Suara kicauan burung terdengar. Cahaya matahari menyilaukan mata ku. Di susul dengan suara alarm yang mengganggu.
Terbangun dari alam bawah sadar dan menguap secara perlahan...eh...entah perasaan ku saja atau...tangan ku jauh lebih besar dan...berotot? What?
.
.
.
Cermin, dimana cermin?!
Aku terbangun dari tempat ku tertidur. Kamar yang asing, perabotan bukan milikku, dan...tubuh...ini...
"AAAAKHHH!! A..APA YANG TERJADI?!"
Tubuh ini, wajah ini, dan suara ini bukan aku! Rambut pendek seperti pria pada umumnya, rambut hitam sedikit kecoklatan, mata tajam dan menawan, ini wajah siapa?!
E..e..a..apa yang harus kulakukan? Apa ini mimpi? Aku memukul kedua pipi ku namun ini sakit. Huaa ini bukan mimpi. Kayaknya semua berjalan baik deh tidak ada sesuatu mencurigakan terjadi sampai aku berada di situasi ini.
Daripada itu, hal pertama yang harus kulakukan adalah menemukan tubuhku! Baiklah, segera keluar dari sini Nia dan berusaha untuk tidak menarik perhatian.
Aku membuka pintu kamar, lingkungan asing yang sekali lagi membuat ku tak percaya bahwa ini nyata. Turun dari lantai atas ke lantai bawah meggunakan tangga.
Drap Drap Drap.
Yosh! Waktunya keluar Nia!
"Lho nak, mau pergi kemana pagi-pagi begini?"
Suara lembut memanggilku dari belakang. Rambut panjang terkuncir ala kadarnya, keriput terlihat, mata yang sama seperti pria yang kulihat di cermin.
"S..selamat pagi hahaha"
Uaahkk padahal aku berusaha untuk tidak terlihat siapa pun!
"Ah apa kamu mau berangkat sekolah?Haha tumben sekali, tidak biasanya kamu mau berangkat jam segini"
"I.iya...bu?"
Sial, ternyata tubuh yang kupakai merupakan anak nakal. Anak sekolah mana yang tidak bersiap di jam 6.30? Tapi...aku lupa ini hari selasa! Yang artinya semua pelajar masuk sekolah.
"Kenapa nak? Kok wajahmu sangat pucat. Kamu sakit?" *khawatir
"Eee..tidak bu, h..hanya kecapekan biasa. Oh ya apakah bisa aku libur 1 hari saja untuk hari ini?"
Wajah sedih terlihat, wanita setengah baya itu menundukkan kepala dan hanya tersenyum kecil.
"Ibu tau kamu belum terbiasa dengan kepergian kakak mu. Tapi...jangan sampai membuat waktu mu berhenti nak. Kamu masih punya perjalanan yang panjang, jangan sampai kamu berhenti karena kesedihan. Sudah...1 bulan kamu tidak sekolah...ibu sangat khawatir dengan mu"
Wanita itu memeluk ku, perasaan hangat tersalurkan. Perasaan sedih membuat ku hampir meneteskan air mata. Tunggu, kepergian kakak? 1 bulan...tidak berangkat ke sekolah? Jadi anak ini memiliki 'luka' tersendiri. Haah aku tak tau masalah pastinya namun aku harus mengubah kehidupan anak ini. Benar kata ibunya, bahwa waktu dirinya tak bisa di hentikan hanya karena 1 masalah.
Aku melepas pelukan, memegang tangan beliau dan tersenyum.
"Baiklah, aku akan sekolah" *senyum
Terukir senyuman di wajah sang ibu, mata memerah seakan air mata tak mampu di tahan.
"Oh ya, ngomong-ngomong nama lengkap ku siapa ya bu?"
"..."
Ibu terdiam tak percaya dan memandangi ku dengan tatapan aneh.
"Rai Wijaya? Kenapa kamu bertanya nama mu sendiri"
"A..ah, begitu hahaha..."
Situasi ini sangat canggung. Aku berjalan masuk ke kamar lagi dan memutup pintu secara perlahan. Haaah, kaki ku lemas. Dimana tubuh asliku? Dan sebenarnya apa yang terjadi?
Namun daripada berlarut-larut dalam kebingungan, lebih baik bersiap-siap! Astaga anak ini bahkan tak mengatur alarm nya dengan benar. 15 menit masuk sekolah dan lebih parahnya aku tak tau anak ini sekolah dimana!!
SMP? SMA? Atau dia ini anak kuliahan? Biasanya terdapat logo sekolah di seragam. Aku membuka lemari, penuh sekali pakaian pria di sini. Huaa tutup mata mu Nia dan cari seragam saja!///
Ah, akhirnya dapat. Ini...bukannya SMA sekolah ku? Benar, kami ternyata masuk ke sekolah yang sama. Seharusnya rumah pria ini tak jauh dari sekolah. Ini bagus, aku segera bersiap.
Tapi bagaimana...aku mengganti pakaian dalam ku? Ahaha ngak usah ganti kali ya, haha jaga privasi lah...mana kuat aku lihat 'adik kecil' nya woy!///
Ehem, t..tinggal pakai seragam dan langsung ke sekolah. Selesainya aku pamit ke ibu pria ini dan keluar dari rumah. Lingkungan tak asing, ini...seperti nya aku tau jalan ini deh. Jika tidak salah di umur 5 tahun aku menetap di sini dan pindah 2 tahun kemudian. Jika dihitung jarak sekolah mungkin 15 menit sampai jika berlari. Yosh, dan aku tau dimana letak SMA sekolah ku!
Aku berlari dan terus berlari. Entah kenapa aku tak merasakan rasa lelah. Kaki panjang pria ini juga mampu membuat ku berlari cepat dengan langkah yang panjang.
Hosh, hosh, s..setidaknya mungkin hanya telat 5 menit. Sesampainya terlihat gerbang yang hampir di tutup.
"Waakhh tunggu pak!" *berlari
Dan akhirnya...aku sampai walau hampir saja gerbang di tutup.
"Aduh Nang Nang, yen mlebu sekolah ndelok'i jam (Aduh mas mas, kalo masuk sekolah itu lihat jam)"
"Hehehe ngampunten pak, jam alarm di rumah rusak" *alasan
"Hadeh dasar anak muda, tu catet kesalahan di buku yang ada. Ngak anak perempuan, ngak anak laki-laki sama aja bandel nya"
"Iya pak iya"
Hadeeh di ceramahin pak satpam kan. Tunggu...
"Anak...perempuan? Memang ada selain saya?" *penasaran
"Iya, si Nia... hahaha dan lucunya dia sendiri ngak tau namanya sendiri siapa. Bapak aja sampai ketawa, kayak ngak ngenali diri sendiri" *tertawa
"Bapak bilang Nia?"
Tanya ku memastikan, pak satpam mengangguk sambil tersenyum. Tidak salah lagi, dia pasti Ray Wijaya yang sedang ada di tubuh ku! Yah, kuharap tebakan ku benar.
"Yaudah pak saya pergi dulu" *buru-buru
Baru juga berbalik arah, pak satpam menarik kerah ku dengan erat. Dengan suara menyeramkan, beliau berkata...
"Mau kemana kamu? Belum catat kesalahan tapi sudah kabur? Mau bapak sendiri yang hukum?Hm?" *senyum
"Waa ngampunten pak, aku lali (maaf pak, aku lupa)" *malu sendiri
.
.
.
Sedangkan di tempat Ray...
Sial, jika saja kedua orang tua gadis ini tidak memaksa ku untuk kesekolah. Haah, dan kenapa juga aku bisa bertukar tubuh seperti ini. Membingungkan dan aneh.
Tak lama dari belakang ada seseorang yang menyentuh pundak Ray. Dengan spontan Ray yang ada di tubuh Nia langsung menepis tangan tersebut dengan tatapan waspada.
"N..Nia, ada apa?"
Suara lemah lembut terdengar. Gadis berkuncir kepang dan berkacamata. Ray yang tak tau siapa gadis itu hanya terdiam dan memperhatikannya.
"Kau...teman N..ah bukan, kau teman ku?"
Tanya Ray memastikan, dengan cepat gadis itu mengangguk mengiyakan. Tanpa malu, gadis itu memeluk Ray dengan semangat. Pria yang ada di dalam tubuh gadis itu terdiam, tak tau harus melakukan apa.
"Nia Nia Nia, kau sudah lihat eps drama ini belum? Huwaah kakak dari pemeran utama cowoknya ganteng banget!!"
"A..ah gitu ya? B..bisakah kau menjauh dari ku"
"Lho kenapa, tidak bisanya kau begini Nia" *bingung
Karena aku bukan Nia yang asli, ingin sekali aku mengatakannya. Haah, kenapa cewek selalu menempel sih.
"Daripada itu, kita sekelas kan?"
"Kau itu benar-benar aneh, tentu saja kita sekelas"
"Ehem, jika begitu kita langsung ke kelas saja yuk" *senyum
Ucap Ray dengan senyuman dan nada seperti gadis remaja pada umumnya. Mereka berjalan sampai kelas, dan Ray...untuk sementara waktu dia akan berperan sebagai 'Nia' saat ini.
Baru juga Ray masuk, dia mendapati meja penuh coretan. Semua gadis melihatnya dengan tatapan merendah, para murid laki-laki hanya diam tak peduli.
----------------
'CARI MUKA KE GURU!.. CAPER..SOK PINTAR.. PERGI SANA!.. KAMI TAK BUTUH KAU!..DASAR RUBAH'
----------------
Itulah yang ada di meja Nia, Ray terdiam dan membaca semua tulisan yang ada.
"Pftt, apa yang ada di punggung si caper itu?"
Salah satu di antara mereka mendekat ke Nia, dengan tatapan merendah dia menarik badan Nia dan memutar balik tubuhnya.
"Aku...pecundang? Pfttt, bwahaha siapa yang membuat lelucon seperti ini? Jadul sih tapi lucu juga. Ah jangan-jangan si kutu buku ya?"
Ray terdiam dan masih memperhatikan mereka semua. Gadis yang dianggap teman hanya tersenyum berpura-pura tidak tau.
Dia...bukan teman Nia. Dia salah satu di antara mereka. Jadi saat gadis kaca mata itu memeluk ku dia juga menempelkan kertas lelucon itu ke punggung ku, tsk kekanakan.
Pikir Ray sambil menghela nafas.
"Hei hei, sejak kapan dia menjadi setenang ini?"
"Hahaha hei sudahlah nanti nangis lho"
"Iya tu, diadukan ke guru kita"
"Heee benar juga, tapi dia kan mulutnya ngak seember itu" *tertawa
Mereka terus mengejek Ray yang ada di tubuh Nia. Awalnya Ray berniat untuk membiarkan hal ini, namun candaan mereka terlewat batas untuk gadis dengan tubuh lemah seperti Nia.
Ray mendongak ke arah para gadis, mengernyitkan alisnya dan berteriak.
"BAC*T!"
Suara lantang Ray membuat semua pandangan mengarah kepadanya. Nia gadis yang sopan dan selalu saja terdiam saat di tindas, kini dapat berkata kasar di depan mereka semua.
"Wah apa-apaan anak ini. Kau berani dengan kami?!"
Ray mendekat ke para pembully dan menatap mereka lekat-lekat. Tangan gadis yang menantang Ray langsung dia tarik, menjambak rambut nya dengan keras tanpa ampun. Teriakan terdengar, membuat seisi kelas heboh.
"Akkh, sial! Lepaskan aku gadis bodoh!"
"Katanya mulut ku tak ember? Jadi jika tangan ku bergerak tidak ada salahnya bukan?"
Ucap Ray sambil tersenyum menyeramkan. Semua yang ada di sana menelan ludah.
"Akhh hiks hiks, sial! Lepaskan!!"
Ray berdecak, ia melepaskan genggaman tangannya.
"Ck, baru segini saja kau sudah berteriak dan menangis. Jadi...jika cutter teriris di tangan, tubuh di dorong dengan kasar, akan jadi seperti apa ya?"
Ucap Ray sambil menarik kain seragam di pergelangan tangannya. Terlihat bekas luka yang di timbulkan oleh benda tajam. Luka lebih dari 1, semua murid laki-laki memandang tak percaya.
"Hei, aku membiarkan kalian karena berpikir kalian bercanda ya. Tapi ini sudah berlebihan!"
"Kelewatan sekali"
"Tsk, bagaimana jika guru kita tau!?" *marah
Semua laki-laki di kelas membela Nia. Tak sedikit yang dari mereka memegang tangan Ray dan mengecek kondisinya. Ray yang ada di tubuh Nia merinding sendiri.
Hiyy,jika bukan karena Nia aku ogah berdekatan dengan semua laki-laki di sini. Tapi...kukira luka ini di buat sendiri oleh Nia ternyata...ini ulah mereka semua. Sial, padahal aku sudah jadi bagian di sekolah ini namun karena keseringan bolos aku tak tau menau dengan keadaan disini.Jika saja aku tau, walau beda kelas aku bisa membantu Nia.
Batin Ray dengan pandangan sedihnya.
"B..bukan kami yang melakukannya!!"👩
"Sudah ada bukti tapi tetap mengelak!"🧑
"Bisa saja Nia yang melakukannya sendiri"👧
"Walau Nia penakut dia tidak bodoh, sampai kapan kalian akan berbohong?"🧒
Ray lama kelamaan kesal dengan perdebatan ini. Dia berjalan ke meja nya. Tulisan ejekan masih ada, Ray mengangkat tangannya setinggi mungkin dan...
BRAAKKK!!
Semua yang ada di kelas terdiam, pandangan menuju ke arah Nia.
"Kalian semua sama saja. Orang yang diam dengan penderitaan ku selama ini apa bedanya dengan para pembuly? Bukti sudah ada di mata namun kalian berpura-pura tidak tau dan menganggap bahwa ini lelucon. Namun karena itulah para baj*ngan ini berani membuat seenaknya sampai di luar batas. Memukul, mengejek, bahkan luka yang ada membekas di tubuh. Menyiksa orang yang lemah seakan itu membuat kalian merasa senang. Kalian, sama saja seperti binatang. Apa...kalian mengerti?"
Mereka terdiam, dan saling menatap. Tak ada yang membantah ataupun mengelak. Semua yang dikatakan Nia benar. Namun entah mengapa...Nia yang ada di depan mereka bukan Nia yang mereka kenal.
Sosok berani, tegas, tak kenal takut terpancar di matanya.
.
.
.
Sedangkan itu di tempat Nia.
Ray Wijaya...kelas 11. Namun sudah berkali-kali dia bolos. Di cap sebagai murid yang sembrono dan tak bertanggung jawab. Bahkan ada gosip aneh bahwa Ray adalah mantan gangster saat SMP. Walau aku tak kenal dengannya tapi tetap saja aku menganggap itu semua tidak benar.
Haah, bahkan Ray yang jarang masuk saja sudah memiliki gosip sebanyak ini. Dan daritadi...semua orang terus memperhatikan ku. Walau tak nyaman namun entah kenapa tubuh ini sudah terbiasa.
Toh...Ray dan aku punya kesamaan. Setiap hal yang kami lakukan selalu salah di mata mereka.
Hidup...memang tak adil. Ah, lebih baik aku ke kelas ku saja. Mungkin Ray yang ada di tubuh Nia sudah datang. Namun baru berapa langkah saja terdengar seseorang yang memanggil.
"Ray!"
Dia...salah satu guru pembimbing bukan? Bu Amelia jika tidak salah, apakah beliau guru yang mengawasi Ray?
"Ya ada apa bu?"
"Hosh, kau..hosh, kau itu pura-pura tidak tau ya?! Sudah 1 bulan ngak sekolah, ayo ikut ibu! Tumpukkan tugas siap menunggu mu!💢"
"E..eh bu, s..saya mau..."
Belum juga berbicara, beliau langsung menjewer telinga sambil menarik ku ke suatu tempat.
"Mau kemana lagi hah?!💢"
"Aw Aw bu! Saya bisa jalan sendiri"
"Ngak, nanti kabur lagi! Ibu tau kamu kalo lari cepat sekali"
"(╥﹏╥)"
Mau di bawa diriku ini wahai guru killer.
Kami berlajan sampai ke ruang guru. Di sana bu Amelia memberikan selembaran dan buku setumpuk kepada ku. Heee, ini semua harus aku kerjakan!?
"Ibu punya dendam pribadi dengan saya ya?"
"Jangan banyak cincong, sekarang kerjakan ulangan harian dulu. Untuk tugas ini semua, ibu berikan waktu 1 minggu untuk mengumpulkan"
"Baiklah..."
Hah Ray, gara-gara dia aku harus mengerjakan semua ini. Semoga saja aku bisa mengerjakannya, dan Ray jangan marah ya jika nilai mu kurang memuaskan💧
Waktu berlalu, dan aku masih mengerjakan soal harian ku. Di dampingi bu Amelia yang juga mengerjakan sesuatu. Suasana begitu sepi, sampai...beliau membuka suaranya.
"Ray ibu turut sedih atas kematian kakak mu. Ibu juga minta maaf karena jika saja ibu melaporkan ayah mu dengan cepat...nasib kakak mu tak akan menjadi seperti ini"
Suara sedih dan berat, pembicaraan yang tak ku mengerti lagi.
Tangan ku berhenti menulis dan menatap bu Amelia. Dia berusaha mengalihkan pandangannya seakan...tak berani menatap wajah ku.
"Memang...apa saja yang di lakukan ayah saya kepada kakak?"
"Haha apakah kamu sedang menguji ibu? Dan mengingat semua masa lalu mu?Seharusnya kamu lah yang lebih tau akan hal ini..."
Bu Amelia sepertinya berat untuk menceritakan. Namun aku juga ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang di lakukan ayah saya?"
Tegas ku kepada bu Amelia. Walau bingung, namun akhirnya beliau menceritakan apa yang terjadi di keluarga kecil Ray.
----------------
Ray Wijaya adalah anak dari orang tua yang terpandang. Ibunya dulu adalah seorang dokter, dan ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses. Namun tak ada yang tau, bahwa orang yang disebut 'ayah' oleh Ray...melakukan hal yang tidak terpuji.
Melakukan kekerasan, suka bermain dengan wanita malam, dan hal lainnya. Uang yang di buang lebih banyak ketimbang uang yang di kirimkan ke istrinya. Untung saja sang ibu mempunyai cara agar ia memiliki uang untuk anak-anaknya makan.
Tetapi...entah karena terbentur atau apa sang ayah selalu menyiksa keluarganya. Pecahan barang, teriakan, dan tangisan selalu terdengar di rumah mewah itu. Sayang sekali tidak ada yang tau dengan kelakuannya.
Ray dan kakak nya menjadi korban atas kekerasan tersebut. Sifat dingin dan benci mereka terhadap sang ayah menjadi tinggi. Kakak perempuan Ray yang 2 tahun lebih tua selalu saja ikut campur dengan pertengkaran kedua orang tuanya.
Sedangkan Ray hanya diam dan memperhatikan dari jauh. Tumbuh di keluarga seperti itu membuat jalan yang salah kepada Ray. Dia menjadi salah satu geng montor, dan ikut bertarung di dalam ring untuk mendapatkan uang.
Tetapi bukan uang yang membuat dia senang...namun rasa puas saat dia memukul dan menghajar lawannya. Rasanya seperti meluapkan emosi yang selama ini terpendam. Tak heran tubuh anak 17 tahun ini di penuhi dengan otot yang kuat dan tinggi yang tak biasa bagi anak SMA.
Dan kenapa kakak Ray meninggal...itu karena sang ayah melukai bagian vatal putrinya. Saat itu Ray tidak ada di rumah, sang ayah yang takut langsung melarikan diri meninggalkan anak dan istrinya. Sang ibu berusaha meminta pertolongan yang ada. Namun semuanya sudah terlambat.
Setibanya Ray di rumah besarnya...dia di sambut dengan banyak polisi dan tetangga di rumah. Dan...tubuh dingin sang kakak yang tertidur di temani ibu yang sedari tadi tak berhenti menangis. Penyesalan, dendam, ketakutan, semua menjadi satu. Seorang Ray Wijaya...putus asa.
----------------
Aku terdiam selama bu Amelia bercerita. Bahkan ia berusaha tetap berbicara walau dengan suara serak menahan tangisnya.
"Jadi...kenapa ibu tau ini semua?"
"Apakah kamu lupa? Haha, bukannya dulu kamu pernah menceritakan masalah mu ke ibu? Ibu ini guru konseling lho, berkali-kali juga kamu datang kesini. Wajah dingin mu itu membuat ibu penasaran apa yang terjadi dengan anak yang baru 17 tahun ini" *senyum
Aku menghantamkan kepala ku ke meja, masalah Ray terlalu rumit untuk ku.
"Ngomong-ngomong, apakah ulangan mu sudah selesai?"
"Iya bu, ini"
Aku memberikan selembaran kepada bu Amelia.
"Bu, aku ada urusan sebentar. Apa boleh?"
"Ya, toh 10 menit yang lalu sudah masuk jam istirahat"
"Gasp, kenapa ibu tidak bilang?! Ibu sengaja ya? Kejamnya..."
"Hahaha soalnya baru kali ini ibu lihat kamu semangat dalam mengerjakan tugas"
Aku hanya tersenyum...
"Terimakasih ya bu untuk selama ini"
Ucapku dan langsung pergi dari ruangan bu Amelia. Walau tak jelas, tadi aku sempat melihat ekspresi terkejut di wajah beliau.
Hm, mungkin Ray juga ingin mengatakan hal yang sama. Jadi sekalian saja ku sampaikan ke bu Amel, hehe.
Aku berlari dan berniat pergi ke kelas ku sesampainya...
"Hosh hosh, s..selamat siang semua! A..ada kah yang namanya Nia di si..ni?" *kaget
Semua yang ada di kelas tunduk di bawah kaki Nia. Ray yang ada di tubuh Nia nampak bersantai sambil meminum teh yang ia beli. Sebagian orang membersihkan meja Nia, dan sebagian sedang push up di pojokan.
Pandangan Nia dan Ray bertemu, keduanya terkejut tak percaya.
'Akhirnya tubuhku ketemu!'
Itulah yang ada dalam pikiran mereka. Nia dan Ray berjalan mendekat. Dengan canggung Nia memulai pembicaraan.
"H..hai, R..ah bukan tapi Nia" *canggung
"Hai Ray..." *canggung
"Daripada keadaan kita aku lebih penasaran dengan apa yang terjadi di sini💧"
Ucap Nia yang memandang teman sekelasnya yang bertingkah aneh.
"Hanya memberi mereka pelajaran, dan kau...aku harap sekarang kau tak perlu terus menatap di bawah. Naikan dagu mu dan pandangilah mereka semua, bukan hanya menunduk dan terus berharap ada seseorang yang menolong mu. Hmp, walau sekarang ada sih"
Nia tak tau harus berkata apa, aneh rasanya berbicara pada diri sendiri. Namun ia hanya tersenyum.
"Apa yang kau tunggu!? Ikuti aku!"
Ucap Ray yang segera menarik tangan besar Nia. Semua yang ada di kelas menghela nafas dan merasa 'terbebas dari hukuman' walau hanya sementara.
.
.
.
Mereka berlajan menuju belakang sekolah. Situasi yang sepi, pas sekali bagi mereka untuk...
"APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!" ~Ray
"MANA KUTAHU, BAHKAN AKU TAK BEGITU KENAL DIRIMU!" ~Nia
"AKU INGIN KEMBALI KE TUBUH KU SEMULA!" ~Ray+Nia
"k#kJ&$h)7B$#H!*#"
Akhirnya setelah mereka berteriak dan meluapkan emosi, mereka kembali diam dan terengah-engah. Terduduk dan menatap satu sama lain.
"Pfttt..." ~Nia
"A..apa yang kau tertawakan?" ~Ray
"Bwahaha agak aneh menatap dan berbicara dengan tubuh ku sendiri" ~Nia
"Setelah dipikir-pikir lagi...pfttt k..kau benar" ~Ray
Mereka tertawa dan melepaskan rasa penat yang sedari tadi mereka tahan.
"Haah, aku tak tau apa yang terjadi kepada mu selama sekolah disini tetapi bukannya sikap mu itu pengecut? Kau selalu diam seperti patung, bahkan membiarkan seseorang melukai mu" ~Ray
"Ah kau sudah tau ya? Hmm...aku lebih ke tidak peduli sih. Mungkin akan ada waktunya para pengganggu itu lelah, yah walau aku tak tau kapan" ~Nia
"Bodoh" ~Ray
"Bwee biarin, daripada itu membiarkan mu dalam situasi sulit juga berbahaya. Berhentilah bertarung dalam arena" ~Nia
"Kau..." ~Ray
"Maaf, aku sudah terlewat batas. Tapi aku benar-benar khawatir dengan mu Ray. Tidak ada yang tau kapan kematian datang, jangan berlarut-larut dalam kesedihan..." ~Nia
Ray dan Nia terdiam dan mengingat pesan-pesan yang mereka dapatkan. 'Janganlah menjadi pengecut', 'Berhentilah melakukan tindakan yang membahayakan dirimu sendiri' ... Ungkapan itu muncul di kepala mereka.
"Hei, jika saja kejadian ini tidak terjadi apakah kita seakrab ini?" ~Ray
"Haha, aku juga tidak tau...tapi ada untungnya fenomena aneh ini terjadi" ~Nia
Mereka saling bertatap, senyuman dan tawaan terukir.
"Tapi jadi perempuan itu tidak enak, berlari sebentar saja sudah kelelahan. Dada yang membuat ku terasa lebih berat. Dan rok pendek yang bisa saja terbuka dengan sekali hembusan angin"
Ucap Ray sambil memainkan rok seragam yang ia kenakan.
"Uaaakhhh, apakah kau melihat tubuh ku?!///" ~Nia
"Terpaksa, jika tidak aku tak akan bisa berganti pakaian ku sendiri. T..toh, aku melakukannya sambil menutup mata///" ~Ray
"Wajah mu terlihat sekali sedang berbohong Ray!///" ~Nia
"A..apa bedanya dengan mu!///" ~Ray
"Hanya bagian atas! Mana berani aku berganti pakaian dalam bagian bawah!!///"
Ucap Nia sambil menutup wajahnya. Begitu juga Ray, wajah mereka benar-benar memerah. Setelah menenangkan diri, mereka kambali terdiam. Menutup mata sambil bergandeng tangan.
'Mungkin,sekarang waktunya untuk mempercayai seseorang'
Itulah yang ada di pikiran Nia dan Ray. Angin semilir membuat mereka menutup mata. Merasakan hembusan angin dan berehat sejenak. Namun tanpa di sadari...keduanya tertidur. Genggaman tangan mereka tak terlepas.
.
.
.
"Hei, bangun! Huss bangun!"
Ray dan Nia dengan perlahan membuka matanya. Mendapati pak satpam ada di depan mereka berdua. Reflek mereka bangun dan membelakangi diri sesama lain.
"Ck ck ck, dasar anak muda. Kepepet pengen kawin kah?"
Ucap Pak satpam sambil menggelengkan kepalanya.
"BUKAN!💢"
Ucap Ray dan Nia secara bersamaan. Namun mereka sadar akan sesuatu...tubuh mereka...kembali!
Tatapan tak percaya sekaligus takjub ada pada keduanya. Senyuman kebahagiaan tergambar di wajah mereka.
"Elah, kok kayaknya bapak yang ganggu ya-_-"
"Iya, bapak memang ganggu. Yuk Nia kembali ke kelas, oh ya pak Bejo semangat terus kerjanya" ~Ray
"Semangat terus ya pak, haha" ~Nia
Mereka berjalan bersama meninggalkan pak satpam sendirian. Beliau tersenyum melihat keduanya akur, bahkan bergandeng tangan tak ada masalah.
2 murid yang sudah menyelesaikan masalah. Hahaha untunglah mereka berdua menemukan solusinya. Dan akhirnya pula...senyuman dan kebahagiaan kembali kepada anak-anak yang membutuhkannya seperti mereka. Aku harap dengan kekuatan ini anak-anak seperti mereka menemukan kebahagiaan. Dan terbiasa dengan dunia yang kejam ini. Membantu menemukan solusi dengan saling memahami satu sama lain. Hahaha siapa lagi ya yang butuh bantuan ku?
Batin beliau dengan senyuman...walau samar...terlihat cahaya di tubuh beliau...memudar dan menghilang bagaikan debu yang bertebrangan. Hanya menyisahkan topi seragam satpam nya yang tergeletak di tanah.
.
.
.
Esoknya Nia dan Ray si kagetkan dengan berita bahwa pak Bejo sekaligus satpam di SMA tersebut mengundurkan diri tanpa alasan. Padahal baru saja kemarin mereka bertemu, dan tiba-tiba sudah berpisah.
"Haah aku rindu saat dia mengomeli ku yang sering telat" ~Ray
"Akhirnya kau mengaku bahwa kau pemalas" *senyum
Ray yang mendengar ucapan Nia langsung mencupit pipi gadis itu.
"Aw aw aw, hahaha sakit Ray, maaf aku bercanda"
"💢"
Namun ada 1 hal yang mereka janjikan sebelumnya. Mereka berjanji akan selalu membantu dan bersama menyelesaikan masalah yang ada. Selama ada satu sama lain, mereka tak akan takut lagi berjalan pada takdir yang akan mereka hadapi nantinya. Tak ada penyesalan atas insiden yang terjadi, justru itu membuat mereka bersyukur karena dapat di pertemukan.
"Hahaha, hidup itu indah jika kita melakukan hal yang berpositif dan dapat saling mengerti satu sama lain" ~Nia
"...mungkin benar" ~Ray
Suara tawaan terdengar, senyuman yang lebar ada pada keduanya.
[Selesai]