*Crat!
*Slash!
*Crat!
"Hah... Hah... Hampir siap. Aku akan membuat ia menjadi paling spesial untukku." Ucap seorang pria yang mengenakan hoodie hitam.
Hoodie pria yang bewarna hitam itu, berlumuran darah yang banyak disekujur tubuhnya.
Darah itu bukanlah darahnya, melainkan darah-darah dari seorang gadis yang mengganggu pacarnya.
Sepuluh hari menjelang Valentine, pria itu melakukan segala cara untuk membuat gadis yang dicintainya menikmati hari Valentine yang istimewa.
Bukan tanpa alasan ia membunuh gadis-gadis itu. Itu terjadi begitu saja sekitar seminggu yang lalu.
"Wah! Bentar lagi hari valentine!" Ucap seorang gadis yang bernama Bella.
"Iya. Gak kerasa ya sebentar lagi." Ucap seorang pria bernama Dion.
"Bella. Di hari Valentine nanti, selain coklat, kamu mau aku kasih kado apalagi?" Tanya Dion.
"Mmm... Kamu gak perlu khawatir. Aku bakal suka semua hadiah yang akan kamu kasih!" Ucap Bella yang tersenyum lebar.
Mendengar hal itu, Dion sangat senang. Ia sangat bersemangat melihat pacarnya yang begitu antusias menyambut Hari Valentine.
Walaupun begitu, ada sesuatu hal yang membuat Dion sedikit khawatir saat menyambut hari Valentine.
Hal yang mengganggunya adalah... tatapan iri yang tertuju pada Bella pacar barunya Dion. Tatapan mata yang tajam itu, merupakan tatapan mantan-mantan Dion.
Dion mulai menyukai Bella pada saat bertemu pertama kali di acara penyambutan mahasiswa dan mahasiswi baru di Universitas mereka.
Sebenarnya, Dion tidak pernah berpacaran dengan tiga gadis, yang sering mengejarnya itu. Tiga gadis teman SMA nya itulah yang mengaku sudah berpacaran dengan Dion.
Tidak sampai disitu, mereka bertiga sampai kuliah di Universitas yang sama dengan Dion, hanya untuk menjauhkan Dion dari Bella pacarnya.
Tiga gadis yang mengejar Dion itu sampai-sampai meneror Bella kemanapun Bella pergi seorang diri. Sampai-sampai mengirimkan semua pesan bernada ancaman kepada Bella.
Hal itu terus mereka lakukan tanpa henti, sampai akhirnya di bulan Februari. Ketika semua orang menyiapkan hadiah untuk orang terkasih, mereka bertiga malah sibuk mengganggu Bella.
Sayangnya, Bella tidak pernah menceritakan hal itu pada Dion. Walaupun begitu, semua kejadian yang dialami Bella, akhirnya sampai ke telinga Dion.
Dion pun tidak tahan lagi, dengan sikap ketiga wanita yang terus-menerus mengganggu pacarnya itu. Ia pun memikirkan segala cara untuk membuat Bella tenang dari ancaman sampai hari Valentine yang dinantinya itu tiba.
Pada malam pertama, Dion menargetkan gadis pertama yang bernama Sherly.
Sherly lah yang menyusun rencana untuk mengganggu Bella.
Dion pun mulai melancarkan aksinya. Ia berpura-pura ingin menyatakan perasaannya kepada Sherly.
Tepat pukul 10 malam, Dion mengajak Sherly untuk bertemu dengannya di taman. Taman yang dipilih oleh Dion adalah taman yang memang jarang dikunjungi oleh orang-orang.
"Dion? Ke... kenapa kamu tiba-tiba ngajak aku ketemuan di taman cantik ini, malam-malam dan sepi begini?" Ucap Sherly yang bicara dengan nada malu-malu.
Ia mengira Dion mulai mendekatinya, untuk memohon agar tidak menggangu Bella lagi. Dengan begitu, ia bisa memberi syarat kepada Dion, agar Dion mau menjadi pacarnya, jika dia tidak ingin Bella diganggu lagi.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Dion dengan dingin.
Sherly sama sekali tidak curiga dengan penampilan Dion yang memakai pakaian serba hitam. Mulai dari hoodie berwarna hitam, masker berwarna hitam, bahkan sarung tangan berwarna hitam.
Sherly yang tidak curiga malah terus berkhayal membayangkan, Jika Dion akan segera menembaknya dan memberikannya coklat.
"Selamat hari Valentine..." Ucap Dion.
*Jleb!
Setelah mengucapkan hari Valentine pada Sherly, secara tiba-tiba, Dion menikam perut Sherly dengan sebuah pisau kecil yang sudah ia siapkan di kantung hoodienya sebelumnya.
"Di... Dion... Ke... kenapa... kamu...?" Ucap Sherly dengan nada tidak percaya.
"Hah! Apa kamu pikir aku bakal diam saja, setelah apa yang kau lakukan pada pacarku Bella?" Ucap Dion sambil menyeringai ke Sherly.
"Ba... bagaimana bisa kamu bisa tau?" Ucap Sherly yang merinding, sekaligus menahan rasa sakit di perutnya, setelah perutnya ditikam oleh Dion.
"Hahahahahahahahaha!" Melihat ekspresi Sherly yang ketakutan sekaligus kesakitan membuat Dion sangat senang.
Dion pun menambah luka di perut Sherly dengan terus menusuknya berkali-kali sampai akhirnya Sherly tergeletak sudah tidak bernyawa.
Tidak sampai disitu, Dion pun membawa mayat Sherly ke dalam mobilnya, membersihkan bekas darah Sherly, dan segera membawa mayat Sherly jauh dari taman itu.
Di malam kedua, Dion mengajak gadis kedua yaitu Vidya bertemu dengannya di lain tempat. Untuk Vidya, Dion mengajaknya ke sebuah gedung kosong yang jauh dari lalu lalang orang-orang.
Kemudian ia melakukan hal yang sama pada Vidya begitupun dengan korbannya yang ketiga yaitu, Azura.
Untuk Azura, ia memilih mengajak Azura untuk berjalan-jalan dengan mobilnya, kemudian langsung melancarkan aksinya, menghabiskan nyawa Azura.
Setelah Sherly, Vidya, dan Azura, diberitakan menghilang, Bella merasa sangat tenang, sekaligus heran.
Ia sangat heran, karena ia sudah tidak mendapat gangguan dan pesan bernada ancaman lagi sejak kejadian itu. Dion pun meminta Bella agar tidak khawatir dengan masalah itu.
Tanggal 14 Februari. Hari Valentine, yang dinantikan oleh Bella akhirnya tiba. Bella dan Dion merayakan malam Valentine bersama di Rumah Dion.
Bella memberi Dion, coklat yang ia buat sendiri dengan tangannya, Bella juga memberi Dion hadiah berupa jam tangan hitam yang ingin sekali dimiliki oleh Dion.
Untuk Bella, Dion memberikan Bella kado berupa coklat yang dibungkus dengan kotak berbentuk hati yang berwarna merah dan pita yang terpasang dengan cantik.
Tidak hanya itu, Bella pun diberi hadiah yang sangat besar, yang masih terbungkus kertas kado bermotif hati dengan rapih.
"Dion. Apa isi bungkusan itu? Besar sekali?" Tanya Bella sambil menunjuk ke arah sebuah bungkusan yang disandarkan pada dinding Rumah Dion.
"Oh itu? Itu juga hadiah dariku untukmu. Apa kau mau membukanya sekarang?" Tanya Dion yang sedang mencoba memakai jam tangan yang diberikan oleh Bella untuknya.
"Ah! Itu hadiah untukku? Apa benar boleh aku membukanya sekarang juga? Aku sangat penasaran!!!" Ucap Bella dengan nada tidak sabar.
*Srek! Srek! Srek! (Bella membuka hadiah dari Dion).
"Wah!" Ucap Bella girang.
Ternyata hadiah itu adalah sebuah lukisan wajah Bella yang dilukis sendiri oleh Dion.
Sayangnya, Bella tidak mengetahui jika cat yang digunakan oleh Dion untuk melukis lukisan wajah dirinya, sudah dicampur oleh Dion dengan darah dari ketiga gadis yang telah ia habisi nyawanya.
Lain halnya dengan Dion, ternyata hadiah jam tangan yang diberikan Bella untuk Dion, bukanlah jam tangan biasa.
Jam tangan itu adalah milik mantan pacarnya Bella yang telah dihabisi oleh Bella. Mayat mantan pacarnya itu, ia sembunyikan di ruang bawah tanah di rumahnya.
Lain halnya dengan Bella, Dion mengubur mayat ketiga gadis yang telah dibunuhnya itu di kebun belakang rumahnya dan ditanami dengan bunga mawar berwarna merah darah.
~TAMAT~