Rangga terkesiap, “Apa? Melati ? Maksudmu gimana Kal?”
“Yang jerit tadi itu Melati!” jelas Haikal.
Tak menunggu lama, Rangga bergegas keluar kelas. Ia melihat kerumunan keramaian murid-murid sudah mulai membubarkan diri. “Dit, ada apa?” tanya Rangga, Adit menggeleng, “Belum jelas … tadi pas aku sampe, sudah rame murid-murid, katanya yang menjerit itu Melati, terus aku lihat Melati sudah dibawa oleh ibu guru ke ruang UKS.” Rangga segera menuju ruang UKS, dilihatnya murid perempuan teman sekelas Melati tengah berkerumun di depan pintu. “Ada apa?” tanya Rangga pada salah seorang murid perempuan itu. “Ada yang mengusili Melati pake ular karet Kak,” jawabnya. “Siapa?” tanya Rangga lagi. Murid perempuan itu menggeleng.
Rangga melihat ke dalam ruang UKS dari jendela. Ia hanya bisa melihat punggung Melati yang sedang ditenangkan oleh guru. “Brengsek, nakutin pake ular, meski ular karet kalau punya pobia pasti ya panik,” gerundel Adit yang berada di samping Rangga. Rangga nampak kesal, berkata, “Mesti kelompok itu yang sering ngusili Melati.” Adit dan Haikal terkejut melihat Rangga berjalan cepat. “Hei hei Ga, mau kemana kamu?” cetusnya. Rangga terus berjalan tak menggubris ucapan Adit . “Ga, jangan cari ribut,” kali ini sahabatnya Haikal mencoba menahan Rangga tetapi dia juga tidak menggubris Haikal. Ia terus berjalan hingga sampai di kelas sepuluh, kelasnya Melati..
Di dalam kelas nampak sekelompok murid laki-laki sedang ngobrol dan tertawa. Rangga menyeruak masuk ke dalam dan tanpa basa basi, ia menarik seorang murid laki-laki yang dilihatnya sering mengusili sepeda Melati. Dengan cepat Rangga mendorong murid tersebut dengan keras hingga punggungnya menghantam papan tulis. “Eh ada apa ini?” kaget murid tersebut. Adit dan Haikal mencoba menenangkannya tetapi Rangga tak mendengar. “Siapa yang masukkin ular karet ke dalam tas Melati tadi?’ tanya Rangga geram pada murid laki-laki tersebut dengan mencengkeram kerah bajunya. “Ga tau Kak,” jawabnya gemetar.
“Jangan bohong, kamu dan teman-temanmu ini selalu mengusili Melati, kenapa?!” hardik Rangga. Murid laki-laki itu tak menjawab ia hanya diam saja. “Ga sudah Ga …” ucap Haikal mengingatkan. “Kalau kamu dan teman-temanmu itu mengusili Melati lagi awas,” ancam Rangga, “siapa namamu?” Murid itu menjawab gemetar, “Bintang, Kak.” Arga lalu melepas cengkeramannya dan berjalan keluar kelas diikuti Adit dan Haikal.
***
“Sampai kapan kamu mau begitu Ga?” tanya Adit di teras rumah Rangga sepulang sekolah.
“Maksudmu?”
“Melindungi Melati …” jelas Adit.
“Dia ga bisa melindungi dirinya sendiri Dit …” kilah Rangga.
“Tapi kita sebentar lagi lulus Ga … kamu ga bisa selamanya menjadi malaikat pelindungnya terus,” tambah Haikal. “Setidaknya selama ada aku, Melati aman,” balas Rangga. “Kamu cinta sama Melati bukan?” tanya Adit. Rangga terdiam sesaat " ntahlah."
Haikal geleng-geleng, “Di satu sisi aku itu salut sama kamu Ga, begitu hebatnya kamu ngejagain dia … tapi di sisi lain aku tu ya prihatin … bahkan dia, ga tau kamu ada … kenapa kamu ga jadian sama dia dulu, baru kamu jagain dia … seperti layaknya orang-orang pacaran gitu loh.”
Rangga tertawa, “Kamu tau ga Kal,Dam … aku malah belum pernah lihat wajah Melati.”
“Hah?” kaget Haikal dan Adit bersamaan.
“Gimana maksudmu ini?” bingung Haikal.
“Aku melihat Melati itu selalu dari belakang … kalau dari depan atau samping, dia ‘kan selalu menunduk jadi wajahnya tertutupi rambutnya yang tebal,” terang Rangga.
“Ini gimana toh, kok bisa-bisanya kamu jatuh cinta tanpa melihat wajahnya terlebih dulu?” tanya Haikal, Adit mengangguk menyetujui kalimat Haikal.
“Kalau kalian mencintai karena wajah, trus gimana kalian mencintai Tuhan yang tanpa wajah?” ucap Rangga berfilosofis.
“Wuaduh! Kamu ini kesambet apa sih Ga?” cetus Adit.
Rangga tertawa, “Memang kalian sendiri pernah lihat wajah Melati gitu
Haikal dan Adam baru tersadar. “Iya ya, sebelum kamu ngomong soal Melati, kita memang ga pernah tahu-tahu soal murid perempuan kelas sepuluh itu … setelah kamu ngomong soal Melati, aku baru sadar, ya aku juga belum pernah lihat wajahnya loh.” Rangga tertawa lagi.
Malam itu sepulang teman-temannya, Rangga kembali menulis surat untuk Melati Kali ini dua surat selesai sekaligus. Setelah selesai, kertas-kertas surat itu dilipatnya dengan rapi dan dimasukkan ke dalam dua amplop yang telah ditulisi nama serta alamat rumah Melati, seperti biasa dan disimpannya di dalam laci meja belajarnya bersama surat-surat untuk Melati lainnya.
***
Rangga memarkirkan sepedanya.
Lalu melongok sebentar ke parkiran kelas sepuluh, nampak sepeda Melati telah terparkir di situ. “Pagi banget dia datang,” gumam Rangga. Rangga tak pernah berkesempatan untuk bisa melihat Melati datang ke sekolah, padahal hari ini Rangga telah berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia bermaksud menunggu Melati di pintu gerbang sekolah untuk melihatnya tetapi tetap saja Melati selalu datang lebih dulu.
Rangga tersenyum sendiri, ia memang ditakdirkan hanya untuk menjadi penjaga Melati yang tak bisa melihat wajahnya, seperti prajurit setia yang menjaga tuan putrinya yang bercadar. Rangga berjalan tapi tidak langsung ke kelasnya, seperti hari-hari kemarin, Rangga selalu menyempatkan menengok ke kelas Melati terlebih dulu. Melati nampak menunduk membaca buku. Beberapa murid menganggunya dengan menggoyang-goyangkan kursinya atau mencoba mengganggu fokus membacanya dengan menyenggol bahunya tetapi saat mereka menyadari Rangga sedang memperhatikan mereka, mereka semua diam.
Setelah memastikan Melati baik-baik saja, Rangga baru menuju kelasnya. Begitu juga saat jam istirahat, Rangga selalu menyempatkan menengok Melati yang berada di dalam kelasnya. Melati tetap menunduk membaca buku tapi kali ini sambil memakan bekal rotinya.
“Kamu pernah bertanya-tanya ga sih Ga, kenapa Melati itu selalu menunduk, trus ga pernah gabung sama teman-teman lainnya dan diam aja kalau diganggu?” selidik Adit. Rangga menggeleng. “Kamu apa ga takut kalau ternyata Melati itu psikopat atau ternyata dia ga punya wajah gitu?” timpal Haikal. “Atau mungkin, dia sering diusili karena rambutnya nutupi wajahnya itu, jadi teman-temannya kesal ga bisa lihat wajahnya,” tambah Adit lagi. “Ngaco kalian semua tuh,” tawa Rangga.
Bel pulang berbunyi.
Adit dan Haikal pulang lebih dulu sedang Rangga menuju perpustakaan untuk menunggu kedatangan Melati, karena Rangga ingat, hari ini adalah jadwal Melati mengembalikan pinjaman bukunya. Petugas perpustakaan melihat kedatangan Rangga dan Rangga bersiap membuka jaketnya, tetapi petugas perpustakaan malah mempersilahkan Rangga masuk seraya berkata, “Bukunya yang dibaca, bukan ngintipin orang yang lagi baca.” Rangga nyengir mendengar sindiran itu karena yang dikatakan petugas perpustakaan itu benar adanya.
Rangga menunggu sembari melihat-lihat deretan buku novel di dalam lemari. Ia geleng-geleng tak mengerti, bagaimana caranya orang bisa betah membaca buku-buku setebal itu? Dan betapa hebatnya para penulis novel itu membuat cerita sepanjang itu. Mencari ide cerita, merangkai kata, menjalin dialog, menciptakan situasi di mana para tokoh itu berkonflik dan membuat akhir yang berkesan. Rangga masih terkesima dengan novel-novel itu hingga ia baru tersadar ketika melihat jam di dinding perpustakaan sudah menunjukkan jam 5 sore.
Tak biasanya Melati seterlambat ini. Rangga mencari di dalam perpustakaan tapi Melati tak nampak. Maka ia bergegas keluar dari perpustakaan menuju kelas Melati. Kelas Melati pun sudah nampak sepi. Rangga menuju parkiran sepeda dengan setengah berlari. Sesampainya di parkiran sepeda ia melihat sepeda Melati masih ada terparkir di situ seperti saat awal datangnya. Ia mulai cemas. Kemana kamu Melati? Batin Rangga.
Ia berlari kembali ke kelas sepuluh dan satu persatu membuka pintu kelas sepuluh untuk mencari tapi semua kelas sepuluh itu telah kosong. Ia berlari ke ruang guru dan laboratorium tetapi pintu ruang guru dan laboratorium pun telah dikunci. Ia berlari dengan kecemasan yang mulai tinggi ke kantin, tapi kantin telah tutup semua. Rangga mulai panik. Ia teringat akan satu tempat yang belum dicarinya. Rangga segera berlari kesana dan sesampainya, ia langsung mendorong pintunya masuk ke dalam toilet khusus murid perempuan.
Ia mendengar kran air yang terbuka di salah satu kamar mandinya. Rangga berjalan cepat ke kamar mandi itu dan terkejut. Ia melihat Melati terkulai pingsan bersandar di dinding sedang kran air yang mengucur membasahi rok seragam sekolahnya dan merendam setengah tasnya.
Rangga segera menggotong tubuh Melati keluar dari toilet dan meletakkannya di kursi panjang luar toilet. Ia segera menelepon adiknya dengan dan menjelaskan situasinya. Menunggu adiknya datang Rangga menatap Melati yang terkulai tak sadarkan diri itu. Wajahnya tertutupi rambutnya. Rangga menengok ke kanan ke kiri, situasi sekolah saat itu sedang lengang dan sepi. Dengan hati tegang Rangga menggerakkan jari jemarinya, ia bermaksud untuk menyingkapkan rambut Melati untuk melihat wajahnya. Jarak antara jari dan rambut itu hanya tinggal beberapa senti lagi tetapi Rangga mengurungkan niatnya, ia menarik kembali jarinya dan berdiri menjauh dari Melati.
Kemudian Rangga mengambil tas Melati, membukanya dan mengeluarkan buku-buku serta sebuah buku novel yang basah untuk dijemur di bawah matahari. Rangga membaca judul pada novel itu. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Rangga tidak menyangka Melati menyukai novel-novel lama, berbeda dengan dirinya yang menyukai hal-hal kekinian, seperti musik boyband yang digandrunginya. Sayang karena hari telah sore dan matahari tidak bersinar terik lagi maka Rangga memasukkan kembali buku-buku serta novel tersebut ke dalam tas Melati.
Dari kejauhan terlihat adiknya datang bersama seorang temannya. Rangga menghela nafas lega. “Lama banget sih Nyil,” ucap Rangga. “Sori Kak, ini ada temenku pas lagi maen ke rumah,” jelas adiknya, “Kak kenalin ini Ririn temenku, Rin kenalin ini Kakakku Rangga.” Ririn dan Arga saling mengangguk.
“Kak, ini kamu apain dia? Sampai rok seragamnya basah begitu?” kaget adiknya melihat Rangga. “Dasar Kunyil, bukan Kak, Kak menemukannya pingsan di toilet cewek,” jelas Rangga. “Kok Kakak tau dia ada di toilet cewek?” tanya adiknya seraya mengeluarkan handuk dari tasnya yang diminta Rangga untuk dibawa. “Kakak denger suara kran air yang mengucur dari toilet cewek, karena tau sekolah sudah sepi ya Kak cek,” jelas Rangga lagi.
Ririn mendekat ingin melihat siapa yang pingsan itu, lalu berkata, “Ini ‘kan Melati.” Kunyil menatap Ririn, “Kamu kenal dia?” Ririn mengangguk, “Dia temen SMP dan tetanggaku … sudah ga usah dikeringin pake handuk, biar aku bawa pulang saja sekalian.” Kunyil menyikut Rangga. “Kak, malah bengong, cepet gendong Melati, temenku ini bawa mobil di depan,” cetusnya seraya membawa tas Melati.
Rangga mengangguk dan segera menggotong Melati lagi. Mereka bertiga pun bergegas menuju mobil yang diparkir di luar sekolah. “Gimana ceritanya dia bisa pingsan di kamar mandi ya?” Kunyil bertanya-tanya. “Seingetku dia itu pobia ular, dulu sering pingsan kalau ada temen yang nakut-nakutin pake ular, kayaknya ini juga begitu deh,” duga Ririn. “Kenapa bisa sampai pobia?” tanya Kunyil lagi. “Katanya sih pernah digigit ular waktu SD,” jawab Ririn. Rangga terkejut. Pantas saja Jingga begitu takutnya dengan ular, batin Rangga.
Setelah Melati dibawa oleh Ririn dan adiknya dengan mobil, Rangga mengepalkan tangannya marah. Ia memaki dalam hatinya, kesal karena ia kecolongan tak bisa menjaga Melati tadi. Tapi sepertinya ia tahu siapa yang melakukan perbuatan itu pada Melati. Besok ia akan membuat perhitungan.
Hari telah lewat Magrib, Rangga berjalan menuju tempat parkir sepeda kelas sepuluh. Ia mengunci sepeda Melati dengan gembok sepedanya serta menutupinya dengan cover pelindung sepedanya. Setelah sepeda Melati dirasa aman, Rangga menaiki sepedanya sendiri dan mengayuhnya. Setelah keluar dari gerbang sekolah tiba-tiba kepala Rangga dikarungi dengan kain goni tebal dari belakang.
“Eh apa ini?!” seru Rangga terkejut.
Ia tak bisa melihat apa pun, nafasnya pun mendadak sesak.
Sontak tubuh Rangga ditarik jatuh dari atas sepeda dan saat jatuh itu tubuh Rangga dipukuli juga ditendangi. Rangga berusaha berdiri dan melawan tapi tak berdaya karena ia tak bisa melihat juga kewalahan meladeni banyaknya pukulan serta tendangan yang datang bertubi-tubi padanya. “Brengsek! kalian tidak tau siapa saya!” teriak Rangga berusaha menangkis serta menarik karung itu dari kepalanya tetapi sebuah pukulan keras menghantam wajahnya membuat Rangga terhuyung-huyung dan jatuh lagi tergeletak di pinggir jalan raya depan sekolah. Terdengar lamat-lamat dalam denging telinganya langkah-langkah kaki yang melarikan diri.
Tak lama, terdengar banyak suara orang berdatangan untuk menolong dan karung goni itu ditarik dari kepala Rangga. Dalam buram pandangannya Rangga bisa melihat kerumunan orang, kemudian tak sadarkan diri.
***
Rangga membuka matanya.
Ia melihat wajah adik, Adit dan Haikal sedang menatapnya cemas. “Ya Tuhan, aku sudah mati dan ini aku pasti di neraka karena aku melihat wajah-wajah setan,” gumam Arga. “Sialan!” tukas Adit dan Haikal bersamaan. Rangga pun tertawa seraya meringis menahan sakit. “Kak, kita ini khawatir tau, malah becanda,” kesal adiknya. Rangga terkekeh.
Kemudian Ibu dan bapaknya masuk ke dalam kamar. “Syukurlah kamu sudah siuman, Ibu khawatir Ga,” cemas ibu menatap putranya yang wajahnya babak belur itu. “Bapak sudah lapor polisi dan sekolah, besok biar pihak sekolah yang urus … kamu ga usah balas Ga, nanti ga beres-beres masalahnya … balas-balasan terus,” pesan bapak. “Memang polisi dan pihak sekolah tahu siapa yang mukulin aku?” tanya Arga. “Tahu, ada orang yang lihat dan kenal sama si Bintang waktu lagi mukulin kamu itu … dia memang anak bandel di kampungnya,” jawab bapak.
“Tapi Kak, wajah Kakak malah lebih ganteng kalau babak belur gini loh,” ledek adiknya tertawa. Rangga mendengus sebal. “Menurutmu, gimana kalau kita bikin perhitungan besok sama si Bintang?” bisik Adit setelah orang tua dan adik Rangga keluar dari kamar. “Betul Ga, berani-beraninya kelas sepuluh ngegebuki kamu, itu penghinaan buat kelas dua belas namanya,” kesal Haikal. “ Ga usah … tadi Bapakku udah bilang … biar sekolah dan polisi yang urus,” tolak Rangga. Adit dan Haikal berdecak kecewa. “Nyil! Nyil!” panggil Rangga. Adiknya muncul di pintu kamar, “Apa Kak?”
“Tadi, Melati gimana?”
“Sampe rumahnya masih pingsan, tapi ada Bapaknya kok.”
“Syukurlah Nyil.”
Adit mengerutkan kening, “Melati?” Rangga mengangguk dan menceritakan awal kejadiannya. “Rangga, Rangga… jadi sampe babak belur begini demi Melati lagi? Cckckck,” geleng-geleng Haikal. Rangga meringis. “The power of love atau kita sebut, dia bucin,” ledek Adit. “Udah, udah ngeledeknya? Sekarang kalian boleh pulang, aku butuh istirahat, sudah pergi, pergi,” cetus Rangga mengibas-ngibaskan tangannya. Adit dan Haikal tertawa.
***
Dua hari kemudian.
Rangga memarkirkan sepedanya di depan toko buku. Satu-satunya toko buku di kabupaten tempatnya tinggal. Meski tempatnya tidak terlalu luas tapi buku-buku yang dimilikinya cukup banyak. Rangga membawa catatan di kertas yang berisikan judul-judul novel. Judul-judul novel yang didapatnya dari pencariannya di internet melalui HP milik Adit yang lebih canggih dari HP miliknya, seperti info mengenai boyband yang pertama kali didapat Rangga juga dari Adit.
Rangga menyerahkan daftar novel tersebut pada pemilik toko. Pemilik toko membacanya lalu menatap Rangga yang wajahnya masih menyisakan sedikit lebam biru di wajah, seperti tak percaya, “Kamu betul mencari novel-novel lama ini?” Rangga mengangguk, “Tapi bukan buat saya sebetulnya Pak, buat seseorang.”
“Sudah sangat jarang loh atau malah ga ada anak muda yang mencari atau mau baca novel-novel lama seperti ini, apalagi di kabupaten kayak kita ini, sekarang semua senangnya maen hape … tunggu,” ucap pemiik toko. Rangga mengangguk lagi. Pemilik toko itu masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian keluar lagi sembari membawa lima buku novel di tangannya. Ia meletakkannya di atas etalase. Rangga tersenyum dan mengeluarkan uangnya, “Berapa Pak?”
“Bawa saja, buku-buku ini sudah terlalu lama tak dibaca, akan menyenangkan ada anak muda yang mau membaca dan mengurusnya,” jawab pemilik toko. “Betulan Pak?” binar mata Rangga tak percaya. Pemilik toko itu mengangguk, “Sampaikan salam saya buat seseorangmu itu, katakan terima kasih, dia masih mau membaca novel-novel lama.”
“Baik Pak, terima kasih,” ucap Rangga.
Sepeda pun dikayuh Rangga dengan hati senang menuju sekolah.
Tetapi sesampainya di sekolah …
BERSAMBUNG