" Maaf kamu ga bisa di terima disini" Ucap HRD di Perusahaan tempatku melamar.
"Tapi kenapa pak?. Saya bakalan kasih seluruh waktu yang saya punya, saya juga bakalan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini" Jawabku supaya HRD itu kembali mempertimbangkannya.
HRD itu menatapku dari atas sampai bawah, " Tapi fisikmu kurang pantas untuk bekerja disini, jadi tidak bisa seberusaha apapun kamu".
Darr...
Perkataan menyakitkan itu benar-benar seperti pedang yang menghunus ulu hatiku. Tidak bisakah aku merasakan di terima walau sekali saja.
"Tapi pak.." Aku kembali memohon padanya.
"Pergi atau saya panggil satpam!" Ancamnya yang membuatku akhirnya beranjak pergi dari tempat itu.
Aku berjalan dengan tertunduk lesu dan hati yang kecewa menuju jalan pulang ke rumahku. Apa yang salah dengan fisikku? kenapa selalu aku, banyak yang lain yang dibawahku tapi kenapa aku yang harus terus mendapat penolakan?.
Di rumah aku langsung menuju kamarku untuk merebahkan diri dan menangis hingga rasanya kepalaku pusing sekali. Hancur, lebur, marah , benci dan kecewa menjadi satu. Apa yang salah? apa aku telah melakukan banyak keburukan hingga merasakan kemalangan hidup.
Ku jambakan rambutku. Mati lebih baik dari pada hidup mendapatkan penolakan oleh sekitarku. Sudah sangat sabar aku menerima semuanya. Orang yang kucinta lebih memilih wanita lain di banding diriku, bahkan aku menerima ketika dulu aku selalu mendapat penolakan dari sekitar.
***
Hari ini keluargaku berniat untuk pergi liburan bersama dan juga mampir sebentar ke rumah saudara ku. Di mobil hanya ada aku, nenekku, sepupuku dan pamanku, sisanya menyusul dengan mobil lain.
"Kita pergi buat ngerayain ke lulusan Andina kan?" Tanya nenek ku dengan bahagia.
"Iya Bu..." Jawab Pamanku ayah dari sepupuku Andina.
"Ibu bangga deh. Cucu-cucu ibu pada berhasil. Fadlan yang sudah kerja di luar negeri dan Andina yang berhasil lulus dari perguruan tinggi ternama.."Ucap nenekku dengan bangga.
Aku diam sambil mendengarkan lagu dari earphone yang ku pasang , ku besarkan volume musik dan menikmati perjalanan.
"Dilla, gimana interview kamu kemarin? Di terima?" Tanya nenek padaku.
"Ga..." Jawabku seadanya.
"Kenapa emang?"
"Fisikku tidak sesuai kriteria mereka" Jelasku sambil terus melihat pemandangan dari kaca mobil.
"Makanya kamu diet. kamu itu jelek gendut gitu, kamu ga malu?" Ceramah nenekku yang membuatku memutar kedua mataku malas.
"Aku sudah diet nek, tapi emang turunnya lama" Jawabku membela diri. Mereka tidak pernah tahu bagaimana aku menyiksa diriku agar berat badanku turun.
" Kaya Andina dong, dia cantik dan pintar. Banyak cowok-cowok yang suka dia. Kalau kamu itu gendut dan malu-maluin, cowok ga ada yang suka kamu dan nenek liat kamu jarang punya temen, temen-temen kamu pasti juga malu temenan sama kamu. Sadar diri, kamu itu mau jadi beban ibu kamu? sudah besar jadi pengangguran dan jelek lagi" Ucap nenekku menceramahi ku abis-abisan.
"Denger Dil nenek kamu, sudah besar itu tau diri. Olahraga gitu atau apa biar badan kamu ga gendut gitu.." Timpal Pamanku.
Sakit.
Satu kata itu mewakilkan perasaanku. Rasanya air mata ingin mengalir tetapi harus ku tahan agar aku tidak terlihat lemah.
"Andina, ajarin sepupu kamu tuh biar ga malu-maluin" Suruh nenekku pada Andina.
"Iya nek, nanti aku ajarin Dilla kok" Jawab Andina.
Muak.
Itu yang ku rasakan. Kenapa mereka tidak mengerti seberapa aku berusaha untuk bisa menjadi lebih baik. Apa aku sangat buruk di mata mereka?.
Kami sampai di rumah saudara ku setelah menempuh perjalanan panjang. Kami disambut baik oleh saudara ku.
"Haduhh pasti cape ya semuanya. Ayo duduk" Ucap saudara ku mempersilahkan kami duduk.
"Nih tehnya di minum" .
"Aduh repot-repot sekali" Jawab nenekku.
"Ini Andina sama Dilla ya?" Tanya saudara ku menatap kami berdua.
"Iya ini Andina dan Dilla" Jawab Nenekku sambil menyuruh kami bersalaman.
"Sudah besar ya. Gimana Fadlan kabarnya sekarang?" Tanya saudraku.
"Baik ko. Dia sekarang kerja di luar negeri" Jawab nenekku dengan mata bersinar bangga.
"Waduh keren sekali. Gajinya kan besar ya kerja di luar negeri kaya gitu. Kalau Andina dan Dilla? Kalian kerja atau masih kuliah?" Tanya saudaraku lagi.
"Andina baru lulus dari universitas **** itu. Dia lulusan terbaik dan dapat kesempatan kerja di perusahaan *** lho" Nenekku membanggakan Andina yang luar biasa itu.
"Keren lho Andin. Sudah cantik, pintar lagi. Sudah punya pacar belum?".
"Hahaha belum ko Tante..." Jawab Andina malu-malu.
"Nanti Tante kenalin ke anak-anak temen Tante yang mapan dan ganteng" Ucap Tanteku.
"Kalau Dilla?" Tanya tanteku padaku.
"Dia mah belum kerja, masih jadi pengangguran" Ucap nenekku memotong ucapanku.
"Oh..Sudah punya pacar Dil?" .
"Belum kok Tan" Jawabku malu-malu.
"Coba kamu kurusin badan kamu sedikit lagi, pasti banyak yang suka sama kamu. Jaman sekarang fisik juga di nilai lho dalam cari kerja.." Ucap Tanteku. Sedangkan Aku hanya tersenyum menanggapinya.
'Gapapa, aku baik-baik aja kok...' Aku berusaha menenangkan diriku.
Kenapa aku harus berada di pinggir ketika semua sepupuku bersinar. Adakah yang mengerti rasanya telah berusaha dengan keras , namun tak ada yang menghargai. Apakah mereka tahu bagaimana terpuruknya diriku ketika gagal?. Apakah mereka tahu aku sudah tidak tahan setiap harinya di kehidupan yang menyedihkan ini?.
Sadar, Aku sadar tidak seberuntung Andina yang pintar dan cantik. Ia memiliki badan yang goals dan wajah yang cantik, banyak pria menyukainya bahkan ia juga pintar dalam bidang akademik.
Dan aku juga sadar tidak sehebat Fadlan yang bisa dapat pekerjaan di luar negeri.
Dari semua keluargaku, hanya ibuku yang hidup serba kecukupan. Aku sadar tidak bisa mendapatkan pendidikan dan perhatian yang selalu di dapatkan Andina dan Fadlan yang hidup lebih baik dan tinggal di rumah yang mewah dengan pendidikan yang pastinya tidak main-main. Bahkan kecerdasan ku hanya rata-rata dalam bidang akademik.
Tolong buka mata kalian. Aku juga butuh kesempatan dan perubahan untuk menunjukkan diriku. Aku lelah selalu berada di pinggir dengan memasang senyum palsu.
***
Setelah liburan berakhir, aku mengurung diriku di kamar. Aku menyalahkan diriku, aku membenci diriku, aku hancur, dan merasa seperti berjalan di dalam kegelapan.
Aku takut, aku tidak ingin menjadi diriku. Seandainya aku orang lain yang beruntung atau Andina yang cantik, Pasti hidupku bahagia tanpa penolakan atau penghinaan.
Ku tumpahkan keluh kesah ku menjadi sebuah cerita. Ku ceritakan betapa hancurnya diriku ketika semua orang yang kucintai pergi dariku dan meninggalkanku dalam kesepian. Ku ceritakan bagaimana jahatnya juga pria yang tulus ku cinta meninggalkanku karena fisikku. Aku ingin ada yang bisa mengerti diriku.
Sudah 1 tahun lebih aku menulis kisah itu di salah satu aplikasi menulis. Ku gunakan juga waktuku untuk berolahraga setiap harinya. Aku yakin aku akan bersinar suatu hari nanti.
***
Hari ini aku berada di cafetaria untuk menemui penerbit dan produser yang akan menjadikan cerita ku di kenal oleh Masyarakat.
"Halo , kamu Dilla kan?" Seorang pria yang berusia 40 tahunan menghampiriku.
"Iya" Ku jawab dengan tersenyum ramah.
"Kenalin saya Andre , produser yang akan menjadikan naskah kamu sebagai project film kami" Pria itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Saya Dilla" Ku balas dengan ramah.
"Oh iya, sebentar lagi Pak Ryan akan datang. Katanya dia akan menjadikan naskah kamu sebagai novel untuk di cetak dan di jual ke masyarakat" Jelas Pak Andre.
Tak lama seorang pria sekita 30 tahunan dengan perawakan badan tegap dan wajah yang tampan datang menghampiri kami.
"Selamat pagi, maaf saya telat" Ucapnya sambil membuka kacamata hitam yang ia pakai tadi.
"Gapapa Ryan, saya juga baru datang. Tak apakan Mba Dilla?" Tanya Pak Andre padaku.
"Hah...gapapa kok pak, saya tidak keberatan" Jawabku setelah sempat memandang Pak Ryan.
"Halo Dilla, Perkenalkan saya Ryan. Saya CEO dari perusahaan yang akan menerbitkan cerita kamu menjadi novel" Ucapnya to the point.
"Saya Dilla.."Jawabku tersenyum ramah.
"Usia berapa Mba Dilla?" Tanya Pak Andre padaku.
"Baru 22 tahun pak" Jawabku ramah.
"Ahh saya 43 tahun, sudah punya istri. Kalau pak Ryan sendiri berapa?" Pak Andre berusaha memberikan topik obrolan sebelum mereka membicarakan kontraknya.
"Saya 31 tahun, belum nikah" Jawab Pak Ryan seadanya.
Kami mengobrol santai, cuman Pak Ryan nampak dingin dan kaku. Kemudian kami juga membicarakan tentang kontrak yang sudah ku setujuin dan tanda tangani.
"Terimakasih mbak Dilla atas waktunya" Ucap Pak Andre padaku.
"Lho, Saya yang terimakasih bapak mau memproduseri cerita saya ini" Balasku ramah.
"Baiklah saya pamit. Terimakasih untuk waktunya" Ucap Pak Ryan dingin sambil berlalu.
Aku dan Pak Andre saling menatap satu sama lain melihat sikap Pak Ryan yang dingin dan terkesan acuh tak acuh.
"Emang gitu mbak Pak Ryan. Kami juga sering kerja sama dengan dia, dan orangnya emang sikapnya dingin" Pak Andre menjelaskan padaku. Aku hanya tersenyum maklum menanggapinya.
Aku pulang menggunakan kereta seperti biasa. Aku memang menyukai menaiki angkutan kota, entahlah vibenya terasa lebih bermakna aja.
Ketika aku berjalan menuju stasiun kereta ada suara mobil yang mengklakson di belakangku, segera ku berjalan minggir lagi. Mungkin aku menghalangi jalannya, pikirku.
"Dilla" Suara yang menyapaku itu tidak asing.
"Eh Pak Ryan.."Aku menolehkan kepalaku ke arah mobil yang mengklakson ku.
"Naik, biar saya antarkan" Suruh Pak Ryan.
"Tidak usah pak, saya jalan saja" Ku tolak dengan halus, tidak enak rasanya menumpang pada pria sedingin Pak Ryan.
"Naik, nanti saya anterin sampai rumah" Paksa dia lagi.
Aku akhirnya menuruti kata-katanya. Aku pulang dengan di berikan tumpangan oleh Pak Ryan, sesuai janjinya ia mengantarkanku sampai rumah.
"Terimakasih Pak" Ucapku berterimakasih pada Pak Ryan.
"Sama-sama, saya pamit" Balasnya, lalu pergi menjalankan mobilnya.
"Dilla ..." Ketika aku ingin masuk ke dalam rumah suara tak asing menyapaku.
"Mas Haris" Ucapku tak percaya. Pria yang pernah ku cintai dan ku pertahankan, bahkan ketika ia hampir di jodohkan aku berusaha untuk menggagalkan perjodohannya, pria yang ku temani dari nol, namun pergi karena menemukan yang lebih dariku.
"Hai, apa kabar?" Tanyanya basa basi, terlihat wajah yang tirus dan tak terurus. Tidak seperti ketika bersamaku, karena aku selalu memastikan ia baik-baik saja.
"Baik Mas..." Jawabku dengan ramah. Ya, aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu.
"Hehehe, Mas kangen Dil" Ucapnya tiba-tiba membuatku terkejut.
"Maafin mas ya. Mas emang brengsek dan bajingan karena ngelanggar janji Mas ke tembem. Maaf ya sekali lagi..." Lanjutnya dengan nada penyesalan.
"Iya Mas, aku sudah maafin. Gapapa, biarlah yang berlalu sudah berlalu. Lagi mas bener, banyak pria lain untukku" Ucapku mengulang kalimatnya ketika memutuskan ku dulu.
"Hehehe. Mas masih sayang sama kamu.." Ucapnya.
Ku tatap dirinya dengan datar, apa maksudnya mas Haris berkata seperti itu.
"Oh hahaha..bukannya mas sudah ada pacar baru?" Aku menyindirnya secata halus.
"Sudah putus. Mas , Mas baru sadar kalau mas sudah nyia-nyiain bidadari cantik yang pernah mas miliki" Ia menatapku dengan pandangan teduhnya yang selalu ku suka.
"Maaf mas , gua harus masuk. permisi" Aku pamit. Persetan jika tidak sopan, aku tidak ingin mengingat masa lalu.
Kini kehidupan ku sudah baik-baik saja, aku sudah bersinar dan berdamai dengan hidupku. Terkadang memang aku membutuhkan bantuan psikiater, dan aku tidak ingin hidupku kacau lagi karena orang semacam Mas Haris.
####
Belum tamat. kalau mau ceritanya jadi novel di komen ya. Buat yang baca terimakasih.