Revan duduk di sampingnya dengan mendengar segala celotehan nya ( LARASATI ), Tampa dia menjawab nya. Dia hanya tersenyum saja, jujur jauh dalam hati dia tertarik padanya, dia tidak mengerti arti kalimat kalimat yang di ceritakan wanita muda itu.
Tak terasa pagi beranjak siang hingga tak terasa terdengar adzan dhuhur. Revan menolehkan kepala ke samping mencari arah suara adzan, ia juga ingin berjamaah saja, kalau shalat sendirian biasanya dia menunda-nunda hingga di batas waktu.
Ia kembali menatap ke arahnya, tidak ada. Ya, LARASATI tidak ada. Kemana gadis itu? Cepat sekali jalannya, pikirnya.
Suara riuh anak-anak berdatangan di halaman, Revan bangkit menghampiri.
"Lo dari mana? Kenapa dengan bajumu?" , tanya Seno. Semuanya menatap ke Revan. Dia gak nyangka jika celana dan baju bagian belakangnya kotor berdebu . Berasaan tadi Gasebo nya bersih, dech. Dia bingung dan garuk-garuk kepalanya yang terasa tidak gatal.
Semuanya masuk dengan ritual masing-masing di kamar. Kemudian kumpul di meja makan. Nampaknya tadi ada yang masak . Ada sajian hidangan di atasnya.
" Kebetulan sudah lapar banget ..", Seno langsung saja menyeduh kan nasi serta lauknya.
"Masakan kampung, ya ? ish.." Sarah masih duduk tegak hanya menatap sinis.
"Ini enak Lo, khas Jawa. Sayur lodeh sambalnya mantap,ikan asin tempe Ama bakwan. Simbol yang momong aku dulu waktu SMP pernah masakin ini..", sahut Rahman.
" Di nikmati aja kan cuma tinggal makan." Rasti menasehati.
" Enak... lezat kok. Bersyukur ada yang mau masak. Daripada nanti kutek mu rusak", Revan ikut menimpali.
" Abis ini kita barengan nyuciin piring ya?, " Lucy pun angkat bicara.
" Baik juragan..." Jawab Bisma. yang lainnya tergelak.
Sehabis makan mereka bersihin pantry dan menyapu seluruh ruangan tamu, keluarga . Setelah itu mereka sibuk pada kegiatan masing-masing di kamar.
Sarah membongkar barang-barang nya. Kamarnya seperti kapal pecah. Berantakan, bahkan bungkus makanan ringan juga tidak dia buang atau dirapikan sedikit saja dia juga malas, dia biasa dengan maid di rumahnya.
" Dadi wong wedok ya seng resikan to Mbak, aja mung Rai me bloko seng di urusi..."( Jadi anak perempuan ya, yang bersih. Jangan hanya mukanya aja yang di perhatiin ), terdengarlah suara bisikan di telinganya Sarah. Dekat bahkan sangat dekat. Gadis itu mengedarkan pandangan. " Siapa? Siapa yang di sana?", Sarah berjalan ke arah pintu kamar, sepi... saat ia membukanya dan melongok keluar pintu. Ia pun kembali masuk lagi asyik dengan skin care nya.
Rasti di kamarnya asyik murojah denga Al Qur'an nya. Kemaren dia lupa murojah karena kecapekan. Angin semilir berhembus... terasa dingin..padahal jendelanya masih tertutup. Ya, Allah lindungilah kami dari bahaya apapun batinnya. Mulut mungilnya mulai membaca lagi.
Sedangkan Revan dia menggambar wajah cantiknya Larasati yang ada di pikiran nya. Karena dia anak arsitektur jadi dapat menggambar.
Bisma di kamar juga murojah juga, sehari dapat 3 x dia lakukan jika tidak ada kegiatan.
Sedangkan Rahman berselancar di dunia Maya dengan phonsel nya.
Seno pun sudah terbang ke alam mimpi.
Seno merasa berjalan di area persawahan yang habis panen, dimana-mana daun kering padi. Ia melihatnya dari jauh nampak seorang gadis berbaju putih dan kain bawah nya. Seperti yang biasa di kenakan pakaian tempo dulu, kebaya. Gadis itu berlari-lari sambil sesekali menengok kebelakang...Dari arah yang sama nampak seorang lelaki mengejarnya... berpakaian hitam-hitam sama pakaian tempo dulu di pinggangnya ada senjata bergagang kayu dan panjang.
" Tulung ....Tulung..... Tulung...." reflek Seno ikut berlari menuju ke mereka. ia ingin menolongnya. Gadis itu dalam bahaya, pikirnya.
Lama mereka kejar kejaran, Karena lahan itu luas juga dengan Medan tanah kering dan berlubang menghambat laju kaki Seno untuk berlari cepat. Sedangkan mereka jauh di depannya. Seno tak menyerah terus berlarian mengejarnya. Hingga tiba di suatu hutan bambu yang rimbun masih melihatnya siluet tubuh mereka ia terus merangsek masuk ke hutan bambu. yang semakin lebat.
" Woiii....bangun. Ashar nih!!! Tidur muluu..." Bisma mengguncang panggung Seno yang tidur membelakangi nya.
Deg. Seno terjaga, Dengan kesalnya dia tepis tangan Bisma " Apaan Lo ganggu orang mimpi!" , sungutnya.
" Ya elah, Lo tidur sambil ngigo...pake teriak-teriak ...kata orang tua itu ga bagus makanya aku bangunin. Bukan terimakasih malah sewot" , gerutu Bisma melenggangkan kaki keluar dari kamar Seno. Seno hanya mendengus kesal mimpinya seperti nyata, siapa gadis itu? Kenapa dia di kejar-kejar? batinnya bermonolog.
Mereka yang beribadah menunaikan ibadahnya masing-masing. Bisma memilih duduk di teras setelah shalat ashar memainkan game favoritnya...ekor matanya sempat melihatnya, seorang gadis mengenakan kebaya putih melintas..sontak dia mengangkat kepalanya, " Monggo mas". sapanya dengan membungkuk kan badan. Cantiknya. Putih bersih hidung mancung ... dengan muka bengong dia membalas mengangguk. Gadis itu berjalan ke arah belakang membawa sapu menyapu halaman belakang rumah. Bisma segera memasukan handphone nya ke saku kemeja. Dia ikutan menyapu Karena tak jauh ada sapu lidi. Mereka bertukar senyuman.
Cantiknya...ramah lagi batin Bisma. Mereka bekerjasama dalam diam..dan hanya melempar senyuman. " Sampeyan nopo neng Kono? Surup-surup ora kena nyapu. Wes sesuk ae..bapak seng nyapu ae sesuk!!" ( kamu sedang apa di situ? petang-petang tidak boleh menyapu. biar bapak yang nyapu besuk) ," seru lelaki paruh baya itu. Bisma menoleh ke arah sumber suara, bingung. Terlebih dia tak mendapati gadis ayu di sampingnya lagi. Di letakkan sapu itu di dinding kayu bangunan itu. Masih kebingungan ia menghampiri bapak bapak itu.
"Maaf ya mas, orang tua bilang tidak boleh nyapu jika sudah petang. Ayo masuk saja, istri saya bawa makanan lebih. Tadi di rumah saudara ada hajatan banyak makanan yang dikasih ke saya, karena saya cuma berdua saja sama istri. Makanya saya bawa kesini. Siapa tahu pada suka. Cuma makanan kampung" jelasnya.
Mereka berjalan beriringan masuk rumah. Di dalam rumah semuanya berkumpul antusias melihat aneka macam jajanan tradisional, juga ada masakan.
"Wah sambel goreng ati ayam. Enak ini", seru Rahman.
" Kaya lebaran aja", celetuk Seno.
"Alhamdulillaah, makasih ya Bu. Udah repot repot bawain ini", kata Rasti.
Wanita itu hanya tersenyum. Ia hanya paham bahasa Indonesia sedikit.
"Masakan tadi siang enak Lo Bu..mantap", puji Lucy.
Sang bapak yang baru mendekati bersama Bisma kaget. "Tadi siang...? Maaf, Mbak. kita baru Spain sore ini. Kami tidak nganter makanan kok", jawab si bapak.
" Bu, apa awakmu awan rene? Terus masak neng kene?" , tanya sang suami pada si istrinya. Wanita itu menggelengkan kepala bingung.
" Tidak ada yang kesini mas mbak. Kami baru sore ini ke sini. " bapak menjawab dengan tegas. Semua berhenti dari pergerakannya terus siapa yang masak? mereka berpandangan .