"Yah, hujan lagi, hujan lagi," keluh Dara sembari melihat ke arah jendela kelasnya. Jamkos atau jam kosong ditambah hujan adalah saat yang tak dia sukai.
"Dih, bukannya bersyukur, malah ngeluh," celetuk Adelia, sahabatnya sambil memukul pelan tangan Dara.
"Nggak mau. Soalnya, hujan itu bikin semua aktifitas kita keganggu," balas Dara sembari memalingkan wajah dari Adelia.
"Gue yakin lo pasti bakalan ngerubah pikiran lo itu," ujar Adelia. Terlihat di kedua matanya menunjukkan kejujuran dari kata-katanya itu.
"Kalo kata-kata lo bener, gue bakalan turutin semua yang lo mau selama seminggu. Kalo gue langgar janji, hukum aja semau lo." Dara terdiam. Ia pun mengumpat dirinya sendiri dalam hatinya.
"Gue pegang semua kata-kata lo. Kebetulan, gue juga ngerekam suara lo tadi. Jadi, pas gue nagih, gue dah ada bukti," ujar Adelia dengan senyuman kebahagiaannya. Lalu, ia pun pergi kembali ke tempat duduknya.
Dara terus menyalahkan dirinya sendiri. 'Dasar gegabah! Harusnya lo tuh nggak ngomong gitu!' batinnya.
Ding! Ding! Ding!
Suara bel pulang terdengar. Dara pun segera mengambil payung miniku. Kemudian, ia pun pulang dengan memakai payung berwarna coklat gelap berpadu warna hitam itu.
Di sepanjang jalan, aku hanya dapat mendengar rintikan hujan yang deras itu. 'Tunggu sebentar! Kenapa aku jadi menyukai suasana ini? Sejak kapan?' batinnya, lagi.
"Dara," panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinga Dara.
Dengan cepat ia melirik ke arah suara tersebut. "I-ya?"
Deg, deg, deg!
Seketika, jantungnya mulai berdetak kencang. Ternyata, yang memanggilnya adalah Andara, siswa tercerdas dan tertampan di kelasnya. Diam-diam, Dara juga menyimpan rasa padanya.
"Kebetulan kita tetangga. Jadi, pulangnya bareng nggak, nih?" tanya Andara, menawarkan.
Dara hanya bisa mengangguk setuju. 'Lagian, hujan begini kan ... mending naik mobil pribadinya berdua .... Eh, tunggu tunggu, pikiranku kok malah ngelantur ke mana-mana?' pikir Dara.
Ia pun membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Dara untuk duduk di kursi belakang. Ya ... persis di sampingnya.
"Pacarnya ya, Den?" tanya sang sopir sembari terus fokus menyetir.
Seketika itu juga, muka Dara menjadi agak memerah saking malunya. Sementara Andara hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari memalingkan mukanya dariku.
Andara menjawab, "enggak tahu, hehe." Ia pun terkekeh, tapi kedengaran agak garing.
Sopir itu mengerutkan dahinya. "Lho kok enggak tahu, Den?"
Andara hanya terdiam. Sepertinya, ia tak tahu harus berkata apa. Padahal, dia bisa langsung saja menjawab kalau Dara bukan pacarnya, tapi hanya sebatas temannya saja.
"Andara, kenapa nggak dijawab?" tanya Dara dengan suara setengah berbisik.
Tiba-tiba, mukanya memerah. Ia pun segera memalingkan wajahnya dariku, lagi. "Karena ... gitu aja. Nggak ada alasan," jawabnya dengan suara yang kaku.
'Andara-kun, baka! Baka, baka, baka!' batin Dara, lagi.
Tak terasa, mobil itu sudah berhenti di dekat rumah Dara. Ia pun turun. Tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada Andara dan juga sopirnya itu. Kemudian, Andara dan sopir itu pun pergi menuju ke rumah Andara.
"Jadi insecure sama rumahnya. Udahlah, yang penting aku sudah sedikit dekat dengan anak pandai satu ini," gumam Dara sembari melihat rumah Andara yang tak jauh darinya. Lebih tepatnya, disamping rumahnya.
Tak Dara sadari, ternyata Andara dari tadi melihatnya. Namun, saat Dara berbalik, Andara segera bersembunyi di balik tembok. Sehingga, Dara tak bisa melihat keberadaan Andara.
Dara pun segera masuk ke rumahnya. Sementara Andara menghela nafasnya dengan lega.
"Andar, lagi ngapain, lu?" tanya Artha, kakaknya sembari melirik ke arah Andara dengan tatapan curiga.
"Cuma jalan-jalan santai aja, kok. Just have fun. Wah, hujan. Aku mau masuk ke rumah dulu ya, Kak," jawab Andara dengan agak kaku.
"Tingkah laku 'Si Bau Bawang' mulai mencurigakan. Lagian, sejak kapan dia jadi sopan gitu? Kerasukan apa? Nggak, pasti ada yang nggak beres," gumam Artha sembari melihat 'Sang Adik' pergi menuju ke rumah yang besar itu.
Banyak misteri yang tiba-tiba saja muncul setelah adanya hujan di sore itu. Mulai dari misteri hati adiknya Artha, Andara sampai perasaan Dara, yang bahkan Dara sendiri pun tak paham dengan perasaannya itu.
*******
"Artha-san!"
"Hih, wibu!" Jitakkan maut pun melayang ke arah Andara.
"Woylah, kagak usah ngegas juga!" protes Andara sembari memegang kepalanya yang terkena jitakkan itu.
Artha mengalihkan pandangannya dari Andara. "Cowok kagak boleh cengeng!"
"Artha-san tolol!"
Artha berdecak sambil memutar bola matanya ke arah samping. "Andar bau bawang plus bucin! Kenapa gue bilang lo bucin? Karena, kemaren lo liatin tetangga kita yang cantik itu, kan?"
"Astagfirullah!" Andara pun membuang pandangan dari kakaknya itu.
'Padahal gue asal nebak, lho. Tapi ternyata bener. Dia ngeliatin Dara,' batin Artha sembari tersenyum licik.
Ia mencubit pipi adiknya itu. "Kenapa istigfar? Bener, ya?"
"Ng–nggak kok!" Muka Andara mulai memerah.
"Jangan ngelak! Gue dah tahu. Buktinya, muka lo aja sampe memerah gitu," ujar Artha sembari mencubit pipi adiknya.
"Apaan, sih?!"
"Lebay! Bau bawang kok lebay?" Suara tertawanya benar-benar cukup keras sampai-sampai ibu mereka datang.
"Wah, seru banget, ya?" tanyanya dengan aura yang menakutkan. Membuat bulu kuduk kedua anaknya itu merinding.
"Ma–ma?" ucap mereka berbarengan.
"Iya ... ini Mama," ujarnya dengan suara lirih.
"Wah, aku ada PR. Aku ke kamar dulu ya, Kak, Mah. Sampai jumpa." Andara pun berlalu pergi, tetapi dicegat oleh ibunya.
"Kak Artha, Adek Andara, bisa jelaskan?" tanyanya sembari menjewer telinga mereka berdua.
"Aww!"
"Aww! Mama ampun."
Ia tetap menjewer telinga kedua anaknya. "Janji nggak nakal lagi?"
"In syaa Allah!" jawab mereka berbarengan.
"Baguslah. Sekarang, kalian kembali ke kamar tidur masing-masing dan ... kerjakaan pr kalian," ucapnya sembari turun berjalan ke arah tangga rumah.
"Baik, Ma!" balas mereka berbarengan.
Di lain sisi, terlihat Dara yang sedang kebingungan. Ia melihat rumah yang berada tepat di depannya itu dengan tatapan heran.
"Kek suara orang ribut. Apa jangan-jangan Andara lagi ribut sama Kak Artha, ya?" gumamnya sembari terus melihat ke arah rumah itu.
Tuk-tuk! Tuk-tuk! Kraashh!
Ia pun mengeluarkan tangannya lewat jendela. "Eh, hujan lagi?"
Di lain sisi, Andara pun juga turut melakukan hal yang sama. Sehingga secara tak sengaja, kedua mata mereka saling bertemu.
"Eh, tetangga!" panggil Andara dari arah kamarnya yang berada di lantai atas.
"Andara?"
Mungkin saja, hujan di sore hari ini telah membuat Dara menjadi menyukai hujan. Apalagi, ia mulai bisa dekat dengan tetangganya yang kebetulan rumahnya berdempetan dengan rumahnya.
{END}
Foto oleh Olya Kobruseva dari Pexels