"Eh, ingat kan besok hari apa?"
"Hm? Besok hari valentine kan?
" Ah iya! Aku belum siapin hadiah yang pas buat orang yang ku suka. Argh! Gimana nih??"
"Emang ada yang kau suka?"
"Ada sih... Cowok itu..."
Tiga gadis tampak sedang berbincang di dalam kelas saat jam istirahat. Mereka adalah Laura, Mirai dan Kuru.
"Kalo gitu, kita harus buat hari Valentine tahun ini menjadi Valentine paling indah dalam hidup kita! Aku sudah merencanakan nya loh~" Ujar Mirai, gadis ber rambut coklat panjang dengan poni lurus ke depan dan mengenakan bando berwarna kuning cerah.
Laura dan Kuru memandang sebuah buku yang baru saja di lemparkan Mirai ke atas meja dengan kasar.
Kasihan buku dan meja nya...
Keduanya mengerenyitkan dahi melihat buku itu. Di sana tertulis dengan tinta pink,
❤membuat hadiah sendiri
❤membeli secara online
❤minta dari tetangga.
Keduanya menatap datar, khususnya di kalimat terakhir. Sungguh, meminta dari tetangga? Apa apaan itu?
"Buat sendiri. " Jawab keduanya dengan kompak.
"Kalau gitu, gimana kalo kita susun dulu rencana dan buat tema nya?" Usul Laura, gadis ber rambut hitam panjang dengan poni miring ke samping kiri dan mengenakan jepit rambut berwarna merah ruby.
"Ide bagus! Tapi kayaknya gak aman deh kalo bicarain di sini. Ke atap aja yuk... " Sahut Kuru, gadis ber rambut pirang pendek dan mengenakan jepit rambut pita berwarna hitam.
"Okey!" Ketiga nya pun langsung berjalan menuju atap sekolah mereka.
Suasana atap yang sunyi dan menenangkan, walau sedikit panas, tapi itu tergantikan dengan sejuk karena hembusan angin yang menerpa mereka.
Ketiga gadis itu duduk di sebuah bangku yang sudah di sediakan sambil memakan bekal makan siang mereka.
"Jadi, kita mulai dari mana?" Tanya Kuru.
"Begini saja, siapa dan apa yang orang orang tersayang kalian sukai?" Tanya Laura pada kedua sahabatnya itu.
"Terlalu cepat..." Ucap Mirai sambil memasang pose berfikir.
"Kalo kita mau kerjasama, kita harus kasih tau siapa yang kita sukai biar mudah nantinya. Gimana kalo mulai dari aku dulu? "
Mirai dan Kuru langsung menatap dengan semangat.
Laura pun memulai cerita nya. " Namanya Hali, teman sekelas kita sih... Dia itu cukup dingin dan cuek, tapi sebenarnya perhatian dan lembut. Dan juga sikap tsundere nya itu. Ditambah lagi, suka dengan kucing yang membuatnya terlihat manis! Walau selalu sembunyi sembunyi waktu dekat sama kucing sih..." Jelas Laura.
"Oh cowok sedingin es itu? Cie.... Pantes aja kamu kelihatan merona waktu tuh cowok mandang ke arah mu... Malu malu kucing rupanya..." Ujar Mirai sambil tersenyum mengejek.
Oke, muka Laura benar-benar memerah sekarang. "D-diam lah! Sekarang giliran mu!"
Mirai sedikit memasang pose berfikir. "Namanya Kei, dia itu suka seni dan beruang. Orang nya cukup ramah sama orang yang dekat dengan nya. Selain itu dia juga suka seni, khusus nya bertema beruang. Kalian ingat kan yang melukis dinding saat festival Itu? Keren banget!! Itu yang membuat ku suka!" Jelas Mirai yang tak sadar sampai merona dan senyum senyum sendiri.
"Ekhem.. Bucin di kontrol." Celetuk Kuru sambil berdeham. Mirai hanya menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal.
"Kau sendiri, Kuru?"
"Arga. Orangnya hyperactive dan hobi olahraga. Tapi sebenarnya cukup ramah, baik dan perhatian. Di sisi lain juga cukup rapuh dan dingin. Tapi entahlah, aku justru suka. Ingat kan saat dia bermain basket waktu pelajaran olahraga? Ya... Bagiku dia keren."
"Oke, kalo gini artinya ketiga nya memiliki sifat yang sama, dingin. Jadi, coklat apa yang perlu kita buat?" Ujar Mirai sambil menunjuk ke arah Laura.
"Eh kok aku?"
"Kau kan yang pintar masak." Ucap Kuru yang langsung dibalas anggukan setuju oleh Mirai.
"Karena sikap yang dingin mungkin tak terlalu suka manis. Bagaimana jika kita buat bentuk hati dengan dark chocolate dan lukis tulisan dengan white chocolate yang kita beri sedikit warna agar menarik?" Usul Laura.
"Boleh juga! Kalo gitu, setelah pulang sekolah nanti kita langsung beli bahan bahan nya dan kumpul di rumah Laura." Ucap Kuru. Keduanya pun mengangguk setuju.
*****
Setelah pulang sekolah
Tiga gadis telah bersiap dengan celemek pink dan kantung kantung plastik besar penuh belanjaan yang entah apa saja isi nya. Mereka pun mulai mempersiapkan segala bahan untuk membuat coklat yang mereka bayangkan.
"Baiklah, mari kita mulai saja acara membuat coklat untuk pink valentine besok!!"
"Yosh!!"
Ujar Laura yang di sambut sahutan semangat oleh Mirai dan Kuru.
Berbagai cara meraka lakukan untuk membuat coklat dan biskuit paling sempurna untuk orang yang mereka sayang.
Dengan lihai, mereka melelehkan coklat dan mengaduk nya, memberi sedikit campuran dan hiasan.
Setelahnya membuat biskuit kecil sebagai pemanis tambahan. Walau sedikit kekacauan karena oven yang sempat meledak maupun tepung yang tumpah ke muka, tapi mereka tetap tak menyerah untuk membuatnya.
Hingga beberapa jam berlalu...
"Sudah siap!!!"
Ujar ketiga nya setelah menyelesaikan hasil karya mereka. Sekarang hanya perlu memberi kotak dan menghias nya agar menarik.
"Haduh aku jadi deg degan... Gimana ya kira kira reaksi mereka besok. Apa hadiah kita bakal di terima?" Tanya Mirai gugup.
"Positif thinking aja... Pasti kok!" Jawab Laura sambil mengacungkan jempol.
"Setidaknya kita sudah membuat ini dengan penuh kasih sayang." Lanjut Kuru.
******
Pagi berikutnya tepat pada tanggal 14 Februari, Laura, Mirai dan Kuru berkumpul di halaman sekolah sambil membawa bingkisan masing masing.
"Mereka belum datang ya?" Tanya Kuru.
"Sepertinya belum, tapi ini justru bagus kan? Jadi kita bisa jadi yang pertama memberikan nya!" Jawab Mirai.
"Ya, eh mereka sudah datang!" Ujar Laura sambil sedikit menunjuk pada tiga pemuda yang kompak datang bersamaan.
"Baiklah, langsung saja!" Ujar Laura. Keduanya pun mengangguk.
"Ini untuk mu!!" Ujar Mirai dan Kuru bersamaan sambil menyerahkan bingkisan mereka, membuat Kei dan Arga terlihat canggung.
Sementara Laura yang baru saja hendak menyusul kedua teman nya justru terkejut karena secara tiba tiba tangan nya di tarik oleh Hali yang membawa nya berlari ke tempat lain.
"E... Eh?" Pekik Laura yang masih terkejut. Ia terus mengikuti langkah pemuda itu sampai di atap sekolah, akhirnya Hali melepaskan tangan nya.
Angin berhembus meniup rambut hitam Laura. Ia mandang pemuda yang kini berdiri di hadapan nya, membelakangi dirinya.
"Laura..." Panggil pemuda itu.
"I-iya?"
Sungguh, Laura tak menduga akan seperti ini hasilnya!!!
"Ini untuk mu!!"
Ujar keduanya bersamaan sambil menyerahkan kotak yang sudah mereka persiapkan.
Terkejut, malu, merona, senang, sulit mengungkapkan kata kata. Semua perasaan itu bercampur aduk dalam hati mereka.
Laura memandang malu ke arah Hali yang tersenyum hangat pada nya. Sungguh, ini hari terindah bagi mereka.
.
.
.
END