7
Bagi Karnoto tidak terlampau sulit untuk mencari Rina. Apalagi Hernoto sudah memberi tahu pekerjaan Rina yang baru di salah satu restauran di Surabaya. Sedangkan Karnoto punya banyak kenalan manager restauran dan hotel di sana.
Maka pada hari pertama Rina bekerja di salah sebuah restauran dan hotel yang ternama di Surabaya, telah disusul oleh Karnoto. Lelaki itu terlebih dulu menghubungi manager hotel dan restauran untuk menyewa sebuah kamar. Kemudian melalui manager hotel, Karnoto memanggil Rina.
Semula Rina heran. Pasti ada sesuatu yang sangat penting dipanggil managernya. Tapi setelah dia menghadap.
"Rina..."
"Ya, Pak?"
"Kamu dipeesilakan menemui tamu di kamar dua puluh."
Rina termangu. Menemui tamu di kamar dua puluh? Untuk apa? Apakah setiap pelayan di sini juga merangkap sebagai pelayan tamu-tamu di kamar hotel? Istilahnya pelacur? Ah, tidak. Aku tudak mau.
"Maaf, Pak, saya merasa keberatan menemuu tamu di kamar hotel," kata Rina.
"Jangan salah mengerti. Tamu itu masih ada kaitannya dengan status anda sebagai pengawal baru di sini."
Rina menimbang-nimbang sesaat.
"Temuilah. Kami jamin tidak akan terjadi apa- apa."
Dengan berat hati Rina mengangguk. Lantas dia melangkah ke luar dari kantor itu. Kamar hotel? Terlintas dalam bayangannya kejadian yang pernah dialami di kamar hotel. Rasa takut dan ngeri menguasai perasaannya. Tapi ini merupakan perintah dari atasan. Bagaimanapun juga harus dilaksanakan. Rina menarik napas berat. Lebih baik tidak sendiri, pikir Rina. Kejadian yang pernah dialami membuatnya lebih berhati-hati. Ya, lebih baik mengajak Riska untuk menemui tamu itu. Maka dia menemui Riska sebelum ke kamar hotel.
"Riska, kau masih belum dapat giliran menynyi, kan?" tanya Rina.
"Belum. Kenapa?"
"Temani aku menemui tamu dikamar hotel."
"Siapa tamumu itu? Pramono?" dahi Riska berkerut. Heran dia.
"Aku tidak tahu. Tapi ini perintah dari manager," kata Rina yang kelihatan resah.
"Ooo..." Riska manggut-manggut. "Ayo kutemani."
Rina merasa lega. Mereka berjalan menyusuri koridor hotel dan mencari kamar nomer dua puluh. Setelah mereka sampai di depan pintu kamar itu, saling bertukat pandang. Tampak sama-sama tak punya keberanian untuk mengetuk pintunya. Tapi akhirnya Rina nekad juga. Dia mengetuk pintu kamar itu.
"Masuk!" perintah suara lelaki dari dalam.
Rina membuka pintu kamar pelan-pelan, lalu melangkah masuk diikuti Riska. Dia belum melihat siapa gerangan lelaki yabg ada di dalam kamar itu. Dan ketika lebih ke dalam dia melangkah, jadi terbelalak manakala melihat Karnoto duduk tenang di kursi.
"Ada apa?" tegur Rina dingin. Sekejap dia menatap lelaki itu, lalu memutar tubuhnya ke samping. Enggan untuk berhadapan. Apalagi saling bertatapan. Sedang Riska duduk di kursi tanpa mau menegur Karnoto.
"Kau harus kembali ke Tegal!" balas Karnoto tegas.
"Apa hakmu?!"
"Aku memang tak punya hak apa-apa, tapi tidak ingin melihatmu jadi tambah rusak. Jadi tambah binal, karena tidak ada orang yang mengawasimu dengan ketat di sini."
"Kau kira aku perempuan macam apa?!"
"Tapi pergaulan bisa menjerumuskanmu!"
Terdengar suara ketukan pintu. Pembicaraan mereka terhenti dan mengalihkan perhatian ke pintu. Seorang pelayan hotel berdiri di ambang pintu.
"Riska, sudah waktunya menyanyi," kata pelayan itu.
"Riska berdiri.
"Rina, aku tinggal dulu ya? Hati-hatilah menjaga diri," kata Riska sembari melangkah pergi. Mereka hanya tinggal berdua di kamar. Berdebar-debar dada Rina karena peristiwa yang pernah dialami bagai terbayang lagi di benaknya. Membuat dia lebih berhati-hatu menghadapi Karnoto.
"Kau belum tahu siapa sebenarnya Riska itu," ujar Karnoto.
"Memang kau tahu dia siapa?"
"Dia itu wanita panggilan, Rina. Aku tahu dia sejak lama. Karena itulah aku mencarimu dan minta supaya kau kembali ke Tegal. Bekerja lagi di restauran Mandala."
"Tidak!"
Karnoto berdiri mendekati Rina. Rina melangkah, menjauhi.
"Kau harus menurut. Aku tidak ingin kau jadi wanita panggilan seperti Riska. Aku tidak ingin hal itu terjadi pada dirimu!"
"Kalau memang garis hidupku harus begity, kau tak ada hak untuk melarangku."
"Rina! Kau jangan gila. Kau harus pulang!" seru Karnoto sambil menyambar lengan Rina.
Rina meronta dari cekalan tangan Karnoto yang keras di lengannya.
"Lepaskan! Kalau tidak aku akan berteriak!" suara Rina mengancam lantang.
"Kau mau berteriak tak akan ada orang yang berani ikut campur. Sebab persoalannya sudah terlebih dulu kubicarakan dengan manager di sini. Ayo berteriaklah!" tantang Karnoto.
Rina nekad berteriak. Karnoto langsung menampar muka gadis itu. Rina terpelanting dan jatuh di kursi. Tapi dia bergegas bangkit. Membalas tamparan Karnoto, namun tangannya berhasil ditangkap lelaki itu. Cekalan Karnoto semakin keras, sehingga Rina meringis menahan rasa sakit.
"Lepaskan! Kau lelaki kurang ajar! Lelaki tidak tahu diri!"
"Biar! Yang kulakukan ini untuk kebaikanmu. Ayo pulang sekarang juga ke Tegal!"
"Tidaaak! Lepaskan. Kau telah menyakitiku." seru Rina yang mulai menangis.
Tangis Rina membuat Karnoto jadi iba. Perlahan-lahan dilepaskan cekalannya di tangan gadis itu. Namun dia sama sekali tidak menduga kalau Rina lari meninggalkan kamar itu. Karnoto mengejarnya. Lalu dia lari ke luar dari hotel itu, tak peduli Karnoto berteriak-teriak sambil menggebrak pintunya berkali-kali dari dalam.
Rina melangkah cepat masuk ruang restauran. Dia menemui Riska yang baru saja menyanyi.
"Riska, aku harus pergi sekarang juga," ujar Rina tersendat-sendat karena napasnya sesak.
"Aku tak akan membiarkan kau pergi sendiri. Kita sama-sama pergi."
"Tapi kau masih menyanyi."
"Biarkan. Ayo!"
Rina dan Riska berlari meninggalkan restauran. Semua yang ada di dalam restauran jadi heran melihat tingkah kedua gadis itu. Tak lama kemudian Karnoto muncul di ruangan itu pula.
"Mana Riaka? Mana Riska?!" tanya Karnoto yang panikbkepada seorang pelayan. Napasnya terengah-engah. Wajahnya di basahi keringat.
"Belum lama pergi dengan Rina."
"Tahu alamat rumah Riska?"
Pelayan itu mengangguk.
"Cepat beri tahu di mana?"
Pelayan itu menyebutkan alamat rumah Riska. Setelah itu Karnoto buru-buru kabur mengejar Rina dan Riska. Roda mobilnya berdenyit kala meninggalkan halaman hotel dan restauran itu.
Sementara itu Rina dan Riska telah sampai divrumah. Mereka buru-buru membenahi pakaian ke dalam koper. Ibu Riska heran melihat tingkah anaknya.
"Hee, kau mau ke mana kok buru-buru?" tanya ibunya kepada Riska.
"Pergi, Bu."
"Ke mana?"
"Belum tahu. Pokoknya pergi. Sebab Rina dikejar terus sama manager hotel. Sedangkan Rina tidak menyukai lelaki itu."
Rina dan Riska sudah selesai merapikan semua pakaiannya ke dalam koper.
"Ayo cepat pergi, Riska. Pasti Karnoto akan menyusul kemari."
"Dia kan belum tahu alamat rumahku?"
"Dia cerdik. Dia pasti menanyakan alamat rumah pada pengawai hotel atau restauran. Ayo, Riska. Cepat sedikit," ajak Rina tak sabar lagi. Rina dan Riska buru-buru pergi. Sementara ibunya Riska cuma geleng-geleng melihat tingkah kedua gadis itu.
Mereka segera naik becak menuju terminal. Tapi setelah sampai di terminal jadi bingung, sebab tidak tahu ke mana tempat yang akan dituju.
"Kita mau ke mana, ya?" gumam Riska sembari berpikir.
"Ke mana saja aku tak peduli, Riska. Yang penting aku bisa jauh dari karnoto. Lelaki itu semakin kurang ajar dan mau menguasai hidupku." keluh Rina.
"Kita ke Jakarta saja."
"Jakarta?" Rina bimbang tapi dadanya bergejolak. Jakarta? Mungkin di sana tak akan bisa dicari Karnoto lagi.
"Ya. Ke Jakarta. Di sana nanti kita cari pekerjaan. Mau?"
"Ba... baiklah."
"Kita naik bis yang langsung ke Jakarta."
"Tapi uangku minim sekali. Bagaimana setelah kita sampai di Jakarta?"
"Jangan khawatir. Aku punya gelang dan kalung. Bisa kujual untuk membayar kost dan mengatasi hidup kita sementara waktu."
"Tapi..."
"Ah, sudahlah. Tak perlu dipikirkan. Ayo!"
"Mereka akhirnya nekad naik bis jurusan Jakarta. Rina sudah pasrah apapun yang akan terjadi di Jakarta nanti. Yang penting dia bisa menghindar Karnoto. Bis yang mereka tumpangi mulai meluncur meninggalkan kota Surabaya. Segumpal keresahan mulai berangsur-angsur sirna di dalam hati Rina. Tapi bekas cekalan tangan Karnoto masih dirasa sakit.
"Kenapa kau nekad pergi, Rina?"
"Karnoto sudah menempelengku. Dia memaksaku pulang ke Tegal malam ini juga. Leki- laki itu mau menguasai hidupku. Aku jadi tambah benci dengan lelaki semacam dia. Aku jadi tambah benci dengan lelaki semacam dia. Makanya aku lebih baik pergi jauh supaya sukar dicarinya lagi."
"Laki-laki itu memang tidak punya malu."
Rina menghela napas panjang. Melempar pandang ke luar melalui jemdela kaca. Malam sudah kian larut. Bis yang mereka tumpangi terus meluncur dengan cepat. Riska diam melamun. Entah apa yang sedang dilamunkan perempuan itu, Rina tak tahu. Dan dia jadi ikut melamun. Lamunan Rina masih seputar perjalanan hidupnya. Masa lalunya yang meninggalkan kegetiran. Penderitaan, noda serta dosa yang melekat dalam tubuhnya. Semuanya itu bagai seonggok empedu yang setiap saat diingat dan menimbulkan rasa teramat pahit dalam hidupnya. Semua pria yang pernah singgah di hatinya cuma melibatkan nasibnya jadi sengsara. Marlan penyebab awal hidupnya jadi resah dan terombang-ambing. Lantaran lelaki itu telah menodainya. Menanamkan benih dalam perutnya hingga mengandung. Dosa yang teramat besar terpaksa dilakukan untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya. Yudi lelaki kejam yang tega mau menjual dirinya sebagai pelancur. Akibatnya dia masuk kamar tahanan. Namanya cemar dan terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai guru. Orang sudah menganggapnya sebagai pelacur. Karnoto yang kurang ajar mau menguasai hidupnya. Dan semuanya itu disebabkan pantaran cinta.
Lantas bagaimana mengenai Pramoto? Lamunan Rina terdampar pada lelaki itu. Dia tersenyum. Lelaki yang satu ini agak puitis. Lebih senang berbicara soal perasaan kerimbang cinta. Lebih senang mengatakan menaksir dari pada mengobral kata cinta. Padahal Rina tahu dari sorot mata lelaki itu, Pramoto sebenarnya mencintainya. Cuma barangkali lelaki itu takut kalau ditolak. Ah, lelaki manapun kalau ada maunya bermacam- macam cara untuk mengambil hati. Dasar lelaki. Kalau sudah dapat lalu disakiti. Itulah penilaian Rina yang menyama ratakan semua lelaki begitu.
Rina menoleh ke Riska. Perempuan itu sudah tertidur. Jam berapa sekarang? Rina melihat jarum jam tangnnya. Sudah dini hari. Cepat sekali rasanya waktu ini bergeser. Dan Rina berusaha membuang semua lamunannya. Dia ingin tidur. Lantas dia memejamkan matanya. Goncangan bis bagai mengayun-ayun tubuhnya untuk tidur.
***
Kulit wajah Rina bagai diusap lembut oleh cahaya matahari. Seakan-akan membangunkan tidur gadis itu yang sedang nyenyak. Kehangatan sinarnya membuat kelopak mata Rina terbuka. Lalu dia menoleh ke samping. Riska tersenyum.
"Nyenyak tidurnya?" tanya Riska.
"Rina mengangguk sambil mengusap-usap kelopak matanya.
"Sudah sampai mana sekarang?"
"Bekasi."
"Bekasi?" Rina melihat pemandangan di luar kaca jendela. Jalanan yang membujur di samping rel kareta api. Rumah-rumah berjejer di pinggiran jalan aspal itu.
"Satu jam lagi kita sampai di Jakarta."
"Kita mau cari tempat kost di mana?"
"Kitq nanti beli koran dan cari di kolom Man. Di pulo gadung. Rina dan Riska bergegas turun. Lantas mereka membeli koran. Masing-masing membaca iklan di koran yang dibeli sambil duduk di restauran.
"Ini ada tiga, kau mau pilih yang mana?" tanya Riska sambil menunjukkan kepada Rina iklan itu.
"Aku belum tahu bagaimana situasi Jakarta, Riska. Terserah kau yang mana kau pilih."
"Okey deh. Kita pilih yang letaknya di Jakarta Pusat saja. Setelah itu mereka naik taxi mencaru alamat yang tertera di kolom iklan tadi.
Sebenarnya mereka sama-sama belum tahu tempat yang dituju. Tapi dengan keyakinan penuh, mereka terus mencari.
Rumah yang dicari akhirnya ketemu. Halaman- nya luas dan rumahnya cukup bagus. Agaknya rumah itu dibangun sengaja untuk tempat kost.
Di sebelah kiri dan kanan berderet kamar-kamar yang berjendela nako. Seorang perempuan muda menyambut kedatangan Rina dan Riska.
"Apakah benar di sini masih menerima kost?" tanya Riska.
"Ya. Adik berdua mau kost di sini?"
Rina dan Riska mengangguk.
"Mari silakan duduk dulu."
Perempuan muda itu mengajak berjabatan tangan.
"Elina."
"Rina."
"Riska."
"Tunggu sebentar, aku panggilkan ibu kost."
Elina berjalan pergi.
Rina dan Riska saling bepandangan. Saling bertukar senyum. Keduanya merasa lega tiba di Jakarta dengan selamat.
"Kamu tidak punya kenalan di sini?" tanya Rina.
"Ada. Aku masih menyimpan kartu namanya waktu aku masih nyanyi di night club Surabaya. Orangnya baik sekali. Coba nanti akan kuhubungi melalui telepon."
Elina bersama seorang perempuan gemuk masuk ruang tamu. Rina dan Riska berdiri meng- angguk. Pasti perempuan itu pemilik rumah ini.
"Selamat siang, Bu."
"Siang."
Lantas mereka duduk di kursi tamu. Riska mengutarakan maksudnya untuk kost di rumah ini. Dan ibu pemilik rumah itu sangat gembira meneri- manya. Dia juga memberi tahu bahwa semua kamar masih banyak yang kosong. Baru orang pertama yang menempatu cuma Elina. Setelah terjadi persetujuan bersama mengenai pembayaran kost setiap bulannya, pemilik rumah itu menyerahkan kuncinya. Rina dan Riska menempati sebuah kamar. Mereka saling berjanji untuk hidup susah atau senang bersama-sama.
***
8
Masih belum hilang rasa lelah yang dialami Handika. Dia sudah kepingin bertemu dengan Rina. Keinginan itu dibawa semenjak tiba dari Jakarta kemarin. Lantaran ada tugas yang musti diselesaikan kepada Pak Lurah. Keinginan itu ditahannya dalam waktu sehari. Tapi sekarang tugasnya sudah selesai. Seharian tadi dia berkeliling dengan Pak Lurah meninjau areal baru yang akan ditanami tembakau. Capcai. Kendati rasa cape itu belum hilang sudah didorong oleh gejolak rindunya ingin bertemu Rina. Dan rasa capenya jadi hilang karena keinginannya itu.
Selesai mandi dan berpakaian rapi, Handika berpamitan kepada haji Anwar mau pergi. Dia tidak menjelaskan kalau mau menemui Rina, sebab takut lelaki itu jadi melarangnya.
Sore yang cerah. Handika mengharap secerah wajah Rina bila ketemu nanti. Paling tidak secerah waktu terakhir perjumpaan mereka sebelum Handika pulang ke Jakarta. Mala yang diharapkan Handika sekarang, kecerahan gadis itu bisa melebihi yang dulu. Sambil mengenang wajah Rina, dia meluncurkan mobilnya menuju Yomani. Apakah perasaannya sama dengan perasaanku? Sama- sama tertanam rindu? Pertanyaan itu membuat Handika lebih cepat melarikan mobilnya. Agar cepat sampai dan bertemu dengan Rina. Kalau pertemuan nanti begitu hangat dan mesra, berarti dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Akan kupeluk dia erat-erat dan kukecup kedua pipinya. Seperti waktu malam itu berpisah. Wuaah, pasti indah deh. Pikir Handika begitu menggebu- gebu.
Namun apa yang dibayangkan ternyata di luar dugaan Handika. Dia datang disambut Harnoto dengan wajah dingin.
"Rina sekarang tidak tinggal lagi di sini."
"Pindah ke mana, Mas?"
"Kabur entah ke mana."
Handika termangu kecewa. Tidak di sangka kalau Rina akan senekad itu kabur tanpa tujuan.
"Lantas dia pergi dengan siapa?"
"Temannya yang bernama Riska. Dia seorang penyanyi night club di Surabaya."
Riska? Temannya yang dulu pernah diajaknya nonton flim bersama? Ah, kenapa Rina gampang sekali terpengaruh teman? Keluh Handika dalam hati sangat kecewa.
"Apa mungkin Rina pindah kerja di Surabaya, Mas?"
"Mulanya memang. Tapi Rina memang susah sekali diatur. Anak itu gampang sekali kena pengaruh teman."
"Mas pernah menyusulnya?"
Hernoto menggeleng.
"Teman saya pernah menyusulnya dan memaksa agar dia pulang ke Yomani lagi. Tapi anak itu malah nekad kabur entah ke mana." keluh Harnoto bernada kesal. "Yang saya khawatirkan, Rina pergi dengan Riska. Riska itu bukan perempuan baik-baik. Dia wanita panggilan. Aku takut kalau sampai dia sampai dijual oleh Riska kepada cukong."
Handika menghembuskan napasnya yang dirasa menyesakkan dada. Dia jadi penasaran ingin mendatangi rumah Riska.
"Kalau begitu saya akan mencari keterangan dari keluarga Riska. Barangkali saja keluarganya tahu ke mana mereka pergi."
"Cobalah,"
Handika berdiri.
"Saya permisi, Mas."
Harnoto mengangguk.
Handika dengan langkah lesu mendekati mobil. Membuka pintu mobil tanpa perasaan gembira. Meluncurkan mobil di jalan raya tanpa semangat. Betapa tidak, apa yang dibayangkan sebelumnya ternyata meleset. Bahkan membuat hatinya kecewa. Rina yang selama ini dirindukan telah pergi tanpa meninggalkan pesan. Di depan mulut gang, mobil Handika berhenti. Lantas dia melangkah turun sambil menghempaskan pintunya. Langkahnya yang gontai menysuri gang itu. Jalanannya menurun. Tapi di mana rumah Riska? Handika jadi bingung memandang rumah yang berderet di kiri dan kanan gang. Kenapa dulu aku tidak ikut turun, sehingga tahu di mana rumah Riska. Handika mendesah. Lalu dia bertanya pada salah seorang lelaki yang sedang duduk di teras membaca majalah.
"Selamat sore, Mas."
Lelaki itu mengalihkan perhatian dari halaman majalah ke Handika. Dia langsung berdiri tergesa.
"Ada apa, dik?"
"Mau numpang tanya, Mas. Di mana ya rumah Riska?"
"Riska?" lelaki itu tampak bingung. "Kalau setahu saya di gang ini tidak ada yang bernama Riska."
"Dia kerja menyanyi di night club Surabaya."
"Ada. Memang ada perempuan yang kerjanya menyanyi di night club. Tapi namanya bukan Riska."
"Kalau bukan Riska, lalu namanya siapa Mas?
"Lasmini. Orangnya cukup cantik rambutnya panjang."
Handika termenung sesaat. Dia berpikir, ciri-ciri yang dikatakan lelaki ini memang tidak salah lagi. Atau barangkali namanya dirubah? Ah, itu memang sudah kebiasaan seorang wanita yang bekerja di night club selalu ganti nama. Lebih baik kubuktikan dulu, siapa tahu memang benar.
"Rumah Lasmini yang mana, Mas?"
"Tuh yang pagarnya besi bercat putih."
"Terima kasih, Mas."
Handika nekad juga menghampiri rumah itu. Untung-untungan, pikir Handika. Siapa tahu memang benar alamat yang dicari. Lalu dia mengetuk pintu pagar rumah. Seorang perempuan yang berusia sekitar tiga puluh tahun ke luar. Insting Handika mulai yakin, sebab wajah perempuan itu agak mirip dengan Riska.
"Cari siapa, Mas?"
"Di sini rumah Riska?"
"Betul, Tapi Riska sudah pergi."
"Dapatkah saya minta sedikit penjelasan dari, Mbak?"
"Mari masuklah dulu," kata perempuan itu sambik membuka pintu pagar.
Handika melangkah masuk.
Setelah mereka duduk diruang tamu. Ibu Riska muncul.
"Ada tamu cari Riska, Bu."
"Wah, ibu juga sedang bingung memikirkan Riska," keluh perempuan itu sambil duduk di kursi tamu.
"Riska kenapa, Bu?"
"Anak itu dibawa kabur sama temannya yang bernama Rina."
Handika terperangah. Rina yang mengajak Riska kabur?
"Rina yang membawa kabur Riska? Apa sebabnya, Bu?"
"Sebabnya Rina tidak mau dipaksa kawin dengan manager hotel dan restauran. Malah sewaktu ibu di rumah Riska yang ada di Surabaya sempat bertemu dengan manager itu. Namanya Karnoto. Tapi Riska dan Rina sudah keburu kabur."
Handika termenung. Jadi persoalan Rina kabur lantaran dipaksa kawin dengan Karnoto. Pantas saja kalau sikap Rina di restauran begitu lembut dan mesra padaku. Lantas sewaktu di rumah pamannya, di depan Karnoto, Rina kembali bersikap mesra padaku seperti waktu di restauran. Jadi sekarang jelas persoalan Rina kabur. Kenapa sajak dulu dia tidak mau mengutarakannya?
"Apakah ibu tahu ke mana mereka pergi?"
"Justru itu ibu bingung dan cemas. Anaknya Riska nangis terus."
"Baiklah, Bu. Saya terima kasih dan segera mohon diri."
"Kok buru-buru sekali," kata kakak Riska.
"Karena saya masih ada keperluan lain."
Handika berdiri.
"Permisi."
Ibu dan kakak Riska mengantar sampai di pintu pagar. Handika melangkahkan kakinya dengan gontai. Sore yang merangkak senja jadi kelihatan murung, semurung wajah Handika yang sangat kecewa dan sedih. Dapatkah diartikan segumpal duri yang mengganjal di hati? Ketika malam terakhir Rina mencium pipinya. Bersikap ceria dan bahagia pergi bersamanya. Tapi kini gadis itu pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Padahal rasa rindu yang dipendam Handika nyaris meledak sebelum ketemu. Namun yang dirindukan telah pergi. Berarti segalanya sia-sia. Berarti gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Handika menginjak pedal gas keras. Lalu mobilnya tambah kencang di atas jalanan aspal menuju desa Yomani. Roda bannya berdenyit-denyit ketika membelok. Semua itu hanya pelampiasan dari hati Handika yang sangat kecewa.
Sia-sia selama ini aku memikirkannya, desah Hamdika sambil memukulkan telapak tangannya di stir mobil. Dan baru beberapa hari tidak bertemu gadis itu banyak mengalami perubahan. Nekad kabur dengan Riska tanpa tujuan yang pasti.
Tapi benarkah semua itu sia-sia? Ah, tidak. Rina pergi mempunyai alasan. Dia tidak mau dipaksa kawin dengan Karnoto. Jadi aku tidak boleh menyimpan kebencian padanya. Aku tak mau ingkar untuk menjadi teman setia. Dan suatu ketika aku harus bisa menemukan dia kembali. Entah kapan dan di mana.
***
9