburuk akibat jarang makan karna terus memikirkan keberadaan Eden.
Nadia sempat berpikir bahwa Eden telah melupakannya dan sudah bersama dengan perempuan lain. Tapi di sisi lain hatinya Nadia masih percaya bahwa suatu hari nanti Eden akan menghubunginya kembali.
"Mantan saja bisa minta balikan. kenapa Eden bisa sekejam itu melupakanku" pikir Nadia.
Semua teman terdekat Nadia sangat sedih melihat kondisinya itu. Tidak jarang teman²nya itu menawarkannya untuk mencari pria lain. Tapi Nadia masih terus menunggu kabar dari Eden yang tidak pasti kapan ia terima.
Nadia pernah memberanikan diri untuk menghubungi keluarga Eden tapi tidak mendapatkan hasil apapun. Keluarganya sangat sulit dihubungi. Hubungan mereka pun tidak dekat karna keluarga Eden tinggal di negara yang berbeda. Nadia juga belum pernah bertemu langsung dengan mereka.
Bahkan ini sudah memasuki bulan Juni. Beberapa hari lagi akan memasuki peringatan tanggal jadian Nadia dan Eden. Nadia bertekad bahwa jika sampai hari itu tiba Eden belum juga menghubunginya, maka dia akan benar² melupakan Eden dan menganggap bahwa seorang Eden tidak pernah ada dalam hidupnya.
Sampai pada akhirnya hari itu pun tiba. Hari ini untuk sekian kalinya Nadia kembali mencoba menghubungi Eden. Tapi lagi² hasil yang sama tetap di terima oleh Nadia. Kontak yang dia hubungi tidak pernah tersambung. Kontak itu seperti sudah tidak digunakan lagi.
Malam itu Nadia pergi ke sebuah pasar malam di kotanya. Tempat itu merupakan tempat bersejarah bagi Nadia. Itu adalah tempat dimana Eden menyatakan perasaannya pada nadia. Tepatnya pada saat mereka sedang berada pada posisi tertinggi di wahana bianglala. Malam itu Nadia menaiki bianglala tapi tidak lagi ditemani oleh Eden.
Saat turun dari wahana itu Nadia sadar bahwa pengunjung tempat itu telah berkurang. Ia sampai melihat jam di tangannya berpikir bahwa waktu sudah larut sampai banyak pengunjung yang pulang. Ternyata bukan itu penyebabnya. Melainkan semua orang telah berkumpul di depan wahana komidi putar seperti sedang menyaksikan sesuatu.
Melihat hal itu Nadia pergi untuk melihat apa yang terjadi. Sesampainya disana Nadia harus membelah kerumunan orang untuk bisa melihat sesuatu di depannya.
Saat Nadia sudah mendapatkan cela untuk melihat, tampak di depannya sebuah tulisan "Selamat Valentine..."
"Siapa yang merayakan valentine di bulan Juni? Apa dia sedang bermimpi?" Nadia mengejek sesuatu yang di lihatnya itu.
Saat ketika Nadia sudah benar² berada di barisan paling depan dan melihat jelas apa yang sedang terjadi, betapa terkejutnya dia dengan apa yang dilihatnya.
Ada namanya di bawah ucapan selamat valentine itu. Dan di tambah lagi ada Eden yang sedang memegang satu buket coklat berukuran besar. Dan masih ada lagi ratusan bungkus coklat yang tertata cantik di antara tulisan itu.
"Apa aku mimpi? Apa aku benar² melihat Eden? Aku pasti sudah gila karna terus²an memikirkannya."
Eden yang menyadari keberadaan Nadia di depannya perlahan mendekat. Dilihatnya Nadia yang sedang belamun seperti tidak percaya. Eden menyentil dahi Nadia untuk menyadarkannya. Dan tentu saja Nadia langsung bersuara karna itu.
"Eden? Ini beneran kamu?" Tanya Nadia.
"Iya ini aku. Aku disini mau ucapin Selamat Valentine ke kamu. Maaf aku terlambat ucapinnya" Ucap Eden penuh dengan ketulusan dan kerinduan yang terpancar jelas di wajahnya.
Nadia yang tidak bisa menahan haru langsung memeluk Eden erat seperti tidak ingin melepaskannya. Tangis kerinduannya pecah dalam pelukan Eden.
Dalam sedunya Nadia bertanya "Kamu kemana? Kenapa tiba² ngilang gitu aja? Aku pikir kamu udah lupain aku"
"Maaf udah buat kamu khawatir. Nanti aku ceritain semuanya ke kamu. Sekarang kamu berhenti dulu nangisnya ya. Aku gak mau liat kamu nangis lagi." Pinta Eden.
"Aku mau penjelasan dari kamu tentang hilangnya kamu beberapa bulan ini" Paksa Nadia.
Eden menjelaskan alasan kenapa ia tidak pernah menghubungi Nadia selama beberapa bulan. Tentang ia yang mengalami kecelakaan tepat sesaat sebelum ia menghubungi Nadia. Tentang dia yang kehilangan ponsel dan tas yang berisi kartu identitasnya pasca kecelakaan. Tentang ia yang koma dan harus menjalani perawatan selama beberapa bulan di rumah sakit. Butuh waktu lama bagi pihak rumah sakit untuk bisa menemukan kontak keluarga Eden dan juga karna lamanya ia sadar dari koma. Eden menjelaskan semua kejadian yang dialaminya sampai saat dia baru memiliki kesempatan setelah pengobatannya berakhir untuk bertemu dengan Nadia disini.
"maafkan aku yang gak tau kondisi kamu. yang berpikiran buruk soal kamu. dan malah berpikir untuk ngelupain kamu." Kembali memeluk Eden.
"Kamu gak perlu ngerasa bersalah soal itu hm.."
"Kamu kok tiba² bisa ada disini? terus nyiapin ini semua lagi" Tanya Nadia setelah melepaskan pelukannya.
"Tadi aku ke rumah kamu tapi kata mama kamu pergi. Aku inget ini tanggal jadian kita jadi aku pikir kamu pasti kesini. Ya udah aku kesini dan siapin ini semua berharap kamu bener² dateng." Jelas Eden.
"Tapi valentinenya kan udah lewat. harusnya kamu ganti dong tulisannya jadi happy aniv" protes Nadia.
"Kamu gak tau ya,, kalau di Brazil hari ini tanggal 12 Juni adalah perayaan hari kasih sayang. Namanya 'Dia dos Namorados' sama dengan valentine. Jadi aku gak salah dong ucapin selamat valentine ke kamu sekarang" jawan Eden.
Nadia hanya tertawa mendengar penjelasan Eden yang terdengar mengada-ada tapi masuk akal itu.
"SELAMAT VALENTINE NADIA SAYAAAAANG!!!" teriak Eden.
Malam itu adalah saat membahagiakan bagi Nadia karna ternyata pacarnya selama ini tidak pernah melupakannya. Begitu pula dengan Eden yang merasa bersyukur masih di beri kesempatan hidup dan bisa bertemu dengan pacarnya juga memberikan penjelasan tentang keadaannya yang sebenarnya.
~Valentine di Bulan Juni~
~Tamat~