Say Hello to You
Oleh : Agustina Anggraini
@agustinaanggraini24
***
Mengenakan jaket hitam tebal, Gita menatap kosong ke langit abu-abu yang memuntahkan butiran air, yang makin lama makin deras. Dia memeriksa smartphone-nya, hendak mengirim pesan ke seseorang dengan gugup.
Menarik tudung jaketnya agar wajahnya tak terlihat, dan menata masker hitam dan kacamatanya, Gita melirik orang-orang di sekitar yang sedang menunggu bus datang.
Halte bus yang agak ramai sedikit membuat Gita cemas, dia berulang-kali menengok kesana-kemari dengan sikap waspada.
Selang sepuluh menit kemudian, bus akhirnya tiba. Orang-orang bersiap memasuki pintu bus ketika muncul pekikan dan teriakan panik yang menggelegar di tengah derasnya hujan.
Rasa basah nan amis tercium dari perutnya yang tertusuk dari belakang, Gita membelalakkan matanya tak percaya. Tubuhnya semakin berat dan pandangannya kabur.
Gita meraih smartphone-nya yang terjatuh, orang-orang di sekitarnya memegang si pelaku dan ada yang sudah memanggil polisi dan ambulans. Namun, Gita tahu bahwa waktunya tidak banyak, lagipula dia cukup puas selama ini, mungkin ada sedikit penyesalan terhadap seseorang yang amat mengkhawatirkannya, satu-satunya orang yang terus berusaha menyemangatinya dalam hidup ini.
Gita mengetik dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang luka di perutnya. Dia tak bisa menangis, meskipun ingin, dia telah kehilangan emosinya kembali pada saat seperti ini.
Pesan yang dia kirimkan kepada seseorang bernama Ren.
Gita :”Halo, kak. Bagaimana kabarmu? Mungkin suatu hari kita bisa bertemu, tapi aku harus mengucapkan selamat tinggal.”
Merasa telah menyelesaikan tugas terakhirnya, Gita membiarkan tubuhnya jatuh sepenuhnya dan tenggelam dalam kegelapan.
***
Bermodal otak yang sedikit di atas rata-rata, Gita mulai belajar menjadi peretas demi mendapatkan kebenaran tentang orang tuanya yang menghilang.
Dia juga harus membantu kakak sulungnya untuk menghidupi adiknya, berhenti dalam studi perguruan tingginya yang baru mencapai tahap keemasan, Gita merelakan semuanya termasuk emosinya.
Dia tahu bahwa kondisi mentalnya tidak benar, tetapi dia tidak peduli, selama tujuannya tercapai, maka itu dapat diterima, selama dia tidak benar-benar menjadi pasien penyakit jiwa atau orang gila.
Gita tidak bisa merasakan emosi apapun pada periode tertentu, saat itu terjadi dia biasanya mengacuhkan semuanya dan bekerja semalaman setelah belajar tentang peretasan.
Dia juga memutuskan hubungan dengan semua teman-temannya, kecuali seseorang yang dia pertahankan karena dia berhutang pada orang itu.
Ren, seseorang yang selalu membimbingnya untuk menjadi pribadi yang baik. Gita menyukainya, tetapi dia tak bisa memastikan apakah suka miliknya sama dengan suka yang dikatakan Ren.
Gita belum pernah bertemu dengan Ren di kenyataan, dia mengenal Ren lewat media sosial, mungkin itu suatu keberuntungan. Ren sangat baik padanya, bukan dalam artian menggoda atau modus, melainkan benar-benar peduli setelah mereka berdua saling mengenal selama beberapa tahun.
Awalnya Ren amat dingin dan acuh, tetapi lama kelamaan dia menjadi perhatian dan terus memberikan nasihat pada Gita, menyuruh Gita untuk lebih memperhatikan diri sendiri dan menjaga kesehatan baik fisik maupun mental.
Ren adalah seorang pria dewasa yang sangat peka, dia seperti seseorang yang memiliki indera keenam, yaitu firasat yang kuat.
Dalam hal apapun, firasat Gita mungkin hampir sama dengannya.
Untuk waktu lama, rutinitas Gita tetap sama sampai suatu hari, dia menemukan petunjuk tertentu. Terkait kasus orang hilang dan pembunuhan berantai, Gita mengecek keseluruhan berita dan mencatat detailnya.
Setiap hari, beberapa hal yang dia lakukan akan dia ceritakan kepada Ren. Namun, Gita tentu saja menyembunyikan sesuatu menyangkut tujuan utamanya.
Sayangnya, entah itu memang benar bahwa Ren memiliki indera keenam atau apa, Ren dapat menebak bahwa Gita sepertinya sedang mengerjakan sesuatu yang berbahaya.
Jika saja mereka berada di kota yang sama, maka Ren pasti akan langsung menghentikannya. Namun, pada saat itu, Ren tak memiliki kesempatan untuk pergi keluar kota karena beberapa masalah yang harus dia hadapi.
Alhasil, Ren memilih membantunya daripada menghentikannya. Bersama-sama mengumpulkan bahan informasi, mengeliminasi beberapa dugaan dan saling bertukar gagasan. Semua itu secara online.
Pernah Ren berkata bahwa dia ingin bertemu dengannya, tetapi mengetahui kalau hal itu tampaknya tidak mungkin.
Betulkah?
Petunjuk paling kritis ternyata berada di kota yang sama dengan Ren, Gita tertawa heran pada kebetulan yang begitu bagus.
Meninggalkan pesan terakhir kepada adik dan kakak sulungnya bahwa dia pasti akan menemukan kebenaran seperti apapun harganya, dia pergi dengan membawa persiapan.
Dengan perencanaan kritis, tersusun rapi, dan penalaran logika yang pasti, Gita memulai penyelidikannya sendirian.
Bohong jika dia berkata bahwa dia tak mencurigai Ren, tetapi dia memiliki firasat bahwa Ren justru seperti penyelamatnya.
Kebetulan merupakan sesuatu yang aneh. Gita masih mempertanyakan hal itu.
Dia secara kebetulan mudah menemukan petunjuk baru kemudian dia langsung menuju ke lokasi yang ada di petunjuk tersebut. Di sanalah, dia akhirnya tahu bahwa pencariannya berakhir di jalan buntu.
Di lokasi terbengkalai, rumah porak-poranda, dan ranah gersang, Gita melihat batu-batu nisan di mana-mana. Mengapa? Dia tersadar bahwa tebakan terbesarnya benar, dia telah sengaja diarahkan ke sini oleh pelaku yang menyebabkan orang tuanya menghilang.
Pelaku tersebut ternyata seseorang yang dia kenal, dia sebenarnya merasa tidak terkejut. Dia pernah mengalami pembullyan oleh orang itu, jelas bahwa Gita tahu kondisi mental orang itu tampaknya tidak beres.
Bagaimana orang itu masih mengingatnya bahkan membuat Gita kehilangan orang tuanya? Apakah kau bertanya mengapa psikopat menjadi psikopat? Itu pertanyaan tak masuk akal!
Gita terkekeh, menahan rasa geli, emosinya sedikit tersisa saat ini. Dia telah memperkirakan situasi ini.
Dia tentunya tak berniat membunuh orang lain, hatinya tidak mengizinkannya. Oleh sebab itu, Gita menggunakan taktik penyergapan dalam tempo setelah pertemuannya dengan si pelaku.
Mengenakan masker, kacamata, dan jaket hitam bertudung, serta celana panjang yang longgar disertai sepatu kets, Gita mengambil tongkat kayu yang dia sembunyikan di tasnya.
Kemudian, dia menipu pelaku dengan berpostur seolah-olah dia ingin menyerangnya sehingga si pelaku memasang posisi waspada.
Ada dalang di balik layar. Si pelaku hanya pesuruh. Di mana dan siapa?
Gita sudah bisa menebaknya. Siapa lagi yang mengetahui segala tentangnya? Itu Ren.
Dia berlari dari tempatnya sambil dikejar oleh pelaku, mengirim sinyal kesepakatan dengan polisi, lalu menuju daerah dengan kerumunan terbesar.
Gita mungkin menyesalinya, tidak, mungkin tidak. Dia telah berhubungan dengan seorang psikopat mengerikan. Dia mungkin membencinya, tetapi mungkin tidak. Sebenarnya, kebenaran ini sudah bisa diterka. Namun, Gita memilih melakukan upaya lebih lanjut. Dia sedikit berharap ini hanya salah paham.
Dia menelepon Ren dan berkata, “Halo, kak.”
“Gita?” balas ujung sana. Suaranya terdengar khawatir.
“Kak, apakah kau yang memanduku untuk datang ke sini? Benar, kan?” tanya Gita, saat dia melihat langit mendung dan tampak akan hujan. Dia segera berlari menuju halte terdekat.
Untuk waktu yang lama, itu hening sampai Ren menjawab dengan suara serak, “Ya.”
Gita tersenyum lega. “Kak, bisakah kamu jujur padaku?”
Firasatnya mengatakan bahwa Ren bukan dalang yang dia duga, tetapi bukti dan hasil penalaran menunjukkan sebaliknya. Namun, Gita memilih yang pertama.
“Aku membunuhnya.” Ren langsung memuntahkan kebenaran lain yang mencengangkan. “Aku membunuh pelakunya dan yang bisa kulakukan adalah memandumu untuk melihat sendiri kebenarannya agar kau bisa melepaskan obsesimu.”
Senyum Gita membeku.
“Aku memiliki lebih banyak koneksi dan petunjuk, aku mengetahui siapa pelakunya lebih awal dan pergi menangkapnya. Namun, demi membela diri, aku tak sengaja membunuhnya.” Ren sepertinya tertawa mencela diri sendiri.
“Tapi, kak. Apakah kamu melupakan kaki tangan?”
Gita mengingat pelaku yang mengejarnya tadi.
Ada rasa bahaya yang mengintai. Dia melirik beberapa orang di halte yang semakin bertambah.
“.... Gita, di mana posisimu saat ini?!”
“Halte dari daerah yang kau ingin aku tuju.”
“Tetap di sana! Waspadai sekelilingmu!”
Tuut!
Telpon terputus. Seketika ada suara guntur mengamuk seakan menandakan hal buruk yang mungkin terjadi.
Siapa pelakunya?
Siapa kaki tangan?
Mengapa? Apa alasannya?
Di dunia ini memang ada pertanyaan yang sepertinya tak bisa terjawab, tetapi akan lebih baik bila tak mengetahuinya.
Gita mengingat-ingat percakapannya dengan Ren tadi. Tiba-tiba dia memeriksa rekaman percakapan yang sengaja dia lakukan. Suara Ren dan caranya berbicara memiliki beberapa perbedaan dari kebiasaan aslinya.
Dia tidak sering menelepon Ren. Oleh sebab itu, Gita tak menyadarinya lebih awal.
Dengan rasa takut yang samar dan akhirnya memahami firasatnya yang aneh, Gita mengetik pesan ke nomor darurat yang diberikan Ren padanya dulu. Nomor pribadi Ren bila sewaktu-waktu nomor aslinya tak bisa dihubungi.
Dia akan mengetik ketika tiba-tiba rasa dingin muncul di perutnya setelah dia memeriksa sekeliling.
***
Ren terlambat, dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak melakukannya lebih cepat. Dia memang hampir terbunuh oleh dalang itu, tetapi berhasil memberikan perlawanan dan luka yang mematikan ke dalang itu.
Ponselnya diambil sewaktu dia tak memperhatikan, saat dia tersadar itu sudah terlambat.
“Gita ....”
Menatap pesan terakhir yang dikirim Gita ke nomor daruratnya, Ren membalas dengan matanya memerah, wajah pucat, dan tubuh yang gemetar menahan emosi. Ren merasa sebagian jiwanya telah diambil, hingga akhirnya dia mengetik balasannya.
“Halo, Gita. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”
End
***