Suara derap sepatu berdecit berlari di sepanjang koridor kampus yang lengang. Karena hari sudah menjelang petang, tanpa di sadari Reina Matsushima. Gadis berdarah peranakan Tionghoa itu berlari dari lantai 2 ke bawah tepatnya parkiran. Dia hanya ingin pulang, satu itu tujuannya.
Tugas nya sebagai Asdos membuatnya lupa waktu sudah magrib. Karena dia juga memutar murotal dan di ampit di head set ia tidak mendengar suara apa pun.
Ya Allah lindungilah hamba mu yang hina ini karena lupa waktu, batinnya. Di tempat parkir hanya ada satu motor nya. dan ia bergegas mengendarainya keluar kampus. Bajunya berkibar diterpa angin malam.
Jalanan nampak lengang arah sepanjang kampus. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena takut menabrak orang. Bagaimanapun tidak jauh dari kampus ada pemukiman warga. Tapi itu masih agak jauh, akan tetapi mengapa suasana hari ini sedikit lengang.
Mulutnya tak henti-hentinya berdoa bagaimana pun ia hanya seorang wanita. Hingga akhirnya di ujung jalan ada seorang pria berjalan dengan rangsel berjalan berlawan arah dengan nya tetapi satu jalur dengan nya. Alhamdulillaah, ada tanda kehidupan ucapnya dalam hati.
Wanita itu masih fokus dengan jalannya motor. Tiba-tiba...braaakk....ngiiingg..... suara motor terjatuh beradu aspal . Tubuhnya Reina terjatuh..motor nya melesat ke samping agak jauh darinya. Masih dalam kebingungannya ada yang menarik tas punggungnya, reflek dia menahannya.
" Mau apa kau tuan ?" tanya Reina tergagab.
"Serahkan saja hartamu!! Jangan melawan!!"
" Tuan aku sungguh tidak bisa, jika kau ingin uang aku dapat berikan walau itu tidak seberapa." ,bujuknya mencoba merayu agar dia berbaik hati padanya. ( mana ada begal di rayu mau ya? hi..hi...).
" Kau pikir aku pengemis. Cuih...berikan!!!" hardiknya.
"Toloong...toloong...." ia pun berteriak teriak...
" ha...ha... sudah nyerah saja. Kasi sini semua nya!!"
mereka tarik menarik tas tersebut cukup lama...mendadak dari arah berlawanan ada sorot lampu menyorot ke arah mereka. Sebuah motor besar terparkir dan si pemilik turun, sedangkan kedua orang itu masih sibuk tarik menarik.
"Hei lepas!! Lepaskan wanita itu!!!', teriaknya masih mengenakan helm.
Lelaki itu mengambil pisau di balik bajunya dengan cepat di ayunkan ke si gadis. Sreet... braak...
Cadarnya Reina terlepas dengan bersamaan pipi mulus nya tergores. Gadis itu sigab mundur dan ia bingung lelaki di depannya tergeletak tersungkur berusaha berdiri dengan Ter huyung huyung ia menangkis serangan lelaki bersepeda motor. Karena merasa tak seimbang ia pun kabur.
" Kau baik baik saja, apa ada yang luka?" lelaki itu mendekati Reina mencoba untuk memeriksa anggota badannya. Reina bergerak mundur dan membungkuk.
"Terimakasih atas pertolongannya."
" Its ok , biasa aja lagi. " sahutnya.
" Yakin kau baik baik saja, tidak kah ada luka atau apa? " lanjutnya bertanya.
"Alhamdulillaah semua baik. sungguh" jawab Reina. lelaki itu mengambil motor matic Reina dan mengeceknya dengan meneliti body dan menstaternya. " Lihatlah motor mu ok, hanya kaca reteng nya pecah karena jatuh. " jelasnya.
" Ya Allah berapa kira kira ongkosnya?", spontan ia bergumam lirih. Dan itu di dengar Marcell ya lelaki bermotor itu Marcell Hadinata cowok populer di kampus, kakak kelasnya. Reina baru tingkat pertama di kampus tapi dia dekat dosennya Mr Weasley kareana unik penpilannya satu kampus hanya dia behijab lebar dan bercadar. Selain itu dia banyak bertanya dan pintar pada pertengahan semester ganjil ia langsung di tawarin pekerjaan Asdos . Dan langsung diterimanya. karena dia butuh uang, secara dia anak beasiswa.
Marcell meliriknya juga mengenali motor matic walau tak hafal pelat nomor tapi ia berfikir ia kenal gadis ini.
" Kamu... Asdos Mr. Wesley bukan?", tanyanya, sontak Reina mengangkat kepala.
" Marcell!!"
" Cantiknya..." gumam dalam hati Marcell dalam hati, cowok itu tak berkedip menatapnya.
Eheemm... Reina berdehem sambil menunduk.
" Maaf...aku ... hanya terkejut. kau mengenal ku?" Jawab Marcell gugub ia pun ganti bertanya.
" Semua gadis gadis kampus seringkali bergosib, juga aku tak punya pilihan harus mendengar. Maaf, merepotkan mu dan terimakasih atas bantuannya", di beranikan diri Reina menengadah dan menatap Marcell dan tersenyum.
" Ya..sama sama" , Marcell tergagab karena terpesona dengan gadis berhijab itu.
" Mari saya hantar.. aku di belakangmu menemanimu pulang." tawarnya. Reina mengangguk.
" tunggulah lukamu??!!" Marcell merogoh tas punggungnya mengambil hansaplas ber motif binatang..."Ini sisa ponakan ku ", dia mengulurkan benda itu sambil garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Terimakasih"
" Biar aku bantu jika boleh.." kata Marcell ragu ragu.
gadis itu mengangguk setuju. (kesempatan dalam kesempitan Bambang kapan lagi).
" Sudah. Ayo!!" , Marcell berjalan ke motornya. Mereka beriringan jalan ke arah kompleks ruko ruko. Ya, Reina tinggal di sana dengan ibunya. Sejak ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja mereka memutuskan mencari tempat yang strategis dan mudah untuk usaha dan tempat tinggal.
"Sekali lagi terimakasih, Assalamualaikum", begitu sampai Reina mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan ia membuka pintu ruko dan mendorong motor matic masuk ke dalam ruko.
Marcell sendiri gabut ..dan masih terpesona dengan gadis itu. Ia pun me start Ter motornya dan berlalu.
Esoknya di kampusnya, Marcell ya masih sama aktifitas nya tampa ada yang berpengaruh, nongkrong dengan gang nya Kevin, Durant, Aprilio ke empatnya terkenal di kampus bukan biang onar tapi pusat perhatian karena kegantengan dan ketampanan satu lagi anak anak tajir.
Reina sendiri juga nampak biasa tak berpengaruh tentang kejadian semalam, bahkan ketika melewati gang empat cowok itu ia masih menundukkan mata dan tumbuhnya sebagai upaya menghormati dan menghindari masalah. ( kan ada pepatah mengatakan: mencegah lebih baik daripada mengobati ).
Jam ke terakhir Reina ke kelas Marcell. Dia diminta untuk mengambil tugas mingguan di kelas itu dan harus hari itu sampai di mejanya Mr Weasley.
"Assalamualaikum, maaf kak saya di minta mengambil semua tugas mingguan Mr Weasley? Saya harus menemui sapa ya kak?", tanya Reina pada dua gadis yang mengobrol di bangku ujung pintu.
" ih..ganggu aja. sana dasar cewek cupu ", gerutu si baju merah.
" jangan gitu, dia Asdos Mr Weasley Lo. Lo mau di laporin berbuat tidak pantas lalu nilai di kurangin.' bisik temannya.
"Ayolah...mana berani dia main ngadu. Jangan Ngadi Ngadi decj akh!! ", pasti dia berat kan jika beasiswa nya di cabut?? berani lawan aku??" ujarnya sinis dengan mengibaskan ekor rambutnya.
" Reina??"' , Marcell mendekat ternyata ia di belakang kedua gadis itu yang tertutup punggungnya teman temannya.
" Mau ambil ini ? Silahkan...mau ku temani?", tawarnya.
" Terimakasih kak, aku langsung saja. Assalamualaikum," ia berbalik belum melangkah ia mendengar suara Marcell
"Walaikum salam". Reina tertegun. dan membalikkan badan tersenyum mengangguk lalu berlalu.
" Sadarlah kalian, dia begitu sopan dan mendoakan mu tapi balasan mu ketus dan kasar. Apa itu pantas?", sarkasnya dia pun keluar kelas.
Sedangkan para lelaki di dalam pada terbengong.
" Gimana ceritanya Marcell bisa jawab kalimat itu?" tanya Darren.
" Aku juga bingung bagaimana ia tau namanya si gadis cupu yang dikatakan anak-anak kesayangan Mr Weasley?. gumam Kevin.
"Sebaiknya tanya langsung aja..guys dari pada bengong di sini buruan, keburu kabur tuh anak!!" seru Aprilio seraya berlari kecil di ikuti yang lain.
Di kantin Marcell sengaja nungguin Reina hanya melihat dari jauh aja, Tampa suara hanya melihat ekspresi gadis itu dari jauh.(kaya pyshico aja nguntitin ga jelas ...)
Dan benar hanya beberapa menit Marcell melirik jam nya dia melihat Reina dan seorang gadis berbaju tomboy dan cowok cupu dengan kaca mata tebal berjalan beriringan dan duduk di seberang Marcell. Marcell berdiri dan menghampirinya.
" Assalamualaikum", sapanya.
" Walaikum salam." jawab ketiganya. Marcell membuka tasnya dan mengeluarkan toples bening berisi kue.
" Silahkan di cicip mama ku yang buat. Senang berteman dengan kaliyan", katanya dengan menyodorkan kotak seraya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Baiklah aku permisi. Assalamualaikum", diapun berlalu.
"Walaikum salam" , serempak ketiga nya. menjawab( kaya paduan suara kompak gaes).
ketiganya Ter bengong . " Tadi si ganteng nawarin camilan ya?" ,suara teguh medhok dengan logat daerahnya Tegal .
"Iya, kapan lagi....." jawab intan si anak Betawi termenung " Kapan lagi dapet rejeki nomplok dari cowok ganteng. cogan tajir lagi", seru Intan.
" Boleh dimakan apa mau dipelototi aja?" ,tanya Teguh bingung.
" Baca basmalah dulu baru alhamdulillaah", saran Reina.
" Injih ustazah...." jawab kedua nya kompak.
Reina hanya senyum. Ia sudah biasa di goda seperti itu.
Mereka menikmati cocies itu crispy dan enak.
" Lumayan ganjal perut ganti makan siang " celoteh Teguh disela sela memakannya.ketiganya tertawa.
Lain halnya dengan Marcell dia begitu girang berhasil memberikan cocies buatan mamanya. Yang sengaja dia minta kemaren. Sang mama terheran heran kenapa dia berubah seperti itu. Kenapa putranya banyak diam di kamar g lagi yang out dengan ke tiga teman nya. Dan sekarang ia meminta cocies yang sengaja di buat untuk cucu nya karena setiap akhir pekan sang cucu menginap di mansion.
"Apa putraku sedang kasmaran apa patah hati tapi dengan siapa?", batin sang mama saat menaruh kue nya ke tempat yang di bawa Marcell.
Insting ibu di mana mana bener.. si Marcell emang kesemsem berat dengan Reina, dan dia baru mengetahui dari buku gadis seperti itu tidak mengenal istilah pacaran...bisa gila aku,maki Marcell kala memelajari buku buku tentang berkaitan model pakaian Reina. Juga bagaimana cara berinteraksi juga cara ibadah nya.
Ia terkadang garuk-garuk kepala masih belum mengerti dan kesal jika tidak memahaminya.
Disinilah dia di sebuah pondok pesantren pinggiran kota. Dia duduk di depan ustad dan bertanya juga bercerita, dia jabarkan hatinya selalu teduh jika mendengar suara adzan juga murotal surah pendek ataupun panjang. Apa yang harus di lakukan nya selanjutnya. Yang jelas hatinya bimbang dan dia juga bercerita tentang seorang wanita yang membuat dia merasa ada sesuatu dan kagumi.
Lain halnya dengan Reina ia asyik membaca dan jika senggang ia membantu menyetrika, karena ibunya buka jasa laundry. Dan sungguh sangat ringan dia lakukan kegiatannya Tampa dia mengetahui, jika ia telah membuat seseorang kebingungan dalam keterkaguman sesaat dalam kejadian yang tak terduga.
Walau bagaimanapun juga orang hanya berusaha dan sang pencipta yang menentukannya.
"Reina,. bagaimana dengan kuliahmu sayang?", tanya sang ibu.
"Alhamdulillaah..semua lancar Bu", jawabnya masih menyetrika baju baju itu.
" Jangan pulang larut cukup sekali waktu itu...ibu takut sayang." pintanya sambil mencuci baju-baju itu.
"Iya ibu. Aku yang salah asyik dengan diri sendiri Tampa peduli dengan sekitarku..maaf Bu"
" Baik. Semua ada hikmah dari kejadian yang kita alami."
"Iya Bu"
"Jaga diri ya sayang"
"Iya Bu".
" Permisi mau ambil barang saya apa bisa?" ko Alung muncul di depan ruko. Ruko itu ada rolling door dan divsekat meja estalase kayu panjang hingga mengganjal pintu. Dan pintu di kunci. Antisipasi dengan caranya ditutup agar orang tidak masuk sesuka nya. Hingga timbul fitnah . dan di depan ruko ada bangku besi buat duduk jika ada pelanggan mengajak mengobrol.
" Tentu ko Alung sebentar ya.." jawab ibu Xiang. segera di ambil kertas kode itu dan di cocokkan lalu diserahkan.
" Coba di cek ko Alung", titah ibu Xiang (ibunya Reina).
" Sudah Ok lah kamsiah", ia meninggalkan uang sesuai nota dan berlalu. Laundry milik ibu Reina cukup terkenal, dan selalu ramai.
"Alhamdulillaah. Ada rejeki" gumamnya Reina sambil terus menyetrika. Jika hari libur Reina selalu membantu ibunya. Dan tak pernah keluar bermain. Ia hanya selalu keluar jika ada perlu saja. Seperti tugas sekolah atau bekerja. Ia bekerja sebagai tutor bimbel privat..bagi teman temannya dulu, Ia memutuskan memakai cadar sejak kejadian tak menyenangkan waktu di SMP. Dan itu ia pendam sendiri Tampa ibunya mengetahuinya.
Dia pernah menjadi korban bullying teman beda kelas suka dengan sahabatnya Raka. Pemuda pendiam idola sekolah, waktu itu ia sudah berhijab. Ia berhijab sejak kecil. Ayahnya yang mengajarkannya. " Anak perempuan akan terlihat cantik jika berhijab sayang", kata sang ayah saat itu, sewaktu mendandani dirinya yang akan sekolah waktu pertama masuk sekolah dasar.
Raka Anak pendiam, dia duduk di belakang Reina sebangku dengan Bimo. dan Reina sendiri duduk dengan Sava. Mereka selalu berempat dan bersahabat hingga lulus sekolah itu janji mereka. Awal keceriaan persahabatan tak semulus harapan mereka.
Adanya orang iri menghasut hingga persahabatan pun putus. Ya, Sava yang baik dan lembut pada Reina berbalik menyerangnya. Dia terhasut Cecil, anak kelas sebelah. Cecil ber cerita bahwa Reina menjelek jelekan Sava di belakangnya dan mengatakan banyak kebohongan. Sava yang labil proses perubahan hormon remaja juga ditambah faktor dia anak tunggal yang di manja berubah memusuhinya Reina.