Kehebohan terjadi disekolah. Karena saat ini tengah ramainya persiapan untuk hari Valentine.
Benar, Sekolah Moemoe saat ini tengah menghadapi kegemparan tersebut. Karena para siswi begitu antusias membahas masalah Valentine.
Dan itu tak luput dari pendengaran Dinda. Sang gadis yang baru beberapa bulan jadian dengan seorang siswa bernama Jeno.
Dinda saat ini tengah melewati lorong sekolah untuk menuju ke kantin. Ia telah berjanjian bersama Sahabatnya disana.
Setibanya disana, Dinda mendapati meja-meja kantin dipenuhi dengan para wanita. Wajar saja sih, kan ini acara wanita, pasti mereka akan menyiapkan hal yang akan menjadi luar biasa dan memberikan moment langka.
Dinda tersenyum miris melihat hal ini, Ia melangkah menuju kearah meja yang dimana ada sahabatnya disana.
Ada Moa, Inda, Mey, Tria,Aini dan Retra. 6 orang tersebut adalah sahabatnya dan masing-masing dari mereka telah menjalin hubungan yang bermacam-macam. Namun yang paling unik itu ada di Moa, Inda dan Mey.
Dinda duduk dikursi yang kosong atau lebih tepatnya yang tersedia untuknya.
Setelah kedatangannya itu, seketika itu juga para sahabatnya, menatap intes kepadanya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Dinda. Risih bre ditatap begitu tajam.
"Apa kau telah mengatur rencana membuat coklat pada hari valentine nanti?" Tanya Tria.
"Apa itu penting?" Ditanya balik oleh Dinda.
"Tentu...apa lagi kau baru saja menjalin hubungan bukan, ini membuat hubunganmu menjadi kuat" ucap Aini.
Dinda terdiam sejenak. Sebenarnya ia ingin membuat Coklat juga untuk Jeno kekasihnya itu. Tapi ada masalah lain..
Dengan bimbang, Dinda bertanya untuk Moa "Moa!...apa kau pernah membuatkan kekasihmu Coklat?"
Bukannya Moa yang membalas, Inda yang menjawab pertanyaan Dinda, "kalau aku sih malah beli aja kue coklat dan tinggal kasih ke Yeye"
Inda pun mendapat pukulan ringan dari Moa. "Emang kenapa?" Tanya Moa yang membuat Dinda terdiam.
"Apa karena masalah tak bisa membuatnya?" Tanya Moa yang berhasil membuat Dinda menatap kearahnya.
"Aku juga gitu kok, engak bisa bikin coklat untuk valentine..tapi aku membuat hal lain yang mirip coklat"ucap Moa.
Mey yang duduk disamping Moa juga mengangguk "benar...sebenarnya beli juga bagus, tapi laki-laki atau kekasih kalian pasti ingin itu hasil dari tangan sendiri, dan dipastikan mereka akan bangga dengan kalian"ucap Mey.
Inda tersenyum dan mengangguk "itu benar...tapi mau gimana lagi, aku kan hanya penikmat makanan manis dari pada membuat makanan. Benar kan Moa"
Yang dipanggil pun mengangguk. Dinda terdiam mendengarkan dan menerima pendapat Sahabatnya. Sampai Moa berbicara padanya. "Jika perlu bantuan, aku bisa membantu kok"
Yang lain pun setuju, "benar...Moa akan membantumu" ucap mereka bersamaan.
Diskusi tentang valentine berakhir dengan Dinda mengambil keputusan untuk meminta bantuan dari Moa membuat hadiah diValentinenya bersama Jeno.
-
Sepulang sekolah, karena besok adalah hari Valentine. Dinda mampir sebentar ke minimarket dan membeli bahan-bahan untuk membuat kue coklat.
Dinda mendapatkan bahan itu bukan dari Moa atau yang lain, tapi dari youtube..ah benar ia sebenarnya dijam kosong mengunakan waktu itu untuk mencari resep-resep membuat kue coklat. Untungnya Jeno tak mengetahui hal tersebut.
Setelah memilih bahan-bahan yang akan digunakan. Dinda pun pulang ke kontrakkannya. ia mengontrak, karena rumah orang tuanya jauh dari sekolah.
Didalam kontrakkannya. Dinda menyusun bahan-bahan yang dibeli. Mulai dari tepung, telur, gula,garam dan lain sebagainya. Membuat ruangan nya dipenuhi dengan bahan-bahan masakkan.
Dinda sebenarnya tak tahu bikin kue. Kadang kalau ia buat, kue tersebut pasti akan sekeras batu. Ah sangat memalukan bukan. Tapi kali ini ada Moa sahabatnya yang akan membantunya. Jadi ia tak perlu risau.
Tak perlu menunggu lama, sahabatnya datang. Jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Dan kini mereka berdua memandang kearah bahan yang telah disiapkan oleh Dinda.
"Kau ingin membuat apa?" Tanya Moa.
"Aku ingin membuat ini" Dinda menunjukkan chanel youtube yang ditontonnya. Membuat Moa menatap horor padanya.
"Jadi kau yang membuat sendiri dan aku yang menjadi pengujinya?" Tanya Moa. Dinda mengangguk.
"Huh...baiklah..sekarang lakukan, waktu kita engak banyak loh" Moa pun duduk disisi lain untuk melihat Dinda yang sekarang fokus membuat kue yang diinginkan.
1 jam, 2 jam, dan sampai 5 jam kemudian. 1 kue pun terbuat. Dinda mengangkat kue yang dikukus olehnya. Benar dikukus bukan dioven, makannya Moa menatap horor pada Dinda. Tapi untuk kekasih, Moa merasa Dinda berjuang begitu keras.
"Makanlah"ucap Dinda yang menghidangkan 1 kerat kue yang telah dipotong.
Moa menatap kearah kue yang kini tampak mengeluarkan asap yang bergambar tengkorak. Huh apakah dia akan mati saat menelan ini kue, bayangan yang tak terduga melintas diotak Moa. Tapi demi Sahabatnya, ia pun mencoba hal tersebut. Dan apa yang terjadi...
"Uhuk..uhuk....uhuk"
"Kau tak apa-apa?" Tanya Dinda sambil memberikan segelas air.
"Hm..tak apa, cuma kuenya terlalu asin"ucap Moa yang langsung menjatuhkan semangat Dinda.
"Ah tenang..tenang...kita masih punya waktu, sekarang coba lagi woke"ucap Moa menyemangati.
Dinda sebenarnya ragu, tapi dengan semangat sahabatnya. Ia pun melakukan lagi, dan membuat ulang lagi.
Jam telah menunjukkan pukul 4 pagi dan saat itu juga 3 hidangan tersedia. Kenapa bisa 3 karena Dinda membuatnya secara bersamaan dan takaran yang berbeda-beda.
Dan dengan antusias, Dinda menunggu Moa sahabatnya untuk mencicipi 3 hidangan itu.
Moa sebenarnya sudah siapkan mental, tapi tetap saja asap tengkorak masih terapung diatas kue-kue itu. Ia dengan tangan bergemetar memakan 3 kue yang dibuat.
Kue pertama membuat Moa terpaksa langsung mengeluarkan kue tersebut dari mulutnya. Tepat didepan Dinda, hal itu membuat Dinda tak enak melihatnya.
"Rasanya makin buruk ya?" Tanya Dinda.
Moa mengeleng "rasanya tak buruk cuma masih belum sepenuhnya matang"jawab Moa.
"Sepertinya ini kue ketiga yang kau buat dan secepatnya kau angkat" lanjut Moa.
Dinda mengangguk, karena emang kue ketiga ini agak cepat diangkat. Pantes terlihat berbeda dari yang lain.
Sekarang kue kedua ingin dicoba oleh Moa, dan itu juga tak luput dipandangan Dinda. Begitu antusias menunggu komentar Moa. Dan saat kue itu sampai kemulut Moa, raut wajah Moa kali ini sama seperti tadi, yang langsung membuat Dinda menjadi tak enak. Benar ia tak enak membuat Sahabatnya ini nanti malah trauma dengan Kue.
Jadi dengan cepat kue yang diambil acak oleh Dinda langsung diletakkan dikotak lain. Dan diniatkan untuk dibuang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Moa melihat tingkah sahabatnya ini.
"Apa lagi....sudah pasti bukan tidak enak...aku tidak akan membuatnya lagi, aku akan pakai saran Inda" ucap Dinda dan mengambil kue lain, lalu memasukkan di kotak yang berbeda. Hal itu membuat Sahabatnya menahan tangannya yang bergerak cepat.
"Kau ini gimana sih, setidaknya coba dulu, dan kalau ada yang bagus, bisa dikasih ke kekasihmu"
"Dan aku harus mengkorbankan Sahabatku, kau bisa menjadi trauma terhadap Kue"
"Terus kau mau apa?...perjuanganmu jadi sia-sia sekarang"
"Tak tahu" Dinda tertunduk, dengan cepat melesat cairan benih diwajahnya. Membuat Sahabatnya langsung terdiam ditempat.
"Ah bentar....kau tunggu disini, jangan sentuh semua kue disini...aku akan kembali"ucap Moa yang tiba-tiba pergi begitu saja. Membuat Dinda menatap bingung.
Dan 40 menit tempatnya jam 5 pagi, Moa datang dengan membawa hasil belanjaannya.
"Kau membeli apa?" Tanya Dinda.
"Ooh ini, aku membeli Bahan-bahan untuk membuat Bomil"jawab Moa. Dan sekarang mereka ada didapur.
"Bomil??" Kebingungan jelas diwajah Dinda.
"Bola milo, ayok..kau yang buat, aku yang mengintruksi....tak ada kata menolak...harus coba woke"ucap Moa yang berhasil memaksa Dinda kembali membuat kue.
"Apa ini akan menjadi kue?"
"Sepertinya tak bisa disebut gitu...ini bahannya aja sederhana, hanya 1 kaleng susu putih, 5 sashet oreo, 2 sashet milo, itu saja sih"
"Baiklah....aku akan membuatnya"ucap Dinda.
Jam 5 itu pun langsung dihabiskan dengan membantu Dinda membuat Bomil yang diintruksikan oleh Moa sahabatnya.
-
Hari telah berganti hari. Dan hari ini adalah hari yang dinanti, Dinda begitu semangat membawa Bomil yang dibuatnya. Lebih praktis dari yang lain. Dengan langkah bersama Sahabatnya menuju ke sekolah. Dinda menampilan aura kebahagiaan.
"Apa kau juga membuat Bomil untuk Zaza?" Tanya Dinda, ia baru ingat bahwa Moa juga harus memberi coklat untuk Kekasihnya.
"Aku tak membuatnya" ucap Moa dengan santai.
"Kenapa?...bukannya kata Mey, lebih baik kue atau hadiah valentine itu dibuat dari diri sendiri" ucap Dinda.
"Karena aku tak perlu melakukannya. Zaza sendiri yang melarangku...dan dia bilang, biar dia yang berperan dalam hari valentine. Jadi aku hanya menikmati, seperti kata Inda. Aku bukan pembuat makanan, tapi penikmat makanan"
"Dia yang menyuruh...bucin sekali pasangan kalian"
"Kau juga akan tahu seberapa bucin Jeno kepadamu...ah sudah sampai, kita pisah ya bye bye"ucap Moa yang langsung pergi berlari menuju kekasihnya. Benar Kekasihnya telah menunggu dirinya digerbang pintu dengan tangan yang terulur untuk menyambut. Ah romantis bukan.
Dinda tak iri, karena menurutnya wajar, mengingat hubungan Moa dan Inda, serta Mey lebih unik dan berakhirlah cowok mereka yang bucin parah.
Untungnya Jeno tak seperti itu, mungkin sih..tapi Dinda berusaha untuk meyakini hal itu.
Dinda tak langsung datang ke tempat yang biasa dikunjungi Jeno, ia lebih memilih dikelas. Dan yang dijumpai sekumpulan gadis tengah memberikan kue Coklat yang tampak enak. Dan itu membuat Dinda langsung insecure.
"Apa Jeno akan memakan Bomilku ya" benak Dinda. Karena malas melihat hal yang membuatnya langsung down. Dinda memutuskan untuk keatas, dimana tepat itu biasa dikunjungi kekasihnya.
Dan benar adanya, saat disana ia melihat Jeno tengah memandang ke bawah gedung yang banyak memperlihatkan hubungan romantis, hubungan unik untuk ditonton.
Dinda tak ingin menganggu, jadi dia hanya diam. Ditambah ia gugup, karena bingung apakah Jenonya ini akan mempertanyakan coklat kepadanya dan akankah ia memberikan Bomil untuk Jeno. Ah bingung...
"Apa kau hanya akan berdiri disana....Dinda"ucap Jeno yang langsung membalikan badannya, melihat kearahnya. Dinda membeku seketika. "Sial...sekarang kau telah tertangkap Dinda"benak Dinda.
"Kemarilah....ayuk"ucap Jeno yang mengulurkan tangannya untuk Dinda.
Dinda tak punya pilihan untuk menolak, lagian jujur saja ia merasa ngantuk dan perlu daya untuk mengisi baterainya. Dengan bermanja bersama Jeno, walau hanya sekedar dekat.
"Kau bergadang?" Tanya Jeno sambil mengelus wajah Dinda yang menampilkan wajah berbeda dari biasanya.
Dinda hanya mengangguk, ngapain dijawab, kan sudah pasti engak bisa bohong. Karena emang semalaman ia bersama Moa tak tidur. Bahkan Moa bisa dipastikan akan tertidur dikelas nanti. Yakinlah...
"Lain kali, jangan paksakan dirimu...aku tak ingin kau melakukan hal yang membuatmu jadi sakit"ucap Jeno sambil mengelus lembut surai Dinda dan mencium puncak kepalanya, menyalurkan kehangatan yang mendalam. Dinda menikmati hal itu.
"Dan apa ini"ucap Jeno yang mengambil kotak bekal Dinda dari belakang tubuh Dinda, kenapa dibelakang. Karena Dinda sengaja menyembunyikannya. Tak berani menyuruh Jeno memakan Bomil yang dibuat olehnya.
Jeno membuka kotak itu dan menampilkan Bomil. Kalau bomil engak apa-apa,tapi itu ada kue yang dibuat oleh Dinda. Dinda menatap horor dengan kotak itu.
"Sejak kapan Moa, memasukkan kue itu kekotak bekal ku.....M..O..AAAAA"benak Dinda yang berhasil sampai ke Moa.
Moa saat ini tengah menerima coklat kekasihnya,dan berakhir diuks karena Moa sakit perut. Dengan berbaring disana. Untungnya ada Zaza yang menemani, jadi ia bisa tenang. Sambil memakan coklat buatan kekasihnya. Moa terbatuk berkali-kali, yang membuat Zaza mengambil coklat dan menghentikan makannya.
"Dinda....jatah coklatku hilang kan..."benak Moa yang menatap tajam kearah luar. Menyalurkan kekesalannya tak bisa makan coklat.
Balik keDinda, sebenarnya kekesalan itu tersampaikan tapi salah waktu, karena Dinda tak menghiraukannya sama sekali. Saat ini ia tengah berlari ingin mengambil kotak makannya.
"Jeno kembalikan..."ucapnya sambil mengejar kotak bekalnya.
"Ini kau buat khusus untukkukan..kenapa aku tak boleh mengambilnya"ucap Jeno yang berakhir dengan mengunci pergerakkan Dinda.
Dan saat ini Dinda bersendung di dinding dengan Jeno yang menutup jalur keluarnya. Berakhirlah Dinda.
"Kenapa kau terlihat tak enak begitu...ini buatanmu bukan, aku tahu semalaman kau membuatnya..."ucap Jeno dan itu membuat Dinda memerah karenanya.
"Kekasihku membuatkanku coklat untuk pertama kalinya..tentu tak boleh aku sia-siakan"
Kali ini Jeno duduk disamping Dinda yang berdiri. Ia mengambil Bomil untuk pertama kalinya. Dan memakannya. Wajahnya biasa-biasa saja.
Sampai bomil itu habis, dan Dinda kini ikut duduk disampingnya. Melihat sang kekasih memakan apa yang dibuat olehnya.
"Ini Bomil dari resep Moa kan?" Jedar...Dinda merasa tertampar..sepertinya membohongi cowoknya ini susah.
"Dinda, aku tahu yang membuatnya itu kau..tapi Bomil ini adalah cemilan yang sering dibuat oleh Zaza untuk Moa. Dan aku tahu hal itu...tapi aku senang kau membuatnya khusus untukku"ucap Jeno yang kemudian beralih mengambil kue kukus yang tampak berasap tengkorak.
Dinda berdoa semoga Jeno tak kenapa-napa...Jeno pun mengigit Kue kukus itu dan....
Dinda menutup matanya cepat-cepat, takut Jeno akan meludahkan kue yang dibuatnya. Ah ia takut...
"Tak buruk...kau benar-benar berusaha Dinda"ucap Jeno yang langsung memberikan kecupan kening dengan lembut. Dinda membuka matanya pelan.
"Kau...tak merasakan hal aneh?" Tanya Dinda.
"aneh..ah..Kuenya emang agak sedikit manis, tapi aku menyukainya..ditambah kuenya matang dengan benar..tinggal atur gulanya aja lagi"ucap Jeno yang membuat Dinda menangis seketika.
Jeno tersenyum melihatnya. Ia sebenarnya tahu bahwa kekasihnya telah sangat berkerja keras. Bagaimana ia tahu, ia tahu dari Moa yang menelponnya lewat VC secara dadakkan dan berakhir ia menonton kegiatan tersebut sambil ikut bergadang.
Dinda tak menyadari akan hal ini, kenapa Moa melakukannya. Karena Moa ingin membuktikan bahwa ada Gadis yang rela melakukan sesuatu untuk kekasihnya. Dan Jeno beruntung mendapatkannya.
Jeno mengambil tangan Dinda yang menutupi wajahnya. Tangan itu terlihat luka-luka kecil, karena Dinda tak bisa berhati-hati. Jeno mengambil plester dan menutupi luka itu lalu menciumnya untuk menyalurkan rasa sayangnya.
"Kau berkerja sangat keras..aku mencintaimu"ucap Jeno yang berhasil membuat Dinda menangis dengan kencang.
Jeno langsung memeluknya, membenamkan wajah Dinda didadanya. "Aku....juga..mencintaimu...selamat valentine Jeno"ucap Dinda
Jeno tersenyum, ia pun mencium puncak kepala Dinda..."hmm...selamat Valentine Dinda...."
Pelukkan itu berlangsung sangat lama, sampai akhirnya Dinda pun mendapati Jeno yang menyumpal kue Coklat kemulutnya.
"Dinda..ini Coklat dariku"ucapnya. Dan mata Dinda pup langsung berbinar. Coklat dengan kerenyahan yang luar biasa pecah dimulutnya.
"Ini Coklat Bersama....aku menamainya itu karena aku membuatnya khusus untukmu"ucap Jeno yang menatap Dinda. Dan tanpa aba-aba Dinda mencium pipi Jeno sambil mengambil kotak Coklat buatan Jeno. Dan pergi meninggalkan Jeno yang terbengong.
Senyum mengambang diwajah Dinda. Ah valentine pertamanya dengan Jeno berhasil membuat hatinya jedag jedug....
Itu adalah pengalaman Valentine pertamanya dan terakhir untuknya. dimana ia masih berstatus sebagai siswa baru bersama Moa, dan kekasihnya.
Kejadian yang memisahkan dirinya dan Kekasihnya. dimana saat itu, tepatnya dihari Valentine. Setelah memberikan Bomil dan kue kukus pertama kali, sekolah MoeMoe diserang oleh pembunuh yang entah dari mana. Dan yang menjadi Korban tak lain adalah Jeno kekasihnya dan Moa sahabatnya. mereka berdua menjadi Korban yang langsung mati ditempat tak sempat diselamatkan.
Dinda menyentuh kotak bekal yang berisikan Bomil dan kue kukus yang dibuatnya 2 tahun yang lalu. dengan resep yang sama. dengan cara dibuat yang sama. namun rasa yang makin sempurna.
Dinda melangkah menuju ke arah tempat yang pernah membuatnya memerah, bahkan berani mencium Jeno. Ia meletakkan Kotak Bekalnya.
"Coklat bersama ya"Ucap Dinda yang memandang kebelakang. dimana terdapat bayang Jeno tersenyum kepadanya.
"Aku mencintaimu Jeno" ucap Dinda disela senyumnya dan disela air mata yang mengalir. sungguh 2 tahun ini, Valentine yang ia lalui, ia berharap Jeno bahagia disana dan ia juga bisa bahagia disini.