[Latihan Operasi Militer Antar Kecabangan, Kartika Yudha 2023]
'GREEEEEEEEDD'
Begitulah suara baling-baling pesawat yang terdengar di telingaku. Namaku Sapta Yudha, umurku dua puluh dua tahun.
Aku berasal dari kesatuan Kopasus berpangkat Letnan satu dan juga seorang anggota dari unit penembak runduk (Sniper).
Biar ku jelaskan sedikit tentang keadaanku saat ini. Saat ini aku sedang ikut serta dalam pelatihan gelar operasi militer antar kecabangan Kartika Yudha, bersamaan dengan tiga rekan ku lainnya
Aku bersama dengan rekan ku grup Alfa 4 Kopassus tengah bersiap untuk terjun dari ketinggian lima ribu kaki.
"Ayo bersiap!" teriak pelatih itu.
"Siaaaap!" kami serentak menjawab.
Secara bergantian reguku melakukan terjun bebas dari pesawat C130J Super Hercules dengan nomor pesawat A-1360.
Selama beberapa detik melayang di udara, aku merasakan hal yang biasa cuaca terik dan sedikit berawan. Membuat kami berempat terjun bebas dengan lancar.
Selang beberapa menit kemudian tiba-tiba, cuaca berubah menjadi ekstrem seketika saat ku melayang di udara. Aku dan ketiga rekanku menjadi panik karena perubahan cuaca yang tiba-tiba ini.
Awan hitam mulai bermunculan di sekitar kami mengudara. Beserta pula hujan, angin dan petir. Seketika saja ada sebuah badai yang mulai menerpa ku di udara.
Padahal, ramalan cuaca dari BMKG menyebutkan bahwa cuaca siang ini akan sangat cerah.
BMKG : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Tapi, mengapa tiba-tiba cuaca berubah sederastis ini? Tampak rekan-rekanku yang lain juga merasa kebingungan.
Kami pun mencoba saling berkomunikasi melalui TCAPS yang terpasang di telinga masing-masing.
TCAPS : Semacam alat peredam kebisingan dan sekaligus alat komunikasi yang sering di pakai di kalangan militer.
Sumber : https://www.npr.org/sections/health-shots/2016/06/03/480173016/armys-smart
"Kapten, kenapa cuaca berubah seekstrem ini?" tanya salah seorang rekanku.
"Aku juga bingung kenapa bisa begini." jawabku yang masih kebingungan.
Aku menginstruksikan kepada ketiga rekanku yang lain agar kami saling berpegangan satu sama lain selama di udara. Tiba-tiba saja angin berembus sangat kencang sehingga menghempaskan kami berempat.
Sontak aku dan ketiga rekanku terpencar ke segala penjuru arah hingga membuat kami terpisah dan mulai berjauhan satu sama lain. Kurasakan badanku terhempas sangat jauh.
Bahkan, tidak terlihat satupun rekanku di sekitar aku berada. Aku bergegas untuk mencoba menghubungi mereka melalui TCAPS, namun hasilnya percuma. Aku hanya mendengar suara berderak.
Saat ku mencoba menyetel ulang TCAPS di udara, tiba-tiba petir menyambarku.
'BLARZZZ'
Bunyi sambaran petir yang memekakkan telingaku.
"Ahhhrgg!!" Aku berteriak mengerang kesakitan.
Sontak saja pandanganku menjadi gelap usai tersambar petir. Mataku menjadi terpejam karenanya.
****
"Dimana ini? Apa aku sudah mati?"
Aku kembali tersadar dan mendapati diriku berada di tempat yang gelap dan sunyi. Aku berusaha untuk bangkit dari tempatku terbaring dengan terduduk.
Di dalam kegelapan ini aku hanya bisa pasrah menerima nasib ku kedepannya. Aku berfikir jika aku mati ada banyak hal yang aku sesali.
Terutama aku bahkan belum sempat sungkem dengan kedua orang tua ku saat kepergian ku.
"Maaf Ibu, Ayah! Yudha belum bisa kasih yang terbaik buat kalian."
Aku memang sudah bersiap untuk mati apa pun kondisiku sebagai seorang Prajurit. Setidaknya aku ingin mati saat berlaga, bukan mati karena insiden konyol seperti tersambar petir. Apalah dayaku semua sudah terjadi dan aku tak bisa merubah takdir ku ini.
Dalam kegelapan itu pula muncul pula bayang-bayang wanita yang aku taksir selama ini. Seorang suster perawat cantik menjadi primadona ku selama ini.
Dia memiliki kulit putih sehalus sutra, memiliki wajah imut dan menggemaskan. Dia memilih style gaya rambut berponi sehingga itu menutupi mata kanannya.
Bola matanya terlihat indah berwarna biru meski hanya satu mata yang terlihat. Senyum bibirnya terlihat sangat mempesona dan seksi dengan hanya sapuan Lip gloos.
Selain wajah yang cantik dia juga memiliki tubuh yang ideal bagi wanita. Perawat itu memiliki tinggi badan sekitar 165 sentimeter dan memiliki aset yang bisa dibilang besar.
Aset yang menambah nilai plusnya menjadi lebih sempurna. Kebanyakan Pria yang melihatnya akan menyebutnya cantik.
Selain kecantikannya dia juga punya pesona tersendiri dengan aura kedewasaan yang membuatnya terasa lebih anggun.
Saat ku mengingatnya ketika ku sedang ia merawatku di rumah sakit ketika aku sedang cidera pasca latihan bulan lalu.
Dia merawat ku dengan sepenuh hati dan selalu tersenyum manis dihadapan ku. Senyuman itulah yang telah membius ku dan membuat ku tergila-gila padanya.
"Ah andai aku menanyai namanya waktu itu. Payah sekali aku!"
Dalam kesunyian dan kegelapan, sebuah pintu cahaya muncul dari kejauhan. Aku memperhatikan kearah pintu yang bersinar terang itu. Sontak saja membuat ku berdiri dari tempat ku terduduk.
"Pintu apa itu? Apa itu pintu menuju akhirat?"
Tanpa pikir panjang aku berjalan menuju pintu cahaya itu dan berhasil menggapainya. Ketika ku melangkah ke luar kesadaran ku kembali memudar dan tidak merasa apapun setelah itu.
****
"Arghh!!! Kepalaku sakit sekali! Tunggu apa sakit? Hey kenapa ada angin sekencang ini?"
Aku bingung kenapa aku merasakan ada angin menerpa tubuhku di saat itu. Aku pun berusaha untuk kembali sadar dengan membuka mata.
Pada saat ku membuka mata, alangkah terkejutnya aku! Pandanganku justru kembali terang. Aku kembali ke keadaan semula berterjun bebas di udara.
"Apa!? Aku masih hidup? Tunggu ini beneran kan?"
Aku melihat cuaca di sekelilingku kembali menjadi kondusif. Bahkan, tidak ada awan hitam yang menyelimutinya.
"Benar-benar kejadian yang aneh!"
Aku lalu memeriksa sekujur tubuhku padahal seharusnya aku terluka. Tapi justru aku tidak mengalaminya sedikitpun. Sungguh sangat mengherankan.
"Apa tadi cuma mimpi ya? Hem masa sih?"
Kucoba untuk kembali menghubungi rekan-rekanku, tapi hasilnya tetap nihil. Setelah ketinggian kurasa cukup untuk membuka parasut, ku kibaskan parasut untuk turun dari ketinggian.
Setelah parasut terbuka, aku mencoba mengamati daratan sekitar untuk mencari tempat landing ideal yang pas.
"Tunggu dulu, tempat ini sepertinya bukan wilayah latihan terjun payung yang biasanya. Kenapa aku malah landing ke hutan belantara?
Bukannya di daerah ini tidak ada hutan dan… yah, tampaknya aku akan tersangkut diantara dahan pepohonan itu!" gumamku kebingungan sambil memprediksi kemungkinan yang akan terjadi padaku.
Yap! Seperti yang sudah kuduga, aku pun mengalami landing yang tidak sempurna. Parasutku tersangkut di antara dahan pepohonan.
Untungnya tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, sehingga aku bisa merapikan dan melipat kembali parasut ini kedalam tas.
Oleh karena agak sedikit tersangkut dan tali parasut yang saling melilit, aku harus ekstra hati-hati agar talinya tidak terputus.
Setelah selesai mengemasi parasut, aku kembali mencoba menghubungi rekan-rekan komando dengan mengirimkan sinyal SOS.
SOS : Semacam sinyal darurat yang dipancarkan melalui radio atau radar di kala terjadi kecelakaan/tersesat.
Jujur saja, di latihan kali ini aku ditugaskan untuk membawa sebagian peralatan dan persediaan yang cukup banyak. Sehingga hal ini cukup merepotkan ku.
Dalam latihan kali ini aku dibekali dengan
- Senapan serbu SS2 varian V5 - A1 dengan Scope empat kali pembesaran dan menggunakan Suppressor.
- Senapan Sniper jenis SPR 3 dengan Scope dengan dua belas kali pembesaran juga memakai Suppressor.
- Kacamata Thermal
- Teropong
- Pistol G2 Premium buatan lokal bersuppressor.
- 3 buah bom asap
- 2 buah flashbang
- 1 Flare gun dengan 3 butir peluru
- 3 bom granat.
Persediaan yang aku bawa di dalam tas terdapat bahan logistik amunisi yang terdiri dari
- 300 butir peluru
- 1 Medkit/P3k
- 6 minuman kaleng energi
- 1 liter botol air
- 3 makanan cepat saji
- 5 makanan ringan
Beberapa alat untuk bertahan hidup.
Untuk memastikan semua aman dan tidak ada yang hilang, aku mulai memeriksa peralatan ku. Syukurlah semua barang perbekalan ku masih lengkap.
Selain beberapa senjata api aku juga membawa senjata tajam seperti kujang, kunai, dan pisau belati.
Aku juga membawa 3 mini drone robot penyadap berukuran seperti ngengat kecil dengan monitor kontrol UAV .
UAV : Semacam alat pengendali drone atau alat pemanggil rudal drone untuk melakukan serangan dari udara.
Untuk melengkapi kebutuhan seorang Sniper, aku juga membawa pakaian Ghillie yang akan ku gunakan saat berkamuflase di medan laga.
Ghillie : Pakaian kamuflase Sniper, atau biasa disebut “baju rumput”.
Selain perbekalan tersebut, aku juga telah menyiapkan teknologi terbaru, yaitu radar kecil yang terpasang sebagai jam di lengan kananku.
Fungsinya agar aku dapat mengetahui waktu, sekaligus mendeteksi posisi musuh dan bahaya yang mendekat hingga pada radius lima ratus meter.
Radar ini memiliki fungsi pendeteksi yaitu dapat merasakan gelombang suara objek hidup dan dapat merasakan hawa panas objek yang berpotensi menjadi ancaman.
Bukan hanya itu, kemampuan Radar kecil ini juga dapat mendeteksi Frekuensi suara Radio Ultrasonic yang biasa dipancarkan oleh alat elektronik. Jadi, Radar ini akan sangat membantu mendeteksi sinyal bahaya yang mendekat.
Biasa dikatakan ini adalah Radar AESA (Active Electronically Scanned) versi terkecilnya dengan sedikit upgrade dan penambahan sistem.
(Teknologi ini belum ada sebenarnya di realife. Jam Radar ini adalah inovasi dari Senpai sendiri atau bisa dibilang alat alat fiksi ilmiah.)
Aku mengenakan pakaian militer ketat dengan corak loreng KASAD Kopassus, rompi anti peluru, helm militer, dan TCAPS yang terpasang di telinga untuk berkomunikasi dengan anggota lainnya melalui radio.
Setelah menunggu kurang lebih selama seharian penuh sampai aku bermalam di hutan itu belum ada juga tanda-tanda bantuan datang. Karena terlalu lama hal ini membuatku mengerutkan dahi.
"Ya ampun, kenapa bantuannya lama sekali datang. Biasanya regu penyelamat tak akan selama ini. Apa yang mereka lakukan sebenarnya?” Aku mulai kehilangan kesabaran.
Sepertinya tidak ada tanda-tanda bantuan akan tiba dan terus berdiam diri tidak akan membuatku menemukan solusi. Aku berfikir akan mencoba berjalan ke arah barat. Siapa tahu di sana ada permukiman warga jadi aku bisa meminta bantuan.
(My Quotes : "Diam memang pilihan, tapi berdiam diri saja bukanlah solusi").
Aku pun mengemasi semua barang bawaan dan mulai menyusuri hutan ke arah barat. Tentunya aku telah meninggalkan jejak ku dari lokasi sebelumnya.
Setiap jarak lima meter aku mematahkan ranting pohon dan tumbuhan yang aku lalui. Hal ini aku lakukan agar aku mudah ditemukan oleh seseorang. Setidaknya ada upaya yang aku lakukan walaupun itu tampak mustahil
Saat menyusuri hutan aku menemukan beberapa pohon serta tumbuhan yang beraneka ragam bentuknya dan terlihat asing bagiku. Sesaat aku mencoba untuk mengamatinya.
"Aneh sekali tumbuhan di sini, bukannya di daerah ini tidak ada tumbuhan seperti ini?" pikirku kebingungan.
Bentuk batang terlihat seperti pohon pada umumnya, tapi daunnya berwarna putih keperakan dan bercahaya. Tumbuhan ini berbuah dengan bentuknya tidak biasa. Seperti buah alpukat, tapi berwarna merah (maroon).
"Sepertinya ini jenis beracun dan pasti tidak bisa dimakan!" Aku semakin waspada.
Dalam hati, aku semakin cemas dan bertanya-tanya.
"Sebenarnya aku ada di mana? Seharusnya di wilayah ini tidak ada hutan dengan tumbuhan seaneh ini. Apakah… apakah aku berada di Isekai?” pikiran aneh tentang tempat itu tiba-tiba muncul.
Isekai (異世界) : Diambil dari bahasa Jepang yang artinya Dunia Berbeda atau Dunia Lain. Para Otaku, biasa menyebutnya sebuah Genre pada Anime, Light Novel, dan Manga. Isekai mengacu pada konsep dunia fantasi yang diluar persepsi manusia.
Fantasi liar itu tiba-tiba muncul begitu saja. Sebenarnya di luar pekerjaan ku sebagai Tentara.
Aku adalah seorang Otaku yang hobi menonton anime, membaca novel ringan, mengoleksi manga, bermain game MMORPG dan game FPS, baik di PC maupun Smartphone di saat ada waktu senggang.
****
Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku dengan jelas sebelumnya. Namaku Sapta Yudha.
Saat ini umurku dua puluh dua tahun. Ciri-ciri fisik ku berambut hitam, bermata elang dengan pupil berwarna merah dan berkulit sawo matang.
Aku memiliki tinggi badan yang bisa dibilang sedang yaitu 170 sentimeter. Pekerjaan ku sekarang adalah seorang anggota TNI Angkatan Darat (AD) dari satuan penembak runduk atau Sniper Kopassus, berpangkat Letnan Satu.
Seperti yang ku ceritakan sebelumnya, unit reguku sedang melakukan latihan tempur.
Pada saat terjun bebas cuaca berubah ekstrem dan aku sempat tersambar petir. Kejadian nahas itulah yang kini membuatku seperti terlempar ke dimensi lain.
Terkait hobi ku yang telah ku sebutkan tadi, rasanya memang agak terdengar menggelikan bagi seorang tentara yang memiliki hobi seperti itu.
Tapi hobi itu sudah aku tekuni sejak aku masih duduk di bangku sekolah hingga sekarang. Meski demikian, jika saat ini aku diminta memilih antara hobi atau pekerjaan, jujur aku lebih memilih pekerjaan ketimbang hobi.
Membela tanah air dan menjadi Abdi Negara adalah impianku sejak aku kecil. Walaupun aku memiliki hobi seperti itu, bukanlah alasan untuk tidak melatih fisik agar bisa lulus tes Catar Akmil.
Terkadang aku sering berenang dan melakukan kegiatan olahraga lainnya agar fisikku terbentuk sempurna.
Terkait akan hobi sebagai Otaku, aku tidak mempermasalahkannya karena semua orang punya kegemarannya pada suatu hal selama itu tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal ini juga tergantung bagaimana kita juga dapat membagi waktu dengan baik.
Selama aku menjalani hidup ku sebagai Prajurit, aku sekarang justru lebih menekuni pekerjaan ku ketimbang hobi ku sendiri. Karena semenjak jadi Prajurit TNI aku hampir tak ada waktu untuk menekuni hobiku.
Aku masuk Akmil ketika umur ku delapan belas tahun. Pada saat pelatihan Taruna dulu aku benar-benar digembleng dengan sangat keras oleh para Senior ku di Candradimuka.
Meskipun hal itu menyebalkan tapi justru itu yang membuat ku menjadi seorang Prajurit tangguh.
Seusai menempuh pendidikan sebagai Taruna di Akademi Militer Magelang. Aku berkesempatan untuk mengikuti seleksi Kopassus yang terbilang sangat sulit dilakukan oleh orang biasa.
Setelah aku melalui seleksi tahap satu hingga tiga, aku menjadi putus asa dan berfikir untuk tidak melanjutkan karena ujian yang dilakukan semakin berat, akan tetapi aku tak mau berhenti di tengah jalan.
Satu demi satu ujian sulit aku lewati dengan usaha dan kerja keras. Pada akhirnya tidak ada usaha yang menghianati hasil, aku berhasil mendapatkan baret merah.
Setelah menjadi Kopassus aku menjalani serangkaian latihan yang tidak masuk nalar Manusia. Aku kembali melakukan latihan ekstrem yang menuntut ku harus melewati batas limiter Manusia.
Kembali ke keadaanku saat ini. Sepertinya aku memang terlempar ke Isekai. Tidak masalah, setidaknya aku mempunyai bekal skill ilmu militer dan berpetualang di dunia fantasi.
Semua keahlian itu ku peroleh dari pekerjaan dan hobi ku yang aku sebutkan sebelumnya. Jadi, aku punya wawasan yang cukup luas yang mungkin itu bisa ku terapkan sekarang.
Namun aku sadar bahwa pada akhirnya itu hanya spekulasi liar belaka. Mana mungkin dunia fantasi itu ada. Hal itu tampaknya itu mustahil alias impossible. Jadi kubiarkan saja imajinasi ku berkeliaran.
Sepanjangan perjalanan menyusuri hutan aku terus berfantasi liar dan selalu mengira-ngira apakah aku akan bertemu Elf, gadis bertelinga kucing, atau bahkan monster mengerikan level tinggi.
"Apakah aku di alam gaib? Tapi, apa itu benar?" kembali pikiran liar ku mengusik.
Memastikan kalau ini benar-benar hanya spekulasi liar ku saja. Aku mulai teliti mengamati lingkungan sekitar.
Tiba-Tiba saja radarku berbunyi dan memberitahu bahwa ada sinyal bahaya yang mendekat dalam radius dua puluh meter dan….
'SKEROAAAKK'
Terdengar suara keras seperti raungan monster di arah jam sembilan. Aku menjadi semakin waspada dan mengambil Senpi SS2 di punggungku untuk bersiaga jika ada kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Ragu-ragu aku mengamati arah yang kuduga sebagai sumber suaranya.
Penasaran, aku pun coba untuk mendekati sumber suara secara mengendap-endap dari balik semak-semak. Sontak aku dibuat terkejut kesekian kalinya, ketika melihat sepasang monster yang mirip Dinosaurus berjenis Raptor.
Sekilas aku menduga bahwa makhluk itu memiliki panjang tiga meter dengan tinggi hampir dua meter dan yang satunya memiliki ukuran setengahnya. Mereka tengah memangsa babi hutan berukuran besar.
Nampaknya mereka sempat bertarung sebab salah satu raptor itu terluka di bagian dada.
Tapi, tunggu dulu. Kalau tidak salah, bukankah mamalia baru muncul pada periode Zaman Tersier? Sementara Dinosaurus berasal dari periode Zaman Paleozoik.
"Sebenarnya dunia apa ini ?"
Agar aku tidak semakin terjebak dalam kerugian, aku mundur perlahan dari balik semak- semak. Lalu mencoba pergi sejauh mungkin dari lokasi itu.
(My Quotes : "Jika kamu melihat sebuah resiko yang akan merugikan kamu, Lebih baik cari jalan lain").
Saat di perjalanan aku kembali berspekulasi bahwa, mungkin saja ada makhluk lain yang serupa di luar sana atau bahkan T-Rex, atau juga beberapa jenis Dinosaurus lainnya. Untuk bersiaga, aku terus menenteng senpi ku. Hati kecilku kembali bertanya-tanya.
"Apakah aku sedang melakukan perjalanan waktu (time travel)? Tapi, jika seperti itu, seharusnya takkan ada dua jenis makhluk hidup yang bertemu di zaman yang berbeda. Sungguh dunia yang membingungkan."
****
Hari mulai gelap dan telah aku jauh berjalan dari lokasi sebelumnya. Ku jumpai tempat ideal untukku menginap sementara yaitu di pinggiran sungai.
Kurasa aman-aman saja di sini. Aku pun melepaskan tas, rompi, dan helm untuk beristirahat. Saat aku ingin mengambil air wudhu di pinggir sungai, tiba - tiba saja radarku kembali mendeteksi sinyal bahaya yang mendekat.
Tak lama terdengar suara jejak kaki yang sangat cepat seperti berlari dari arah belakangku.
'SKROAAKKK'
Seekor Raptor menyerang ku! Aku mencoba rolling ke arah kanan untuk menghindari serangannya.
Dengan cepat, aku langsung membalikan badan dan berlutut sambil menembak kepalanya dengan Senapan SS2 yang sedari tadi tak lepas dari genggaman.
'DEDEDER'
Raptor itu pun jatuh. Mati tergeletak di tanah dengan bersimbah darah. Aku mencoba kembali berdiri dan mengamati monster Dinosaurus itu.
Ukurannya sama kecilnya dengan Raptor yang kedua yang kulihat di lokasi sebelumnya, mungkin sekitar setengahnya.
"Hemm… sudah kuduga. Pasti ada makhluk lain sejenisnya. Sepertinya tempat ini tidaklah aman dan seharusnya aku mengatur radar ini untuk mendeteksi lebih jauh. Tapi jika radiusnya kutambah, pasti akan menguras banyak baterai."
Seperti yang aku katakan tadi, memang sistem radar akan sangat membantu untuk mendeteksi bahaya.
Tapi jika radius pendeteksinya ditambah, maka baterai yang digunakan menjadi cepat habis dan pada akhirnya penggunaannya menjadi tidak efisien. Kuputuskan untuk mengatur ulang pada jarak sedang sejauh seratus meter.
"Sepertinya aku harus tidur diatas Pohon, agar tidak menjadi santapan mahkluk seperti itu. haah~" ku hanya bisa menghela nafas sambil memejamkan mata.
Malam pun tiba dan aku sudah melakukan kewajiban. Saatnya untuk beristirahat. Aku mencari pohon yang tinggi dan sekiranya aman untuk kujadikan tempat tidur malam ini. Akhirnya, aku mendapati pohon mahoni yang menjulang tinggi.
"Lah Ini kan pohon mahoni, ternyata juga ada di dunia ini toh. Okelah cukup tinggi dan pasti aman."
Aku pun mulai memanjat pohon itu. Ketika sampai di salah satu dahannya, aku mulai beristirahat. Ku letakkan barang-barang ku di semak-semak agar aman. Saat menaiki pohon aku hanya membawa makanan ringan, air minum dan Sniper untuk berjaga-jaga.
****
Subuh dini hari, aku turun dari pohon untuk menunaikan kewajiban ku. Untuk menghemat persediaan makanan, aku berburu hewan di hutan ini.
Aku mendapat seekor ular piton/sawah yang ukurannya lumayan besar, panjangnya sekitar lima meter dan cukup berisi.
Pagi itu pun aku segera mengulitinya dan memanggangnya untuk ku makan. Jujur tekstur dagingnya seperti Ikan gabus yang dipanggang di perapian.
Andai saja ada bumbu dapur rasanya tidak akan seburuk ini. Tapi, ini lebih baik daripada tidak makan sama sekali, terlebih lagi bisa digunakan untuk menghemat persediaan makanan selama beberapa hari. Setelah itu, aku kembali melanjutkan perjalanan mencari bantuan.
Sepuluh hari telah berlalu ketika ku tersesat dan mengarungi hutan yang lebat dan luas. Aku disibukkan dengan Dinosaurus-Dinosaurus yang selalu menghambat ku dalam perjalanan.
Tak jarang aku menemukan beberapa jenis Dinosaurus Herbivora seperti Triceratopsaurus dan lain sebagainya. Untuk melawan para Dinosaurus pengganggu itu aku terpaksa mengerahkan beberapa peluru untuk membunuh mereka. Sehingga peluru ku tinggal sedikit dan terpaksa aku harus lebih berhemat amunisi lagi setelah ini.
****
Singkat cerita, di siang hari yang cerah aku sepertinya sampai di suatu tempat dan melihat dua bangunan gudang tua yang tampak.
"Syukurlah akhirnya ada tanda keberadaan manusia. Tapi, tempatnya agak terpencil dan tampak mencurigakan." ucapku sambil berbisik.
Aku mempunyai firasat buruk mengenai lokasi bangunan-bangunan itu. Tampak seperti tempat persembunyian pemberontak separatis bagiku.
Berdasarkan kecurigaanku itu, aku mencoba memeriksa tempat tersebut dari jarak sedang dengan mengerahkan salah satu drone yang kumiliki untuk memata-matai tempat itu. Sekadar untuk memastikan apakah firasatku itu benar atau tidak.
Ketika drone itu sampai di salah satu gudang, alat penyadap drone menangkap suara orang-orang yang sedang mengobrol di dalam gudang itu. Suara-suara itu dikirimkan melalui sinyal radio drone ke TCAPS .
Mereka terdengar seperti berbicara dalam bahasa Inggris, namun menggunakan aksen Jepang. Jadi, aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.
Drone-ku akhirnya sampai pada gudang yang di mana sumber suara berasal, lalu masuk kedalamnya secara senyap. Mini drone ini dilengkapi sistem yang canggih dan memiliki baling-baling senyap, sehingga tidak akan menghasilkan suara yang berisik.
Aku mengamati mereka melalui kamera drone menggunakan UAV, sambil mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
"Tuday, ouru chairuman gotu a ruto ofu ruoto, whato are i goinge to dou witohe hime?"
Jujur aku tidak paham apa yang mereka bicarakan, jadi mungkin seperti ini maksudnya:
"Today, our chairman got a lot of loot, what are we going to do with him?” yang artinya kurang lebih adalah
"Hari ini, ketua kita mendapat banyak jarahan, apa yang akan kita lakukan padanya?"
Setelah aku cermati dengan saksama pola bahasa yang mereka gunakan, rupanya cukup mirip dengan bahasa Inggris, hanya saja seperti berlogat Jepang. Maka, kini aku cukup mengerti apa yang mereka bicarakan.
Pada percakapan selanjutnya, aku akan menerjemahkan langsung bahasa di dunia ini, dengan Indonesia agar pembaca paham dan dapat mengerti.
Di layar monitor UAV, aku hanya melihat ada 5 pria dewasa dengan ciri-ciri berperawakan tinggi besar, berkulit sawo matang, berparas seperti orang India, berambut hitam, pupil mata berwarna cokelat, dan salah satu bos mereka memiliki perawakan gendut bermuka jelek.
Mereka mengenakan serban hitam, ada juga beberapa yang menggunakan serban berwarna coklat. Tampak pula pedang ala Timur Tengah yang tersarung di pinggul mereka masing-masing.
Tampaknya mereka sedang berpesta minuman keras (miras) dan tertawa lepas. Aku mencoba mengamati beberapa benda di sekitar mereka.
Tampak beberapa buah peti besar yang mereka duduki, dan ada juga beberapa peti terbuka berukuran sedang berisikan emas dan perhiasan. Tampaknya mereka juga menawan seorang gadis kecil di sebuah sel.
Gambarannya tidak terlihat jelas karena kondisi cahaya cukup gelap.
"Sepertinya firasat ku benar, mereka memang seperti sekumpulan bandit penjahat." hati kecilku kembali berbicara.
Terlihat bos mereka mulai menarik keluar gadis malang itu dari sel dengan kasar sehingga sekarang aku bisa melihat ciri-ciri fisiknya dengan jelas.
Ia berperawakan loli dengan tinggi badan sekitar 155 sentimeter, berambut putih yang terurai kusut dan ada belang hitam di rambutnya. Tunggu dulu, ada Demi Human Harimau putih di dunia ini!
Ia bertelinga harimau dan memiliki ekor besar panjang berbelang hitam putih. Pakaiannya tampak lusuh, ia mengenakan gaun/daster putih yang terlihat usang. Borgol rantai terlihat mengikat kaki kanannya.
Demi Human : Ras setengah manusia yang bentuknya hampir menyerupai manusia. Ras ini memiliki kebiasaan dan perilaku yang sama dengan manusia. Letak perbedaannya yaitu dari bentuk fisik dan mampu berevolusi.
Aku terkejut setelah melihat penampilannya, dan aku semakin yakin kalau memang berada di Isekai.
Bersambung...
Kamu pengen tahu ceritanya cek novelnya ya..