Masa – masa sekolah paling indah sih katanya di SMA aku rasa sedikit berbeda dengan apa yang kursakan, tapi sekolah sangat indah ketika memiliki sahabat yang sangat baik. Rachel dan Doni adalah sahabatku, sebentar lagi sekolah kami akan mengadakan debat terbuka untuk kelas IPS, semua sibuk mencari bahan debat dan lebih sering mengadakan meeting bersama ini sangat menyenangkan karena ada Arya di dalam timku selain setim dengan kedua sahabatku ternyata Arya juga satu tim denganku.
Arya itu anak IPS tapi berbeda kelas denganku dan kedua sahabatku Rachel juga baru – baru ini mengenal dia memang sering ku ceritakan ya seperti Rachel sering menjadi tempat curhatku tentang perasaanku pada Arya sedangkan Doni sudah tahu Arya, kalau aku sudah mengenalnya dari masa ospek, aku suka dengannya.
Beberapa minggu debat akan di mulai aku melakukan meeting lagi bersama dengan anggota timku.
“hari ini meeting untuk apa?” Doni bertanya.
“ya buat debat 3 minggu lagi dong Doni”jawabku.
“iya gua tahu maksudnya kemarin kan sudah apa masih ada yang kurang”tanya Doni lagi
“gak tau” jawabku singkat.
Rachel hanya tersenyum kecil melihatku debat dengan Doni.
Tidak lama Arya datang dengan membawa laptop dan berkas bahan debat kami, ngomong – ngomong dia ketua tim kami.
“ udah kumpul semua?” tanya Arya sembari menaruh bawaannya.
“udah” singkat Doni
“ kita mau bahas apa sekarang” Rachel bertanya.
“aku hanya perlu beberapa bahan lagi untuk persiapan kita debat”
jelas Arya.
“masih ada yang kurang ya?” tanyaku.
“ya” jawab Arya.
Meeting dimulai dari Arya yang menanyakan ide seperti biasa kepada kami, Rachel selalu menjadi yang pertama memberi ide, tema debat kami tahun ini adalah tentang masalah lingkungan di Negara kami.
“bagaimana jika kita cari riset lagi tentang hutan dan sungai di beberapa daerah terpencil lalu kita bandingkan dengan daerah kota” Rachel memberi usul.
“hm.. bisa tapi-,” kalimat Arya terpotong oleh Doni.
“ apa gak ribet nyari riset lagi, kecuali carinya di internet sih gak apa apa” protes Doni.
“Doni jangan setengah – setengah dong kalo bikin bahan” tegur ku.
“masalahnya waktunya mepet Lia” kata Doni.
“oke, oke gini ajah kita bagi 2 tim lagi gimana?” usul Arya.
“boleh jadi lebih efisien waktu” sahut Rachel.
Akhirnya keputusan membagi tim di setujui semua anggota, dengan mengambil nomor acak.
“kita acak pake nomor ya” usul Arya.
“caranya?” tanya Doni.
“jadi disini ada 2 nomor yang sama jika diantara kalian mendapat nomor yang sama kalian akan menjadi satu tim untuk riset bagian 1 dan selanjutnya tim riset bagian 2” jelas Arya.
“yaudah mulai ajah arya” kata ku.
Kami mulai mengambil nomor acak pada Arya, dalam hitungan ke tiga akan dibuka secara bersamaan.
“satu” Doni mulai berhitung.
“dua” lanjut Rachel.
“tiga” lanjutku.
Dan ternyata aku satu tim dengan Arya, rasanya pengen loncat sambil bilang yuhuu.
“seneng lu” ketus Doni.
“apaan sih “ kataku dengan pipi memerah.
Doni memang sudah mengetahui jika aku menyukai Arya sejak dulu, dia selalu bilang percuma aja lu nungguin cowo cuek kaya dia ibarat lu lagi nunggu ayam beranak itu yang Doni katakan.
“oke besok jangan telat ya guys” kata Arya.
“kira – kira besok jam berapa kumpul” tanya Rachel
“ya abis pulang sekolah dong hel” kata Doni.
Rapat diakhiri dengan singkat dan memberikan efek taman Bunga dihati, rasanya pengen cepet – cepet besok, pelajaran demi pelajaran sudah terlewat akhirnya waktu jam istirahat tiba.
“Lia lu liat Rachel gak?” Doni bertanya
“kenapa gitu” kataku
“yee bukannya jawab malah nanya lagi, makan apa itu?” Doni mengambil topik acak.
“ya kenapa biasanya juga lu gak nyariin dia” jawabku
Doni mencomot makanan ku
“soalnya Rachel agak murung dari abis rapat tadi” jelas Doni dengan mulut penuh makananku.
“kenapa gitu?” tanyaku
“gara – gara lu se tim sama si Arya kali” masih memakan makananku
Apa iya gara – gara itu, apa jangan- jangan Rachle suka sama Arya. Itu yang ada dalam pikiranku, semenjak dari itu aku selalu memperhatikan sikap Rachel pada Arya.
Bel pulang sudah berdering tanda berakhirnya jam sekolah, seharusnya aku merasa senang dan antusias sekarang, tapi karena perkataan Doni kemarin pikiranku jadi tidak karuan. Arya dan Doni sudah menunggu di depan gerbang, aku dan Rachel segera menyusul.
“ngapain sih, lama amat” kata Doni dengan muka bete
“kenpa lagi sih lo, PMS mulu”jawabku
“buset dikira cewe gue” Doni tertawa kecil.
Pada saat mau berangkat ternyata Arya membawa motor kesekolah tadinya kita mau naik angkutan umum bersama, akhrinya Arya menawarkan untuk siapa yang mau berangkat bareng dengan nya nanti kita akan bertemu di depan Mall Squad. Dari situ aku memperhatikan sikap Rachel, tiba – tiba Doni menyarankan agar kami berangkat sesuai dengan tim riset masing – masing.
“ada yang mau bareng sama gua” Arya menawarkan
“hm..” kataku
Sambil melirik Rachel yang sepertinya juga ingin berangkat bareng dengan Arya.
“gini aja kita berangkat dengan tim riset masing – masing” usul Doni
Mata Racahel melotok kearah Doni , mungkin Arya dan Doni tidak melihat tapi aku memperhatikan Rachel karena ingin membuktikan perkataan Doni.
Aku berangkat duluan dengan Arya, setelah sampai di Mall Arya mengajakku menunggu di sebuah café karena Rachel dan Doni pasti agak lama dilihat dari macetnya jalanan tadi.
“kita nunggu di coffestar aja yuk” ajak Arya
“duh gua gak bawa duit lebih lagi” gumamku
“ Lia hey kenapa sih” tanya Arya
Karena aku kaget diajak ke café oleh Arya antara senang dan bingung karena aku tida membawa uang lebih.
“tenang gua yang traktir” lanjut Arya
“eh,se-seriusan lu mau bayarin gua” aku memastikan
“iyalah masa gua ngajak cewe terus bayar masing – masing “ kata Arya
Bener – bener pengen teriaak kegirangan rasanya, gua diajak ke café sama gebetan, sesampainya di café aku bingung mau pesen apa akhirnya aku samain aja sama Arya, ternyata kopi yang Arya pesen itu pait bangeet untung cake nya manis.
SLRUUP Arya meminum kopinya, aku juga ikutan minum
“ UHUKUHUK, aduh” aku mengerutkan dahi karena pahitnya kopi
“hahaha kenapa?” tanya Arya sambil tertawa
Baru kali ini gua liat dia ketawa manis banget sih liat cowo cuek senyum kaya begitu. Itu pikirku lalu Arya memakan setengah cakenya.
“kenapa juga pesen kopi kaya gua” tanya Arya
“gua gak tahu, maklum jarang nongki” jawabku
“Arya lu gak mau punya gebetan atau pacar gitu?” aku mengambil topic acak
“ada” singkat Arya
Ternyata Arya sudah punya cewe yang dia suka.
“siapa?” tanyaku dengan muka murung.
“ ada deh-,” katanya sambil menyeruput kopi.
“pokonya dia suka pake pin kupu – kupu” jawabnya
Pin kupu – kupu, pada saat itu aku tidak ngeh kalau bukan cuman aku yang memakai pinnya ada wanita lain juga yang mengenakan pin itu, tapi aku sudah berharap sangat besar saat itu. Setelah 20 menit kemudian Doni dan Rachel datang juga mereka langsung menunggu di depan pintu masuk mall aku dan Arya bergegas pergi dari café.
“kalian kemana dulu” tanya Rachel
Ekspresi Rachel sangat mudah dibaca dia sangat tidak mood hari ini
“kami ngopi dulu tadi” jawab Arya
“curang lo pada ngopi kaga ngajak ngajak” protes Doni
“cepetan masuk lama lu pada” kata ku
Sesampainya di toko buku kami langsung mencari riset masing – masing, pencarian risetku dengan Arya sangat lancar bahkan moment – moment langka terjadi padaku yaitu melihat Arya tertawa dan tersenyum yang membuat momen ini special adalah Arya tertawa dan tersenyum karena ku dan itu membuat aku sangat gembira.
Di sisi lain Doni tampak serius mencari riset dengan membaca buku geologi dan berita, toko ini sebenarnya multifungsi sebagai perpus juga jadi kita tidak dilarang membaca sepuasnya bahkan ada tempat duduk dan meja seperti perpustakaan pada umumnya hanya dilarang untuk menjiplak karena ini riset kami tentu sudah meminta izin kepada petugas.
“mereka akrab sekali ya” gumam Rachel
“siapa?” tanya Arya sambil membaca
“Lia dan Arya” jawab Rachel
Doni akhirnya berhenti membaca dan mengamati kedekatanku dengan Arya
“menurut gua mereka tidak akan pernah ada hubungan apapun” tegas Doni
“kenapa lu yakin banget?” tanya Rachel
“karena gua gak akan biarin itu terjadi” jawab Doni sembari lanjut membaca
“hah, m-maksudnya gimana?” Rachel memastikan
“tidak ada replay” jawab Doni
“lu suka sama Lia?” tanya Rachel
Doni hanya mengangkat bahu dan tetap fokus mencari riset, setelah selesai kami berkumpul di satu meja dan merundingkan bahan yang kami dapat.
“bagaimana?” tanya Arya
“sepertinya ini sudah perfek” jawab Doni
Mata Arya tertuju pada Rachel, awalnya aku tidak memiliki kecurigaan sama sekali pada Arya justru aku lebih memperhatika tingkah Rachel, setelah selesai kami akhirnya bisa pulang sekitar jam 7 malam kami selesai meriset bahan untuk debat.
Dan drama siapa yang pulang bareng Arya kejadian lagi, kali ini Arya menawarkan Rachel untuk pulang bersama padahal aku baru saja mau bilang nebeng.
“okeh tinggal latihan hapal bahan aja ya” kataku.
“iya” jawab Doni.
“hm.. Arya aku-,” kalimatku tepotong
“Rachel mau bareng” Arya menawarkan
“eh, hm.. boleh deh” jawab Rachel dengan wajah tersenyum
“temen – temen duluan ya “ pamit Arya dan Rachel
Doni memang menyadari betul perasaanku dia tahu hati ku sakit melihat Rachel dengan Arya.
“ayoo kita pulang by" Doni menarik tanganku
“iish apaan sih lu by by kaya apaan ajah” ketus ku
“jangan marah dong by” Doni mengejek
“apaan sih Doni” kataku dengan emosi.
Doni mencoba menghiburku tapi mood ku sudah hancur, aku berjalan meninggalkan Doni dan mencari angkutan umum.
“ yee jangan ge’er lu, by itu chuby maksudnya” teriak Doni.
Rasanya campur aduk hari ini perasaanku dari yang senang hingga melayang sampai dibuat jatuh sakit tidak berdarah, hanya karena satu cowo cuek itu.
Triiing … suara notif di hpku seperti ada sesuatu di grup IPS tapi tiba – tiba saja aku di keluarkan dari grup sebelum tahu notif apa itu aku mencoba menghubungi Doni dan Mela karena mereka admin grup kumpulan IPS itu. Mela tidak membaca pesanku Doni juga alesannya sibuk ekperimen ngedit video, kupikir sudahlah nanti saja di sekolah.
****
Keesokannya aku masuk sekolah seperti biasa moodku sudah lumayan membaik, Doni yang baru datang langsung duduk diam di meja nya dan memainkan ponselnya sebenarnya ada apa dengan anak itu tumben – tumbennya gak ada nyapa sama sekali, aku putuskan untuk menghampiri Doni sekalian nanyain notif di grup semalam.
“pagii Doni” sapaku
“oh iya pagi Lia” Doni terkejut
“kenapa sih muka lo tegang amat” selidiku
“gak ada apa – apa” sembari memainkan ponselnya.
Datanglah Rachel dengan wajah yang berseri – seri sepertinya moodnya sedang berada di level seratus persen, seperti biasa dia menyapaku dan Doni.
“pagii my bestiee” sapa Rachel
“pagii juga hel” jawabku
Doni masih sibuk dengan ponselnya
“Doni kenapa sih, sibuk amat gak mau kasih selamet sama gue” kata Rachel
“selamet?” tanyaku
“iya lu juga kenapa malah keluar dari grup sih” jelas Rachel
Doni melotot kearah Rachel seperti memberi kode.
“emang ada apa sih, ini juga gue lagi mau nanya soal itu sih ke Doni diakan admin” jelasku
Lalu mela datang dengan memberi selamat kepada Rachel.
“selamet jadiaan yaa sama Aryaa, semoga gak berantem ya” kata Amel.
“aduuh” Doni menepak jidat.
“HAH ja-jadian, A-Arya ketua tim kita?” tanyaku dengan menahan tangis.
“yooi,”
kata Amel
"ikut gua" menarik tangan Rachel
Aku hanya bisa diam seribu bahasa saat itu rasanya seperti oksigen menghilang disekitarku sesak dada ku, ingin aku menangis sejadi – jadinya. Yang membuatku sakit bukan hanya karena Arya saja tapi sahabatku tahu semua tentangku dan Arya lalu kenapa dia datang memberi tahuku dengan wajah bahagia seolah dia tidak tahu perasaanku.
Seminggu lagi menuju debat meeting dilakukan semakin intens tapi aku tidak banyak bekomentar, Doni mencoba menghiburku tapi dia juga menyembunyikan semuanya dariku lantas aku ini apa dimata mereka.
“Lia lu kenapa diam aja dari tadi?” tanya Arya
“gak ada yang perlu gua komentarin” ketus ku.
Rachel nampak lebih diam dari biasanya dia juga terlihat seperti tidak enak padaku.
“jika ada yang mau lu usul ngomong aja” ketusku pada Rachel.
“pleas Lia jangan bawa – bawa perasaan pribadi ke debat ini” kata Rachel.
“huh gila gak abis pikir gue” seruku marah
Aku meninggalkan meeting lalu pergi ke perpus sekolah Doni mengikuti dari belakang.
“selamat” singkat Doni kepada Rachel sebelum menyusulku ke perpus
Di perpus aku hanya bisa menutupi diri dengan buku sebagai tameng agar tidak terlihat oleh yang lain jika aku menangis. Doni datang menghampiriku.
“Lia maafin gua tapi maskudnya gua bukan nutupin karena-,”terpotong oleh Lia
“mendingan lu…., Don lu cowok satu – satunya yang gua percaya diantara cowo lain bahkan Arya sekalipun tapi sekarang apa?” tegas ku sambil menangis
Doni hanya terdiam “gua gak mau lu sakit Lia, lu itu lebih penting buat gue” batin Doni.
Doni menemani aku yang sedang runtuh dan tidak karuan hingga tertidur di meja.