“Emang ada yang salah?” tanya Kunyil dengan mulut penuh coklat almond.
“Ga, ga ada yang salah, yang salah itu buah semangka berdaun sirih, ya adalah! Itu surat ga seharusnya dikirim!” teriak Rangga. “Idih marah-marah,” sebal Kunyil.
“Kamu itu kenapa sih Ga … lha wong surat kamu itu sudah diterima sama orangnya, harusnya senang toh?” heran ibu.
“Bu itu surat aku tulis bukan buat dikirim, itu sengaja aku ga kirim buat aku simpan sendiri aja rrghhhh,” geram Rangga mengusap-ngusap wajahnya kesal karena suratnya sudah terlanjur terkirim. Ibu dan Kunyil saling tatap. “Kalau buat Kak simpan sendiri, kenapa pake amplop dan ada alamatnya segala sih?” tanya Kunyil.
“Iya itu begonya aku,” jawab Rangga, “kenapa ga nanya-nanya dulu sih?”
“Ya maksud Ibu, buat surprise kamu seneng gitu,” jelas ibu.
“Ini emang surprise banget Bu,” Rangga menunduk lemas.
“Ya sudah Ibu minta maaf, abis Ibu ga tau,” ucap ibu, “makanya lain kali kalau nulis surat langsung kirim aja toh Ga.” Ibu geleng-geleng seraya keluar kamar. “Lagian kenapa panik sih Kak? Emang apaan sih isinya?” selidik Kunyil. “Ya gitu deh, malu-maluin pokoknya,” jawab Rangga. Kunyil tertawa, “Hahaha, pasti soal kebucinan ya?” Rangga mengangguk. “Udah sih Kak, nasi sudah jadi lontong sayur, terimain aja … paling juga Melati bacanya sambil ketawa-tawa hahaha,” ledek Kunyil. “Huh mati aku!” cetus Rangga sebal. Kunyil masih tertawa.
“Kalau Kak ke rumahnya Melati trus ambil lagi suratnya gimana ya Nyil?”
“Dih ga lucu Kak … lagi pula Melati pasti udah balik ke Jakarta.”
“Jakarta?”
“Iya … kemarin dia bilang, dia sekarang kerja di Jakarta.”
“Kamu tau alamatnya? Atau nomer teleponnya?”
Kunyil menggeleng, “Aku lupa ga nanya.”
Rangga menghela nafas, tak ada yang bisa dilakukannya lagi.
***
Para gadis remaja itu menjerit-jerit melihat grup boyband pujaan hati mereka. 9 orang pemuda tampan dengan pakaian modis membalas sambutan para gadis itu dengan melambaikan tangan mereka, membuat para gadis itu semakin histeris saja. Lampu-lampu blitz dari kamera para wartawan pun menyala tak henti-henti mengambil foto dari setiap gerak dan ekspresi 9 pemuda tersebut. Gadis-gadis itu memanggil-manggil nama idola mereka yang sedang berada di lobi hotel dengan penjagaan ketat. “Rangga! Rangga! I love you!” teriak salah satu gadis. Pemuda yang dipanggil namanya itu hanya menyunggingkan senyum sembari mengedipkan matanya membuat gadis itu semakin histeris.
Kemudian para pemuda itu melangkah masuk hotel meninggalkan semua keriuhan di luar lobi. Mereka menuju sebuah ruangan yang telah disiapkan untuk mereka beristirahat dan menikmati jamuan makan malam kelas atas. Begitu banyak orang di dalam ruangan itu membuat Rangga sebenarnya tak betah. Tetapi demi karir dan nama baik, maka dirinya dan teman-temannya melayani percakapan dari banyak orang yang bergabung dengan mereka di jamuan makan malam itu.
Saat Rangga sedang bercakap-cakap, tiba-tiba melintas tak jauh darinya, seorang gadis yang hanya nampak punggungnya di antara keramaian orang. Rangga terkesiap, ia seperti melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Tetapi gadis itu hilang ditelan keramaian dengan cepat. Mata Rangga mencari-cari tetapi ia tidak bisa menemukannya. Rangga mendesah, sepertinya itu hanya halusinasinya saja.
Di satu kesempatan, Rangga beringsut menarik dirinya dari keramaian. Ia berjalan keluar teras samping hotel dengan taman terbuka yang luas. Lampu-lampu taman yang indah berpadu padan dengan langit yang sedang berbintang terang malam itu. Rangga menarik dan menghela nafasnya, ia lega bisa lepas dari semua basa-basi itu. Rangga berdiri menghadap taman, mereguk gelas berisikan jus apel yang tadi dibawanya dari meja jamuan.
"Rangga ….”
Terdengar suara memanggil namanya. Rangga terkejut dan menoleh. Ia baru tersadar kalau di pojok teras itu ternyata ada seorang gadis yang tengah berdiri memunggunginya. “Kamu memanggil saya?” tanya Rangga. Gadis dengan gaun malam berwarna hitam dan bahu terbuka itu mengangguk. Rangga meletakkan gelas jus apelnya di atas meja teras kemudian melangkah mendekat. Ketika telah berjarak dekat Rangga baru terkesima. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rangga hapal sekali dengan rambut panjangnya yang nampak belakang dan cara berdirinya dengan kepala setengah menunduk itu.
“Ya Tuhan,” gumam Rangga, “kamu … ”
“Iya Rangga, kamu pasti ingat aku,” ucapnya lembut.
Jantung Rangga berdegup cepat, ketika melihat gadis itu memutar tubuhnya. Selama ini Rangga tidak pernah tahu bagaimana wajah gadis yang telah membuatnya jatuh cinta itu. Gadis yang selalu dijaganya, dilindunginya. Kini gadis itu telah sepenuhnya berdiri menghadap Rangga tetapi dengan kepala masih tertunduk. Rangga sedikit gugup menyebut namanya.
“Melati …”
Melati pun mengangkat wajahnya dan tersenyum.
Malam bintang yang terang mengilaukan wajah Melati.
Rangga terpana.
“Akhirnya aku tahu siapa malaikat penjagaku,” ucap Melati.
Rangga nyengir sembari menggaruk-garuk rambutnya, berkata malu-malu, “Pasti dari surat-surat itu ….” Melati mendekatkan tubuhnya pada Rangga, menatap matanya, “Rangga… terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuk menjagaku … terima kasih untuk lima buku novel indahnya dan terima kasih untuk surat---”
“Eh, suratnya, hehehe … “ potong Rangga cengengesan, “kamu ga ngetawain ‘kan?”
Melati tersenyum, “Dikit sih … tapi aku suka kejujuranmu.”
Rangga menutup wajahnya malu-malu, Melati tertawa melihatnya.
Malam pun bergulir pelan beriringan dengan jamuan makan malam di dalam hotel yang masih berlanjut sedang Rangga dan Melati tengah berjalan berdampingan dalam taman di bawah bintang-bintang.
“Eh gimana kamu tahu aku ada di hotel ini? Dan gimana kamu bisa masuk ke jamuan makan malam khusus undangan ini?” tanya Rangga penasaran. “Kantorku salah satu yang menerima undangan, jadi di sinilah aku,” jelas Melati. “Aku pikir kita ga akan ketemu lagi, senang kamu ada di sini,” ucap Rangga bersungguh-sungguh.
Melati tersenyum, bertanya, “Kalau kamu gimana rasanya sudah jadi boyband kebanggaan kabupaten kita?” Rangga tertawa, “Kamu pasti denger soal ambruknya pagar rumahku ya?” Melati mengangguk. “Ada enak, ada engganya … tapi semua terasa menyenangkan,” sambung Rangga. “Menjadi popular memang ada resikonya ya … kalau kabar teman-temanmu gimana?” tanya Melati lagi. “Mereka baik … Haikal sekarang kerja di Bandung, sedang Adit kerja di Medan … tapi kita masih kontak di grup WA,” terang Rangga.
“Oya kamu tau gak, Bapakku waktu lihat kamu di tivi, masa dia bilang, kamu mirip pengantar paket yang datang ke rumah, hahaha,” tawa Melati. “Kayaknya lebih ganteng pengantar paket itu dibanding aku deh hehehe,” cengir Rangga.
Mereka terus berjalan hingga sampai di gazebo taman. Melati duduk di kursi menatap bintang. Rangga menatap Melati dari samping, ia makin terpesona saja. Melati sadar ia diperhatikan lalu menoleh pada Rangga, “Kenapa, apa ada yang aneh?”
“Engga, ga ada yang aneh … hanya bertanya-tanya, dengan wajah secantik ini, kenapa dulu kamu sering menunduk dan menutupi wajahmu dengan rambut?”
Melati menarik rambut depannya ke belakang lalu menunjukkan sebuah luka memanjang dari alis mata kanannya hingga ke dahinya pada Rangga. Rangga mengerutkan kening, “Luka kenapa?”
“Digigit ular waktu kecil … sudah coba dihilangkan tapi bekasnya tidak bisa hilang,” jelas Melati, “dulu aku menutupinya karena aku belum sepercaya diri sekarang.”
Rangga akhirnya mengerti.
“Dan kalau kamu mau tau kenapa waktu aku di-bully dulu tidak melawan … karena saat itu aku memang takut untuk melawan, ya aku setakut itu sehingga diam saja … aku dulu memang anak perempuan yang tak percaya diri dan penakut.” lanjut Melati menunduk. Rangga mengangkat dagu Melati dengan ujung jarinya dengan lembut, berkata, “Tapi dengan begitu, aku bisa menemukanmu.” Melati tersenyum. Mereka saling bertatapan.
“Surat-surat yang aku terima … tidak mencantumkan nama kamu dengan utuh,” ucap Melati menatap Rangga, “… aku ingin berkenalan resmi dengan kamu, boleh?”
“Tentu saja,” angguk Rangga.
“Hai, namaku, Melati Ananda Putri,” ucap Melati memulai.
“Hai Melati … namaku Rangga Bagaskoro,” balas Rangga.
Mereka pun saling berjabat tangan.
" Rangga Bagaskoro … pria jawa yang terlihat seperti oppa korea,” canda Melati.
“Melati Ananda Putri … gadis pendiam yang ternyata secantik bidadari,” timpal Rangga.
Mereka pun tertawa berdua.
Tiba-tiba terdengar suara-suara berteriak memanggil Rangga di kejauhan.
“Hey Rangga, di mana kau? Waktunya perform!”
“Rangga, Rangga … jangan ngumpet …”
“Yuhuuu Rangga … where are youuuu …”
Rangga segera menarik tangan Melati untuk berlari sambil tertawa-tawa. “Eh kamu dicariin teman-teman kamu tuh,” ucap Melati mengingatkan. “Biarin aja … biar mereka tampil … sekali-kali tampil tanpa aku kek … aku mau bersama kamu aja malam ini,” seru Rangga tertawa. Dan mereka terus berlari meninggalkan delapan orang temannya yang celingukan mencari di dalam taman.
***
Dan pada hari yang telah ditentukan.
Roda sepeda itu berputar cepat di antara jalanan panjang yang diapit ladang-ladang membentang. Suara canda terdengar bahagia menerbangkan burung-burung liar dari balik ilalang. Langit nampak biru cerah, secerah wajah Rangga dan Melati yang tertawa berboncengan di sepeda menyusuri jalanan. Hingga mereka sampai di jalanan yang dipenuhi pohon-pohon bunga flamboyan yang sedang bermekaran. Berwarna merah bersemu jingga.
“Siap?” teriak Rangga bertanya.
“Siap!” balas Melati.
Maka tepat di bawah pohon-pohon flamboyan itu, Rangga dan Melati memejamkan mata lalu merentangkan tangan mereka bersamaan. Membiarkan sepeda berjalan tanpa dipegang. Memasrahkan diri pada keindahan yang tidak dapat dilihat tapi hanya bisa dirasakan, adalah, kebahagiaan hati. Angin bertiup menggoyangkan ranting-ranting bunga flamboyan. Membuat bunga-bunga itu jatuh berguguran.
Dalam gerak lambat,
Bunga-bunga merah itu menghujani Rangga dan Melati .
Bunga-bunganya jatuh menyentuh wajah.
Sebagian jatuh menyentuh rambut.
Sebagian jatuh berguling-guling di jalanan.
Ada roda sepeda yang terus berputar.
Ada suara tawa yang terus terdengar.
Selama burung-burung mengepakkan sayap. Sepanjang jalan yang tak pernah habis. Teruslah tumbuh mencinta. Kau tahu? Tidak ada yang bisa memisahkan dua jiwa yang terperangkap dalam satu semesta. Semesta cinta. Tapi di atas itu semua, mencintai atau dicintai, Rangga dan Melati akan terus abadi.
TAMAT