Iris merah itu bergetar. Langkah yang tadi pemuda itu ambil sangat ringan kini terasa sangat berat seolah menyatu dengan tanah. Rambut silver panjang pemuda itu tersibak ke belakang mengikuti angin yang berembus. "Jude Sharp...."
Pemuda itu tersentak. Nama itu meluncur dari bibirnya tanpa sadar. Berbanding terbalik dengan pemuda itu, di bawah naungan langit jingga, pemuda berambut keriting cokelat di sudut jalan satunya tersenyum. "Lama tak bertemu, Elliot Evans."
***
10 menit lamanya pemuda berambut silver itu berdiri di depan sebuah lemari kayu tua. Tangan yang berusaha menggapai gagang besi itu selalu berakhir gemetar hingga membuat jantungnya seolah hendak meledak.
Perbincangan pemuda itu dengan seniornya dahulu terus menghantuinya sepanjang malam. Bahkan juga sekarang ketika jam menunjukkan pukul 17.00.
"Sial!" Kesal, pemuda berkulit cokelat itu menendang pintu lemari dengan kaki telanjang. Napas pemuda itu tersengal, menahan semua pikiran yang berkutat di kepala. "Ini semua karena kau, Jude Sharp!"
Apa Elliot ingin kembali? Pemuda berambut silver itu menggeleng.
Elliot berdecak. Akhirnya pemuda itu menyambar jaket biru di kursinya, mencari udara segar di dekat rumah.
Langit tampak tidak bersahabat. Gemuruh terdengar disertai larikan petir di balik awan kelam. Namun itu bukan masalah besar bagi seorang Elliot Evans.
Pemuda berambut silver itu berjalan di trotoar dengan tangan ia masukkan ke saku jaket. Angin dingin menerpa wajah, memainkan rambut silver panjangnya. Pemuda itu terus berjalan, sampai kemudian terhenti di dekat sudut jalan.
Netra Elliot membelalak, menatap sebuah boneka beruang cokelat seukuran kepalan tangan yang tergeletak di sudut jalan. Warna usang yang menandakan boneka itu sudah lama tertinggal di sana.
Elliot mendecih, memutuskan lanjut berjalan. Namun ketika langkahnya berada tepat di samping boneka itu, tetesan air mengguyur bumi bak peluru. Sangat deras, membuat Elliot berhenti, melirik boneka itu dengan sudut mata.
"Sial!" Elliot mengambil boneka itu dengan mata tertutup, melangkah cepat dalam guyuran hujan lebat. "Kau bodoh!" ucapnya sambil menatap boneka di tangan.
"Bodoh...," ulangnya. Pandangan Elliot memburam, berusaha menahan bulir di kelopak. "Bodoh...."
Elliot membiarkan lututnya bertumpu di genangan air, meninju tanah, membiarkan bekas kemerahan tercipta di sana. Kekuatan yang disalurkan dalam tinjunya bertambah seiring dengan kenangan yang tiba-tiba merangsek masuk. Elliot berteriak dalam guyuran hujan lebat sore itu, seolah hendak membiarkan pita suaranya putus.
"El...liot?"
Suara familier itu suskes membungkam anak yang berteriak itu dengan satu kata. Kehangatan yang sudah lama tidak didengar oleh anak berambut silver itu.
Elliot mendongak, menatap anak perempuan berambut hitam panjang di hadapannya. Netranya kembali membelalak, menatap wajah yang sudah lama tidak ia lihat. Wajah yang mulai pudar dalam ingatannya. "Faith...."
Anak perempuan berkulit kuning langsat itu tersentak tatkala temannya itu mulai menangis. "Elliot, kau kenapa?"
Buk. Tiba-tiba anak berambut silver itu melompat dan memeluk anak perempuan itu, membuat keduanya terjatuh ke rerumputan. "Elliot?"
Anak laki-laki itu setia diam, berusaha menyembunyikan sesenggukan yang tetap saja dapat didengar anak perempuan itu. "Ah, kau mimpi buruk, ya? Sudah kubilang tidur itu di rumah, bukan di luar."
Demi menghibur temannya, Faith mencoba melontarkan candaan. Namun melihat tubuh anak itu yang masih bergetar, sepertinya tidak berhasil.
***
"Mimpi buruk, seperti yang kau bilang tadi." Demikian penjelasan anak berambut silver akan tingkah anehnya tadi. Meski tidak terlalu percaya, Faith memutuskan mengangguk saja.
Sisa hari mereka habiskan dengan bermain. Kejar-kejaran, petak umpet, bermain sepeda, dan menangkap ikan. Tadi sepeda yang dinaiki keduanya sempat oleng. Berbeda dengan Elliot yang panik mengatur laju sepeda, Faith yang duduk di belakang malah berteriak kegirangan hingga keduanya jatuh ke sungai. Terlanjur basah, mereka pun memutuskan menangkap ikan di sana.
Senja siap menyingsing. Kedua anak itu berdiri di balik pagar besi di depan dua kamar mereka, menonton proses tenggelamnya matahari.
"Setelah besar nanti apa yang mau lakukan?" ucap Faith membuka percakapan. Manik hijaunya setia terarah ke pemandangan di depan.
"Tidak tahu. Kau?"
"Aku ingin jadi dokter!"
Deg. Seketika kepala Elliot terasa pusing.
"Dan menyembuhkan orang banyak!"
Elliot mencengkeram kepala. Pemandangan di depan sana memburam di matanya.
Kalimat itu... terasa tidak asing....
"Matahari sudah tenggelam...." Kalimat Faith barusan menyadarkan Elliot. "Kalau begitu aku masuk dulu, sampai bertemu besok," ucapnya sambil melambaikan tangan, kemudian menghilang di balik pintu bercat biru itu.
Tanpa pikir panjang Elliot membuka pintu biru di sebelahnya, apartemennya. Perhatian anak itu langsung tertuju pada boneka beruang cokelat di atas meja bundar di tengah ruangan.
Elliot tersenyum, mengambil boneka itu. Boneka beruang itu adalah pemberian Faith sebagai tanda pertemuan mereka ketika Faith dan keluarganya pindah ke sebelah. Saat Faith dirawat di rumah sakit pun, Elliot sering membawakan barang-barang bertema beruang teddy karena Faith menyukainya.
Elliot tersentak, kembali mencengkeram kepalanya, membuat boneka beruang itu terjatuh ke lantai. Dirawat? Faith kan tidak pernah sakit!
Detik berikutnya pandangan Elliot terarah ke sebuah bola sepak kotor beralaskan koran di sudut ruangan. Pupilnya bergetar menatap bola itu.
Elliot ingat sekarang!
Demi mengejar mimpinya menjadi seorang dokter, Faith pindah ke kota dan masuk ke sekolah bernama "Ares". Di sana Faith mengambil program "Skala Ares" agar mendapat beasiswa.
Namun faktanya, Faith dijadikan salah satu dari sekian subjek penelitan untuk mengembangkan program pendidikan inovatif yang dapat mengembangkan potensi pada bibit muda secara maksimal dengan alat mereka, yakni Skala Ares.
Setahun kemudian, Faith kembali dalam keadaan 'kosong'. Ia menjadi lumpuh dan terjebak di kursi roda, tidak bisa berbicara, dan tidak memberi respon pada sekitar, termasuk pada Elliot. Akibat radiasi bahan kimia yang terkandung dalam alat Skala Ares itu.
Pada akhirnya Faith menjadi "subjek gagal" dan dikeluarkan dari sekolah.
Itulah awal mula Elliot Evans bermain sepak bola, balas dendam. Ia ingin membuktikan program yang dibicarakan banyak orang itu tidak berguna dengan mengalahkan tim sepak bola yang dilatih dengan program mereka, dalam Turnamen Football Frontier.
Elliot spontan berlari keluar, menggedor-gedor pintu biru yang tertutup itu. "Faith!" Anak itu dapat merasakan jantungnya berdegup cepat. "Faith! Faith!"
Cklek. Pintu biru itu membuka celah kecil. Elliot meneguk ludah, perlahan mendorong pintu di hadapannya.
Bukannya mengantarkan Elliot ke ruangan penuh perabotan seperti biasa, pintu itu malah mengantarkan Elliot ke dimensi biru penuh kapas putih. Dan di tengah sana, seorang gadis remaja duduk di sofa kuning. Mengenakan pakaian rumah sakit dilapisi sweater.
Senyum menghias wajah gadis itu. Manik hijaunya menatap lembut. "Halo, Elliot."
Remaja berambut silver panjang itu melangkah tidak percaya. "Faith...?"
Manik abu-abu pemuda berambut silver itu membulat. Remaja itu berlari, berlutut di depan gadis itu. "Faith.., ini... benar kau?"
Gadis berambut hitam panjang itu tersenyum, mengusap kepala Elliot lembut. "Ini aku, Faith Winter," suara lembut itu bak alunan musik di telinga Elliot.
Bulir air pun tak tertahankan lagi, membasahi pipi remaja itu. Faith menghela pelan, menghapus air mata di pipi cokelat itu. "Elliot, aku punya permintaan."
Elliot mengerjap, "Apa?"
Faith menarik tangan remana itu, meletakkannya di atas bola sepak yang sejak tadi berada di pangkuannya. "Aku ingin kau... kembali bermain sepak bola."
Elliot membelalak, menarik tangannya kasar. "Jangan bercanda!" Elliot membiarkan air matanya terjun bebas, meredam sesenggukan yang menyulitkannya berbicara. "Itu tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?!" Elliot tersentak, menatap Faith yang tiba-tiba ikut menangis.
"Setiap melihat bola itu.., aku selalu teringat akan kegagalanku membalaskan dendammu, pada orang-orang yang membuatmu sakit, dan kau yang..." Elliot menggigit bibir, tidak sanggup melanjutkan.
"Tapi pada akhirnya kebrobrokan Skala Ares kan terungkap dan dimusnahkan..."
"Aku tahu!" Remaja berambut silver itu ikut meninggikan suara. "Heath Moore sialan itu!" Elliot mengepalkan tangan tatkala teringat wajah kapten dari tim yang mengalahkannya di final turnamen, sekaligus remaja yang mengungkap kebenaran Skala Ares ke dunia. "Padahal... aku sudah berjanji..."
"Elliot, aku... tidak ingin menjadi alasan yang memisahkanmu dengan sepak bola," Faith berkata lemah.
Elliot menggeleng. "Sejak awal..."
"Aku sudah cukup senang dengan kau yang mengunjungiku selama bertahun-tahun di rumah sakit, Elliot." Elliot menatap wajah penuh air mata yang diselingi senyuman itu. "Aku suka dengan ceritamu tentang dunia luar setiap berkunjung, terutama setiap kau bercerita tentang latihan sepak bolamu, karena di saat itulah kau... kelihatan... paling bahagia...."
Netra Elliot membola. Bahagia? Dirinya?
"Setiap menonton rekaman pertandingamu, aku selalu tahu kalau kau menikmati sepak bola. Kau selalu merasa bebas saat berlari di lapangan dan mengontrol bola," Faith menunduk, menatap bola sepak itu. Netranya menerawang jauh mengenang masa lalu.
"Mungkin memang benar awalnya kau bermain sepak bola untuk balas dendam, tapi pada akhirnya sepak bola menjadi bagian dari dirimu." Faith kembali menarik tangan cokelat itu, meletakkannya di atas bola dalam genggaman.
"Kau dan sepak bola, adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan," ucap gadis itu penuh penekanan.
Elliot membeku sejenak. Kalimat gadis itu barusan bak angin segar yang menyejukkan, membuat dada Elliot membara. Namun sekali lagi remaja itu menggeleng, kembali hendak menarik tangannya. Tapi kali ini Faith menahan tangan itu. "Faith, aku..."
"Aku sudah mati, Elliot Evans!" Satu kalimat dari gadis itu laksana pisau yang menggores jantung remaja yang dulunya dikenal sebagai 'Iblis di Lapangan', julukannya dalam dunia sepak bola. "Tapi kau... masih hidup dan masa depanmu... masih panjang...."
Elliot mengepalkan tangan, tidak ingin mendengar lebih jauh lagi.
"Dulu kau juga pernah bilang sehari sebelum final, 'setelah semua ini berakhir, mungkin akan menyenangkan untuk hanya bermain sepak bola', kan?"
Elliot menggigit bibir, menggeleng. "Faith, mengertilah.... Itu jika..."
"Elliot, sebagai temanmu aku akan selalu bahagia selama kau bahagia," air mata gadis itu jatuh ke tangan cokelat itu. "Kau yang harus mengerti, Elliot. Aku tidak masalah kau tidak memenangkan Turnamen Football Frontier, maupun bukan kau yang mengungkap kebenaran Skala Ares ke dunia. Aku... hanya ingin... kau... bahagia...."
Faith menarik tangan Elliot yang satunya, menahan kedua tangan remaja berambut silver panjang itu, menatap iris merah yang memantulkan bayangannya dalam. "Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, Elliot."
Faith mendorong pelan bola sepak di pangkuannya ke dalam dekapan remaja di depannya, tersenyum penuh arti. "Karena itu, kembalilah bermain sepak bola. Kejarlah mimpimu untuk menjadi pemain sepak bola nomor 1 di dunia, pemain yang membuat lawanmu sengsara hanya dengan berhadapan denganmu, 'Iblis di Lapangan'."
Fanfic dari "Inazuma Eleven Ares".