[Memasuki Isekai]
Kriiiing
Jam weker berdering nyaring. Nana buru-buru mematikan jam wekernya. Matanya masih mengantuk. Sambil memejamkan mata, Nana berbisik
"Dalam hitungan tiga..dua..satu..."
"NANAAA, BANGUUN!"
Suara yang sangat familiar sepanjang hidupnya. Teriakan merdu ibunya yang selalu membangunkan dirinya kalau Nana tidak segera keluar saat jam wekernya sudah berdering
"YA IBUU, NANA BANGUUN."
Dengan malas Nana beranjak dari kasurnya yang empuk. Gadis berusia 17 tahun ini segera keluar dari kamarnya, menyambar handuk dari tempat jemuran dan pergi ke kamar mandi.
Rutinitas pagi yang sangat membosankan
"Nana, ibu sangat berharap kamu lulus tes universitas X. Kamu tahu kan, jurusan itu sangat bergengsi dan bagus untuk masa depan kamu. Kamu harus berjuang keras.."
Nana mencoba menulikan telinganya. Sejujurnya Nana ingin masuk ke Universitas Y, namun sang ibu terus memaksa sehingga Nana tidak memiliki pilihan lain
"Coba punya jurus menghilang.." pikir Nana
"Nana, hari ini jangan terlambat pergi ke Universitas X ya. Tes nya di mulai pukul 9 pagi. Berangkat sama siapa?" kata Ibu Nana yang membuyarkan lamunan Nana
"Ya, ibu. Ini Nana sengaja berangkat lebih awal supaya nggak telat ke sana." Kata Nana mendesah pelan
"Dan untuk menghindari racauan ibu yang bikin pusing." Bathin Nana sambil mengunyah roti selai nya
"Nana naik kereta aja bareng Yoga dan mas Yazid." kata Nana lagi sambil meneguk susu coklatnya
Yazid dan Yoga adalah tetangga Nana. Mereka bertetangga sejak kecil. Yoga teman satu sekolah Nana dan juga mengikuti tes di Universitas Y, sedangkan Yazid berkuliah di Universitas Y di tahun ke 3
Mereka satu arah, dimana nanti Yazid dan Yoga akan turun lebih dahulu di stasiun Y.
Bukan tanpa alasan Nana berangkat bersama keduanya. Sejak kecil Nana selalu mengagumi Yazid yang terlihat dewasa dan mandiri. Sangat berbeda dengan Yoga yang kekanak-kanakan dan selalu usil. Kesempatan bersama Yazid walau hanya beberapa jam tidak akan mungkin Nana lewatkan begitu saja. Ini pula yang membuat Nana ingin mengikuti tes di Universitas Y, namun harapan itu harus mengalah dengan keputusan ibunya
"Nana berangkat ya ibu." Kata Nana cepat.
"Hati-hati ya Na. Semoga sukses." kata Ibu Nana
Nana mengangguk. Buru-buru Nana berlari ke luar rumah. Di pinggir jalan, terlihat Yazid dan Yoga sudah menunggu dirinya. Segera Nana menghampiri keduanya
"Maaf mas Yazid, Nana telat ya?" Kata Nana. Seperti biasa, Yazid hanya tersenyum sambil membelai kepala Nana
"Nggak, mas sama Yoga juga baru aja keluar rumah." kata Yazid
Yoga mencibir "Apaan, kita udah nunggu sekitar 15 menitan. Jangan bohong deh mas untuk nyenengin anak ini."
"Yoga.." Yazid menatap Yoga tajam
Nana meleletkan lidahnya ke arah Yoga. Yoga selalu begitu. Kalau saja Yoga bukan temannya dari kecil dan bukan adik Yazid, Nana bersumpah akan menendangnya hingga ke Saturnus
Ketiga nya berjalan menuju halte bis yang berada di luar komplek perumahan mereka
"Nana ujian di Universitas X ya?" Tanya Yazid
"Iya mas. Doakan Nana biar lulus ya." kata Nana. Entah kenapa hatinya berdebar-debar saat berdekatan dengan Yazid
Yazid mengangguk "Iya, jadi kita berangkat bareng tiap hari."
Wajah Nana sedikit memerah. Hal itu tentu saja sangat di harapkan oleh Nana. Nana melirik ke arah Yoga yang menatapnya sinis. Nana langsung meleletkan lidahnya ke arah Yoga dan disambut pelototan galak dari Yoga
"Ayo berangkat. Itu bis ke arah stasiun." kata Yazid menengahi perkelahian Nana dan Yoga
Sebuah bis dari arah Utara datang. Dengan cepat ketiga nya naik ke dalam bis yang hampir tidak menyisakan tempat duduk di jam-jam seperti saat ini. Tentu saja kedua pria ini memberikan tempat duduk untuk Nana sehingga Nana dapat menghemat tenaganya saat menghadapi sesaknya penumpang di gerbong kereta nanti
***
Nana, Yazid dan Yoga sudah berada di gerbong kereta. Mereka tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri. Untung saja gerbong tidak penuh sesak sehingga Nana tidak merasakan akan menjadi dendeng dalam gerbong kereta
Sekitar 45 menit kereta akan tiba di stasiun Universitas Y. Yoga dan Yazid bersiap untuk turun
"Semangat ya Na. Yang tenang ngerjain ujiannya. Kamu pasti bisa." kata Yazid sambil mengepalkan tangannya menyemangati Nana
"Iya mas, Nana semangat." Nana pun ikut mengepalkan tangannya sambil tertawa
"Awas jangan nangis kalo nanti gagal, otak udang." kata Yoga sambil mengacak rambut Nana.
"Yoga jeleek! Kusut rambut Nana." Teriak Nana sambil mencoba memukul Yoga, sayangnya Yoga dengan cepat berkelit sambil terbahak
"Yoga.." Yazid menjitak kepala Yoga membuat pemuda itu misuh-misuh
Yazid segera memperbaiki rambut Nana yang diacak oleh Yoga. Membuat jantung Nana berdetak tak karuan.
"Mm..Mas Yazid sana ke deket pintu. Udah mau berhenti ni keretanya." kata Nana berharap Yazid menjauhinya karena kalau tidak Nana bisa segera kena serangan jantung
Yazid tersenyum sambil mengangguk. Yoga dan Yazid segera keluar setelah pintu kereta terbuka.
"Semangat yaa otak udang." teriak Yoga keras sebelum pintu kereta kembali tertutup. Nana tidak bisa membalas ucapan Yoga dan hanya bisa melotot melihat Yoga menjulurkan lidahnya kearah Nana
"Yoga jelek nyebelin!" gerutu Nana
Kereta kembali berjalan. Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke stasiun Universitas X
Kereta bergerak perlahan saat hampir memasuki stasiun, tiba-tiba kereta berguncang keras seakan menabrak sesuatu. Semua penumpang panik, tak terkecuali Nana yang terhuyung akibat goncangan dalam kereta.
DUUK
Nana merasakan kepalanya membentur sesuatu lalu kemudian gelap
***
Nana membuka matanya. Semua orang terlihat biasa saja. Kereta masih berjalan pelan memasuki stasiun Universitas X
"Heh, aku mimpi kayaknya.." Bisik Nana
Kereta berhenti di stasiun Universitas X. Nana segera turun dan sedikit berlari menuju bis yang membawanya menuju Universitas. Nasib baik bisnya belum berangkat. Nana segera naik dan duduk manis di dekat pintu. Bis mulai melaju
Dahi Nana berkerut melihat beberapa pemuda berseragam militer lalu lalang di jalanan. Seingat Nana itu bukan jas mahasiswa Universitas X
***
Nafas Nana ngos-ngosan saat sampai di tempat ujian. Segera Nana mengeluarkan kartu ujian dan mencocokkan nomornya dengan nomor meja. Nana mendapatkan mejanya, namun sudah ada seorang gadis duduk di tempatnya
"Misi mbak, ini meja aku." Kata Nana menyela obrolan gadis itu dengan temannya. Gadis itu menoleh dengan kening berkerut
"Tempat kamu? Ini tempat aku." Kata gadis itu sambil mengeluarkan kartu ujiannya
Ganti dahi Nana yang berkerut. Nana pun mengeluarkan kartu ujiannya.
"Lihat, ini nomorku. Ini tempatku." Kata Nana
Keributan pun tak terelakkan. Seorang pengawas ujian datang menengahi
"Bu, orang ini ngaku-ngaku ini tempatnya." Kata gadis itu sambil menunjuk Nana
"Dia yang ngaku-ngaku. Sudah jelas ini tempat aku, bu." Kata Nana tak kalah keras
Pengawas itu memeriksa daftar nama peserta ujian lewat iPad nya
"Nomor ini atas nama Naveela Ardiansyah." Kata pengawas itu
"Benar kan? Itu aku. Ini tempatku." Kata gadis yang bernama Naveela. Raut wajah lega tergambar di wajahnya
Nana berkerut. Tidak mungkin sekolahnya salah mendaftarkan dirinya. Tidak boleh terjadi!
"Kamu, siapa kamu?" Tanya pengawas itu dengan tatapan menyelidik.
"Aku Nana Miradana. Aku bersekolah di SMU XYZ. Guruku yang mendaftarkan aku." Kata Nana
Pengawas itu melihat Nana dari atas ke bawah
"Sebaiknya kamu ikut ke kantor. Saya akan panggil Dewan Keamanan Antariksa." Kata pengawas itu
Dengan cepat beberapa pria berada di belakang Nana dan menyuruh Nana untuk mengikuti pengawas itu
"Apa-apaan ini? Apa itu Dewan Keamanan Antariksa?" Bathin Nana
Tiba-tiba hatinya menjadi ciut dan ketakutan saat melihat ke sekeliling. Harusnya ada beberapa wajah teman-temannya yang dikenalinya. Namun sejauh mata Nana memandang, semua wajah itu tampak asing
***
Ibu Nana berdiri di depan Nana dengan wajah datar. Nana berada di tahanan Dewan Keamanan Antariksa yang Nana sendiri baru tahu kalau ternyata itu ada
"Iya..ini anak saya. Tolong maafkan dia. Dia terlalu stress karena tidak mendaftar ujian." Kata ibu Nana
Kening Nana berkerut.
"Ibu berbohong?" Bathin Nana. Namun gadis itu diam saja
"Baiklah, karena anda sudah mengkonfirmasi silakan bawa pulang putri anda. Kami akan mengantarkan anda." Kata seseorang dengan name tag Avilian
Ibu Nana mengangguk dan beranjak keluar ruangan. Nana mengikutinya. Sepanjang perjalanan mereka berdiam diri. Sepanjang perjalanan Nana melihat banyak pemuda dengan pakaian militer. Sepertinya ini merupakan trend baru di kalangan para pemuda, pikir Nana
Setelah sampai di rumah. Ibu Nana segera masuk kedalam rumah dan Nana mengikutinya
"Ibu, apa itu Dewan Keamanan Antariksa?" Tanya Nana
Ibu Nana berbalik sambil memandang Nana dari atas ke bawah
PLAAK
Nana terkejut. Ibunya menamparnya. Walau ibunya memang cerewet tetapi tidak pernah sekalipun ibunya menamparnya
"Ibu.."
"Siapa kamu?!!"
Nana terhenyak. Apa ibunya bercanda?
"Ibu..ini Nana. Tadi ibu mengakuiku di kantor sana.." suara Nana bergetar
"Kamu alien? Mengapa dari sekian ribu orang kau memilih menyamar menjadi putri ku?!"
"Ibu, ini Nana!"
"Tdak! Nana ku sudah meninggal ketika usia 5 tahun!"
DEG..
***
Ibu Nana memperhatikan gadis yang sedang menangis di ruang tamunya. Benarkah dia Nana? Dari postur dan wajah memang mirip dengan ibu Nana saat muda dulu
"Tante, aku bawakan.." seseorang masuk ke dalam rumah Nana dan tertegun menatap Nana.
Nana membulatkan matanya melihat seseorang di depannya. Nana segera menghambur ke arah orang itu
"Yogaaa..kamu kenal aku kan?"
Yoga menatap horor ke arah Nana dan langsung menghempaskan gadis itu hingga terjatuh ke atas sofa. Yoga segera mengambil pistol di pinggangnya dan menodongkan ke arah Nana
"Siapa kau?!!" Teriak Yoga
Tubuh Nana bergetar ketakutan. Kenapa semua orang tidak mengenalinya. Kenapa Yoga menodongkan senjata padanya?
"Kalian semua kenapa? Ini aku Nana.. Kenapa kalian tidak mengenaliku sama sekali?!"
Nana menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Terdengar isak tangis gadis itu
Yoga masih menatap Nana dengan awas sambil melihat ke arah ibu Nana
"Tante, apa yang tante lakukan?!" Teriak Yoga saat melihat ibu Nana mendekati Nana
Ibu Nana memegang bahu Nana, membuat gadis itu menengadah dengan wajah bersimbah airmata. Ibu Nana mengamati tanda lahir yang berada di leher kiri Nana
"Sampai tanda lahirnya pun sama.." bisik Ibu Nana
"Tentu saja bu. Aku Nana. Ibu ingat?" Kata Nana pelan
Ibu Nana menggeleng "Nana ku sudah meninggal saat berusia 5 tahun.."
Nana terdiam sejenak "Usia 5 tahun, aku memang pernah sempat tertabrak mobil. Tetapi mas Yazid berlari menyelamatkan aku. Mas Yazid, kakaknya Yoga.."
Yoga menurunkan senjatanya "Yazid?"
Nana memandang Yoga sambil mengangguk
"Dulu..aku punya seorang kakak tetapi kata ibu dia meninggal terkena demam berdarah di usia empat tahun tepat sebulan sebelum aku lahir…"
Yoga menyimpan senjatanya lalu duduk di sebelah Nana. Nana beringsut ke arah ibunya seakan masih takut dengan Yoga
"Kamu pernah dengar dunia paradoks?" Tanya Yoga
"Pernah, dunia paradoks di yakini sebagai dunia yang berbeda dimensi dan waktu, atau bisa dibilang dunia paralel?" Kata Nana
"Benar. Sepertinya kamu berasal dari dunia paralel. Ceritakan apa yang ada di duniamu?" Tanya Yoga
"Duniaku? Semua sama persis dengan yang ada di sini. Duniaku indah, damai. Ada ibu yang menyayangiku, tetanggaku yang usil bernama Yoga, mas Yazid yang penyayang.."
Wajah Yoga sedikit memerah mendengar kata-kata Nana
"Sama ya? Bedanya di sini tidak ada Yazid, tidak ada dirimu dan..dunia kami tidak tenang karena adanya serbuan alien."
Yoga menatap Nana dalam. Nana merasakan ada sebuah kerinduan di sorot mata Yoga
"Mungkin juga Nana di sini meninggal karena seharusnya Yazid menyelamatkan Nana. Tetapi karena Yazid meninggal, Nana ikut meninggal.." kata Yoga lagi
Nana terpaku. Kesedihan mulai merambahi hatinya. Biar bagaimanapun dia ingin pulang ke rumahnya, ke dunianya
"Sebelum ada kejadian ini, kau beraktivitas dimana?" Tanya ibu Nana yang sedari tadi hanya diam
"Aku ikut ujian di Universitas X. Saat hampir tiba, kurasakan kereta tergoncang. Kupikir itu mimpi karena saat kubuka mataku semua terlihat biasa.." kata Nana
"Mungkin di situ adalah gerbang paralelnya. Kau ingin pulang kan? Ayo kuantar." Kata Yoga
"Tante ikut, Ga." Kata ibu Nana
Ibu Nana melihat ke arah Nana sambil tersenyum "Tuhan sangat baik padaku. Bertahun-tahun aku merindukan Nana. Kini dia hadir di depanku. Walau bukan Nana ku, kau tetap Nana.."
Nana tersenyum. Tiba-tiba Nana sangat merindukan sosok ibunya di dunia sebelah. Nana juga menatap ke arah Yoga
"Kau tahu, Yoga di duniaku sangat usil dan menyebalkan. Tapi Yoga di sini terasa sangat baik walau awalnya menakutkan." Kata Nana sambil menggenggam tangan Yoga
Pipi Yoga memerah mendengar ucapan Nana "Sepertinya kami memang tidak bisa mengutarakan perasaan kami yang sebenarnya.."
Yoga beranjak sebelum Nana mempertanyakan sesuatu.
"Ayo cepat. Orang-orang Dewan Keamanan Antariksa mungkin masih mengintai. Kita harus waspada."
Yoga berjalan membuka pintu. Tiba-tiba Yoga terkejut karena Avilian berada di depan pintu
"Aku mendengar semuanya. Gadis itu alien? Serahkan pada kami. Kami bisa membedah tubuh dan otaknya." Kata Avilian sambil meraih Nana
Ibu Nana dengan sigap menarik tangan Avilian dan memeluk perutnya erat-erat
"Yoga, bawa Nana ke terowongan kereta! Cepat!"
"Ibuu.." teriak Nana saat melihat Avilian berusaha melepaskan diri dari pelukan ibu Nana
Ibu Nana tersenyum "Pergilah nak, ibumu pasti merindukanmu seperti aku merindukan Nana ku."
Yoga segera menarik Nana untuk naik ke motornya sementara ibu Nana menghalangi Avilian mengejar Nana. Yoga segera memacu motornya. Nana memejamkan mata saat mendengar suara tembakan dari dalam rumah ibu Nana
"Dia orang jahat. Kau tidak boleh tertangkap olehnya. Pegangan yang erat!" Kata Yoga
Motor Yoga melaju membelah jalan raya. Tak lama Nana dan Yoga sampai di stasiun Universitas X. Yoga dan Nana segera menyusuri rel untuk menemukan terowongan yang tidak jauh dari stasiun
"Kau harus berlari masuk ke terowongan Nana. Mungkin kau bisa kembali.."
DOR
Sebuah peluru menembus bahu Yoga membuat pemuda itu limbung ke arah Nana. Nana dengan sigap menahan tubuh Yoga. Gadis itu terbelalak melihat Avilian berdiri tak jauh dari mereka sambil menodongkan senjata.
"Nana pergi!" Dorong Yoga
"Yoga.."
"Pergilah, temui Yoga usilmu di sana ya. Baik-baik dengannya ya.." kata Yoga sambil tersenyum sendu
Nana tidak faham arti senyum Yoga. Namun saat melihat Avilian mendekat, Nana segera berlari menuju ke terowongan
"Berhenti!! Ku tembak kau!" Teriak Avilian. Yoga menghalangi Avilian mengejar Nana
"Lari Nana!!" teriak Yoga
DOR..
Nana memejamkan mata sambil terus berlari. Sudah dua orang meninggal karena dirinya. Nana terus berlari menuju terowongan hingga melihat lampu kereta yang datang berlawan arah. Nana terkejut tidak bisa menghindar
"AAAAHHH.."
***
"Na..nana..bangun.."
Perlahan Nana membuka matanya. Kepalanya sakit luar biasa. Hal pertama yang dilihatnya adalah ibunya
"Ibu.."
Ibu Nana tersenyum sambil menghapus airmatanya
"Syukurlah kau sadar. Kau kecelakaan kereta. Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri. Ibu sangat khawatir.."
"Ibu.."
"Sudah, jangan banyak bicara dulu. Kau harus segera sembuh ya. Ibu sayang padamu." kata Ibu Nana sambil mengecup kening Nana
Nana memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas lega.
"Aku pulang.." bathin Nana
***
Sudah tiga hari Nana dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih kuat
"Ibu.."
"Ya?"
"Ibu tidak marah? Aku gagal ikut ujian universitas X.."
Ibu Nana tersenyum sambil mendekati Nana. Wanita itu membelai kepala Nana lembut
"Kenapa harus marah? Ibu bersyukur kau baik-baik saja. Ibu sudah tidak memperdulikannya. Kau bisa masuk universitas manapun yang kau mau."
Nana tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara dari pintu
"Nanaa! Kau memang selalu bikin jantung copot. Dasar otak udang!"
Nana terkekeh, itu suara dan panggilan sayang Yoga padanya. Nana menatap ke arah pintu sambil tersenyum lebar
Senyum Nana memudar saat melihat Yazid dan Yoga tersenyum lebar di ambang pintu kamar rawat Nana.
Yazid dan Yoga yang mengenakan seragam militer...