Secerah pagi mentari datang menyelimuti indahnya hari ini. Pukul setengah lima pagi bunyi alarm jam membangunkan Hanna. Hanna segera mengambil handuk mandi, juga tak lupa mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Selesai sholat, ia membereskan tempat tidurnya. Sekarang sudah pukul enam pagi, ia disuruh ibunya untuk membeli sayuran di pasar. Tiba di rumah ternyata Tami sudah menjemput Hanna, ia merupakan sahabat karib Hanna sejak kecil. Mereka berdua saling berbagi mengenai masalah apapun.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara Hanna yang tengah pulang dari pasar.
"Wa'alaikumsalam," jawab Tami dan Ibunya bersamaan.
"Han, buruan dong ganti baju, udah telat nih!" ujar Tami.
"Iya sabar dong Tam, gue baru aja pulang dari pasar. Terus lo langsung nyuruh gue buat kue gitu aja? boro-boro mau bikinin Tam, waktunya aja udah kepepet gini. Harusnya ya, lo itu suruh gue ganti baju. Tapi nggak apa-apa kok masih gue maafin" jawab Hanna sambil tersenyum.
"Hah? capek.. deh" jawab Tami sambil memandang aneh pada Hanna.
"Ibu.. Hanna dan Tami berangkat sekolah dulu ya? Assalamu'alaikum" ucap Hanna.
"Wa'alaikumsalam Han, jangan lupa pulang sekolah nanti antar kue ke Bu Santi!" pinta Ibunya Hanna.
"Iya Bu" Jawab Hanna singkat.
Seperti biasa Hanna dan Tami memakai sepeda ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh, hitung-hitung sambil jalan-jalan. Baru saja Hanna dan Tami sampai di gerbang sekolah, bel tanda masuk pun berbunyi. Hanna dan Tami segera memarkirkan sepedanya masing-masing, lalu...
"Hanna!" Terdengar suara memanggil dari arah belakang mereka.
Rupanya seseorang yang dimaksud ialah Farish, salah satu teman sekolahnya yang datang terburu-buru menghampirinya.
"Eh Farish ada apa?" tanya Hanna.
"Begini..gue pengen ngomong sesuatu sama lo, sebenarnyaa...eee.. istirahat nanti lo dateng ke taman ya, jangan lupa bawa buku ya, bye.." Jawab Farish gugup.
"Han masuk kelas yuk? Ajak Tami pada Hanna.
Selama pelajaran di sekolah, Hanna masih memikirkan perkataan Farish tadi pagi, kemudian ia berkata dalam hati.
"Gue heran deh sama Farish, dia itu kan pintar. Tapi kenapa dia nyuruh gue bawa buku tulis? mana pakai acara dateng ke taman segala?" tanya Hanna didalam hati.
"Hhmm..mungkin dia lupa ngerjain tugas matematika. Maka dari itu dia nyuruh gue dateng ke taman" ucap Hanna.
Saat jam istirahat, Tami mengajak Hanna untuk pergi ke kantin bersama. Namun Hanna menolaknya dengan cara halus pada sahabatnya.
"Han ke kantin yuk. Udah laper nih, dari tadi perut gue keroncongan terus" Pinta Tami sambil memasang wajah melas.
"Aduuh Tami ke donkin nya nanti aja ya? gue ada janji sama Farish di taman nih" jawab Hanna.
"Kantin! bukan donkin!" bentak Tami.
"Apaan sih Tam? Ko teriak-teriak gitu di telinga gue? Dikira gue budek apa?" Sahut Hanna yang sedikit kesal.
"Capek..gue ngomong sama lo" kata Tami sembari beranjak pergi ke arah kantin yang ditujunya.
Kemudian Hanna segera bergegas menuju taman yang kebetulan letaknya tidak jauh dari kantin. Tak lupa Hanna pun datang sesuai perjanjian.
"Far udah lama nunggu ya? sorry tadi gue baru aja nganterin Tami" Kata Hanna yang baru saja berbohong pada Farish.
"Hah? Enggak ko, gue juga nggak lama baru dateng, oh lo udah bawain bukunya juga? Ehmm...kalau gitu gue ngomong langsung aja ya. Sebenarnya gue nyuruh lo dateng kesini, soalnya.. mau minta pendapat sekalian nilai karya puisi gue, ini khusus buat lo Han" Jawab Farish yang mulai terasa gugup dan mengekspresikan puisinya pada Hanna.
Hanna hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Farish sambil menatap matanya. Kemudian di saat itu juga Farish menjadi sangat percaya diri untuk membacakan puisi cinta pada Hanna.
"Secarik puisi ini judulnya Kau" Ujarnya.
Hanna matamu seperti jeruk yang memancarkan kesegaran
Bibirmu seperti manisnya strawberry
Dan wajahmu seperti Sandra Dewi
"Han lo mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Farish dengan penuh ekspresi yang tulus.
Setelah mendengar ucapannya, Hanna malah merasa kesal dibuatnya. Ia segera membalasnya dengan sebuah tamparan yang mendarat di pipi Farish.
“Sialan lo! Emang gue segitu jeleknya apa di mata lo? Sampai bilang kalau mata gue seperti beruk yang memancarkan keserakahan, bibir gue seperti bakteri dan wajah gue seperti sapi!" Bentak Hanna.
"Gue nyesel banget ketemuan sama lo Far, gue kira lo ngajak gue ke taman, mau nyatakan cinta ke gue! tega banget sih lo Far, baru kali ini gue ketemu cowok kayak lo! Asal lo tau aja ya, gue akan buktiin kalo gue ngga seburuk yang lo kira!!” Bentak Hanna tepat didepannya wajahnya Farish.
Hanna segera bergegas pergi untuk menemui Tami dengan buliran bening di wajahnya.
“Han lo mau kemana? Argh… kenapa sih sama Hanna? Kapan gue ngatain dia? Adanya juga gue nyatakan perasaan gue ke dia.
Farish tak bergeming, lalu beberapa saat sejenak berpikir kembali dalam lamunannya.
"Gue harus tau masalah dia apa” Kata Farish penasaran.
Tanpa mencari kesana-sini, Hanna tahu benar tempat favorit Tami. Dimana lagi kalau bukan di kantin. Hanna segera menghampiri sahabatnya serta duduk di tempat Tami sedang melahap bakso buatan Pak Haji Oso.
“Han lo kenapa? Kok tiba-tiba dateng ngambek kaya gitu sih?” Tanya Tami.
Pertanyaan Tami pun tak kunjung dijawab oleh Hanna.
“Kenapa kok diem? Oh iya gimana janjiannya sama Farish tadi? Terus dia bilang apa aja?” Tanya Tami penasaran.
Sepertinya Hanna sudah tak bisa membendung lagi tangisannya. Hanna sudah terlanjur kesal dengan Farish. Saking kesalnya, ia ingin memakan jahe dan bawang bombay sebanyak satu kilogram secara bersamaan dimasukkan ke dalam mulutnya sehingga menghasilkan tangisan bombay. Setelahnya Hanna merangkul Tami dan terisak tangis.
“Lo tau nggak Tam? Ternyata Farish itu tega banget sama gue, gue kira dia itu baik banget sama gue tam. Jadi gini waktu di taman dia bilang dari hati yang paling dalam katanya mata gue seperti beruk yang memancarkan keserakahan, bibir gue seperti bakteri dan wajah gue kaya sapi" Ucap Hanna dengan komposisi suara tangis yang
enak didengar dilapisi nada cegukan.
Mendengar cerita Hanna,Tami pun tergelak tawa sambil membayangkan perpaduan wajah sapi, mata beruk dan bibir yang kecil seperti bakteri tersebut.
“Ha haha” Tami tertawa terbahak-bahak.
“Kok malah ketawa sih? bukannya dibela sahabatnya sendiri” Sindir Hanna.
“Maaf-maaf, aduh perut gue sampai sakit nih, emangnya Farish bilang kaya gitu? setau gue, dia sifatnya sopan kok. Padahal.. lo kan cantik Han, aneh? Udah dong jangan nangis lagi” Bujuk Tami sembari mengusap air matanya Hanna.
Teng
Bel tanda masuk pun berbunyi, semua anak-anak masuk ke kelasnya masing-masing. Jam pelajaran ketiga kali ini adalah mata pelajarannya Pak Bambang guru olahraga. Beliau merupakan guru yang paling galak diantara guru-guru yang lainnya, tapi… dari hati yang paling dalam hatinya sangat baik. Walau sebenarnya belum pernah masuk ke dalam hatinya, dan tidak akan mau masuk ke dalam hatinya Pak Bambang.
“Selamat siang anak-anak” Ucap Pak Bambang dengan semangat.
“Siang pak!” Jawab murid-muridnya secara bersamaan.
“Sebelum memulai pelajaran, Bapak ingin memberitahukan kepada kalian bahwa dua minggu lagi sekolah kita mengikuti kegiatan lari maraton yang mencakup semua sekolah SMA se-Jakarta. Kalian semua wajib menjadi peserta, kemudian semua peserta lari maraton berkumpul di garis start yang berada di jalan senayan dan berakhir di monas" Ucap Pak Bambang menjelaskan.
"Jadi, sebelum dua minggu tiba, kalian semua harus berlatih dengan sungguh-sungguh. Karena melawan SMA lain, oleh karena itu kalian harus rajin-rajin membagi waktu luang, agar bisa mempertahankan nama baik sekolah kita sekaligus bisa menjadi kebanggaan diri sendiri, orang tua, maupun orang lain. Sampai disini, apakah ada pertanyaan?” Tanya Pak Bambang.
“Ada pak! Lari maraton nanti pakai baju apa?” Tanya Arga bendahara kelas Hanna sambil memasang wajah yang sedikit lugu.
“Iyaa.. itu merupakan pertanyaan yang sangaatt mengherankan Arga! Dimana-mana yang namanya lari, pasti memakai baju olahraga, mengerti!” Jawab Pak Bambang sambil menahan emosinya.
“Ha haha,” semua teman-teman sekelas menertawakan Arga.
“Pak ada satu pertanyaan lagi! Lari maraton nanti sekolah kita akan melawan sekolah mana?” Tanya Arga kembali.
“Arga! udah jangan bercanda aja! Teman-teman kamu sudah sampai Amerika, kamu sendiri masih di Jonggol! Kamu kemana aja? Apa perlu bapak jelaskan lagi?” Ujar Pak Bambang mendengus kesal, seperti kebakaran jenggot.
“Engga pak…” Jawab murid-muridnya secara bersamaan kecuali Arga yang masih sedikit kebingungan.
“Cukup sekian pengumuman yang telah bapak sampaikan, untuk hari ini pelajaran kosong, dan saya ucapkan terima kasih” Kata Pak Bambang kembali sambil bergegas keluar ruangan.
“Horreee…” Ucap semua murid kelasnya secara bersamaan.
Teng-teng-teng
Bunyi bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Farish masih saja memikirkan kejadian di taman, saking asyiknya melamun, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dan mengagetkan Farish tanpa sepengetahuannya.
“Doorr! wooii!! ngapain ngelamun aja? kayak ngga ada kerjaan, bukannya cepet pulang lo! di depan udah ada yang jemput lo tuh si Anti!” Kata Rian salah satu teman sekelasnya yang paling dekat dengan Farish.
“Gue lagi bingung nih sama Hanna, jelas-jelas tadi di taman gue nyatain cinta sama dia, tapi kenapa dia bilang kalo gue ngatain dia? Kan aneh?” Tanya Farish seraya memikirkan ucapan Hanna saat di taman sekolahnya.
“Oh… jadi itu sebabnya lo dari tadi ngelamun terus? Sini biar gue kasih tahu, kenapa Hanna kalo diajak ngomong suka nggak nyambung” Jawab Rian sambil tersenyum kecil.
“Mau! Mau dong, emang apa sih sebabnya?” Tanya Farish penasaran.
“Eeitt… tapi ada syaratnya, lo harus menuruti perintah gue. Gimana setuju ngga? Kalau nggak mau juga nggak apa-apa” Ujar Rian sambil membujuk Farish.
“Dengan senang hati” Jawab Farish dengan singkat.
“Ok, sebab Hanna nggak nyambung itu karena diaa… budek, emang sih dia cantik, tapi kekurangannya itu loh b-u-d-e-k alias budek. Hanya orang bodoh aja yang mau jadian sama dia, jadi… serius nih lo cinta sama dia?” Rian menyindirnya dengan tersenyum tipisnya.
“Darimana lo tau semuanya? Apa maksudnya orang bodoh? Jadi menurut lo, gue itu orang bodoh gitu?” Seru Farish sambil menarik kerah seragam sekolah milik Rian.
“Tenang dulu dong Far, tenang… gue nggak bilang lo bodoh kok! Gue cuma mengingatkan, kalau yang mau jadian sama Hanna aja. Far lo harus buktiin sama dia, kalau lo ini cowok yang punya harga diri, apa lo nggak sadar?" Sindir Rian.
"Dan saatnya lo balas dendam ke Hanna saat lari maraton nanti oke?” Sahut Rian kembali sambil memastikan bahwa Farish benar-benar mengikuti perjanjian Rian barusan.
“Sorry Yan, gue nggak akan percaya tanpa bukti!” Timpal Farish.
“Ya ampun Far, lo masih belum percaya juga sama gue? Nih gue punya videonya di ponsel, mau lihat nggak?” Tanya Rian seraya menghasutnya.
“Boleh, mana sini biar gue lihat sendiri” Kata Farish penasaran.
“Sebelum gue kasih lihat videonya, gue mau ceritain dulu kejadiannya, jadi gini… seminggu yang lalu gue melihat Hanna dan Tami di rumah sakit, waktu itu gue lagi menjenguk saudara gue. Kemudian gue ngikutin mereka dan menuju ke sebuah Specialis Telinga, dan disitu gue mulai curiga, kenapa mereka berdua dateng ke tempat itu? Hmm.. terus gue kepikiran buat merekam video percakapan mereka Far. Ini lihat aja videonya…
“Bagaimana Dok?” Tanya Tami pada dokter yang menangani Hanna.
“Teman anda mengalami gangguan pendengaran” jawab Dokter Reyna.
“Apakah sangat serius dok?” Tanya Tami kembali.
“Kebetulan tidak, gangguan pendengaran yang dialami teman anda tergolong Budek Pertengahan,” jawab Dokter Reyna kembali.
“Apa itu budek pertengahan dok?” Tanya Tami.
“Budek pertengahan itu adalah jika seseorang berbicara dengan jarak dekat padanya, dia tidak bisa mendengar dengan jelas, dan sebaliknya kalau seseorang berbicara dengan jarak jauh padanya, maka dia bisa mendengar dengan jelas seperti bicara jarak dekat normal" Kata Dokter Reyna dengan pembawaan yg bijaksana.
"Dan kalau anda ingin membantu teman anda? Salah satunya dengan cara membeli alat bantu khusus pendengaran. Kalau masalah harga… cukup mahal” Ujar Dokter Reyna dengan penjelasan yang sangat detail.
“Kalau begitu terima kasih atas sarannya dok, permisi..” Ucap Tami sambil tersenyum.
“Jadi gitu ceritanya Far, sekarang kan lo udah tau. Apa lo masih suka sama dia? Berarti lo harus siap sama perjanjian kita diawal tadi” Ucap Rian.
“Tapi Yan gue…” jawab Farish dengan ragu-ragu.
“Nggak ada tapi-tapian, udah ah! Gue cabut dulu, bye..” jawab Rian sembari beranjak pergi meninggalkan Farish.
“Bye,” jawab Farish singkat.
* * * *
Tiba di rumah, Hanna berganti pakaian dan mengantarkan kue pesanan ibu Irma. Seperti biasa ia selalu membantu ibunya di toko kue yang bertuliskan Toko Kue Family. Kemudian ia mengajak Tami untuk pemanasan dan latihan lari di pertandingan maraton nanti yang setiap hari mereka lakukan.
Semua murid-murid SMA se-Jakarta sudah berkumpul di garis start dan memakai nomor peserta masing-masing yang terdapat di depan baju olahraga mereka. Jumlah total peserta lari maraton sebanyak 350 orang, disaat itu Hanna mendapatkan nomor peserta 327, Farish dengan nomor 329, Tami dengan nomor 336, Rian dengan nomor 338, Anti dengan nomor 342, dan Arga dengan nomor 350.
Sebelum memulai pertandingan semua peserta harus memperhatikan aba-aba suara pistol ditembakkan ke atas dan mulai. Di tengah perjalanan banyak peserta yang berguguran.
kemudian di perjalanan dengan jarak 50 kilometer ada beberapa peserta terlihat berguguran.
Tidak terasa pertandingan lari maraton sudah hampir terlihat dari kejauhan dalam perjalanannya dengan jarak 15 kilom disana ada sembilan peserta lagi dari perwakilan empat sekolah SMA se-Jakarta yang masih bertahan. Suara sorak-sorai para pengunjung memadati area pertandingan, adik serta ibunya hanna pun ikut menyemangati hanna, terdapat tiga peserta dari perwakilan SMA Bakti Mulia yaitu hanna, Farish dan Rian.
"Hanna kamu pasti bisa nak! Semangatt !" Seru Ibunya sambil berteriak dari luar area pertandingan.
"Iya ka semangaat!" seru Rio adiknya Hanna.
Mendengar semangat dan dukungan tersebut, Hanna berlari semakin kencang. Namun, Rian menghasut Farish agar menyelengkat kaki Hanna. Tapi Farish pun tak tega melakukannya, ia pun hanya bisa terdiam sambil mengalihkan pandangannya.
"Far sekarang waktunya! nunggu apa lagi?" Rian terus memakinya sembari berlarian.
"Gue ngga tega Yan!" Sahut Farish penuh iba.
"Aarghhh... banyak ngomong lo! Kalau nggak mau, biar gue aja yang balas!" Rian sambil berlari mendekati hanna.
Kemudian kakinya menyamping ke kanan tepat arah Hanna sedang berlari. Hanna pun terjatuh, untuk bangkit sendiri pun tidak bisa, ia hanya merintih kesakitan.
"Aduuhh..." rintih Hanna karena merasa kesakitan setelah terjatuh di arena lomba maraton.
5 kilometer lagi menuju garis finis yang tepatnya di monas, namun Hanna kalah dalam pertandingan karena kakinya dijegal oleh Rian. Setelah melakukan hal tersebut, Rian tersenyum gembira melihat Hanna dan melanjutkan perjalanannya, Farish pun berhenti berlari, kemudian membantu Hanna yang terjatuh.
"Sebentar lagi garis finis ! Farish-Farish... lo mau aja gue manfaatin!" Rian meneriakinya dengan senyum sinis.
Namun perkiraan Rian salah, Farish segera mengejarnya dengan penuh amarah. Farish menarik kerah baju olahraga Rian, tak sungkan ia pun hampir menghabisi tiap sudut bagian wajah Rian dengan beberapa hantaman yang terbilang lumayan keras.
Buggghh
"Apa-apaan sih lo Far!" Kata Rian dengan rasa kesalnya.
"Apa-apaan? Jadi lo belum sadar juga? Mungkin lo anggap semuanya sepele. Tapi bagi gue, sikap barusan bisa jadi boomerang buat diri lo. Kalau ingin menang, tolong pakai cara yang sportif!" Balas Farish.
"Sebelumnya kita kan udah sepakat! Lo lupa? Gue ini sahabat lo Far, gue cuma bantuin lo supaya.. lo ngga salah pilih nyari pacar. Apalagi sama Hanna, heh... cantik-cantik kok budek?" Timpal Rian dengan nada sinisnya sambil menaruh kedua tangannya ke pinggangnya.
"Apa?" Sahut Farish.
"Sahabat? Lo bukan sahabat gue, tapi orang yang cuma numpang tenar buat deket sama gue yan!" sambung Farish yang tak mau kalah.
Suasana semakin keruh dan memanas di area pertandingan.
"Jarak berlari tinggal 2 kilometer lagi!" Teriak pemandu pertandingan.
Mendengar kabar tersebut Farish dan Rian cepat-cepat berlari untuk mendapatkan kejuaraan. Saat mendekati garis finis, keduanya tetap berlarian semampunya. Namun di dalam pertandingan, pasti akan ada satu pemenang. Juara itu diberikan kepada Farish.
Rian berteriak menyesali perbuatannya dan pingsan seketika di area pertandingan tersebut. Sedangkan Hanna, Tami, Arga dan lainnya memberikan selamat serta senyuman ceria pada pemenangnya.
"Selamat ya Far" Ucap Hanna sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum bahagia sambil memasang wajah cantiknya.
"Terima kasih" Jawab Farish dengan membalas senyuman manis pada Hanna.
"Lo bawa apa Far? Kok disembunyikan gitu sih? Jadi makin penasaran deh gue" Tanya Hanna sambil melirik tangan ke arah Farish yang bersembunyi di belakangnya.
"Oh iya Han, gue ada hadiah buat lo. Tolong diterima ya. Sorry ini cuma kotak kecil yang isinya yaah.. mungkin nggak terlalu berharga buat kebanyakan orang" Ujar Farish dengan nafas yang tersengal.
"Apa tuh?" Jawab Hanna sambil memperhatikan gelagat Farish.
"Sebentar ya" Sahut Farish sambil mendekati Hanna dan memakaikan alat pendengaran untuknya.
"Ini...?" Sahut Hanna sambil memegang alat pendengaran yang diberikan padanya tersebut.
"Iya gue udah tau semua masalahnya, Han kenapa sih lo berusaha menutupi kekurangan lo? Harusnya lo itu bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh sang pencipta. Han, gue menerima lo apa adanya, hhmm... berarti waktu lo nampar gue di taman itu salah paham?" Tanya Farish terus terang.
"Hhmm... iya..." Jawab Hanna dengan rona merah di wajahnya.
"Jadi kita jadian dong?" Tanya Farish seraya tersenyum.
"Iya boleh " Jawab Hanna tersenyum bahagia serta pipi yang merah merona.
"Ehem..ehem.. kayaknya ada yang baru jadian nih? Oh iya, gue sama Farish punya satu kalimat yang berarti buat lo" Ledek Tami pada sahabatnya.
"Wah apa tuh?" tanya Hanna penasaran.
"Satu..dua..tiga.. cantik-cantik kok budek!" Pekik Tami dan Farish secara bersamaan, kemudian mereka pun tertawa bersama-sama.
SELESAI
*Don't plagiat
💐Author juga punya karya yang lainnya.
Judul novel Zed Analytical Number Nine dan beberapa cerpen juga chat story. yang penasaran boleh dibaca. Terimakasih 🙏🙏