"Ibu, aku gak mau mesantren, aku gak mau Bu," rengek Asila pada Ibunya. Kini Asila akan memasuki jenjang SMA dan Ibunya menyuruhnya untuk mesantren agar lebih paham dengan ilmu agama.
Mala yaitu Ibu Asila mengelus pucuk kepala Asila. "Nak, kamu harus mesantren biar lebih paham pada ilmu agama. Jangan bodoh seperti Ayah dan Ibu Nak yang tidak paham sama sekali tentang ilmu agama, Ibu ingin kalau nanti Ibu dan Ayah meninggal kamu bisa mendoakan Ibu dan Ayah setiap hari, Ibu ingin kamu membawa kami ke surga dengan bekal pahala yang kamu miliki," terang Mala.
Asila memeluk Ibunya erat. "Jangan ngomong kaya gitu, Sila gak suka. Ibu dan Ayah harus berumur panjang, Ibu dan Ayah gak boleh ninggalin Sila," ujar Sila. Sila sangat menyayangi Ayah dan terutama Ibunya, ia tidak ingin mereka pergi.
Asila takut kalau nanti ia mesantren ia akan jarang bertemu Ayah dan Ibunya, ia khawatir kalau Ayah dan Ibunya sakit bagaimana? Siapa yang akan merawat mereka ketika mereka sakit? Asila selalu ingin bersama kedua orang tuanya.
"Pokonya Ibu gak mau tau, besok kamu Ibu dan Ayah anterin ke pesantren," putus Mala.
Keesokan harinya Asila benar-benar diantar ke pesantren, walaupun Asila sudah menangis-nangis tidak mau mesantren Mala dan Dion tetap memasukan Asila ke pesantren.
Setelah mengantar Asila ke kamarnya Dion dan Mala berniat untuk pulang. Asila terus menangis dan meminta pulang pada Mala dan Dion, ia tidak mau mesantren, ia tidak mau berpisah dengan Ayah dan Ibunya.
Asila memeluk Mala erat. "Jangan tinggalin Asila sendirian di sini Bu, Asila pengen selalu sama Ibu. Jangan pergi," pinta Asila sambil menangis.
Dion mengelus punggung Asila bermaksud untuk memenangkan Asila. "Kami harus pergi Nak, kami akan sering-sering menjenguk kamu di sini, kamu harus belajar yang giat, dengerin omongan guru kamu, jangan nakal, dan jangan tinggalkan sholat lima waktu," pesan Dion pada Asila.
Mala tidak kuat menahan air matanya yang ingin menetes, jujur saja ini juga berat baginya karena harus berpisah dengan Asila. Asila adalah putri satu-satunya yang sangat ia sayangi, ia selalu bersama Asila bahkan Asila masih sering tidur bersamanya, tapi kali ini ia harus berpisah dengan Asila.
Mala membalas pelukan Asila erat. "Kamu harus belajar yang bener di sini Sila, banggakan Ibu sama Ayah ya, cuma kamu satu-satunya harapan kami," ujar Mala.
Saat Asila mengantarkan Mala ke depan gerbang ia kembali memeluk Mala dan menangis, ia tidak peduli walaupun saat ini ia menjadi pusat perhatian. "Ibu jangan lupa makan, Ibu dan Ayah harus selalu sehat. Jangan lupa jengukin Asila ya," ujar Asila.
Hati Asila terasa berat ketika melihat kedua orang tuanya sudah pergi, Asila diantarkan ke kamarnya oleh ustazah yang bernama Halimah yang ada di pesantren itu. "Asila, udah ya jangan nangis lagi. Nanti kan orang tua kamu pasti bakal jengukin kamu, kamu belajar yang bener aja di sini sampai buat kedua orang tua kamu bangga," nasehat Halimah.
Saat malam Asila tidak bisa tidur, ia selalu teringat kedua orang tuanya, ia merindukan kedua orang tuanya. Biasanya saat ini ia sedang mengobrol dan bercanda gurau dengan kedua orang tuanya.
Asila memeluk gulingnya erat lalu ia menangis tanpa menimbulkan suara karena takut menggangu teman sekamarnya yang sudah tidur. "Ibu... Ayah... Asila rindu, Asila pengen pulang," gumam Asila sambil menangis.
Tanpa terasa sudah seminggu Asila mesantren, walaupun ia tidak betah tapi ia tetap memaksakan agar tetap betah karena tidak mau membuat Ayah dan Ibunya kecewa. Ketika Asila memasuki kamarnya ia melihat teman-teman sekamarnya sedang dijenguk oleh kedua orang tuanya masing-masing.
Hati Asila merasa sakit melihatnya, melihat teman-temannya mengobrol dan bercanda dengan kedua orang tuanya masing-masing, ia juga ingin seperti itu.
Sayangnya ia hanya akan dijenguk dua minggu sekali karena jarak rumahnya dengan pesantren lumayan jauh.
"Asila, ayo makan sini bareng aku!" ajak Dewi teman sekamarnya.
"Ayo sini makan Nak," sahut Ibu Dewi.
Asila tersenyum. "Aku mau ke toilet dulu," pamit Asila lalu pergi keluar dari kamarnya.
Asila pergi ke belakang gudang yang tidak ada orang sama sekali, Asila menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu ia menangis. "Ibu, Ayah, Asila rindu. Apa kalian rindu Asila? Apa kalian baik-baik aja? Asila kangen banget sama kalian, Asila pengen ketemu kalian, Asila pengen meluk Ibu. Asila bener-bener rindu sama Ayah dan Ibu," gumam Asila.
Asila menjalani hari-harinya di pesantren dengan rasa rindu yang terus terpendam di dalam hatinya sampai rindu itu akan melebur keluar saat ia bisa bertemu dengan Ayah dan Ibunya.
Asila ingin sekali hari cepat berlalu sampai dimana ia bisa bertemu dengan Ayah dan Ibunya.
Hari yang ditunggu-tunggu Asila pun akhirnya tiba juga, hari ini Ayah dan Ibunya akan menjenguknya. Asila menunggu kehadiran kedua orang tuanya di depan gerbang pesantren, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Asila mulai cemas karena Ibu dan Ayahnya belum datang juga sampai matahari akan terbenam. Asila berlari ke tempat Halimah. "Ustazah, orang tua saya kok belum dateng juga ya? Saya pengen telpon Ayah saya ustazah," pinta Asila.
Halimah mengangguki ucapan Asila, ia segera mengambil ponselnya dan menelepon nomor Dion Ayahnya Asila. Ketika dihubungi nomor Dion tidak aktip.
"Asila!" Asila langsung menengokan kepalanya ke arah sumber suara tersebut, Asila menangis ketika melihat Ibunya, Asila langsung berlari memeluk Ibunya.
"Ibu, Asila kangen banget sama Ibu, sama Ayah juga. Kenapa kalian baru dateng? Asila cemas banget sama Ayah dan Ibu, Asila takut terjadi sesuatu sama kalian," ucap Asila sambil menangis.
Mala membalas pelukan Asila, ia juga sangat merindukan Asila. Setiap hari ia selalu mendoakan Asila agar baik-baik saja di pesantren, Mala tidak kuasa menahan air matanya. "Ibu juga rindu kamu Sila, Ibu sangat-sangat merindukan kamu," jelas Mala.
Setelah tangisan Asila reda ia melepaskan pelukannya dari Mala lalu ia memeluk Dion. "Asila rindu Ayah," ucap Asila pelan.
Dion membalas pelukan Asila. "Ayah juga rindu kamu Nak," balas Dion.
Karena sudah malam Mala dan Dion disuruh menginap di rumah ustazah Halimah, Asila sangat senang mendengarnya. Malam itu Asila tidur bersama Mala dan juga Dion, Asila mengobrol dengan Mala dan Dion sampai larut malam.
Asila benar-benar bahagia hari ini, rindunya sudah melebur keluar perlahan-lahan, tapi ia yakin rindu itu akan kembali saat Ayah dan Ibunya sudah pulang ke rumah.
Asila memeluk Ibu dan Ayahnya saat Ibu dan Ayahnya akan pulang. "Bu, Asila janji bakal belajar bener di sini, Asila janji bakal buat Ayah dan Ibu bangga sama Asila, Asila janji gak bakal ngecewain Ayah dan Ibu, tapi Ibu dan Ayah harus janji selalu sehat dan sering-sering jengukin Asila," ujar Asila.
Dion dan Mala membalas pelukan Asila. "Pasti Sayang, Ayah dan Ibu pasti bakal sering jengukin kamu," ucap Dion.
"Kamu jangan lupa makan ya, belajar yang bener, Ibu dan Ayah pasti akan selalu jengukin kamu dan mendoakan yang terbaik untukmu," ujar Mala.
Rindu, perasaan yang menyiksaku ketika aku tidak bertemu dengan Ayah dan Ibuku. Aku harus selalu memendam rasa rindu itu ketika di pesantren, rasa rindu itu akan melebur keluar ketika aku bertemu dengan Ayah dan Ibuku lagi.
Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku sampai aku selalu merindukan mereka setiap harinya, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kedua orang tuaku. Aku akan membuat kedua orang tuaku bangga dengan belajar di pesantren ini, aku tidak mau jika mengecewakan mereka. Liat saja nanti, aku akan sukses Ayah, Ibu.
Asila menuliskan setiap kata itu pada buku diary hariannya, di buku itu ia selalu menuliskan tentang kerinduannya pada Ayah dan Ibunya.