5
Meski kedua orang tuanya melarangnya berhubungan dengan para pemuda pengangguran yang suka nongkrong di mulut gang, namun Prita tak mengubrianya. Maka begitu dia pulang dari rumah sakit, dia pun menyempatkan diri mampir menemui Andika dan teman-teman setong- krongan-nya. Tentu saja hal itu membuat Andika dan teman-temannya yang sudah cukup lama merindukan kehadirannya di buat kaget bercampur senang.
"Hai, kakak-kakak sekalian, apa kabar?" sapanya ramah disertai senyum menawannya yang membuat Andika dan teman-temannya semakin bertambah terpesona.
"Hai, Rita. Sudah keluar dari rumah sakit rupanya?"
"Begitulah."
"Senang kami melihat kamu sudah sehat," kata Agus.
"Terimakasih. Semua juga atas doa dan dorongan dari kakak semua, terutama kak Andika," balas Prita sembari memandang ke arah Andika. Yang dipandang hanya tersenyum. "Kak Andika."
"Ya?"
"Makasih ya, atas kunjungan dan juga saran- sarannya."
"Sama-sama."
"Bolehkan aku jadi teman kalian?" pinta Prita.
"Wah, dengan senang hati," jawab Agus.
"Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Apa kami tidak malu berteman dengan kami?"
"Malu kenapa?"
"Ya, kami kan hanya cowok pengangguran dan miskin. Sedangkan kamu...?"
"Persahabatan tidak memandang perbedaan status sosial kan, Kak? Lagi pula, yang kaya kan orang tuaku, bukan aku."
"Ya, sih. Tapi...apa orang tuamu tidak akan keberatan putrinya berhubungan dengan kami yang cuma anak-anak pengangguran?"
"Aku tak peduli bagaimana penilaian kedua orang tuaku juga orang lain terhadap kalian. Begiku, kalian adalah orang-orang baik. Jadi bolehkan aku menjadi sahabat kalaian?" pinta Prita lagi meminta kepastian.
"Seperti yang sudah kukatakan, kami akan mene-rimamu dengan senang hati, Rita. Dan kami pun ber-janji akan menjadi sahabatmu yang baik, yang akan menjaga dan melindungimu dengan segenap kemam-puan yang kami miliki," tutur Agus.
"Ya! Tak akan kami biarkan orang lain menyakiti-mu!" timpal Yoyok.
"Benar! Jika ada orang yang berani macam-macam kepadamu, maka dia akan berhadapan dengan kami! tambah Mardi.
Prita tersenyum senang mendengar penuturan mereka.
"Terimakasih."
Begitulah, sejak saat itu Prita pun menjalin persahabat-an dengan anak-anak muda pengangguran yang suka nongkrong di mulut gang. Dan semenjak kenal dengan Andika beserta teman-teman tongkrong-annya, sesikit demi sesikit Prita pun bisa melupakan kesedihan hatinya akibat putus cinta dengan Gilang. Andika dan teman-temannya, merupakan orang-orang yang menyenangkan. Mereka yang selama ini terkesan urakan, ternyata justru mampu menghibur hati Prita dengan banyolan dan cerita-cerita lucu yang mampu membuat gadis jelita itu tertawa lepas bagai tak memiliki beban. Bahkan dengan mengenal mereka, Prita jadi merasa lebih aman. Kerena kalau sampai ada cowok lain yang mau iseng kepadanya, Andika dan teman-temannya tak akan tinggal diam.
Pernah dua orang pemuda yang sepertimya pemuda berandalan, dari jalan depan sekolah terus mengikuti Prita. Gadis itu jelas merasa takut, khawatir kedua cowok berandalan itu berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Untungnya, Prita melihat Andika dan teman-temannya datang. Maka Prita pun memanggil mereka. Walhasil, kedua cowok berandalan itu ketakutan, dan sejak itu tak ada lagi yang berani macam-macam pada Prita, karena Agus, yang terkenal tukang berkelahi dan tak pernah merasa takut pada siapa pun, mengancam pada kedua cowok beran-dalan itu, mengancam pada kedua cowok beran-dalan itu, akan memburu keduanya sampai dimana pun jika berani lagi mengganggu Prita.
Bukan itu saja manfaatnya bergaul dengan Andika dan teman-temannya. Mereka, terutama Andika, senantiasa memberikan dorongan semangat dan nasihat-nasihat yang baik pada Prita.
"Rita, kamu cantik dan baik. Aku yakin, masih banyak cowok yang suka padamu. Janganlah mudah kecewa apalagi putus asa. Kamu masih muda, harus tegar dan tetap yakin bahwa kamu akan mampu menggapai impian dan cita-citmu. Lupakan kegagalan yang pernah kamu alami, dan jadikan hal itu sebagai palajaran yang bermanfaat bagimu. Bangun dan tetapkan hatimi, bahwa dengan keyakinan kamu akan bisa meraih apa yang kamu inginkan." Itulah kata-kata yang senantiasa dan sering dituturkan Andika pada Prita, yang juga merupakan dorongan dan pemacu semangat gadis itu.
Atau:
Cinta pertama memang terkadang sulit untuk dilupakan. Tetapi cinta pertama bukalah segala-galamya. Masih banyak cinta suci yang bisa kamu temui, asalkan kamu mau memahami dan meyakini. Cowok tak seorang. Buat apa kamu hanyut dalam kesedihan, sementara dia di tempat lain justru tertawa gembira. Jika sampai kamu hancur, dia bukannya bersedih apalagi menyesal, tetapi dia malah akan tertawa penuh kemenangan. Jangan mudah dipermain-kan oleh perasaan, karena kadang perasaan justru akan menyesatkan..."
Dari seringnya Andika memberikan dorongan semangat dengan kata-kata yang mengenai, membuat Prita pun akhirnya bisa kembali menemukan keperca-yaan dirinya. Dan sedikit demi sedikit, gadis itu pun mulai merasakan sesuatu di dalam hatinya pada cowok itu. Namun begitu, Prita belum berani memastikan, bahwa getaran yang ada di dalam hatinya pada Andika, merupa-kan cinta. Karena bagaimana juga, dia baru saja meng-alami suatu kekecewaan yang juga disebabkan oleh cinta.
Ada satu kejutan yang didapat oleh Prita setelah mengenal Andika dan teman-temannya. Kejutan itu tak lain dan tak bukan, adalah mengenai Andika, cowok tampan dan sepertinya pandai yang senantiasa mem-berinya dorongan semangat dengan kata-katanya yang penuh makna. Cowok yang senantiasa meng-getarkan hatinya, setiap kali Prita berdua dengannya. Ternyata, Andika tidaklah seperti teman-temannya yang lain, yang kebanyakan tak tamat SMU karena di DO dari sekolahnya dengan berbagai alasan. Agus misalnya, dia dikeluarkan dari sekolahnya karena tukang berkelahi. Mardi, dikeluarkan dari sekolah karena suka memalaki teman-temannya. Dan Yoyok, dikeluarkan dari sekolahnya karena ketahuan mabuk dan memukuk guru dengan botol minuman. Andika ternyata seorang sarjana penuh atau S1 hukum. Bahkan, Andika merupakan sarjana jebolan sebuah Universitas Negeri terkemuka di Jawa Tengah.
Mulanya Prita tak yakin dengan apa yang didengar-nya. Dia pun jadi penasaran, ingin mengeta-hui dengan pasti kebenaran berita itu. Karena rasa penasaran dan ingin mendapatkan kepastian akan kabar itu, suatu hari ketika hendak berangkat sekolah dan sebagaimana biasanya melewati gang dimana Andika dan teman-temannya nongkrong, Prita berpesan pada Andika.
"Pagi Kakak-kakak semua?" sapa Prita dengan senyum manisnya yang semakin menambah cantik wajahnya.
"Pagi Rita..." balas Andika dan teman-teman setong-krongannya.
"Mau sekolah...?" lanjut Agus.
"Iya, Kak."
"Hati-hati, ya?"
Prita tersenyum dan mengangguk. Namun dia tidak meneruskan langkahnya, tetapi dia justru berhenti dan memandang ke arah Andika.
"Kak Andika..."
"Ya?" sahit Andika.
"Nanti siang ada acara tidak?"
"Tidak ada, Kenapa...?"
"Bisakan jemput Rita."
"Kenapa? Apa ada yang mengganggumu lagi?" tanya Agus.
"Tidak, Kak Agus. Rita cuma ada perlu sama kak Andika."
"Perlu apa, sih?" tanya Mardi pengin tahu.
"Ada aja, deh... Kak Mardi mau tahu aja?" jawab Prita sambil tersenyum menggoda.
"Wah, aku cemburu, nih," seloroh Yoyok.
"Iih, Kak Yoyok ini. Emangnya aku perlu sama kak Andika mau ngapain-ngapain? Wong cuma mua ngobrok doang, kok."
"Kenapa tidak di sini aja?" tanya Yoyok.
"Soalnya, yang akan kami obrolnya sangat rahasia. Cuma aku dan kak Andika aja yang boleh tahu," jawab Prita menggoda.
"Pribasi ceritanya, nih?" goda Agus.
"Begitulah."
"Iya, deh. Iya... kami ngerti, kok. Ya sudah, kamu berangkat saja, nanti keaiangan. Nanti siang, akan kusuruh Andika menjemputmu," kata Agus.
"Makasih semuanya."
"Ya. Hati-hati, Rita," pesan Mardi.
"He-eh."
Kalau ada yang ganggu, bilang kamu adik aku!" seru Agus.
"Ya!" sahut Prita. "Jangan lupa, Kak Andika. Nanti siang kemput aku di sekolah. Sendirian, lho..."
"Insya Allah!" sahut Andika.
Prita pun meneruskan langkah, menuju ke jalan raya dimana dia akan menunggu angkutan umum yang akan menunggu angkutan umum yang akan membawanya ke sekolah. Sementara Andika dan teman-temannya melanjutkan ngobrol.
"Ada apa sih, Dika?" tanya Agus.
"Tidak tahu."
"Naga-naganya, ada getar-getar cinta nih." goda Agus.
"Ah, mana mungkin?" bantah Andika.
"Kenapa tidak? Kamu kan tampan, sarjana pula. Beda kami yang SMU aja tidak selesai. Dibanding kami, kamu punya banyak kelebihan, Dika. Nasib kamu aja yang belum bagus. Tapi kamu kagak usah kecil ati. Aku yakin, suatu saat nanti kamu bakal jadi orang enak," tutur Agus memberi semangat.
"Ya, semoga saja," desah Andika.
"Eh, Dika..."
"Ya?"
"Emangnya kalau jasi pengacara, mesti pakai ujian lagi untuk dapetin sertipikat ijin praktek?" tanya Agus ingin tahu.
"Iya."
"Nah, kenapa kamu kagak coba ikut ujian itu?"
"Percuma kalau kagak ada duit, Gus."
"Kok pakai duit?"
"Iya."
"Gimana bisa?"
"Ya bisa."
"Kamu kan pintar, Dika?"
"Sepintar apapun, dan meski hasil ujiannya A plus, kalau kagak ada duit. Kagak bakal lulus. Ya, negara kita emang kudu serba duit, Gus. Soalnya sudah menjadi kebiasaan sih. Jadi, kalau kagak biasa, kelihatannya jadi aneh..."
"Korupsi lagi, korupsi lagi... KKN lagi, KKN lagi..." keluh Mardi.
"Ya emang gitu," sambut Yoyok menimpali.
"Kapan negara kita beraih dari koruptor dan manipulator, ya?"
"Kagak bakal ntuh terjadi, Mar!" sambut Yoyok.
"Udah, udah. ngapain mikirin negara. Mikir diri kita sendiri aja pusing," lerai Agus.
"Nah, ini juga masalah negara, Gus. Coba kalau negara ini beraih dari koruptor, tidak ada kerusuhan. Aman, tentram, damai dan sejahtera. Aku yakin para investor akan berlomba-lomba tanam modal diaini. Sehingga lapangan pekerjaan pun banyak, dan pengang-guran seperti kita jadi berkurang."
"Ngomonh sih enak, Mar. Ngejalaninnya yang susah...!" ketus Agus.
Para cowok muluf gang itu sejenak sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Dika..." Agus kembali memanggil, membuka kebisuan yang sesaat menyelimuti mereka.
"Ya?"
"Kira-kira berapa uang pelicin yang kamu perluin agar bisa lulus dan mendapatkan sertipikat ijin praktek pengacara?"
"Tidak tahu sih, wong aku belum pernah coba. Tapi yang aku denger sih, berkisar antara lima sampai sepuluh juta," tutur Andika.
"Aze gile! Banyak amat!" seru Agus kaget.
"Gile, Dika. Uang segitu, kita bisa usaha dagang. Hasilnya udah ketahuan," timpal Yoyok.
"Makanya, aku juga mikir tujuh kali. Kalau aku punya uang sebanyak itu, mending buka usaha sendiri," sambit Andika.
"Dika..."
"Ya?"
"Selain menjadi hakim, jaksa dan pengacara, kalau sarjana hukum itu bisa kerja apa lagi?" tanya Agus ingin tahu.
"Ya, banyak. Misalnya jadi personalia di perusa-haan, Legal Officer, dan lain sebagainya. Pokoknya banyak. Asalkan kita mau bekerja dan ada kesempatan. Kita tidak mesti terpaku pada disiplin ilmu yang kita pelajari. Wong zaman sekarang, insinyur aja banyak yang jadi sales, kok," tutur Andika.
"Nah, kenapa kamu tidak begitu aja?"
"Aku sih mau, Gus. Tapi yang memberi keper- cayaan ame aku, yang kagak ada," jawab Andika.
"Emangnya, kamu udah coba ngelamar?"
"Tidak usah kamu ingetin, udah ratusan bahkan mungkin ribuan surat lamaran yang gue kirim. Tapi nyatanya, sampai sekarang belum ada satu pun yang memberi balasan. Padahal di surat lamaran yang aku kirim, aku tulis mau bekerja apa saja dan ditempatkan di mana saja," tutur Andika setengah mengeluh.
Kembali mereka sama-sama diam, bagai kehabisan kata-kata untuk melanjutkan pembicara- an mereka. Dan kemudian, satu demi satu mereka pun meninggalkan tempat tongkrongan mereka di mulut gang untuk mencari kehidupan mereka masing-masing.
***
Seperti janjinya, ketika jam menunjikkan angka dua belas, Andika pun pergi ke sekolah dimana Prita bersekolah. Dan ternyata begitu Andika tiba di sekolah-nya cewek itu, bertepatan dengan bel tanda waktu sekolah selesai berdering. Sehingga Andika tidak perlu terlalu lama menunggu.
Tampak dari dalam bangunan gesung sekolah, Prita berjalan bersama teman-temannya menuju ke pintu gerbang sekolah dimana Andika menunggu. Begitu melihat Andika, Prita pun pamit pada teman-temannya.
"Aku duluan, ya?"
"Emang ada yang ngejemput kamu, Rita?" tanya salah seorang temannya.
"Iya. Tuh..." Prita menunjuk dengan sagunya ke arah pintu gerbang sekolah, dimana Andika berada.
Teman-temannya pun seketika mengarahkan pandang-an mereka ke pintu gerbang yang ditunjuk oleh Prita dengan dagunya. Namun mereka seketika mengeritkan kening, karena tak melihat Gilang.
"Mana, Rita?"
"Toh, cowok yang pakai T-Shirt merah tua."
"Lho, kok bukan Gilang? Siapa dia memangnya, Rita?"
"Calon pacar aku."
"Lho, emangnya Gilang gimana?"
"Jangan ngomongin dia lagi, deh..."
"Kenapa emangnya, Rita? Kamu udah bubaran ame dia?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Aku mauk ame janji palsu end gombalnya!" tegas Prita. "Oke, aku duluan. Dagh semua..."
"Dagh, Rita. Met's happy, ya?" goda teman- temannya.
Prita hanya tersenyum dan dengan berlari-lari kecil dia menuju ke arah pintu gerbang dimana Andika berada.
"Hai!" sapanya.
"Hai...!" balas Andika.
"Sudah lama?"
"Tidak juga."
"Ayo," ajak Prita.
"Kemana?"
"Jalan-jalan. Ada yang ingin Rita obrolin sama kakak."
"Jalan-jalan kemana? Aku kagak punya duit," kata Andika terus terang.
"Rita juga tahu. Ayo deh, ikut Rita aja..."
Andika pun menurut. Dan keduanya pun segera meninggalkan depan pintu gerbang sekolah, melang-kah beriringan menyusuri trotoar jalan.
"Kakak belum makan, kan?"
"Su... sudah..."
"Jangan bo'ong. Kita makan, yuk," ajak Prita.
Dan kembali Andika pun hanya bisa menurut mengikuti ajakan gadis itu, karena dia memang tak punya uang. Sebab dia memang belum kerja. Padahal sebenar-nya Andika merasa agak malu juga, karena seharusnya sebagai seorang cowok, dialah yang mentraktir. Bukan malah ceweknya yang mentraktir cowok. Tapi mau apalagi? Kenyataannya dia memang tidak punya uang.
"Kak Andika..." sambil melangkah. Prita memanggil.
"Ya?"
"Kak Andika sarjana hukum, ya?" tanya Prita memastikan.
"Ah, tidak. SMU saja tidak tamat, kok," jawab Andika mengelak.
"Sebaiknya kakak jangan merendah dan berusaha menutupi. Rita sudah tahu kok, kalau kakak seorang sarjana hukum."
"Dari mana kamu tahu?"
"Tahu aja..."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Wah, itu rahasia. Tak akam Rita kasih tahu."
"Hm, kalau tidak Yoyok, pastilah Mardi."
"Eh, jangan menuduh mereka."
"Siapa lagi? Keduanya memang suka ngomong yang tidak-tidak."
"Tapi nyatanya kakak benarkan seorang sarjana hukum?" desak Prita.
"Baiklah, aku mengaku,"
"Wuah, Rita tak sangka..."
"Apalah artinya seorang sarjana hukum, Rita kalau kenyataannya sampai kini belum bisa menerap-kan disiplin ilmu yang dipelajarinya selama hampir lima tahun di perguruan tinggi. Mending seperti mereka yang tidak tamat SMU, tak memiliki beban moril, meski belum bekerja atau kerja serabutan. Sedangkan aku..."
"Kakak sudah berusaha?"
"Usaha?" Andika tertawa.
"Kok tertawa?"
"Di Jakarta ini, Rita. Kalau tidak punya relasi, koneksi dan money, sampai rambut ubanan pun tak akan beehasil..."
"Kakak sudah berusaha belum?"
"Sudah. Dan hasilnya kamu tahu sendiri bukan?"
"Sabarlah, Kak. Rita yakin, suatu nanti kakak pasti akan berhasil kalau maua terus berusaha," tutur Prita berusaha memberikan dorongan semangat.
"Entahlah..."
"Cobalah lagi, Kak."
"Aku tak yakin."
"Kakak harus yakin dan percaya diri, demi aku," kata Prita menekankan, yang membuat Andika seketika tercengang sembari menatap lekat ke wajah cantik gadis itu.
"Demi kamu?"
"Ya."
"Maksudmu?"
"Jijur saja, sejak pertama kali kita bertemu, dan terlebih kakak menjengukku di rumah sakit, aku menaruh simpatik pada kakak."
"Benarkah?"
"Prita mengangguk.
"Apa aku tidak salah dengar, Rita? Arau kamu sedang bercanda, sekedar untuk menghibur dan menyenangkan hatiku saja?" tanya Andika.
"Rita serius, Kak. Rita tidak sedang bercanda atau berusaha menghibur hati kakak. Sebelum memutuskan, Rita juga sudah memperhatikan dan memikirkan-nya secara masak..."
"Tapi Rita..."
"Tapi kenapa, Kak?"
"Masih banyak cowok yang melebihi aku dan sepadan denganmu. Kenapa kamu tidak berusaha mencari cowok yang sepadan denganmu?"
"Kenapa kakak bicara begitu? Apa kakak tidak sayang padaku?"
"Jangan kamu tanyakan itu, Rita. Karena aku yakin, walaupun aku tidak mengatakannya padamu, namun tentunya kamu tahu bagaimana perasaanku padamu."
"Kalau begitu, kenapa kakak ragu?"
"Status dan keadaan kita yang membuatku ragu, Rita."
"Itu berarti, kakak meragukan perasaanku?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Rita... Kalaupun aku menerima dan membalas cintamu, dan kami dengan tulus mencintaiku, namun aku yakin papa dan mamamu tak akan pernah setuju apalagi mengijinkan kamu berhubungan dengan orang sepertiku."
"Aku tak peduli dengan mereka. Toh bukan mereka yang akan menjalani, tetapi aku, Namun begitu, aku masih punya keyakinan."
"Keyakinan apa?"
"Kalau mereka tahu kakak seorang sarjana, dan kakak sesah bekerja, aku yakin mereka pasti akan mau menerima kakak."
Andika terdiam dengan pikiran yang berkembang, menimbang dan menduga-duga, apa benar jika dia sudah bekerja kedua orang tua Prita akan mau mane-rima dirinya dan merestui putri mereka berhubungan dengannya?
"Itulah sebabnya, Kak. Demi aku, dan demi mendapat-kan restu dari kedua orang tuaku, kakak harus kembali berusaha. Percayalah, Rita akan senan-tiasa turut mendo'a-kan agar kakak berhasil. Sehingga tak akan ada lagi penghalang bagi cinta kita..."
"Sungguh kamu mencintaiku, Rita?"
"Kenapa kakak masih tak yakin? Buat apa Rita berbohong? Jika Rita tak mencintai kakak, manalah mungkin Rita mengatakannya? Rita seorang cewek, Kak. Sebenarnya, tak seharusnya Rita mengungkap-kan ini hati Rita. Seharusnya kakaklah yang menda-hului. Namun karena selama ini kakak tak juga mendahuluinya, akhirnya Rita pikir tak ada salahnya jika Rita yang mendahului. Sebab Rita pikir, mungkin kakak merasa sungkan..."
"Oh Tuhan... Sungguh aku merasa bersyukur atas rahmat dan karunia-Mu... Terimakasih, Tuhan. Karena akhirnya Engkau mengabulkan juga do'aku..."
"Jadi, kakak pun sungguh-sungguh mencintai-ku, kan?"
"Untuk membuktikan cintaku padamu yang tulus, Rita. Mati pun aku rela. Bahkan jika kamu tahu, Rita. Begitu aku mendengar kamu dirawat di rumah sakit. seketika hatiku diliputi kecemasan dan rasa khawatir. Apakah itu belum cukup untuk membuktikan kesung-guhan cintaku padamu? Namun karena aku menyadari siapa diriku dan siapa dirimu, aku pun cuma bisa memendam perasaanku dalam dada. Aku tak berani berharap, Rita. Sebab bagaimana juga, kamu dan aku sangat jauh berbeda."
"Tidak, Kak. Tak ada perbedaan dalam cinta..."
"Ya. Namun status sosial ekonomi yang berbeda, kadang akan menjadi penghalang bagi pelajaran cinta yang akan kita lalui, Rita."
"Karena itulah, Kak. Berusahalah..."
"Baik, Rita. Demi kamu, aku akan ber-usaha..."
"Nah, gitu dong," kata Prita sambil tersenyum manja. "Eh, kita sudah nyampe. Ayo masuk, Kak. Kita makan siaini. Masakannya enak, lho..."
Prita menggandeng tangan Andika dan mengajaknya masuk ke rumah makan itu sehingga Andika pun menurut masuk.
***
Betapa marahnya ayah Prita, begitu mendengar dari istrinya kalau putrinya berteman dan bergaul dengan para pemuda yang nongkrong di mulut gang. Maka begitu Prita pulang selepas maghrib karena habis jalan bersama Andika, lelaki serengah baya yang seorang pengusaha itu tak mampu lagi membendung kemarahan-nya.
"Rita..."
"Ya, Pap?"
"Dari mana kamu?! Jam segini baru pulang. Sekolah macam apa itu?!" tanyanya dengan suara keras dan galak.
"A... ada les tambahan, Pap."
"Bohong! Apa kamu kira papa percaya dengan alasanmu, eh?"
Prita terdiam tak menyahut.
"Rita..."
"Ya, Pap?"
"Papa ingin tanya. Apa benar kamu berhubungan dengan anak-anak brandalan dan pengangguran itu?"
"Maksud papa?"
"Kamu bergaul dengan anak-anak yang suka nongkrong di mulut gang itu, kan?"
"Oh, mereka?"
"Ya."
"Kenapa memangnya, Pap?"
"Bukannya menjawab, malah balik bertanya!" dengus ayah Prita semakin sewot. "Jadi benar kamu berhubungan dengan anak-anak berandalan itu, Rita?"
"Salahkah itu, Pa?" tanya Prita. "Di maga papa dan mama dan juga yang lain, mungkin mereka berandal. Namun sesungguhnya, mereka orang yang baik."
"Jangan sok tahu kamu, Rita. Kamu tahu apa tentang mereka? Dan siapa anak berandal yang menjengukmu waktu di rumah sakit?"
"Kak Andika."
"Hm, apa maksudnya dengan menjengukmu?"
"Tak ada maksud apa-apa. Kak Andika cuma ingin memberikan perhatian pada Rita. Dan itu sudah menunjuk-kan, bahwa di balik sikap berandal mereka, sebenarnya tersimpan kebaikan dan rasa setiakawan, Pa."
"Diam! Beraninya kamu menggurui papa, eh?! Apa berandal itu yang mengajarimu, eh?!"
"Tidak. Rita berkata apa adanya."
"Pokoknya, papa tidak suka kamu berhubungan dengan mereka, terutama dengan anak berandal yang bernama Andika itu. Kamu mengerri, Rita?"
"Kenapa memangnya, Pa?"
"Pokoknya papa tak suka!"
"Rita... kamu dari keluarga terhomat. Apa jadinya penilaian orang pada kita, kalau tahu kamu berhubungan dengan anak-anak pengangguran dan berandalan seperti mereka?" tambah sang ibu berusaha memberi penger-tian.
"Pa, Ma... sebaiknya jangan menilai orang hanya dari penampilan dan luarnya saja," sahut Prita. "Seharusnya papa dan mama bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa Rita. Apa yang papa dan mama nilai baik, hasilnya apa?"
"Apa maksudmu?!" tanya sang ayah.
"Gilang! Menurut papa dan mama, dia anak baik. Anak orang terhomat. Tapi, nyatanya apa? Itukah yang papa dan mama inginkan? Apa papa dan mama memang ingin agar Rita mati? Jika itu keinginan papa dan mama, untuk apa papa dan mama repot-repot membawa Rita ke rumah sakit? Biarkan saja Rita mati..."
"Apa?! Beraninya kamu berkata seperti itu pada orang tuamu, Rita?!" herdik lelaki setengah baya itu dengan mata melotot garang.
"Kenyataannya memang begitu, Pa."
"Semua belum jelas. Papa belum bertemu dengan kedua orang tua Gilang."
"Tak ada gunanya, Pa. Untuk apa kita menge- mis? Bisa-bisa dia semakin keras kepala!" dengus Prita.
"Terserah kamu. Yang pasti, papa tidak mau dengar kamu berhubungan dengan anak-anak beran-dalan itu, titik!" tegas ayah Prita, yang membuat gadis cantik itu hanya bisa menghela napas panjang. Dia pikir, percuma saja bertengkar dengan papa dan mamanya. Buang-buang energi saja. Yang pasti, dia akan mengguna-kan periba- hasa 'Biarkan anjing menggonggong, kafilah toh akan tetap berlalu'. Peduli apa kata papa mamanya, yang pasti dia akan tetap mencintai Andika. Hatinya sudah bulat, apapun yang akan terjadi, dia akan tetap mencintai cowok itu.
Satu hal lagi yang Prita yakini, sikap papa dan mamanya pasti akan berubah jika mereka tahu kalau Andika adalah seorang sarjana hukum. Dan akan lebih menyakinkan lagi, jika Andika sudah bekerja. Karena itu, Prita berjanji akan berusaha mendorong semangat Andika untuk berusaha mencari pekerjaan.
***
6
Semenjak hatinya sudah bulat untuk mencintai Andika, dengan tidak mengenal kata lelah dan bosan, Prita terus berusaha memberi-kan dorongan semangat pada kekasihnya untuk kembali berusaha mencari pekerjaan. Setiap kali mereka bertemu dan berjalan bersama sambil merajut benang-benang cinta di hati mereka, Prita tak jenuh-jenuhnya memotifasi semangat kekasihnya.
Seperti halnya siang itu ketika Prita pulang sekolah dan Andika kembali diminta menjemputnya. Mereka tidak langsung pulang, tetapi Prita mengajak Andika jalan-jalan ke pantai. Begitu sampai di pantai, Prita pun mengajak Andika melangkah menyusuri tepian pantai sembari dengan manja menyenderkan kepalanya di pundak cowok itu.
"Kak..."
"Ya?"
"Rita tak perduli apa kata orang lain dan juga kedua orang tua Rita mengenai kakak. Yang jelas, di mata Rita, kakak adalah cowok yanh baik dan penuh perhatian," tutur Prita.
"Terimakasih atas kepercayaan yang kamu berikan, Rita."
"Kak... mungkin tanpa Rita beritahu, kakak pasti tahu bagaimana sikap papa dan mama Rita atas hubungan kita."
"Ya, aku mengerti."
"Namun bagaimana pun juga, Rita sudah memu- tuskan untuk mencintai kakak. Dan Rita pun berharap, kiranya kakak tidak akan mengecewakan Rita."
Aku janji, apapun yang terjadi aku tak akan mengece-wakanmu. Tapi, sepertinya hubungan kita akan mendapatkan rintangan dan halangan yang berat, Rita..."
"Rita sadar itu, Kak. Tapi Rita yakin, kalau kak Andika sudah bekerja, sikap papa dan mama pasti berubah," kata Prita. "Karena itulah, Kak. Demi kelancaran hubungan cinta kita, kakak harus kembali berusaha. Rita akan turut mendo'akan, semoga kiranya kakak cepat mendapatkan pekerjaan."
"Baiklah, Rita. Aku akan kembali berusaha."
"Itu yang Rita harapkan, Kak."
"Ya. Mulai besok aku akan berusaha. Tapi..."
"Masalah uang, kakak tak perlu risau. Rita punya sedikit simpanan, bisa kakak gunakan untuk memper-siapkan segala sesuatu keperluan kakak melamar."
Dan Prita pun membuktikan ucapannya. Dia berikan uang pada Andika sebesar dua ratus lima puluh ribu untuk keperluan mempersiapkan lamaran kerja.
"Rita..."
"Terimalah, Kak. Rita tahu, kakak membutuh- kannya. Dan selama ini kakak tidak berusaha kembali mencari kerja, karena tak ada uang untuk membeli peralatan membuat lamaran, kan?"
"Kamu begitu baik, Rita."
"Semua kulakukan demi cinta, kak."
"Bagaimana aku membalas semua kebaikanmu, Rita?"
"Hanya satu yang Rita minta dari kakak."
"Apa?"
"Kakak harus yakin pada kemampuan yang kakak miliki. Dan Rita akan tetap menerima kakak, walau apapun yang terjadi..."
Begitulah, dengan dorongan semangat moril maupun materi dari Prita, Andika pun kembali berusaha untuk mencari pekerjaan. Pagi-pagi dia berangkat, pulangnya malam. Sehingga tak ada waktu baginya lagi untuk kongkow nongkrong bersama dengan teman-teman setongkrongan-nya.
***
Waktu terus berlalu. Hampir dua minggu Andika tak pernah nongol kumpul dengan teman- teman setongkrong-annya. Waktunya dia habiskan untuk terus berusaha mencari pekerjaan, sambil diikuti dengan semakin tekunnya dia menjalan-kan sholat lima waktu dan sholat sunah tengah malam. Dengan melakukan semua itu, dia berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan. Sehingga jika dia sudah bekerja, sikap ayah dan ibu Prita kepadanya pun akan berubah.
Ketidak munculan Andika selama dua minggu, membuat teman-teman setongkrongan jadi kangen. Mereka pun saling bertanya, mempertanyakan ketidak munculan Andika.
"Sudah hampir dua mingggu aku kagak lihat Andika," gumam Agus.
"Iya. Aku juga kagak pernah nemuin dia," timpal Yoyok.
"Kemana ya dia? Apa pulang kampung?" duga Mardi.
"Kayaknya kagak mungkin dia pulang kampung," sanggah Agus.
"Kenapa kamu berpikir begitu, Gus?" tanya Mardi.
"Ya, soalnya dia ngomong sama aku, kalau dia tak akan pulang kampung kalau belum berhasil jadi orang," jawab Agus.
"Lalu, kemana dia?" gumam Yoyok.
"Kamu udah ke rumah kontrakannya, Gus?" tanya Mardi.
"Belum."
"Kenapa kita tidak coba ke rumahnya aja?" usul Yoyok.
"Iya juga. Nyok kita ke rumah kontarakannya," ajak Agus pada teman-temannya.
Tanpa membuang waktu lagi, para cowok pengang-guran yang suka nongkrong di mulut gang itu pun bergegas meninggalkan markas mereka di mulut gang, menuju ke rumah kontrakan dimana Andika dan temannya tinggal. Namun begitu mereka menemukan rumah kontarakan itu terkunci, yang berarti penghuni-nya tidak ada di rumah.
Kurang yakin, Agus pun tanya pada pemilik rumah.
"Nyak... Penghuni rumah kontrakan enyak yang paling ujung pada kemana?"
"Pergi."
"Pergi kemana, Nyak?"
"Nak Andika sejak pagi-pagi udah pergi. Sedang nak Budi, tadi jam tujuh..."
"Kemana perginya Andika, Nyak?"
"Kagak tahu. Katanya sih mau berusaha kembali nyari kerja," tutur pemilik rumah kontrakan memneri-tahu.
Agus dan teman-temannya pun menggut- manggut mengerti. Kemudian mereka pamit pada pemilik rumah kontrakan dan kembali ke markas tempat mereka mangkal, untuk nongkrong sambil sesekali memggoda gadis yang lewat atau sekedar kongkow ngobrol.
"Sebaiknya kita berdo'a, semoga sohib kita, Andika akan mendapatkan keberuntungan, sehingga dia diterima kerja di sebuah perusahaan," harap Agus.
"Ya. Kalau dia kerja, kita juga pasti akan ikut senang," timpal Mardi.
"Ya, siapa tahu kalau dia nanti sudah punya kedudukan lumayan, bisa ajak-ajak kita kerja juga," desah Yoyok.
"Nah, agar do'a kita terkabul, gimana nih kalau tiga hari ini kita jangan ngejahilin orang?" usul Agus.
"Usul yang bagus. Kau setuju!" sambut Yoyok.
"Gimana dengan yang lain?" tanya Agus.
"Setuju..."
"Bagus. Ingat, selama tiga hari kita kagak boleh ngejailin orang."
"Oke..."
"Satu hal lagi," kata Agus.
"Apa?"
"Gimana kalau kita juga ngejalanin sholat?"usul Agus.
"Sholat?" Mardi dan Yoyok mengerutkan kening saling pandang.
"Ya. Kenapa?"
Ditanya begitu, Mardi dan Yoyok malah tertawa.
"Kenapa kalian ketawa?!" sungut Agus. "Apa ada yang lucu?!"
"Ya, lucu."
"Apanya yang lucu?"
"Apa aku kagak salah denger, Gus?" tanya Mardi.
"Maksud kamu?"
"Sejak kapan kamu tahu sholat?"
"Monyong kamu! Biar gini, bokap ama nyokap aku haji, tahu! Dan sejak kecil, aku udah dididik ama agama. Emangnya kamu berdua...!" sungut Agus. "Udah, jangan banyak omong. Pokoknya, biar sonib kita diterima kerja, mulai sekarang kita mesti ngejalanin sholat. Sebab dengan sholat, do'a kita bakal cepat diterima ama yang Maha Kuasa."
"Ya, Pam Ustad..."
"Kalian berdua memang senprul! Sukanya ngengo-dain orang!" sungut Agus.
Mardi dan Yoyok kembali tertawa. Sehingga mau tidak mau Agus pun akhirnya ikut ketawa.
"Eh, ngomong-ngomong, aku yakin Andika punya semangat nyari kerjaan, pasti ada hubungannha dengan Rita," tutur Mardi.
"Naga-naganya emang begitu," sambut Agus.
"Dan naga-naganya pula, si Rita kelihatannya suka sama sohib kita yang sarjana hukum itu."
"Iya," timpal Yoyok. "Ya, moga-moga aja mereka berdua bisa bersama dan keluarganya si Rita mau menerima sohib kita. Kalau sohib kita jadi mantu orang kaya, pan kita juga akan turut merasa kecepretan..."
"Bener, Yok. Kita do'ain aja deh..."
"Kita juga harus berdo'a , kiranya sohib kita cepat mendapatkan pekerjaan," sambung Mardi.
Para cowok mulut gang teman-teman setongkro-ngan Andika pun sama-sama diam dengan hati berdo'a, mengharap kiranya Tuhan mengabulkan do'a mereka, yang berharap teman mereka yang tengah berusaha mencari pekerjaan, memdapatkan pekerjaan. Bahkan ketika dari mushola terdengar suara adzan Dzuhur, mereka pun sama-sama meninggalkan pos jaga menuju ke mushola untuk sholat Dzuhur.
***
Semantara orang yang sedang mereka bicarakan, saat itu tengah berada di lobbi sebuah gedung megah bertingkat dua puluh yang merupa- kan kantor pusat sebuah peursahaan bank swasta bonafid. Ia disana, tengah menunggu panggilan untuk wawancara setelah berhasil lulus dengan nilai terbaik pada psikotest.
Ya, setelah hampir dua minggu berusaha dengan keras mencari pekerjaan kesana-kemari tanpa mengenal lelah, akhirnya Andika menemukan lowongan. Dia pun kemudian memasukan surat lamaran, dan akhirnya mendapatkan panggilan untuk test psikogi. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, Andika berhasil melewati psikotes. Bahkan dia yang palinh tinggi nilainya. Dari hampir lima ratus pelamat, hanya seratus orang yang lulus seleksi penyaringan. Dan dari seratus orang, hanya sepeluh orang termasuk Andika yang lulus psikotes. Hari ini, dia dipanggil untuk mengikuti test wawancara. Jika hari ini dia lulus test wawancara maka dia pun akan diterima bekerja di bank itu.
Hari ini benar-benar hari yang sangat mendebar- kan bagi Andika, karena menurut yang dia dengar, kesembilan rekannya yang juga lulus psikotest, merupakan orang-orang bawaan, dengan kata lain, mereka memiliki referensi dari orang dalam. Sehingga besar kemungkinan mereka akan lulus, karena test wawancara yang akan mereka hadapi cuma formalitas semata. Agar tidak terkesan mencolok, kalau mereka adalah orang-orang bawaan.
Nasib Andika di tentukan hari ini.
Dia tidak ada yang membawa, juga tidak memiliki referensi dan koneksi di dalam. Hanya faktor keberun-tungan dan pertolongan dari Allah saja, yang akan membawanya ke tangga keberhasilan. Dan prosentase itu, sangatlah kecil. Andika hanya bisa berharap dan berdo'a, kiranya nasibnya beruntung. Sehingga dia bisa lulus dan diterima bekerja di perusa-haan perbankan itu. Itu sebabnya, semenjak lamaran-nya diterima di bank ini, Andika pun semakin meng-khusukkan sholatnya, terutama saat sholat Tahajut dan Hajat. Dia berharap Allah akan menolong-nya, mem- berinya jalan yang terbaik, sehingga dia tidak akan mengangur lagi. Dan Alhamdulilah, begitu dia mengikuti psikotest, dia merasakan pertolongan dari Allah. Pikirannya jadi terang, sehingga dia bisa dengan mudah mengerjakan semua soal yang di berikan kepadanya. Bahkan dia mendapat nilai tertinggi.
Satu persatu dari kesepuluh calon karyawan perusahaan itu dipanggil. Tujuh wanita, dan tiga orang lelaki yang salah satunya adalah Andika. Sambil menunggu giliran, Andika terus berdo'a kepada Tuhan, kiranya Tuhan memberinya keberun- tunga. Dan dia berjanji dalam hati, kedudukkan dan pekerjaan apapun yang akan diperolehnya nanti, asalkan dia bisa bekerja, akan dia terima dengan senang hati. Meskipun menjadi tukang sapu sekalipun.
Setelah kesembilan rekannya dipanggil, akhirnya Andika pun mendapatkan panggilan. Dia tak tahu, kenapa dia mendapatkan panggilan terakhir. Padahal, menurut abjad, seharusnya dialah yang mendapat panggilan pertama. Bahkan jika menurut nilai hasil psikotest, dia yang semestinya dipanggil pertama, karena nilainya paling tinggi dibanding kesembilan rekannya yang lain.
"Andika Sutrisno..."
"Ya, Bu."
"Silahkan masuk," ajak seorang wanita dengan potongan rambut model bob yang menjadi staf perso-nalia.
Andika menurut masuk ke dalam ruang persona-lia. Kemudian dipersilahkan duduk di meja bertuliskan Manager Perso-nalia. Tentunya, wanita cantik itu pimpinan personalia bank tersebut.
Andika pun menurut duduk.
"Saudara Andika Sutrisno?" tanya wanita cantik itu memastikan.
"Ya, Bu."
"Anda seorang sarjana hukum?"
"Ya, Bu."
"Sudah pernah bekerja sebelumnya?"
"Belum, Bu."
"Jika saudara diterima disini, jabatan apa yang saudara inginkan?"
"Sebenarnya, saya ingin jabatan yang sesuai dengan disiplin ilmu yang saya pelajari, Bu. Tetapi, saya menyerahkan sepenuhnya pada kebijakan perusahaan. Dimana pun saya ditempatkan, saya bersedia."
"Benar begitu?"
"Ya, Bu."
"Kalau jadi office boy atau clening service atau pesuruh, bagaimana?" tanya pimpinan personalia sembari memandang lekat ke wajah Andika, seakan ingin mengetahui bagaimana reaksi cowok tampan itu.
"Jika memang itu kebijakan perusahaan, saya akan terima."
Wanita cantik manager personalia itu tersenyum dengan mata tak berkedip memandangi wajah Andika yang tampan. Sesakali wanita cantik itu memandang ke lembaran kertas yang berada di atas meja kerjanya, lalu kembali memandang ke wajah Andika.
"Nilai psikotest Anda mendekati sempurna," gumam wanita cantik itu.
Andika hanya diam.
"Apa dengan kecerdasan yang anda miliki, anda tidak kecewa jika ditempatkan di bagian kebersihan?" tanya wanita cantik itu lagi.
"Tidak, Bu. Jika itu memang kebijakan perusaha-an."
Kembali wanita cantik itu tersenyum.
"Sayangnya, kebijakan perusahaan tidak begitu."
"Maksud ibu?"
Setelah melihat hasil psikotest anda, dan juga setelah menimbang serta melihat tingkat pendidikan anda, maka setelah mengadakan rapat, dewan direksi memutuskan untuk menerima saudara bekerja di bank ini sebagai kepala bagian Analisa Kredit. Bagaimana? Saudara bersedia...?"
Andika terpengarah bengong, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Lho, kenapa?"
"Oh, eh... Ke...kepala bagian, Bu?"
"Ya, kenapa?"
"A...apakah saya tidka salah dengar, Bu?"
"Maksud anda?"
"Saya...saya sungguh tak menyangka akan mem- peroleh kehormatan dan dipercaya memegang jabatan setinggi itu, Bu," tutur Andika dengan wajah masih menunjuk-kan ketidak yakinannya.
Wanita cantik manager personalia itu tersenyum dan berkata, "Itu belum seberapa, saudara Andika. Masih ada kabar lain yang saya rasa akan membuat anda semakin bertabah kaget dan tak percaya."
"A...apa itu, Bu?"
"Sebagai kepala bagian, maka anda akan mene- rima fasilitas-fasilitas perusahaan."
"Fasilitas?"
"Ya."
"Maksud ibu?"
"Anda akan mendapatkan rumah dan kendaraan dinas."
"Ohh...!"
"Tapi itu bisa anda dapatkan, setelah Anda men-jalani job training selama tiga bulan. Jika dalam masa job training tersebut Anda menunjukkan kondite dan kinerja yang bagus, maka Anda akan mendapatkan fasilitas-fasilitas itu. Sebaliknya, jika dalam masa tiga bulan job training Anda mengecewakan, maka bukan cuma tidak akan mendapatkan fasilitas-fasilitas yang saya katakan, Anda juga tak akan dipakai dalam perusahaan ini," tutur wanita cantik manager perso- nalia itu dengan wajah menunjukkan kesungguhan. "Maka itulah, saudara Andika, kami berharap kiranya Anda bisa bekerja dengan baik dan bisa menunjukkan kondite kerja yang baik."
"Insya Allah, saya akan berusaha."
"Kapan anda siap bekerja?"
"Kapan pun saya siap, Bu."
"Oke, mulai besok anda sudah mulai bekerja. Mari, saya perkenalkan anda dengan rekan-rekan anda," ajak manager personalia sembari bangun dari duduknya yang diikuti oleh Andika. Keduanya kemudian keluar meninggalkan ruang personalia, untuk berkenalan dengan seluruh direksi dan staf serta karyawan di kantor itu.
Begitu sampai di ruang kerja Analisa kredit, ternyata acara penyambutan telah dipersiapkan oleh calon anak buah Andika. Sehingga begitu Andika dan manager personalia masuk ke ruang kerja Analisa kredit, mereka dikejutkan dengan tumpahnya potongan-potongan kertas kecil yang langsung mengguyur Andika.
Belum juga Andika sadar dari keterkejutannya, dari atas telah melayang gulungan kain selebar satu meter yang bertuliskan; "SELAMAT DATANG KABANK ANALISA KREDIT YANG BARU BAPAK ARMAN SUTRISNO KAMI SIAP MEMBANTU DAN MELAYANI ANDA!"
Andika pun akhirnya hanya bisa tersenyum membaca tulisan itu.
"Nah, saudara Andika. Rupanya para bawahan Anda telah menunggu kehadiran Anda. Silakan Anda memberi sambuta sepatah dua patah kata,"
saran wanita cantik manager personalia itu dengan bibir turut tersenyum, karena sebenarnya dia sudah tahu akan rencana penyambutan itu. Itu pula sebabnya, tadi dia memper-silakan Andika untuk masuk lebih dulu, padahal di ruangan lain, justru dialah yang lebih dulu masuk.
"Sepertinya ini semua sudah direncanakan sebe- lumnya, Bu Prisca," kata Andika menerka.
Wanita cantik manager personalia yang dipanggil Prisca oleh Andika cuma tersenyum.
"Pantas, tadi bu Prisca menyuruh saya lebih dulu masuk. Padahal di ruang kerja lain, justru ibu yang lebih dulu masuk..."
"Sorry, Pak Andika. Itu memang keinginan dan rencana calon bawahan Anda. Mereka ingin memberi-kan kejutan untuk Anda," jawab Prisca dengan bibir masih menyung-gingkan seulas senyum yang semakin menambah cantik wajahnya.
Kesepuluh staf Analisa Kredit pun segera menyerbu ke arah Andika untuk memberikan ucapan selamat kepada calon atasan mereka.
"Selamat datang, Pak Andika," sambut mereka ramah dan penuh rasa hormat.
"Terimakasih," jawab Andika dengan penuh keharuan. "Saya mohon, kiranya teman-teman sudilah kiranya membantu saya. Janganlah teman- teman memandang saya sebagai atasan, tetapi anggaplah saya sebagai teman dan rekan kerja kalian. Sebab bagaimana pun juga, disini saya masih baru, belum tahu apa-apa. Karenanya, saya sangat membutuhkan bantuan dan kerjasama kalian. Siapakah PJS di sini?"
"Saya. Pak," sahut seorang gadis manis.
"Boleh saya tahu nama anda, Nona?"
"Yuniar Sulistiorini atau biasa dipanggil Yuni, Pak."
"Makasih, Mbak Yuni. Saya berharap mbak Yuni mau membimbing saya," pinta Andika.
"Ah, Pak Andika. Masa saya harus membimbing bapak yang notabene adalah atasan saya, sih?" seloroh Yuniar sembari tersenyum, sehingga semakin menam-bah manis wajahnya.
"Ya, karena kenyataannya saya memang masih buta dalam hal analisa kredit," jawab Andika balas tersenyum. "Anda bersedia, kan?"
"Jika itu yang pak Andika inginkan."
"Ah, sebaiknya jangan panggil bapak," protes Andika.
"Lalu, kami harus memanggil apa?" tanya para staf analisa kredit.
"Mas, Kak, atau apa, yang penting jangan bapak. Sebab saya belum tua," jawab Andika sembari berkelakar, yang membuat semuanya tertawa.
"Pak Andika sudah punya pacar belum?" tanya Zus Pandeleke atau biasa dipanggil Susu. Dara jelita berkulit kuning langsat asal Manado itu, memang mampu membuat setiap lelaki pasti akan terpesona dan membelalakkan mata.
"Sampai sekarang belum." jawab Andika.
"Yang benar?"
"Ya, Kenapa memangnya, Mbak?"
"Susi... Nama saya Suz Pamdeleke, asal Manado namun biasa dipanggil Susi," jawab gadis itu dengan senyumnya yang mampu menggentarkan jantung hati setiap lelaki yang melihatnya.
"Wah, pantas," gumam Andika.
"Apanya yang pantas, Mas?" tanya Susi.
"Mbak cantij. Orang Manado memang terkenal cantik-cantik."
"Ah, Mas Andika bisa aja."
"Aku sungguh-sungguh, kok. Dulu teman kuliahku ada yang dari Manado, dan dia juga cantik seperti mbak."
"Wuah, jangan panggil saya dengan embel-embel mbak, dong..."
"Lalu, saya harus memamggil apa?"
"Ya, cukup nama saya saja."
"Ehm, bagaimana ya? Tapi baiklah..."
Seharian itu, digunakan oleh Andika untuk mende-katkan diri dengan para stafnya. Ngobrol sambil menanyakan apa saja tugasnya sebagai kepala bagian Analisa Kredit, atau sekedar memerikasa surat-surat mengajuan kredit dari calon nasabah. Apakah disetujui atau tidak permintaan kredit calon nasabah, kini Andika yang berhak memutuskannya, setelah dia menganalisa dengan menghitung kalkulasi antara pengajuan kredit dengan agunan yang diajukan.
Setelah beramah tamah cukup lama dengan calon bawahannya, Andika pun pamit untuk pulang.
"Selama seragam untuk anda belum siap, maka mulai besok Anda berangkat dengan baju putih lengan panjang dan celana hitam, serta mengenakan dasi, Pak Andika," kata manager personalia memberitahu.
"Ya, Bu."
"Jam delapan harus sudah ada di kantor"
"Baik, Bu."
"Selamat ya?"
"Terimakasih, Bu. Permisi..."
"Silakan..."
Dengan diantar oleh Prisca sampai di depan pintu ruang kerjanya, Andika pun meninggalkan tempat itu. Dan dengan hari berbunga gembira serta bahagia karena mulai besok dia akan mulai bekerja, Andika pun pulang. Namun sebelumnya, dia singgah dulu di mushola yang ada di kantor itu untuk melakukan sujud syukur serta menjalankan sholat Dzuhur.
***
7
Setelah hampir dua minggu tak bertemu dengan teman-temannya, Andika pun memutuskan untuk menemui teman-temannya yang nongkrong di mulut gang sebelum ke rumah kontrakannya untuk istirahat dan mempersiapkan segala sesuatu keperluan yang akan dia pakai besok.
"Hai, Dik...!" seru Agus menyambut kedatangan temannya.
"Hai, bagaimana kabar kalian?" balas Andika.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana? Kami dengar kamu tengah melamar kerja. Dimana, dan bagaimana hasil-nya?" berondong Agus.
"Iya. Gimana, Dika? Sukses...?" sambung Yoyok.
"Alhamdulilah. Berkat do'a kalian, kini aku diterima bekerja," jawab Andika dengan wajah ceria.
"Benarkah?" tanya Mardi meminta kepastian.
"Ya, Bahkan besok aku sudah mulai bekerja."
"Dimana?"
"Dibank Buana Arta."
"Wah, hebat Selamat, Dika!" Agus mengulurkan tanga, memberikan ucapan selamat yang segera disambut oleh Andika. Begitu juga teman-teman yang lain, turut memberikan ucapan selamat pada Andika. "Ngomong-ngomong kamu diterima di bagian apa?"
"Ini yang akan aku ceritain sama kalian semua," kata Andika.
"Cerita apa?" tanya Mardi antusias.
"Mulai besok, aku akan bekerja."
"Iya, kami tahu," potong Mardi.
"Nah, kalian mau tahu jabatan aku di bank itu. kan?"
"Ya jelas, dong..."
"Kalian siap dengarinnya, tidak?"
"Kenapa emangnya?" tanya Yoyok.
"Aku khawatir, kalian akan pingsan setelah aku beritahu."
"Kamu jangan bikin kami bingung, Dika." sungut Agus.
"Iya, Emangnya kamu bakal jadi apa sih di bank itu?" timpal Yoyok.
"Dengar, ya? Aku bener-bener kagak nyangka kalau aku bakal diterima dibank itu. Sebab selama ini kalian tahu semua. tanpa reperensi dan koneksi, mencari kerja di Jakarta ini sulit."
"Iya..."
"Nah, dan hampir lima ratus pelamar, cuma sepuluh orang berhasil melewati seleksi pertama. Salag satunya aku," tutur Andika dengan wajah menun-jukkan rasa bangga. "Dan kalian tahu, kesembilan orang yang diterima selain aku, rupanya mereka adalah orang-orang bawaan."
"Bawaan gimana maksud kamu?" tanya Agus.
"Ya, mereka masih saudara atau ada hubungan dengan orang dalam. Cuma aku sendiri yang murni. Tadi saja, aku sempat ketar-ketir..."
"Ketar-ketir gimana?"
"Ya, jangan-jangan aku akan didepak, karena aku tidak punya koneksi dan referensi di banj itu. Eh, tidak tahunya..."
Sampai di situ Andika menggantung ucapannya, sehingga membuat teman-temannya pun menunggu dengan mata menatap lekat ke wajah Andika pengin tahu. Andika kemudian menarik napas panjang, sembari mene-ngadahkan wajahnya ke atas. Dan semua itu semakin membuat teman-temannya kian bertambah penasaran, ingin segera tahu bagaimana kelanjutan cerita Andika.
"Tidak tahunya kenapa, Dika?" tanya Mardi tak sabar.
"Iya, Dika. Bagaimana selanjutnya?" timpal Yoyok.
"Tidak tahunya, aku dipanggil paling akhir."
Teman-temannya pun menarik napas lega.
"Terus?" tanya Agus.
"Aku diberi jabatan yang sungguh-sungguh kagak pernah terbayangkan sebelumnya oleh aku, Gus."