"Hei cepat bawakan ini! Cepat...! Cepat!! semuanya mari bersiap! 3 menit lagi pertunjukan akan dimulai." Seseorang berhoodie hitam menginterupsi ku yang masih duduk bergeming di sudut ruangan.
Ruangan itu lekat dengan nuansa hitam pekat, Banyak peralatan untuk sound dan juga pengambilan gambar.
"Sebenarnya dimana aku?" Aku masih terbengong-bengong memindai sekitar ruangan.
Kehampaan ku tiba-tiba terisi oleh seseorang yang datang dan menepuk pundakku dengan perlahan. Lembut dan harum. Bukannya lancang, tapi aroma tubuhnya memang menguar begitu lembut di hidungku.
"Chagi, cepat pakaikan bajuku." Ucapnya sambil tersenyum ke arahku.
Dan apa tadi? Dia memanggilku Chagi?
Ouh, sebentar lagi aku akan gila. Sebenarnya dimana aku saat ini? mengapa ada pria tampan yang bertubuh tinggi datang dan tiba-tiba memanggilku dengan sebutan Chagi?
Chagi, kalau tidak salah artinya adalah Sayang. Apa maksudnya aku sayangnya? Aku masih bergeming di hadapannya, bahkan aku merasakan tubuhku membeku dan menyatu dengan lantai..
"Chagi, apa kamu sakit?" Tanyanya yang begitu mengkhawatirkan keadaanku. Tapi siapa aku disini? mengapa banyak peralatan makeup seperti kuas yang menempel di bajuku. Apakah aku makeup artist dan hair stylist?
"Oh, tidak aku baik-baik saja." Jawabku menggunakan bahasa yang asing di telingaku tapi mulutku begitu akrab dan lancar mengucapkannya.
"Oh, Baiklah kalau kamu baik-baik saja. Cepat pakaikan kemeja dan aksesoris ku." Pintanya dengan tatapan manja yang begitu menggoda. Bahkan mungkin sekarang air liurku menetes.
"Untuk acara nanti malam, kamu akan datang kan?" Tanyanya dengan tangannya yang sudah melingkar di pinggangku.
Apa ini? Mengapa cara bicaranya begitu dekat? Apakah disini aku berperan menjadi pacarnya?
"Em... semoga aku bisa datang. Kenapa memangnya?" Tanyaku yang benar-benar tak mengerti maksudnya.
"Kenapa memangnya? Sudah tentu kamu harus datang. Nanti malam acara pemberian anugerah penghargaan. Aku ini idol ternama, masa iya kamu untuk urusan itu harus ku jelaskan lagi? Chagi, kita sudah membahasnya sebulan yang lalu." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. Dari cara bicaranya dia pasti sangat kesal.
"Oh, iyakah? Maaf aku hanya bercanda Chagi" Kataku sambil tersenyum simpul menatapnya dan tanganku mulai menata rambutnya.
Oh, God!! Skill darimana aku bisa menata rambut dan juga riasannya?
"Chagi, kamu banyak diam hari ini. Apa tidak enak badan?" Tanyanya lagi saat aku mulai mengancingkan bajunya.
"Chagi!" Serunya padaku.
"Iya?" Jawabku santai. Aku terlalu fokus mengerjakan tugasku sampai lupa jika dia masih mengajakku berbicara.
"Jangan suka melamun." Ucapnya kemudian dan mengusap sebelah pipiku. Dan aku hanya bisa membalas senyumannya.
Malam harinya.
Acara penghargaan telah selesai dan aku berjalan bertiga satu dengan lelaki yang mengaku sebagai pacarku, dan satu lagi adalah teman satu grupnya.
"Kau duduk di belakang saja!" Kata si lelaki yang mengaku sebagai pacarku.
"Apa? Kenapa?" Celetuk seseorang yang lainnya yang ikut bersama kami dan aku mengenalnya. Panggilannya adalah Seok jin. Dia yang membukakan pintu untukku.
Disini aku hanya diam melihat pertengkaran antara teman satu grup yang juga satu kamar ini. Sebab yang mengaku sebagai pacarku adalah Min yoongi. Terlihat sekali jika dia tak suka aku berinteraksi dekat dengan Jin.
"Yang mau ikut denganmu itu siapa? Aku hanya ingin mengantarnya saja." Jawab Jin yang kemudian tersenyum padaku. " Iya kan Noona?"
"A... ha ha iya." Jawabku yang begitu kikuk seolah aku sangat takut jika pacarku akan marah.
Jin pergi dan aku kemudian mulai duduk di bangku sebelah kemudi. Pria di sampingku kemudian memberikanku buket bunga dengan kasarnya dan menempatkannya tepat di dadaku.
Tak tau apa maksudnya tapi dia menyembunyikan senyumannya. "Ini!" Ketusnya.
Aku tersenyum dalam hati, sungguh aku suka memilikinya. Entah cepat atau lambat, semua ini akan berakhir, aku tetap merasa beruntung dan bahagia pernah bersamanya. Menjalin hubungan yang tak diketahui oleh banyak orang.
Waktu sungguh cepat berlalu, Hari ini ponselku mati tak ada notif apapun darinya. Tapi aku tetap saja menjalankan aktivitasku seperti biasanya.
Hari ini pemotretan untuk salah satu brand ternama. Dia sedari tadi hanya bersikap dingin padaku dan aku tak mengerti apa maksudnya dan mengapa dia bersikap begitu. Padahal kemarin semuanya baik-baik saja.
Ah, entahlah... aku sudah bersiap untuk semuanya. Bersiap untuk kemungkinan terburuk bila dia akan membuangku suatu saat nanti karena kami jauh berbeda. Dia si kaya dan aku si super sederhana.
"Biar aku yang menata rambutmu ya?" Tanyaku pada Jin.
"Tidak usah, Noona urus saja pacar Noona yang pencemburu itu." Ketusnya berbicara.
"Apa maksudnya Jin, kami tidak ada apa-apa. Maksudku semalam kami baik-baik saja." Jawabku menatapnya penuh tanya.
Dia tak menjawabku dan lebih memilih memberikan ponselnya padaku. Aku melihat ponselnya dan seketika aku tertawa.
"Oh..." Kataku sambil mengangguk.
Aku mengulum senyum dan beralih menatapnya, si laki-laki berkulit putih dalam balutan jaket sporty berwarna putih bergaris merah.
"Sudah siap semuanya?" Tanyaku tapi dia tak menjawabku dan hanya diam saja, menatapku dingin lalu kembali acuh.
Aku mengulum senyumku. Begini rupanya punya pacar tampan dan pencemburu? Kya...! Rasanya sungguh mengasyikkan.
Aku menata rambutnya dan merapikan sedikit riasannya. Dia bergeming sungguh dingin dan datar.
Sampai pada saat dia harus segera melakukan pemotretan, dia berdiri dan aku menertawakannya. "Ha-ha-ha, kamu mau foto? yakin begini?" Aku menunjuk kakinya yang masih memakai sandal jepit.
"Mwo?" Dia tertawa terbahak-bahak setelah melihat kakinya yang hanya memakai sandal.
Dia tertawa terbahak-bahak, sungguh manis wajahnya yang ceria membuatku candu. Dia begitu manis, bahkan matanya sampai menyipit hilang ditelan pipinya yang semakin naik dan memerah.
Dia menarikku, membawaku menuju ke ruang pas, membawaku kedalam pangkuannya lalu menghujaniku dengan ciuman. Sesaat kami saling berbagi kehangatan.
Aku sungguh bahagia dalam masa indah ini. Dia begitu nyata. "Aku paling ga bisa marah sama kamu Chagi." Ucapannya sambil tersenyum menatapku.
Dan aku balas memeluknya begitu hangat sambil mengusap punggungnya. "Na Doo." Jawabku.
Lagi dia memelukku penuh kasih dan....
Tok ..!
Tok...!
"Mbak, bangun udah pagi!" Semuanya buyar saat seseorang membangunkan ku dari mimpi terindah yang pernah kumiliki.
Ah, andai saja aku bisa bertukar raga barang sesaat atau bisa menghilang dan berpindah tempat dalam sekejap. Sudah pasti aku akan menjadi jumper dan mengunjungimu saat kamu terlelap.
Tampan dan menawan dalam putih balutan. Itulah kamu, satu bintang yang begitu terang, yang seluruh dunia mengenal namamu Min Yoongi, dan kamu yang tak pernah tau keberadaan ku. Jalani hidup bahagiamu, ku bahagia asal kau bahagia.