Namaku adalah Ran. Seorang remaja lulusan salah satu SMA yang ada di Malang.
Beberapa hari setelah kelulusan, keadaan di rumahku sangatlah suram. Kami kehilangan sosok tulang punggung satu-satunya yang ada dirumah kami, yaitu ayahku.
Sejak saat itu, aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Yang mana ibuku sendiri sering sakit-sakitan. Aku sebagai anak yang tidak memiliki orang tua lagi selain beliau, maka aku harus lebih perhatian dalam keseharian kami.
Rasa takut selalu menyelimutiku, saat melihat ibuku yang selalu terbaring lemas. Tidak bisa rasanya untuk berada jauh darinya. Saat mwlihatnya semakin hari semakin parah, membuatku selalu teringat mendiang ayahku.
Meski begitu, aku harus bisa, bagaimana caranya agar keluarga kami setidaknya keluar dari keterpurukan.
Sebelum masuk keceritaku, aku akan menceritakan sedikit tentang keluarga kecil kami.
Jadi, aku adalah anak dari tuan besar salah satu perusahaan makanan terbesar di Malang. Hidup kami sudah pasti dijamin berkecukupan. Kemanapun aku pergi, pasti langsung dituruti oleh ayahku. Tentu, dengan kekayaan yang bisa dibilang cukup besar, akan mudah bagi ayah untuk memenuhi kemauanku.
Kalau ibuku, adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat menyayangi suami dan anaknya. Tak pernah sekalipun ibuku melewatkan ataupun telat mengingatkan setiap kegiatanku dan ayah.
Namun, itu semua berakhir ketika aku berada di kelas 11 SMA. Ayahku jatuh sakit, yang membuat perusahaan ayahku perlahan mulai tidak terkontrol.
Sampai pada satu titik, dimana perusahaan ayahku benar-benar bangkrut. Meski ayahku jatuh sakit, perusahaan milik ayahku itu seharusnya masih bisa bertahan. Namun, pegawai yang masih ada di sana seting kali melakukan aksi korup, dan hal itu adalah alasan sebenarnya di balik bangkrutnya perusahaan ayahku.
Dan juga, aksi korup tersebut membuat sisa-sisa perusahaan ayahku menjadi punya tunjangan, dan juga hutang di berbagai bank.
Mau tidak mau, hutang-hutang tersebut ditanggung oleh ayahku. Meski tidak menutup semua hutang yang ada, tapi setidaknya hutang tersebut berkurang.
Lagi-lagi nasib buruk menimpa keluarga kami lagi, ibuku yang biasanya merawat ayah, dinyatakan memiliki penyakit gula karena faktor keturunan.
Semua yang ada di keluarga kami mulai kacau. Ditambah, setiap bulannya kami pasti didatangi dept kolektor untuk ditagih hutang.
Dari situlah awal mula aku terjun ke dunia Freelance. Yang mana, aku bisa menghasilkan sedikit uang untuk tambahan simpanan dan biaya makan sehari-hari.
Hingga tiba di saat aku kelas 12 SMA.
Uang tabungan ayahku tidak cukup lagi untuk membayar dept kolektor, tiap bulannya. Alhasil, kami menjual rumah dan hidup ngekost, di kost yang bisa dibilang cukup murah.
Seiring berjalannya waktu, kami mulai terbiasa hidup dengan beberapa tekanan. Mulai dari pola makan kami yang perlahan semakin tidak teratur, dan kurangnya biaya finansial.
Singkat cerita, setahun kemudian aku lulus dengan nilai terbaik di SMA-ku, yang membuatku tidak perlu menanggung biasa kelulusan dan wisuda yang ada di sekolah.
Sekitar seminggu kemudian, ayahku dinyatakan meninggal karena penyakitnya yang semakin parah setiap hari. Dan ya, aku cukup terpukul akan hal itu, dan aku harus menerimanya, mau bagaimana pun juga, ayah telah berjuang melawan penyakitnya selama ini.
Ngomongin tentang nilai terbaik di SMA, aku ditawari beasiswa dari sebuah kampus. Namun, aku masih merasa aku tidak bisa jauh dari ibuku, yang mana hal itulah yang membuatku menolak penawaran beasiswa itu.
Lalu bagaimana caraku mendapatkan uang untuk menafkahi diriku sendiri dan ibuku? Seperti yang aku singgung sebelumnya, aku menjadi seorang Freelancer, bermodalkan laptop dan hp, salah duanya kekayaan kami yang tersisa.
Apakah tidak ada yang peduli dengan kami? Saudara maupun kerabat dekat kami, setelah mendengar kabar bahwa perusahaan ayahku bangkrut, tidak ada seorang pun dari mereka yang peduli pada kami. Mengingat kakek dan nenek yang juga telah meninggal, karena dulu beliau-beliaulah yang menjadi penengah di keluarga besar.
Baiklah, kita ke inti ceritaku.
Setiap hari yang aku lakukan dirumah kost-ku yang kecil ini adalah, merawat ibu dan mengurus pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci dan membersihkan rumah.
Aku bekerja hanya bila ada pesanan, mulai dari desain logo, undangan, sampai dengan jasa pembuatan proposal. Dan sebagai info, aku seminggu sekali akan keluar rumah untuk berbelanja, ya untuk mengisi kulkas.
Suatu ketika, saat aku melakukan rutinitasku untuk berbelanja, aku merasa diikuti. Dan, benar saja, saat aku melihat kebelakangku, aku melihat dua orang pria yang tinggi, berpakaian formal, jas dan kacamata hitam.
Karena aku takut terjadi apa-apa, aku putuskan untuk kabur dari mereka. Saat itu pikiranku berpikir hal tiba-tiba saja muncul, aku berpikir kalau mereka punya dendam dengan ayahku, sehingga mereka mengincarku sebagai gantinya.
Karena rasa takutku yang semakin menjadi, akhirnya kau putuskan untuk segera pulang.
Dan sampai di kost-an, dua pria itu tidak memaksa mengejarku masuk. Aku segera ceritakan hal itu pada ibu, barangkali ibu tahu tentang masalah ayah yang menyebabkan orang lain punya dendam.
"Ibu rasa, ayahmu tidak pernah memiliki musuh." Jawab ibuku, tentu dengan keadaan panik, karena kau yang panik.
Aku mulai bingung di situ. Siapa mereka sebenarnya, apakah target mereka adalah aku.
Aku memutuskan untuk tidak mengambil pusing kejadian itu, toh juga aku jarang keluar dari rumah. Setidaknya, aku bisa merasa aman saat berada dirumah.
Besok paginya, ada yang berkunjung kerumah, kupikir itu adalah dept kolektor, tapi uang cicilan bulan ini sudah aku bayar. Lalu, siapa yang berkunjung.
Tok... Tok... Suara pintu diketuk.
Segera aku membuka pintu, dan sesaat kagetlah aku. Yang datang adalah dua pria kemarin yang mengikutiku. Saat itu juga, aku langsung panik lagi.
Dan ya, ada seseorang di belakang dua orang ini. Dia menatap sinis padaku, membuatku makin panik lagi.
"Kau anak dari Pak Arya?" Tanya orang itu padaku.
Karena Arya adalah nama ayahku, aku iyakanlah pertanyaannya. Dia bilang, kalau dia datang karena perintah dari bosnya, yang mana dia diperintahkan untuk membawa ibuku berobat.
"Tapi aku tidak memiliki biaya."
"Semua biaya akan ditanggung oleh bosku."
"Tunggu dulu, siapa bosmu? Aku tidak bisa tiba-tiba menerimanya."
"Aku dilarang untuk memberitahukannya padamu. Yang jelas kau akan bertemu dengannya nanti saat sudah berada di rumah sakit."
Aku merasa kalau orang ini tidak kuterima hari ini, dia akan terus datang kerumahku untuk menawarkan hal yang sama. Jadi aku harus menerimanya, karena di samping tawarannya cukup bagus untuk pengobatan ibuku, aku juga penasaran dengan bosnya.
Aku pun menggendong ibuku dan membawanya ke mobil yang dibawa oleh tiga orang ini. Kami dibawa ke rumah sakit yang mewah.
"Bawa ibumu masuk, daftarkan sebagai pasien."
Aku pun melakukan apa yang dia suruh, dan segera mendaftarkan ibu. Kami segera mendapatkan kamar pasien, aku pun langsung membawa ibu ke kamar itu dengan bantuan kursi roda yang disediakan.
Sesampainya dikamar itu, ibuku bertanya, mengapa aku menerima tawaran dari orang yang tidak dikenal, bisa saja yang aku terima ini adalah penipuan. Ya, segala kemungkinan bisa terjadi.
Lalu aku menjelaskan, kalau orang itu tahu nama ayah, dan karena aku tidak tahu bagaimana cara untuk ibu membawa berobat, akhirnya aku menerimanya. Karena, bisa jadi ini satu-satunya jalan yang bisa menyembuhkan ibu.
Tak begitu lama setelah ibuku dan aku berada di kamar itu, tiba-tiba ada yang datang, masuk ke kamar kami. Seorang pria dengan pakaian sederhana, membawa tongkat bantu nerjalan, diikuti pria yang tadi menyuruhku membawa ibu.
"Kau anak dari Arya?" Tanya pria itu padaku.
Aku mengiyakan. Dan dia menjelaskan tentang apa yang ia lakukan padaku dan ibuku.
"Arya adalah sahabatku. Dulu saat dia masih ada, dia seringkali membantuku. Kurasa aku memiliki tanggung jawab untuk membalas budinya."
"Tapi ini sudah lebih dari cukup, dan aku yakin dulu saat ayah membantu anda, pasti anda melakukan sesuatu kan? Sebagai imbalan kebaikan ayahku. Maka dari itu, biarkan aku membalas perbuatan anda ini, bagaimana pun caranya."
Aku tidak mau dibantu, tanpa aku melakukan sesuatu.
"Tidak perlu repot-repot. Biarkan ibumu istirahat di sini, semua biaya sudah aku tanggung. Kau lanjutkan aktivitasmu saja."
"Aku rasa, bahkan ayahku akan melakukan apapun saat beliau ada di posisiku saat ini."
"Hmm... Kurasa, kau ada benarnya juga. Apakah kau bisa mengendarai mobil?"
"Bisa." Jawabku, karena saat keluarga kami masih berkecukupan, aku sempat belajar menyetir mobil.
"Aku punya dua anak. Anak pertama, seorang gadis kuliahan, dan adiknya, anak laki-laki yang masih duduk di kelas sebelas SMA. Kalau kau mau, kau bisa antar-jemput mereka."
Lalu saat aku mendengar tawarannya itu, aku cukup senang, tapi di sisi lain aku tidak bisa meninggalkan ibu.
Lalu aku menatap kearah ibu, ibu yang mendengarkan percakapanku dengan bapak ini hanya tersenyum padaku, seolah membebaskanku untuk menerima ataupun tidak. Dan belum sampai aku menjawab tawaran itu, bapak ini menambah tawarannya lagi.
"Ibumu ya? Bagaimana kalau setiap hari suster pribadi kami menjaganya? Tenang saja, suster ini sudah dipercaya oleh keluarga kami. Lagian kamu tidak full seharian dalam pekerjaan ini."
"Sebelum aku benar-benar menerima semua tawaran anda, bukankah anda perlu memperkenalkan diri anda terlbih dahulu?" Tanyaku.
Ya, walau bagaimanapun juga, bapak ini tetaplah orang asing bagiku.
"Oh tentu saja, Namaku Alan. Aku membantu tidak hanya untuk membalas budi Arya, aku juga berharap hal ini bisa membantu keseimbangan kehidupan kalian."
Besoknya, Pak Alan datang dengan seorang wanita, yang berpakaian layaknya wanita normal. Mungkin orang lain tidak akan sadar kalau wanita itu adalah seorang pembantu, bila tidak diberitahu. Sangking mewahnya seragam yang ia kenakan.
Ngomong-ngomong tentang Pak Alan. Beliau mengajakku kerumahnya untuk bertemu dengan anak-anaknya, bertepatan pada saat pembantu atau suster itu datang merawat ibuku.Singkatnya, aku dikenalkan pada kedua anaknya itu.
Sang kakak adalah gadis yang sedikit tomboy dan tengil. Sedangkan adik laki-lakinya sangat murah senyum. Ya, setidaknya itu adalah penilaianku terhadap mereka setelah seminggu bekerja sebagai supir mereka.
Sang adik, Ryan. Seringkali mengunjungiku dan ibuku di rumah sakit. Dan ya, aku jadi punya teman untuk mengobrol. Namun hal itu, bukanlah halnyanh disukai oleh sang kakak, Rea. Dia seringkali menegur dan melarang Ryan untuk datang.
Suatu hari, ketika smaku sedang menjaga ibu, ditemani Kak Sarah, suster yang menjaga ibu. Kak Sarah menceritakan beberapa pengalamannya selama bekerja pada keluarga Pak Alan.
"Jadi, dari yang aku dengar sih, bisnis Pak Alan mulai berkembang dan terus membaik dari dua atau tiga tahun terakhir. Dan Rea, bisa dibilang adalah Putri Pak Alan yang star syndrome. Yang mana, dia sangat semena-mena terhadap sekitarnya. Jadi, Ran. Jangan terlalu ambil hati ucapannya."
Tanpa mendengar cerita dari Kak Sarah pun, aku rasa aku memang tidak cocok dengan kepribadian Kak Rea. Memang, aku adalah supir dari Kak Rea dan Ryan. Tapi, aku lebih suka mengobrol bersama Ryan, ya karena Kak Rea suka marah-marah padaku.
Sekitar dua bulan sejak aku bekerja pada Pak Alanm Dokter bilang kondisi ibuku mulai membaik, dokter bilang itu semua karena dukukungan positif dariku.
Tapi ya, kata suram adalah kata yang paling dekat dengan takdirku. Seminggu setelah dokter bilang kondisi ibuku yang membaik, peristiwa yang suram datang padaku, ibuku tiba-tiba drop dan ya... Di hari itulah ibuku menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku yang hanya memiliki ibu, satu-satunya keluarga terakhir yang aku punya, tentu aku sangat terpukul akan kabar itu. Di saat kematian ibu itulah aku memeutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang diberikan oleh Pak Alan. Bukan karena apa aku berhenti, tapi ya aku ingin melepas beban pikiranku.
Pak Alan memang bisa menerima alasanku, tapi tidak dengan kedua anaknya. Kak Rea memarahiku, karena aku terlalu bergantung pada nasib. Dan Ryan, sangat menyayangkan tentang keputusan yang aku pilih. Meski begitu aku tetap teguh dengan keputusanku.
Kak Sarah meski sudah tidak memiliki kepentingan untuk menemuiku, sesekali dia datang ke kost-anku dengan suaminya. Biasanya seminggu sekali, ya mungkin dia merasa harus menemaniku yang tengah dilanda kesepian. Dan ya, dengan kehadiran Kak Sarah dan suaminya membuatku sedikit terhibur. Terlebih lagi, suami Kak Sarah adalah seseorang yang supportif dan suka mengobrol.
Suatu hari, sekitar dua bulan setelah kematian ibuku, Ryan mengunjungiku yang tengah mengerjakan projek dirumah.
"Tumben, Yan?"
"Ya kak. Kebetulan lagi gak sibuk, lagian sudah lama kan kita gak ketemu."
"Oh gitu? Papamu apa kabar, Yan?"
"Papa sehat kok, kak."
Lumayan lama aku basa-basi dengan Ryan. Dan cukup membuatku senang. Namun, meski Kak Sarah sering datang ke rumah dan akhir-akhir ini Ryan datang, aku masih saja sering merasa kesepian.
Seminggu kemudian, Kak Sarah datang memakai seragam, kaget dong aku, biasanya pakai pakaian normal ini kok pakai seragam. Ternyata, Kak Sarah datang bersama Kak Rea. Dan sejak itulah, Kak Sarah mulai jarang datang bersama suaminya, karena Kak Sarah lebih sering hanya mengantar Kak Rea datang ke kost-anku.
Tapi, setiap kali Kak Rea datang kerumahku, dia tidak pernah sekalipun mengobrol denganku. Datang, duduk melihatku bekerja, meminum minuman yang aku suguhkan, setelah habis minumannya tanpa pamit dia langsung pulang. Aneh? Ya memang, aku juga merasa demikian.
Seminggu berlalu, Kak Rea datang ke rumahku hanya untuk mengawasiku. Akhirnya aku bertanya padanya, tentang apa maksud-nya datang setiap hari tanpa membicarakan apapun.
"Bukannya aku peduli padamu, aku hanya menemanimu, yang katanya sedang kesepian."
Setelah mendengar jawabnnya itu, aku tidak pernah lagi menanyakan apapun. Sebulan berlalu, dan beberapa hari tidak datang ke kost-anku, ya sebagai manusia normal pasti khawatir dong. Akhirnya, aku putuskan untuk melihatnya ke rumah Pak Alan, sekalian untuk silaturahmi.
Tapi aku tidak mendapatkan informasi tentang Kak Rea, yang kutemui malah Ryan yang pulang sekolah.
"Weh Ryan, udah kelas dua belas nih."
"Lho Kak Ran. Apa kabar? Kak Rea sekarang lagi sidang kelulusan dikampus lho."
"Oh begitu kah? Ya sudah, aku titip salam ya."
Belum beranjak dari tempatku berdiri, Ryan langsung menjelaskan padaku kalau Kak Rea mulai berubah ketika Papanya menceritakan pada Kak Rea tentang kehidupanku. Bahkan karya tulis ilmiahnya sekarang Kak Rea menggunakan ceritaku, karena sangat cocok dengan jurusan sastranya.
Tak lama setelah itu, Kak Rea yang pulang dengan mobilnya langsung turun, dan berlari kearahku, memelukku. Dan...
"Ran... Ayo menikah denganku!"
=====================================
Eaaaa tamat ya kawan. Penasaran lanjutannya? Berimajinasilah.