Sinopsis : Rangga jatuh cinta saat di bangku sekolah menengah atas. Ia mencintai seorang gadis adik kelasnya tetapi tidak bisa diungkapkannya. Menjadi malaikat penjaganya tanpa sepengetahuan gadis tersebut. Ia bahagia meski tak harus menjadi kekasihnya. Acapkali Rangga menuliskan surat untuk gadis tersebut lengkap dengan amplop beralamatnya tetapi tidak dikirimkannya hanya disimpannya saja di dalam kamar. Hingga waktu berlalu, Rangga telah menjadi boyband terkenal di ibukota dan tak sengaja ibunya menemukan surat-surat itu lalu mengirimkannya. Dan hal yang tak diduga Rangga pun terjadi.
...........
Rangga berlari sembari melihat jam di pergelangan tangannya. Tidak, tidak, seru batin Arga tegang. Kakinya terus berlari melompati kubangan-kubangan air sisa hujan semalam. Larinya cepat bahkan menyusul sepeda yang sedang dikayuh di jalanan. Rangga terus berlari melewati rumah-rumah dan ladang-ladang membentang. Burung-burung liar beterbangan saat Rangga berlari melewati ladang yang telah ditumbuhi ilalang. Di kejauhan nampak sebuah gunung yang setengahnya tertutupi awan. Rangga terus berlari, kakinya tak sengaja menginjak kubangan yang menyipratkan air pada seorang pria yang tengah duduk di sisi ladangnya.
“Wuaduh! Matamu!” serunya kesal seraya mengusap wajahnya yang terciprati air kubangan. “Maaf Pak! Aku terburu-buru,” teriak Rangga. Ia terus berlari hingga sampai di tempat yang dituju. Ah, telat! Kesal Rangga dalam hati melihat pintu gerbangnya telah ditutup. Tapi Rangga tak kehabisan akal, ia segera mencari jalan memutar ke belakang. Menaiki tembok yang cukup tinggi. Setelah itu, ia melompat turun. Rangga diam sebentar untuk mengatur nafasnya kemudian berjalan lagi mengendap-ngendap. Ia meletakkan tasnya terlebih dulu di atas tembok toilet pria kemudian dengan sedikit membungkuk agar tidak terlihat dari depan, ia bergabung dalam barisan murid-murid.
“Jadi, untuk anak-anak di kelas dua belas, harus bersiap dari sekarang untuk ujian akhir nanti, jangan banyak main … pesan Bapak sebagai kepala sekolah kalian, meski kalian berada di kabupaten jangan kalah dengan anak-anak di kotamadya, kalian juga bisa sukses dan mendapat nilai yang tinggi, tidak ada yang tidak mungkin kalau kalian mau belajar!” ucap kepala sekolah memberi semangat dari atas mimbar.
Rangga mengepalkan tangannya senang berhasil mengikuti upacara bendera dan senang karena para guru tidak mengetahui kalau dirinya terlambat datang ke sekolah karena jika diketahui, maka ia akan mendapat hukuman. Ia teringat ancaman wali kelasnya, Pak Darmaji, “Rangga, kamu sudah dua kali telat dan tidak mengikuti upacara bendera, kalau sampai satu kali lagi, Bapak akan hukum kamu berjemur seharian di tengah lapangan bendera!”
Kini ia bisa bernafas lega. Tiba-tiba Rangga melihat tak jauh darinya, seorang murid perempuan tengah dipasangi selembar kertas di punggungnya tanpa sepengetahuannya. Sebuah kertas yang bertuliskan, “Jambak aku, gratis!!”. Maka beberapa murid laki-laki menarik-narik rambut panjang murid perempuan itu sambil menahan tawa, sedang murid perempuan itu hanya diam menunduk. Tak berhenti di situ, seorang murid laki-laki mengeluarkan permen karet dari mulutnya dan akan ditempelkan pada rambut murid perempuan itu.
Tapi dengan cepat Rangga memegang tangan murid laki-laki itu, menatapnya tajam. Seketika murid laki-laki itu mengurungkan maksudnya setelah mengetahui kalau Rangga adalah kakak kelas mereka. Begitu juga dengan murid lainnya yang langsung terdiam melihat Rangga telah berdiri tepat di belakang murid perempuan itu. Lalu secara perlahan Arga mencabut kertas yang menempel di punggung murid perempuan itu dan meremas-remasnya. Beberapa murid memperhatikan Arga, mereka berbisik-bisik, “Kenapa dia ada di barisan kelas sepuluh?” Rangga mendengar bisik-bisik itu tetapi ia tidak peduli.
Saat upacara selesai, murid perempuan itu berjalan menunduk dengan beberapa anak murid masih mengusilinya. Rangga jadi ingin tahu kenapa murid perempuan itu diusili dan diam saja. Ia lalu mengambil tasnya dari tembok toilet pria menuju kelasnya.
“Nah itu dia orangnya!” seru Haikal menunjuk pada Rangga yang baru datang. “Kamu mesti dateng telat dan baris di kelas sepuluh karena dekat dari toilet ya?” tebak Adit. Rangga meletakkan tasnya di meja dan duduk di sebelah Haikal. “Yap, dari pada ketauan Pak Darmaji aku ga ikut upacara, aku bisa dijemur nanti, yang penting mau di mana barisnya, aku ikut upacara toh? Hehehe,” ujar Rangga. “Emang sepedamu kemana?” tanya Haikal. “Dipake adekku,” jawab Rangga, “eh kalian tau ga kalau di kelas sepuluh ada murid cewek yang sering diusilin?”
Haikal dan Adit menggeleng. “Dia dijambak rambutnya, ditimpukkin pake kertas sama temen-temennya tapi diem aja,” lanjut Rangga. “Halah ga usah dipikirin Ga … anak kelas sepuluh ya memang biasa gitu, masih suka iseng-iseng ga jelas,” kata Haikal. “Tapi kenapa ya adik kelas sekarang pada kurang ajar sama kakak kelasnya? Pada berani, coba kita dulu kalau lewat kakak kelas aja ngebungkuk atau nunduk, sekarang pada belagu,” celetuk Adit.
“Bu Guru datang!” seru ketua kelas mereka membuat seluruh murid duduk di kursi masing-masing begitu juga Rangga dan teman-temannya. Melangkah masuk seorang ibu guru lalu berdiri di samping mejanya. “Selamat pagi Bu,” ucap murid seluruh kelas. “Selamat pagi,” balas ibu guru dan pelajaran pun dimulai. Sedang Rangga masih terus saja memikirkan gadis tadi, ia tak bisa menghilangkan rasa keingintahuannya.
***
Rangga berjalan dan melihat dari kelas ke kelas.
Ia mencari gadis yang kemarin dilihatnya. Ia hanya tahu kalau gadis itu dari kelas sepuluh tapi tidak tahu dari kelas sepuluh berapanya. Maka hari itu Rangga bertekad untuk menemukan gadis itu. Beberapa anak kelas sepuluh membicarakannya. “Itu kakak kelas yang kemarin upacara ikut baris di kita bukan?” bisik seorang murid perempuan. “Nyari apa dia ya?” tanya yang lain. Rangga akhirnya menemukan murid perempuan itu sedang duduk sendiri di dalam kelasnya. Rangga memperhatikan dari pintu, sedang murid perempuan itu sedang menunduk membaca buku. Wajahnya terhalang rambut hitam panjangnya. Seorang murid perempuan kelas sepuluh lewat di depan Rangga, Rangga menepuk bahunya bertanya, “Hey, kamu kenal murid perempuan itu ga?” Murid perempuan itu melongok ke dalam kelas, “Iya Kak kenal.”
“Siapa namanya?” tanya Rangga.
“Namanya Melati,” jawabnya.
Arga manggut-manggut, “Ok makasih.”
“Melati,” gumam Rangga seraya berjalan kembali menuju kelasnya. “Gimana udah ketemu anaknya?” tanya Adit. Rangga mengangguk. “Emang kalau udah tau kamu itu mau ngapain Ga?” tanya Haikal. Rangga menggeleng, ia sendiri belum tahu mau apa. “Kirain mau dijadiin pacarmu gitu loh,” lanjut Haikal dan adit tertawa. Rangga hanya menyandarkan punggungnya di kursi tak menanggapi.
Sepulang sekolah, Rangga memperhatikan melati yang berjalan ke belakang sekolah, Rangga mengikutinya. Ternyata Melati masuk ke dalam ruang perpustakaan, ia menghela nafas. Ia termasuk murid yang malas baca bahkan selama bersekolah di sini ia belum pernah masuk ke dalam perpustakaan satu kali pun. Rangga memilih menunggu di depan pintu perpustakaan, tetapi karena bosan menunggu, ia pun memutuskan untuk masuk. Petugas perpustakaan menatapnya, menegurnya, “Hey, kamu murid sekolah ini atau pengunjung umum?” Rangga membuka jaketnya dan menunjukkan badge nama sekolahnya dengan sedikit sebal karena dicurigai bukan murid sekolahnya sendiri. Petugas perpustakaan itu mengerutkan kening menatap wajah Rangga, “Kok baru lihat ya?” Rangga mendengus dan terus melangkah masuk.
Di dalam perpustakaan Rangga terkesima, ia melihat banyak sekali buku-buku di dalam lemari-lemari besar yang berjajar itu. Rangga membaca satu persatu papan nama di atas tiap gang antara lemari yang menunjukkan kategori-kategori buku. “IPA dan IPS, agama, bahasa dan sastra,” ucap Rangga sambil melangkah pelan, “pengetahuan umum, sains dan matematika, teknologi dan sosial media, keterampilan … wah komplit juga ya … pasti ada ribuan buku, berarti ada ribuan penulis ... ckckck, kok ada ya orang mau jadi penulis, lha wong, saingannya banyak gini, mending---“
“Pssst! Diam,” tegur seorang guru yang sedang membaca pada Rangga, Rangga nyengir merasa bersalah lalu mengangguk, melanjutkan langkahnya lagi kali ini tanpa bersuara dan berhenti ketika melihat Melati sedang berdiri di depan lemari memilih buku. Rangga melihat papan nama di gang tersebut. Novel, batin Rangga. Melati menoleh ke arah Rangga tapi secepat kilat Rangga menarik tubuhnya ke balik lemari sehingga Melati tidak melihat ada siapa-siapa di ujung gang itu. Rangga diam di situ untuk beberapa menit dan setelah melihat Melati berjalan keluar seraya membawa beberapa buku, ia mengikutinya lagi.
Melati menyerahkan buku yang akan dipinjamnya pada petugas perpustakaan, setelah dicatat ia melangkah keluar. Rangga berjalan menyusul. “Ga jadi minjem bukunya?” sindir petugas perpustakaan pada Rangga. Rangga menghentikan langkahnya menoleh pada petugas perpustakaan, “Ga, maunya minjem duit, ada?” Petugas perpustakaan melengos pura-pura sibuk.
Rangga berjalan menuju parkiran sepeda untuk kelas sepuluh. Rangga segera berlari menuju parkiran sepeda untuk kelas dua belas dan mengambil sepedanya tapi ternyata ia lupa kalau sepedanya dikunci. Rangga mengumpat kecil lalu membuka gembok sepedanya dulu. Di sekolah ini hampir semua muridnya memakai sepeda, karena peraturan di sekolahnya memang melarang untuk membawa motor atau mobil termasuk para guru. Rangga bergegas mengeluarkan sepedanya dari parkiran ketika melihat Melati telah keluar dari gerbang sekolah. Rangga melompat ke sadelnya dan mengayuh cepat.
Sepeda Rangga tampak di kejauhan dan melambat.
Rangga pun melambatkan kayuhannya, ia tetap menjaga jarak.
Jalan yang mereka lewati adalah sebuah jalan aspal panjang yang diapit ladang membentang di kanan kirinya. Barisan pohon flamboyan sebagai peneduh juga nampak di sisi-sisi jalannya meski tidak tumbuh di sepanjang jalan. Melati melepas tangannya dari setang sepeda saat jalanan sepi. Rangga terkejut dan memperhatikan. Kemudian Melati mendongakkan kepala sambil merentangkan tangannya bertepatan dengan angin yang bertiupKemudian Jingga mendongakkan kepala sambil merentangkan tangannya bertepatan dengan angin yang bertiup menggugurkan bunga-bunga flamboyan. Bunga-bunga itu jatuh menyentuh rambut serta wajah Melati, terdengar suara tawa Jingga dari kejauhan. Rangga tersenyum menatapnya.
Tak lama kemudian, sepeda Melati berbelok masuk pada sebuah rumah yang berada di pinggir jalan. Ia membuka pintu gerbangnya dan masuk ke dalam. Rangga berhenti jauh dari rumah itu kemudian memutar balik sepedanya, kini ia tahu rumah Melati.
***
Rangga menyimpan sepedanya di teras rumah.
“Dari mana Ga? Kok baru pulang?” tanya ibu pada Rangga . “Dari rumah teman Bu,” jawab Rangga sembari mencuci tangan dan kakinya dari pancuran di teras rumahnya. Setelah mengeringkan kakinya pada keset di depan pintu, Rangga melangkah masuk, mencium tangan ibunya lalu menyentil usil telinga adiknya yang sedang menonton televisi. “Aduh, apaan sih Kak!” kesal adiknya merasa terganggu. Rangga tertawa. Ia paling senang menggoda adik perempuannya itu. “Rangga kok langsung masuk kamar? Makan dulu sana,” ucap ibu. “Udah Bu tadi di sekolah bareng Haikal dan Adit” sahut Rangga dari kamar.
Di kamar, Rangga menarik kursinya, duduk di depan meja dan mengambil kertas lalu diam sebentar. Ia berpikir apa yang akan dituliskannya. Pulpen di jemarinya bergoyang-goyang di antara jempol dan telunjuknya. Lalu adiknya masuk ke dalam kamar membuat Rangga kaget . “Eh Kunyil, masuk kamar itu ketok pintu dulu dong!” sebal Rangga. “Namaku bukan Kunyil! Nih disuruh Ibu, nganterin kedoyanan Kakak,” cetus adiknya seraya meletakkan sepiring bola ubi hangat di meja belajar. “Kak lebih suka memanggilmu Kunyil, hehehe,” ledek Rangga seraya mengambil dua bola ubi sekaligus dan mengunyahnya. “Gimana Kakak aja lah,” sahut adiknya lalu menatap poster-poster boyband di dinding kamar kakaknya itu. Nampak poster boyband Big Bang, Super Junior, Shinee, dan Exo.
“Masih pengen jadi boyband Kak?” tanya adiknya. Rangga mengangguk lalu menyuap bola ubinya yang ketiga. “Kenapa?” tanya adiknya lagi. “Ya sama ketika kamu ditanya, masih pengen jadi guru TK? Kamu ngangguk, trus ditanya lagi, kenapa? Jawabanmu apa?” tanya balik Rangga. “Karena aku suka mengajar dan suka anak-anak,” jawab adiknya. “Nah itu, garis bawahi di kata ‘suka’ … karena kita menyukai … gitu Nyil,” jelas Rangga. “Kalau boyband jurusan sekolahnya apa ya?” adiknya menggaruk-garuk kepalanya. “Hahaha, Kak juga ga tau,” tawa Rangga .“udah keluar sana, Kak mau nulis dulu.”
Adiknya mengintip apa yang sedang ditulis Rangga. “Kak, sekarang jamannya WA, ngapain pake nulis-nulis surat segala,” ledek adiknya. “Heh, surat itu punya nilai romatisme yang tinggi dari pada cuma pencet-pencet di telepon tau,” kilah Rangga “Bilang aja ga punya Android, punyanya hape jadul gitu hahaha,” ejek adiknya lalu lari keluar kamar. “Sialan,” sungut Rangga sembari menutup pintu kamarnya.
Ia kembali duduk di kursi dan mulai menulis, “Dear Melati.” Rangga terus menulis hingga satu lembar kertas itu selesai. Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop putih. Tak lupa ia juga menulis nama beserta alamat rumah Rangga pada amplop tersebut kemudian ia simpan di dalam laci meja belajarnya.
Setelah itu Rangga tersenyum membayangkan Melati sedang merentangkan tangannya di atas sepeda di antara bunga flamboyan yang berguguran dengan tawanya yang bergema.
***
Hari itu Rangga kembali menyusup dan berdiri berbaris lagi di antara murid kelas sepuluh saat upacara bendera. Ia memperhatikan Melati. Saat seorang murid laki-laki akan menempelkan kertas pada punggung Melati dengan cepat Rangga merebut kertas itu dan melotot pada murid laki-laki tersebut. Murid laki-laki itu pun segera menundukkan kepala karena terkejut mengetahui ada kakak kelas di antara mereka. Rangga pun mengeplak kepala seorang murid laki-laki lain di depannya yang akan melempar Melati dengan kertas. Hari itu semua murid di kelas Melati menjadi diam tak berkutik, tidak ada yang berani menyentuhnya karena Rangga berdiri di situ. Kini di setiap upacara bendera tidak ada lagi yang berani menganggu Melati, karena setiap saat Rangga bisa menyusup dan muncul di antara mereka.
Di hari-hari lainnya Rangga juga mengikuti murid-murid yang selalu mengusili Melati. Seperti di suatu siang, sambil menyedot jus apelnya, Rangga memperhatikan sekelompok murid laki-laki yang sedang menjaili sepeda Melati dengan mengendurkan rantai sepeda serta remnya. Rangga berjalan menghampiri mereka. “Brengsek! Becanda kalian sudah ga lucu hey!” hardiknya sambil melempar kotak jus apelnya itu pada kelompok murid laki-laki tersebut. Mereka terkejut melihat Rangga yang datang sambil mengomel dan bersiap meninju. Mereka pun berhamburan melarikan diri.
“Kalian membahayakan nyawa orang tau!” teriak kesal Rangga pada murid-murid yang kabur itu. Ia kemudian berjongkok lalu mengencangkan kembali rem serta rantai sepeda Melati. Untuk beberapa menit Arga berjongkok di situ tak menyadari kalau dua sahabatnya memperhatikan dari jauh. “Tuh lihat si Rangga, sudah terobsesi sama Melati." ucap Haikal.Adit tertawa lalu berkata, “That’s how the love way goes.” Haikal geleng-geleng. Mereka pun meninggalkan Rangga yang masih sibuk itu.
Setelah selesai, Rangga mengecek lagi kondisi rantai serta rem sepeda itu hingga beberapa kali. Setelah dipastikan aman Rangga baru kembali ke kelasnya. “Tiap hari kamu merhatiin dia … tiap hari kamu jagain dia … apa kamu ga ada niatan mau ngomong sama dia Ga? Sekadar memperkenalkan diri atau menyapa gitu? Supaya dia tahu siapa guardian angel-nya?” ujar Haikal pada Rangga yang telah duduk di sebelahnya.
“Ga perlu Kal, biarkan semua berjalan seperti biasa, kalau waktunya tepat, semesta yang akan memberitahunya,” senyum Rangga.
“Woalah … temenku sudah jadi pujangga indie Ri!” celetuk Adit. Haikal tertawa. “Halah, halah … jangan ngeledek,” sahut Rangga. “Loh aku ga ngeledek loh, pujangga indie itu mesti sukanya kopi, senja dan semesta, kayak kamu,” kilah Adit. “Pret!” tukas Rangga. Kedua temannya itu pun tertawa.
Tiba-tiba dari luar kelas terdengar suara jeritan perempuan dan suasana menjadi riuh. “Eh apa itu?” kaget Haikal. Adit dan Rangga saling menatap. “Ayo kita lihat,” ajak Adit yang berdiri dan diikuti Haikal. Sedang Rangga terlihat tidak tertarik. “Ga, kamu nggak mau lihat?” tanya Adit. Rangga menggeleng, “Males … paling juga ribut antar cewek rebutan cowok … memalukan.”
Maka kedua sahabatnya itu pun keluar kelas bergabung dengan murid-murid lainnya yang juga ingin tahu. Hanya tersisa Rangga di kelas sendirian tetapi tak lama kemudian Haikal datang kembali ke dalam kelas dengan wajah tegang.
“Ada apa Kal? Wajahmu kok tegang begitu?” heran Rangga.
“Ga, kamu harus lihat keluar … itu Melati!” serunya.
BERSAMBUNG