Sekedar penasaran sih dengan cerita yang dia sampaikan. Malam ini, gue bersama Riyo memutuskan untuk menginap di rumah Rian. Katanya setelah pindah rumah, Rian selalu merasa tak nyaman dengan tempat tinggal barunya. Tiap malam selalu saja ada yang mengetuk pintu kamarnya sampai-sampai dirinya tak dapat tidur.
Bukan masalah jika itu adalah ibu atau ayahnya, tapi mengingat waktu dan panggilan yang Rian ucapkan, tak ada satupun yang masuk akal dan jawaban pun tak ada yang terlontarkan kecuali ketukan pintu yang terketuk secara berjangka.
"Thanks ya pren, dah mau nemenin gue malam ini" kata Rian yang saat ini berada dirumah sendiri karena ortunya kerja malam.
"Santai aja, lagian gue juga penasaran sama cerita misteri lo akhir-akhir ini. Yah... meski Reiy mukanya udah kek orang kebelet pup sih, tapi kesetiaannya patut diangkat derajat"
"Kurang asem lah lo, Yo. Gue bukannya kebelet, tapi emang hawanya antara depan rumah sama kamar sini agak berasa bedaaaa gitu" kata gue jujur.
"Apa gue bilang, kayaknya emang g beres nih kamar" Rian mengiyakan.
"Perasaan kalian aja kali, tapi emang disini agak dingin sih wkwk"
"Gaje lu!" Timpal gue dan Rian bersamaan.
Hari mulai gelap, tapi kami bertiga sama-sama terjaga. Rian masih ngemil keripik sambil nonton TV, Riyo main game, dan gue sendiri sibuk musikan pakai headset. Sesekali kami juga mengobrol untuk mengisi suasana, hingga sampai pukul 22 waktu setempat, disaat kami hendak tidur, terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki dari luar kamar.
"Yah, sia-sia dong kita nginep, ortu lo kayaknya dah pulang tuh" kata Riyo tak jadi merebahkan badan.
"Seharusnya belum waktunya pulang sih, gue cek dulu"
"Stop, jangan bergerak, gak usah di cek, firasat gue agak gak enak nih" kata gue sembari mencegah Rian beranjak dari tempat tidur yang kami bertiga tempati.
Rian hanya terdiam menuruti apa yang gue katakan, tapi tidak dengan Riyo. Dia malah dengan cepat melangkah menuju sisi pintu kemudian memberi isyarat untuk diam. Rio lalu menempelkan telinganya di pintu sembari melambaikan jari untuk memanggil kami.
"Kenapa?" Bisik Rian.
"Kalian berdua dengerin, kayaknya emang gak beres deh" jawab Riyo, juga dengan berbisik. Gue dan Rian pun ikut mendekatkan telinga ke arah pintu.
Benar saja, daripada suara langkah kaki, dari balik pintu lebih terdengar seperti suara benda yang diseret tanpa henti, tapi tak ada hentakan kaki yang membuatnya bergerak.
Tok tok tok!!
"Zii!"
"Ughhh!"
Riyo dan Rian terkejut bersamaan tanpa bersuara karena mereka menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, sedangkan gue terperangah ditempat sambil melotot. Maksudnya gue juga terkaget-kaget karena tiba-tiba pintu diketuk.
"Ayah? Ibu?" Panggil Rian mencoba memastikan.
Tok tok tok. Hanya itu jawabannya, pintu kembali diketuk.
"Bentar, gue aja" bisik gue.
"Ekhem, permisi, siapa ya?" Tanya gue asal dan langsung ditonyor Riyo.
"Gimana sih lu, malah tanya siapa!" Kata Riyo ngegas tapi dengan berbisik.
Tok tok tok
"Nah tu dijawab" jawab gue dengan berbisik juga.
"Anu, kamu gak bisa jawab ya? Ketuk satu iya, dua enggak" kata gue.
Tok tok
"Owhh, enggak ya. Kamu cewek ato cowok? Ketuk satu cewek, dua cowok" tanya gue lagi.
Tok tok tok
"Lah kok tiga kali? Maksudnya dobel gender?" Pikir Rian.
"Duh bambank, artinya ada cewek ada cowok. Heh?! Apa?! Berarti cewek cowok gitu?" Kata Rio berspekulasi sembari melebarkan matanya.
"Anu, itu, maksudnya kamu gak sendiri? Ada yang lain? Cowok cewek gitu? Ketu satu iya, dua enggak"
Tok... Tok...
"Anu, maaf, maksudnya gimana ya?" Tanya gue lagi karena dua ketukannya berjarak.
Tok... Tok... Tok.. tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok......!!!!
Pintu terus diketuk tanpa henti sampai suaranya menjadi gaduh. Kami bertiga sama sekali tak dapat merespon dan perlahan menjauh dari pintu. Ketukan pintu terus terdengar gaduh diikuti suara barang-barang yang seperti dibanting, diobrak-abrik, dan dilempar. Kami bertiga membeku sepanjang malam dengan semua suara itu, hingga akhirnya kaca jendela dibelakang kami...
Pyarrrr!!!!
"Wargghhhhhh!!!"