Kamu tersentak kala Shean membuka pintu seperti mendobrak, lalu nampak wanita cantik yang tengah memakai mini dress warna hitam dengan motif polkadot kecil warna putih. Shean duduk di hadapanmu dengan derai air mata, terlihat mascara yang luntur, lipstick memudar dan rambut berantakan.
Bibir yang mencebik, nampak lucu terlihat di pantulanmu, kemudian ia menghapus air matanya masih dengan terisak.
“Kok, aku jadi jelek sih?” tanya Shean.
“Semua ini gara-gara Mark” gerutunya kesal, lalu menangis lagi.
Kamu bingung harus apa melihat Shean menangis layaknya anak kecil, ingin menggapai tissue yang ada di sebelah lengan kiri Shean, tapi tak bisa kamu gapai. Jika kau berkata satu kalimat saja. Kamu sangat yakin, Shean akan memecahkannya sekarang juga. Untuk itu, kamu memilih diam.
Shean mengambil tissue dan menghapus wajahnya secara kasar,perlahan tangisaan dan isakannya mulai mereda. Sejurus kemudian, Shean berdiri dan melepaskan dress mininya. Kamu menahan napas, hendak memejam, namun pantulan punggung Shean yang terbuka nampak begitu jelas.
Shean hanya menutupi dadanya dengan telapak tangan, mengambil salah satu baju di almari dan memakainya, sebuah kaos yang panjangnya hanya mampu menutupi bokong dan tanpa lengan menjadi pilihannya, kamu hafal semua koleksi bajunya berwarna sama, yakni hitam. Bahkan pakaian dalamnya juga, kecuali bra, Shean tidak begitu suka memakainya.
Kaki Shean yang putih dan jenjang, nampak tak berdaging. Kamu berpikir, betapa dia begitu kurus, bahkan punggungnya tadi juga terlihat begitu. Kamu sedikit mengeluh, karena kamu sangat ingat ketika Shean kecil dulu. Pipi yang gembul dan selalu merona dan mata birunya yang indah, belum lagi rambut merahnya yang keriting.
Kamu ingat senyuman Mamanya Shean,Nyonya Helena Spring ketika mendandani putrinya yang cantik. Dan sang Papa, Tuan Robert Spring, memeluk mereka dari belakang sambil mencium istrinya. Kamu ingat semua itu, hingga satu persatu mereka pergi dari sisi Shean.
Kini tak jarang kamu melihat lingkaran biru di mata Shean, bahkan terkadang kekerasan itu berlangsung di hadapanmu, ingin kamu marah, tapi suaramu seperti di telan angin yang berhembus melalui jendela kamar yang tak pernah bisa di tututp. Pernah Mark memakunya, tapi hanya beberapa saat jendela itu terbuka lagi, dan kamu mengetahuinya dari suara yang terdengar,
Kamu melihat Shean baru saja keluar dari kamar mandi, wajahnya begitu segar, walau matanya masih bengkak karena kebanyakan menangis. Shean duduk kembali di hadapanmu, sambil melepas handuk yang melilit rambutnya. Ia mengelus pipin yang tirus dan mengamati seluruh wajahnya yang pucat.
Shean kembali memoles wajahnya dengan make up, sangat cantik walau hanya riasan sederhana. Andai kamu bisa tersenyum bahagia, tentu kamu akan tunjukkan padanya, lalu berkata.
“Bangkitlah Shean dan hempaskan Mark sekarang juga!"
Tiba-tiba Shean menghapus riasannya, kamu terkejut, lalu Shean menangis lagi.sambil mengumpat.
“Aku benci kamu Mark!"
“Aku benci!"
Kamu sebenarnya ingin sekali memarahi Shean yang terlihat rapuh sekarang.
“Jika kamu benci, mengapa menangis Shean!"
Seandainya kamu bisa meretakkan sendiri kacamu, mungkin akan kamu lakukan sebagai tanda jika kamu marah pada Shean. Lalu, Mark datang dengan wajah menyesal. Sorot matanya yang terpantul langsung menatap netra biru Shean.
“I’m sorry, i’m realy realy sorry,” ucapnya memohon.
.
Shean hamya menatap Mark dari pantulanmu saja, tak menoleh, dan kamu senang akan itu. Namun berikutnya, Mark membopong tubuh kurus Shean ke atas ranjang. Ingin sekali kamu teriak, agar Shean berontak dan berlari menjauhi Mark.
Tapi sepertinya Shean benar-benar lemah dan sangat menginginkan hal itu. Dalam pantulanmu betapa Mark mampu menghapus semua tangisan Shean hanya dengan sekali cumbuan saja. Sejurus kemudian, Shean merintih, melenguh kenikmatan, lalu terpekik puas, sedangkan Mark belum mencapai apa apa.
Mark berdiri dengan wajah kesal, berjalan ke kamar mandi, entah apa yang ia lakukan di sana, lalu terdengar desahan Mark yang memburu, semakin lama semakin cepat, dan beberapa menit kemudian terdengar teriakan yang cukup keras. Kamu merasa jijik jika harus membayangkan apa yang di perbuatan Mark di kamar mandi.
Semua kejadian itu terpantul di dirimu, karena posisimu yang berada di tempat yang tepat, hingga kamu bisa lihat seisi kamar. Mark keluar dari kamar mandi, tanpa sehelai benangpun berpose di depanmu sambil menunjukkan kejantanannya. Terlihat wajahnya yang bangga dengan itu, andai kamu bisa melakukan sesuatu untuk melukai itu....
Mark membelakangimu, terlihat tatto yang merajah hingga bokongnya, kamu tak tahu gambar apa yang tercetak di situ, Mark terlihat mengambil baju dan celananya dalam almari, kemudian memakainya, mendekati Shean lalu menciumnya lama. Shean nampak menggeliat, kemudian Mark menutupi tubuh Shean yang polos dengan selimut lalu meninggalkannya.
Terdengar deru suara mobil di pacu begitu kencang. Kamu menerka, mobil apa yang di pakai Mark mala mini? Tapi kamu tak dapat memastikan, kerena semua mobil bersuara sama di telingamu. Shean terbangun, terlihat dari suaranya yang memanggil nama kekasihnya.
Sebenarnya kamu tak ingat persis, kapan Shean membawa Mark ke rumah ini, usia Shean baru saja menginjak 18 tahun waktu itu. Papa dan Mama Shean meninggal dunia ketika Shean berusia 12 tahun. Shean di asuh oleh Bibinya, atau adik Tuan Robert, yang bernama Nyonya Joana Spring, seorang perawan tua,
Kamu mengetahui sosok Nyonya Joana, karena Shean selalu merundunginya. Terlebih ketika Nyonya Jo, memakai pakaian khas, yang aneh menurutmu. Pakaian itu berwana hitam dan panjang, dengan kerudung yang menutupi kepalanya.
“Kamu jadi biarawati?”
Shean bertanya pada Bibinya, ketika berada di hadapanmu, saat itu Nyonya Jo, masih tinggal sekamar dengan Shean. Nyonya Jo tersenyum manis mendengar pertanyaan Sendiri lewat pantulanmu lalau menjawab.
“Yes, i am.”
“I think you should go know.’
“Kamu mengusirku?’ tanya Nyonya Jo yang hanya melihat Shean dari pantulanmu.
“Yes!"
Nyonya Jo kembali tersenyum dan hanya melihat Shean dari pantulanmu saja, kemudain setelah selesai merias dirinya, Nyonya Jo berbalik menghadap Shean dan berjalan mendekatinya.
“Aku pasti pergi, dan semoga Tuhan memberkatimu, amen”
Lalu kamu melihat Nyonya Jo mencium kening Shean lama, lalu pergi meninggalkan Shean yang kemudian menangis tersedu di lantai.
”Don’t leave me Aunty, please...”
Sejak saat itulah Shean makin berani membawa laki-laki ke kamarnya. Shean sering bergonta-ganti pasangan, paling kama ia bertahan hanya satu atau sua minggu saja dengan pasangannya. Kemudian beberapa hari kemudian Shean membawa lelaki lain. Begitu terus hingga empat kali.
Dan Mark adalah lelaki yang ke lima yang di bawa Shean ke kanar ini, dan sudah bertahan selama satu tahun. Ya, Shean hidup satu atap dengan lelaki tanpa ikatan pernikahan. Terkadang kamu heran dengan Shean, Mark tidaklah terlalu tampan, tubuhnya juga tidak terlalu bagus, hanya tinggi saja, rambutnya hitam ikal dan panjang sebahu.
Hingga malam ini, Mark datang dengan menutup pintu pelan-pelan, setelah beberapa hari Shean pulang dengan menangis. Mark berjalan berjingkat, ia menatap sinis Shean yang terlelap, entah apa yang ada di pikiran Mark saat ini, yang jelas kamu ingin membangunkan Shean sekarang. Sayang, kamu tak punya kekuatan apapun untuk itu.
Mark membuka almari perlahan, ia mencari sesuatu di sana, kamu tak dapat melihatnya karena tertutup tubuh Mark. tiba-tiba pintu terbuka, muncul kepala perempuan berdandan aneh menurutmu tengah memberi isyarat pada Marl, nampaknya mark tidak mengetahui keberadaan wanita itu hingga ia bersiul.
Mark menoleh pada wanita itu, Shean nampak menggeliat, kamu melihat mereka berdua bergeming, Mark menaruh telunjuknya di bibir, lalu secara perlahan wanita itu mendekati Mark. Pakaiannya serba hitam, dengan celana pendek berbahan kulit dan stoking jarring berwarna senada, mencium pipi Mark dengan cepat.
“I can’t find the jewelry,” bisik Mark.
Kamu terkejut, pria itu hendak mencuri. Tidak, kamu tidak bisa membiarkan itu terjadi. Lau kamu melirik jendela yang juga diam tak bergerak.
“Ah, kenapa angin tak bertiup kencang malam ini?” ucapmu kesal.
Dug!
“Uhmm....” Shena menggeliat.
Kedua pencuri itu terdiam, kamu berusaha mengeluarkan kekuatan, mnecoba menggetarkan kacamu.
Drrttt!
“Honey, look” bisik wanita itu menunjukmu.
Mark menatapmu dengan wajah berkerut, kamu berusaha tenang, kemudian melihat Mark kembali melakukan aksinya, namun ia tak mendapatkan apapun.
“Sh**!" maki Mark cukup keras dan membuat Shena terbangun.
“Honey, is that You?” tanya Shena masih setengah memicingkan mata.
Mark berusaha menutupi tubuh wanita yang berdiri bersamanya dan langsung menjawab dengan nada sewajarnya agar Shean tidak curiga dan tertidur lagi.
“Yes honey, is me, you can sleep again.”
Kamu melihat Shean mengucek matanya, kamu merasa senang hingga kamu berteriak.
“Bagus Shean, sadarlah!"
Perbuatanmu membuat kacamu bergetar hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat dan membuat mereka bertiga melihat kearahmu dengan ekspresi ketakurtan. Shean tersadar jika ada oraang lain selain dia dan Mark. Kamu melihat Shean menatap kekasihnya lagi dengan kesadaran penuh.
“Siapa dia, dan mengapa dia ada di kamarku !" teriak Shean.
Mark dan wanita itu gugup, mereka berdua saling tatap, lalu kamu melihat wanita itu menyelipkan sesuatu ke tangan Mark. Wanita itu berkata dengan tenangnya.
“Lakukanlah sayang.”
Mark mendekati Shean dengan tangan tersembunyi,
“What are you doing?” tanya Shean gusar.
Kamu kembali mencoba peruntungan untuk membunyikan kacamu, tapi..
“Wait!" seru wanita itu yang kemudian berjalan mendekatimu, diambilnya kain lebar dan menatap pantulan wajahnya di dirimu.eriak kala wanita itu makin dekat padamu, kamu berusaha berteriak.
“Tidak, tidak... !"
“Jangan!"
Lalu ia membentangkan kain lebar itu menutupimu.
.
T a m a t.