"A-apa ini?" Sepasang manik cokelat itu bergetar menatap tangan mungilnya. Kemudian ke belakang, tempat sepasang sayap berbulu putih tumbuh dari punggungnya.
Beberapa saat lalu, pemilik manik cokelat itu hanyalah seorang gadis manusia biasa berusia 18 tahun yang bersiap tidur sambil sibuk mengulang urutan tabel periodik. Namun kini begitu membuka mata...
Tangan mungil itu menyibak kain putih yang menutupi kaki, membuat maniknya tambah membola. Bukannya mengenakan piyama, saat ini tubuhnya malah dilapisi sehelai kain berbulu angsa hingga batas betis. Juga kaki mungil yang sangat jauh lebih pendek dari ingatannya.
"Malaikat Percobaan Angelina."
Anak perempuan berambut cokelat bergelombang itu tersentak, ragu-ragu menoleh. Dalam satu kedipan, anak itu sukses dibuat membelalak.
Seorang wanita dewasa berambut pirang panjang digerai menutupi dada dan punggung. Paras putih rupawan, sempurna bak pahatan patung terbaik, serasi dengan bibir semerah mawar. Bertubuh tinggi dan langsing di balik helaian kain putih yang sama dengan yang ia kenakan. Namun...
Sepasang sayap lebar berbulu tampak tumbuh di punggungnya, mengepak, hingga kemudian sepasang kaki jenjang itu mendarat di.... kapas putih... di atas.... biru....
Entah bagaimana mengatakannya.
***
Malaikat Percobaan Angelina. Anak perempuan itu menggeleng, jemarinya mengambil asal buku bersampul cokelat dari rak putih tinggi.
"500 Dongeng Bagi Malaikat Percobaan". Sepasang netra bundar itu membaca judul bertinta emas dalam hati. Kembali menggeleng, mengembalikan buku itu ke tempat semula.
"Apa... aku sudah mati dan sekarang masuk surga?" gumamnya. Anak perempuan itu melemparkan ke sekitar, menatap anak-anak bersayap mondar-mandir dari satu rak tinggi ke rak lain, memilih buku.
"Malaikat Percobaan Angelina," seorang anak lelaki berambut hitam mendarat di depan anak perempuan itu, tersenyum.
"Ah... Malaikat... Percobaan Azriel...," balas anak perempuan itu kikuk.
Anak lelaki itu mengambil buku bersampul cokelat yang tadi ia ambil. "Kau tidak jadi membaca ini kan?" ucapnya sambil mengangkat buku yang dimaksud.
Anak berambut bergelombang itu mengangguk. "Ambil saja."
"Baiklah, terima kasih," balas sang anak lelaki sopan, kemudian terbang entah ke mana.
Anak perempuan itu menghela berat, menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Sungguh, ia tak terbiasa dengan panggilan dan tampilan makhluk di sini, bahkan juga tampilannya sendiri.
Netra cokelat itu terarah ke sebuah pintu besar di samping rak tinggi di belakangnya. Entah kenapa, pintu berlapis emas dan bergagang perak, juga dihiasi permata itu sangat menarik perhatiannya. Tanpa pikir panjang kaki mungil telanjang itu melangkah. Tangannya mendorong pintu besar bak seorang bayi mendorong botol kosong.
Anak itu terkesiap begitu pintu terbuka. Terkesiap akan banyaknya buku yang berjejer di sana, lebih dari ruangan tempatnya masih berada saat ini.
Tepat ketika anak itu memutuskan melangkah mundur dan menutup pintu, lagi-lagi netranya tertarik pada satu buku di sana. Buku berbentuk bundar di antara sekian buku persegi, terletak di rak nomor 5 dari bawah.
Anak itu menoleh ke belakang. Malaikat-malaikat kecil seumurannya sibuk mondar-mandir memilih buku dan bercengkerama, sama sekali tak sadar akan perbuatannya. Kemudian kembali menatap ke depan, ke buku bundar itu.
Yah, satu buku tidak masalah kan?
Anak itu memutuskan melangkah masuk dan menutup pintu, kemudian berdiri ke rak putih tinggi tempat buku bundar berada. Tangan mungilnya berusaha menggapai, tapi meski sudah melompat tinggi pun tetap hanya sampai ke rak nomor 3 dari bawah.
"Ah." Anak itu tersentak tatkala merasakan sesuatu yang halus membelai kepala. "Aku kan punya sayap!" ucapnya kesal.
Anak perempuan itu mencoba mengepakkan sayap yang baru ia lihat hari ini, terbang, dan akhirnya berhasil meraih buku bundar bersampul hitam.
"Tips dan Trik Menjadi Malaikat Maut Profesional". Netra anak itu spontan membelalak, melepas buku itu hingga jatuh ke kapas putih yang menjadi pijakan.
Anak itu mengerjap beberapa kali. "Malaikat... MAUTT???"
Anak itu kembali mengambil buku bundar, membaca judul berinta emas di sampul depan. Masih sama, "Tips dan Trik Menjadi Malaikat Maut Profesional".
Peluh membungkus sepasang tangan mungil. Anak itu menegup ludah. Termakan penasaran, anak itu membuka satu per satu halaman di buku itu, membaca kata demi kata bertinta ungu terang di atas kertas hitam.
"Pergi ke dunia manusia?" anak itu berseru tertahan, dalam ruangan seluas stadion bola di bumi.
***
"Aku bosan!" Anak laki-laki berambut cokelat itu berseru, mengentakkan kaki ke rerumputan. Begitu telapak kakinya menapak, anak itu dapat merasakan bayangan hitam besar menimpanya, membuatnya mau tak mau mendongak. Seketika berteriak tanpa suara.
"Ahh!!" Anak lelaki itu refleks mengulurkan tangan tatkala melihat siluet terjatuh di balik teriknya mentari. Namun anak kecil tetaplah anak kecil. Keduanya terjatuh ke rerumputan.
Anak itu mengerang, menggunakan bantuan tangan untuk duduk dari posisi telungkup. "Kau..." kalimat anak itu terhenti tatkala melihat seorang anak perempuan terbaring di sebelahnya.
Rambut cokelat bergelombang tergerai indah. Kulit seputih dan sehalus sutra. Manik cokelat bundar dan hidung mancung. Juga gaun merah muda berenda putih yang membungkus tubuhnya sebatas lutut.
"Manusia!" Gerakan anak perempuan yang tiba-tiba duduk dan menunjuk wajahnya membuat si anak lelaki mengerjap, tersadar.
"Kau siapa?" tanya anak lelaki itu sambil menurunkan telunjuk yang terarah padanya. Kini telunjuk yang sama mengarah ke anak perempuan itu. "Aku? Malaikat."
Anak lelaki itu terdiam sejenak, tapi kemudian gelak pun tak tertahan untuk tak meluncur dari bibirnya. "Ayolah, malaikat itu tidak ada. Setidaknya tidak ada malaikat yang tidak bersayap!" ucapnya sambil mengelap sudut mata.
Kini giliran anak perempuan itu yang terdiam, menoleh ke belakang. "Sayapku!" pekiknya sambil berdiri, menyentuh punggungnya. "Tapi aku benar malaikat, malaikat percobaan."
Anak lelaki itu tersenyum sinis. "Oh ya?"
"Ya!"
"Baiklah." Si anak lelaki menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Coba ambil nyawaku. Katanya semua malaikat bisa melakukannya."
Anak perempuan itu terperanjat, menggeleng. "Malaikat tidak boleh mengambil nyawa yang belum waktunya!" serunya menirukan salah satu kalimat dalam buku bundar itu.
"Kalau begitu kau berbohong karena yang kutahu malaikat bisa melakukan apa saja," ujar anak lelaki bermanik cokelat itu tak mau kalah.
Netra cokelat si anak perempuan menyipit. "Teori dari mana itu?"
"Teoriku. Aku adalah anak presiden, jadi aku tahu segalanya!"
"Apa kau tahu maksud dari perkataanmu sendiri?"
Anak lelaki itu berbalik, menatap anak perempuan itu dengan sudut mata. "Tentu saja, artinya aku mati kan?"
"Dan kau menginginkannya?" tanya anak perempuan yang mengakui dirinya malaikat, akhirnya.
"Entahlah. Di sini kan pentingnya kau itu malaikat atau bukan kan?" anak itu mengangkat tangannya, tersenyum merendahkan.
Si anak perempuan yang terpancing mengepalkan tangan. "Kau akan menyesal."
Anak berambut cokelat pendek itu tertawa sinis. "Kita lihat saja nanti."
***
"Sudah... kan?" anak perempuan terbungkus peluh itu berkata ragu, menatap anak lelaki yang sudah menjadi jiwa di sebelahnya.
"Baiklah," anak lelaki itu mengamati tubuhnya yng tembus pandang. "Sekarang kembalikan aku."
Kedua sudut bibir anak perempuan itu terangkat. "Aku tidak tahu, aku baru membaca sampai sana."
Bak petir menggelegar di tengah badai, anak lelaki itu mematung. "Kau... bercanda kan?"
Kali ini petir sungguhan menyambar di tengah awan kelam. Gemuruh mengundang angin lebat. Tiba-tiba sesosok wanita berambut pirang berdiri di tengah mereka. "Malaikat Percobaan Angelina!"
"Y-ya!" anak perempuan itu refleks memasang posisi siap.
Manik biru itu menatap tajam, mengarahkan telapak tangan ke arah gadis itu. "Sebagai akibat mengambil nyawa seorang manusia sebelum waktunya, kau dihukum!"
Sinar keemasan menguar dari telapak tangan halusnya, membuat manik malaikat percobaan itu berubah hijau. "Statusmu diturunkan menjadi manusia, dan kau harus menggantikan anak ini menjalani sisa hidupnya sampai kelak meninggal pada usia 18 tahun karena bom yang diluncurkan ke rumah ini, awal dari perang besar."
Kesadaran anak perempuan itu memudar.
"Ingatanmu sebagai malaikat percobaan dihapus, kau akan mengingat dirimu sebagai Elia Ryans. Mulai sekarang Keluarga Ryans hanya memiliki 1 putri."