Tiap menit, tiap detik, tiap hari.
Ada bayangan yang selalu mengikutiku.
Tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan sama sekali.
“Halen? Kau baik-baik saja?”
Aku mengerjap.
Aku menatap sahabat baikku, Selena, tanpa sepatah kata. Orang-orang melewati meja yang kami duduki. Suhu makanan kami mulai turun setelah kami berbicara lebih dari 10 menit.
“Tidak apa-apa.” Aku menarik senyum.
“Ngomong-ngomong apa kau tahu Gale?”
Aku mengangguk.
“Tentu saja. Kan kemarin dia membully-ku habis-habisan sampai aku harus memanggil pengasuhku untuk mengambilkan pakaian gantiku.”
“Hah? Kau baik-baik saja kan? Tidak apa-apa kan?” Selena menggoncang bahuku dengan tatapan cemas.
Aku menepis tangannya lembut lalu menggeleng. “Tidak apa-apa kok. Aku baik. Emang kenapa?”
Selena yang melirik sekelilingnya dengan hati-hati membuatku mengernyit. Lantas dia mendekat sambil membisikkan beberapa kata yang membuatku terkejut.
“Kemarin dia ditemukan meninggal akibat gantung diri.”
“Apa?!”
Ups. Aku menutup mulutku. Aku menarik pandangan orang-orang padaku.
“Ssssst” selena menempelkan jarinya di depan bibirnya.
“Gantung diri? Bagaimana mungkin? Bukannya hidupnya baik-baik saja hingga kemarin? Orang tuanya kan pengusaha kaya. Keluarga mereka juga masih bisa dibilang harmonis. Ada apa ini?” Aku berbisik.
“Ada yang bilang kalo ada yang membunuh Gale karena dia selalu membully-nya anak-anak lemah di sekolah. Mungkin pembunuhnya ada di sekolah.”
“Tapi siapa? Siapa yang bisa membunuh seorang Tuan Muda Anderson? Menurutku tidak ada satu pun yang bisa membunuhnya di sini.”
“Orang-orang juga begitu. Memang siapa yang bisa menyusup dan membunuhnya dengan mudah? Dan dari yang kudengar masih ada beberapa anggota kepolisian yang berkeliaran di sekitar sini untuk menyelidiki hal tersebut.”
“Tidak ditutup?”
“Kasus ini tidak bisa ditutup. Setidaknya karena status keluarga Anderson.” Selena mengangkat bahu.
“Wow, lambe turah jujur sepertimu memang yang paling bisa diandalkan!” Aku mengacungkan jempolku kepadanya.
“Aku bukan lambe turah, tahu! Aku hanya mendengarnya. Itu saja.” Selena mengerucutkan bibirnya tidak puas.
Kami kemudian menyantap makan siang kami hingga jam istirahat berakhir.
...
Bayangan itu.
Ya, bayangan itu lagi.
Entah ini delusiku atau bukan. Tapi setiap kali aku melamun. Aku pasti akan memiliki khayalan terjebak di antara lautan tinta dangkal yang tak terbatas. Dengan bayangan itu di hadapanku.
Dia menatapku. Lalu tersenyum.
Bibirnya terkoyak lebar hingga ke telinga. Tampak darah yang mengalir keluar dari sana. Mengerikan. Tanpa kusadari bulu romaku meremang.
Aku membuka mata.
Dan aku sudah tiba di rumah.
Terbarung di ats ranjang dengan piama lengkap.
Aneh.
Aku berjalan keluar. Menuruni tanggal dan tiba di ruang makan. Jarum jam telah mengarah pada angka 6. Aroma sedap mencapai hidungku.
“Bibi? Makanan apa yang akan bibi siapkan untukku hari ini?”
Wanita paruh baya itu adalah pengasuhku. Aku selalu bersamanya sejak aku lahir. Berbeda dengan ibuku yang selalu menghindariku setiap saat.
“Steak dan salad sayur.”
Seperti harapanku!
Bibi membawa nampan itu ke hadapanku. Daging sapi itu tampak sangat mengguga selera. Aku menelan air liurku dengan susah payah. Lalu menyantap habis itu.
Kulihat bibi tersenyum dari ekor mataku. Aku membalas senyumnya.
Aku menuju kamar lalu terlelap karena ngantuk.
Hari yang menyenangkan.
...
Darah.
Darah, darah, dan darah.
Ibu dan ayahku menatapku dengan mata yang membelalak. Ya, orangtua yang selalu menghindariku itu.
Tapi seakan-akan tubuhku tak dapat kugerakkan. Aku berlari dan menerkam mereka dengan pisau dapur bersimbah darah di tanganku.
Tidak, tidak, tidak!
Hentikan ini!
Terlambat.
Pisau itu secara bergantian menembus dada mereka.
Akhirnya, akhirnya tubuhku bisa digerakkan lagi. Aku mendekati kedua mayat itu lalu menangis tersendu-sendu.
“Ibu, ayah...!”
Lalu tampak lagi bayangan itu.
Ya, bayangan yang selalu mengikutiku.
Dia berjalan dengan senyum mengerikan di wajahnya.
Tangannya menggapai pipiku yang dibajiri air mata.
“Kau adalah milikku.”
...
Aku membuka mataku. Menyesuaikan cahaya lalu menemukan rantai membelenggu tanganku.
Seorang wanita menatapku dengan tatapan dingin dan penuh antisipasi. Aku terkejut.
“Bibi...” Tenggorokanku sangatlah kering. Semalam aku tidak meneguk air sama sekali. Hanya steak.
“Lepaskan .. aku...”
“Tidak bisa,” balasnya. “Kau akan membunuh orang lain lagi jika aku membebaskanmu.”
“Ke .. na .. pa...?”
“Saat itu. Saat ibu dan ayahmu mengajakmu ke wahana bermain. Saat itu mereka tidak menghindarimu sama sekali. Namun setelah hari itu kaulah yang justru membuat mereka menghindarimu.”
Aku ingin berbicara dan bertanya tapi tidka bisa.
“Mereka meninggal.”
Bola mataku membola.
“Dan kaulah yang membunuh mereka.”
Aku? Aku yang membunuh mereka? Kenapa?! Aku tidak ingat aku pernah melakukan itu. Sungguh!
“Entah kau takkan mengingatnya. Tapi dia pasti tau itu.”
Dia? Siapa?!
“Halen? Kau tahu Gale kan? Kaulah yang membunuhnya.”
Dari balik kegelapan tampak sesosok gadis remaja. Yang lebih mengejutkan dia adalah sahabatku, Selena.
“Ingatanmu aneh sekali. Padahal kita bertiga adalah sahabat baik sebelumnya. Tapi kenapa kau tidak mengingatnya? Kau hanya mengingat saat dia mengamuk karena kau menyinggung masalah sensitif ayahnya.”
Aku tertegun. Menyinggung masalah? Kapan?
“Aku seharusnya mengajakmu pergi ke psikiater sebelumnya. Tapi kau, kau telah membunuh banyak orang. Rayhan, Cecilia, Amanda, lalu Gale. Juga orang tuamu. Kurasa kau akan membunuh banyak orang jika dibiarkan lagi.” Selena terdiam sebelum kembali melanjutkan. “Polisi akan datang sebentar lagi. Tunggulah.”
Tunggu. Ini terlalu cepat. Kenapa? Sebelumnya aku dan Gale bersahabat? Lantas kenapa dia tidak mengingatnya? Aku memeras otakku sekuat tenaga.
“Ingin melarikan diri?”
Suara itu lagi.
Itu pasti milik bayangan itu.
“Ingin melarikan diri?” Ulangnya.
Aku, aku ingin tahu kenapa orang menyalahkannya? Kenapa Seena tampak sangat menyesal? Psikiater kenapa? Dia masih waras.
“Ya.”
Terdengar tawa nyaring beberapa saat sebelum segalanya menjadi gelap.
...
Tampak beberapa orang dari anggota kepolisian mengerumuni rumah Halen. Mereka mendobrak pintu setelah menemukan bahwa tiada orang yang menyahut dari dalam setelah mereka mengetuk berulang kali.
Brak!
Darah berceceran. Mayat dua orang tampak hancur hingga tak berbentuk. Dipenuhi tusukan tajam yang tidak terhitung jumlahnya.