Cerita hanya imajinasi dan fiksi author. Untuk cover juga pilihan author tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun.
Selamat Membaca ☘️
"Kita putus."
Aku menatap tak percaya. Baru sebulan aku pacaran, Vino memutuskanku begitu saja.
Padahal aku sama sekali tidak melakukan kesalahan.
"Alasannya apa Vino? Aku selalu dandan setiap mau jalan sama kamu, aku juga perawatan mahal-mahal demi kamu, aku mau feminim demi kamu."
Disaat seperti ini, aku malah teringat apa-apa demi ayang. Haduhh.
Kulihat Vino menggeleng. Tatapannya datar.
"Jujur saja dulu aku mengejar karena taruhan. Kamu tomboy dan lakik. Makanya aku suka. Sekarang, aku sudah menang taruhan dan kamu buat aku gak bergairah lagi."
"Ma-maksudnya?"
"Aku biseks. Dan aku lebih bergairah pada sesama jenis."
Anjirrr.. Aku menutup mulutku. Vino yang tampan gay?Menyukai pria? Lalu aku? Tapi kenapa dia sering minta ciuman padaku?
Dan ternyata berita tentang Vino yang sering karaoke bareng cowok itu, apa mereka...
"Aaaaaa!!!!!"
Flashback off
.
.
.
"Caya, udah ya jangan sedih mulu. Udah seminggu loh,"
Ara mencoba menghiburku.
"Eh eh, ada berita terbaru. Vino pacaran sama senior kita! Yang body nya kayak gitar Spanyol itu loh."
"Hahh?"
Aku terkejut. Bukannya Vino bilang sekarang dia suka cowok?
"Tapi dia kemaren baru aja jalan sama cowok."
Mita menggeleng,
"Itu cuma pengalihan isu. Dia gak biseks kok. Dasarnya aja playboy dan suka jadiin perempuan taruhan."
"Sial, aaa.. Awas kau Vinoooo!!"
Aku menggeram kesal. Jadi dia cuma menjadikan cowok lain alasan padahal dia gak pernah suka cowok. Gara-gara dia aku coba jadi cewek feminim, dia bilang gak suka cewek tomboy, terus dia jadiin cowok sebagai alasan putus.
Rasanya aku mau balas dendam!! Aku mau jadi cowok aja sekalian biar bisa buktiin ke Vino, aku bisa bikin dia suka beneran sama cowok!!!
.
.
.
Malamnya, Caya makan dengan bar-bar. 3 piring nasi ludes sampai orang tuanya terheran-heran.
"Mama pikir kamu udah berubah jadi perempuan beneran."
"Biarin aja ma. Biar lakik! Kayak papanya,"
"Mama papa sih, pasti dulu ngarep nya dapat anak cowok makanya aku jadi kayak gini. Udah ah, aku masuk ke kamar. Do'ain aja biar aku jadi cowok sekalian!! Biar lakik!!"
"Aamiin."
Sahut papaku tertawa keras. Sedangkan mamaku cuma tersenyum heran.
.
.
.
.
Besoknya, aku terbangun seperti biasa untuk kuliah. Mandi, sarapan, dan ya. Aku bertekad kembali seperti dulu, berpakaian seperti laki-laki.
Tapi tanpa aku sadari, ada yang salah pada diriku hari ini.
"Ceye, nanti malam temani papa main catur. Sekalian kita begadang nonton MU vs Barcelona."
Hah? Aku terkejut. Ceye? Siapa Ceye? Aku menunjuk diriku sendiri dan papa mengiyakan.
Sejak kapan papa memanggilku Ceye?
"Kamu belum berangkat juga? Nanti telat! Punya anak laki satu nakalnya minta ampun. Gak usah gegayaan pake kalung sama cincin segala kamu."
Hah? Aku lagi-lagi cengo mendengar perkataan mama. Apa karena pakaian ku pagi ini? Apa mereka menggodaku?
Malas memikirkannya aku langsung ke kampus.
Takut telat.
Sampai di kampus aku segera menghampiri kedua temanku, Mita dan Ara.
"Woi!"
"Duh kamu kok makin ganteng aja,"
"Tau nih, bisa dikira pasang 3 kita. Kamu gak tertarik sama salah satu dari kita gitu?"
Aku makin heran lagi. Ini semua orang kenapa? Masih pagi juga.
"Aku masih normal wei. Masih suka burung perkutut."
Dan mereka tertawa.
"Kalian kenapa sih?"
"Wah gila ya, Ceye tobat! Ngapain pake BH? Dandanan laki tapi pake kacamata cewek!"
Mita menarik-narik tali kehidupanku.
"Dada datar gini mau dibungkus apa coba?"
"Datar pala lu, eh--"
Aku meraba-raba dadaku. Loh? Kemana squishy kenyal ku? Kemana bobaku?
Kok kecil?
Aku segera berlari ke toilet untuk memeriksa. Dan betapa terkejutnya aku saat bongkahan emasku berganti menjadi burung rajawali.
"Aaaaaa!!"
"Aku beneran jadi cowok!! Mana punya burung gede banget lagi!! Ngalahin punya nya Vino!!"
Tok tok
Tiba-tiba aku mendengar suara gedoran dari luar. Siapa yang berani mengetuk pintu WC cowok? Ohh no! WC cowok?
"Vino?"
"Ngapain teriak sih? Ganggu orang lagi boker aja."
"Vino, aku siapa?"
"Amnesia lo? Lo Ceye, cowok paling imut di kampus."
Aku membulatkan mata. Cowok? Ceye?
"Udah ah, lo pasti mau goda gue lagi, kan? Dengar ya, gue ini cowok tulen, selera gue masih yang ada squishy nya."
Dan Vino pun pergi meninggalkan aku yang masih syok.
.
.
.
Di rumah, aku memandang diriku sendiri di cermin. Hampir berjam-jam lamanya. Daripada stres memikirkan cara untuk kembali, lebih baik aku memanfaatkan kesempatan selama menjadi Ceye untuk balas dendam pada Vino. Lihat saja, aku akan membuat Vino jadi gay!
Besoknya, di kampus aku sengaja mendekati Vino. Bahkan tidak jarang aku menggodanya dengan sensual. Intinya Vino harus jadi gay! Seperti yang dia ucapkan sendiri.
Di tempat sepi, kesempatan emas aku mulai mengajaknya berciuman. Sengaja aku tahan tangannya agar dia tidak menolak. Awal-awal dia menamparku, berkata kasar, tapi makin aku dekati dia mulai diam. Buktinya sekarang dia tidak merasa jijik seperti biasa. Bahkan dia mulai menerima ciuman ku.
Kena, kau.
Perjuangan ku berhari-hari untuk membuat Vino bertekuk lutut akan terwujud. Lihat saja, dendamku karena dia sudah memutuskan aku akan terlaksana.
"Ceye, aku-aku sepertinya aku menyukaimu. Maaf."
"Aku juga menyukaimu Vino."
"Tapi aku jijik dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku menyukai pria."
"Tidak apa-apa, semua orang berhak jatuh cinta."
Vino tersenyum, tapi aku lihat seperti dipaksakan. Sepertinya dia tertekan. Aku tertawa puas. Misiku berhasil. Menaklukkan Vino ternyata sangat mudah.
Menjadi pria berwajah cantik menyenangkan juga. Dasarnya memang aku cantik.
.
.
.
Berminggu-minggu kami pacaran dan Vino sukses tertekan. Dia dibully satu kampus karena katanya dia bukan pecinta sesama jenis tapi sekarang dia malah pacaran denganku yang berjenis kelamin laki-laki sekarang. Kalau aku? Masa bodoh! Dendam kesumat ku lebih membara dibanding ejekan mereka.
Apa Vino akan memutuskan ku karena tidak tahan? Tapi dia sudah dicap sangat buruk jadi itu urusannya. Ah, yang penting dendamku berhasil.
.
.
Sampai suatu hari, Vino mengajakku ke sebuah taman.
"Ceye, aku mau jujur tentang suatu hal."
"Apa? Kau tidak nyaman berpacaran denganku?"
"Jujur saja, sejak ciuman itu kamu mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku rindukan."
Darahku berdesir. Seseorang? Apakah itu aku?
"Siapa?"
"Maaf kalau ini menyakitimu. Namanya Caya. Dia gadis yang aku pacari karena taruhan. Awalnya cuma taruhan tapi lama-lama aku mulai menyukainya. Hanya saja, dia tidak mau diajak ciuman. Dipegang saja tidak mau. Jadi aku memutuskannya dan berkencan dengan orang lain. Aku juga bilang aku biseks, padahal tidak. Tapi sekarang malah iya."
Aku sangat terkejut dengan pernyataan ini.
"Kamu masih menyukainya?"
Vino mengangguk. Dia tampak merasa sangat bersalah.
"Harusnya aku tidak memutuskan dia cuma karena tidak bisa diajak ciuman. Aku minta maaf karena berpacaran denganmu, aku menganggap kamu seperti Caya."
Degg, aku menelan ludah.
"Jadi?"
"Aku merasa kamu itu Caya, maaf Ceye. Tapi kalian dua orang yang beda kelamin. Jadi aku rasa, aku harus kembali memperjuangkan Caya. Bukan karena aku malu pacaran denganmu, tapi hatiku masih jadi milik Caya."
Setelah itu, Vino pergi.
Tidak, aku tidak marah. Tapi menyesal. Aku menyesal sudah berpikiran buruk dan membuat Vino dibully. Membuatnya menjadi seorang gay.
Tapi kenapa pertahanan Vino sangat lemah.
Kalau Vino memang mencintai ku, aku harus mempertahankannya. Mungkin dia tidak seburuk itu.
Tuhannn.. Aku ingin kembali.. Kembali jadi Caya, cewek cantik yang tomboy. Misiku selesai, sekarang aku tau kalau Vino tidak seburuk itu. Aku akan menemaninya, aku akan mengajarinya dari awal, Tuhan.. Aku bersyukur terlahir sebagai perempuan, jadi tolong ubah kembali diriku.
Aku mulai menangis. Bagaimana aku merasa ini mimpi sedangkan aku sudah jadi berganti kelamin selama berhari-hari. Aku pun berniat menyusul Vino, tapi sampai di jalan raya sebuah mobil menabrakku. Membuatku terpental cukup jauh.
Inilah karma yang aku dapatkan. Karena berbuat buruk pada orang lain.
.
.
.
"Sayang, kamu sudah sadar."
"Mama, papa."
Aku membuka mataku, bau rumah sakit begitu menyengat masuk ke dalam hidungku.
"Iya sayang,"
"Papa, aku ini perempuan apa laki?"
Papaku tertawa mendengar pertanyaan konyol ku menurutnya. Tapi dia menjawab dengan tenang,
"Maunya sih yang ada burung perkutut nya, tapi Tuhan kasih papa gadis cantik yang sukanya pakai baju lakik."
Jadi? Sekarang aku kembali ke diriku lagi?
"Ma, aku beneran cewek kan, ma? Aku Caya kan?"
"Iya sayang, kamu Caya. Kamu anak gadis mama satu-satunya."
Aku sangat lega.
Kemudian, dari luar tampak seseorang masuk dan ternyata itu Vino. Dia membawa bunga, tersenyum ke arahku.
Seolah mengerti, papa dan mama keluar. Meninggalkan kami berdua.
"Hai, Ceye."
Sapanya. Aku melotot. Jadi aku masih lakik apa cewek?
Aku meraba dadaku, memeriksa bagian bawah. Tidak ada batangan. Syukurlah..
"Heh heh, kamu mau goda aku?"
"Jangan berani-berani ya. Aku hajar kamu," balas ku.
Cup
Dia mencium ku. Kemudian tersenyum lebar.
"Ceye, panggilan sayang aku untuk kamu. Sepertinya aku dapat itu di dalam mimpi atau semacamnya. Satu lagi, aku mau bilang sesuatu. Ceye, kita pacaran lagi yuk."
Oh Tuhan, aku sudah 3 kali putus nyambung dengannya. Tapi, dia beneran pacaran sama aku si Caya apa sama Ceye? Wah, Vino beneran biseks ternyata, hahaha!!