Di tengah rintik hujan, gadis itu berjalan seorang diri. Tanpa dilindungi apapun, tubuhnya basah terguyur hujan. Rambutnya yang putih dibasahi air hujan. Gadis itu, adalah pengidap albinisme. Hanya saja, cuma rambutnya yang putih. Sedangkan kulitnya normal, putih bersih seperti orang Eropa.
Tiba tiba seorang gadis datang menghampiri, dan memayungi gadis itu.
"Hey, kenapa kau.. Hujan hujanan? " tanya gadis itu hati hati.
"... " gadis yang kehujanan tadi tetap diam, seperti enggan menjawab.
"Hei, namaku Xiao Ling. Kau bisa memanggilku Ling. Keturunan China. Siapa namamu? " ucap Ling memperkenalkan diri lalu menanyakan nama gadis didepannya itu.
".... Namaku Liu Xia Wei, panggil saja Liu Xia. Keturunan China dan Jepang. " ucap Liu Xia setelah berdiam diri.
"Nah, kenapa Liu berjalan di bawah hujan? " tanya Ling membuat Liu Xia tersentak.
'Panggilan itu... ' batin Liu Xia sesak.
Flashback On
"Cece Liu! Cece Liu! Lihat apa yang X**** A* bawa!"
"Wahhh!! Bagusnya! Pintar X**** A* pilih! "
"Ehehe... A* ambil ini untuk cece Liu! Xie xie karena rawat A* selama ini, meskipun tanpa orangtua dan membuat masa muda cece Liu terkorban! "
"Ahahaha... Itu semua tidak ada apa apanya, dibanding kebahagiaan adik kesayangan cece iniii."
"Ah, arigatou cece Liu!
***
"Cece Liu, cece sayang A* gak? "
"Apa yang A* bilang nih? Jangan bilang begitu! "
"Nee-chan Liu... Kalau Nee-chan Liu sayang A*, lepaskan A*... A* gak kuat lawan penyakit ini.. "
"Jangan bilang gitu! Dah dah, A* tidur yaaa.... Oyasuminasai X**** A* W**... "
***
"Cece Liu! Lihat! Anak kucing itu ada di tengah jalan! A* mau pergi ambil ya! "
TIN TINNN!!
"X**** A*!!! AWAS!!! "
BRAKKK
"X**** A*!!!! "
"X**** A*!! Bangun A*!! Bertahan!! "
"Ugh, cece Liu... "
"A*! Bertahan! Cece bakal bawa kamu ke rumah sakit lagi! "
"G-gak perlu, Ce... Lepasin A*... A* dah gak kuat... Jaga diri baik baik ya? X-X**** A* s-sayang Cece.. Liu.. "
"X**** A*!!! "
"Sudah nak, sudah.. Biarkan adikmu pergi dengan tenang.. Maaf atas kejadian ini, saya sungguh minta maaf telah menabrak adik mu.. "
"Kenapa paman tega?! Paman sudah merenggut satu satunya keluarga yang ku punya! Sekarang aku tidak punya siapa siapa lagi! Hiks.. Hiks.. Aku benci paman dan bibi! "
"N-nak.. "
"PERGI!!! "
"B-baiklah, kami akan pergi. Tapi jika butuh kami, cari kami di perusahaan Xiao. "
***
"Aku benci paman dan bibi itu.. Aku benci mereka... Mereka merenggut adikku.. Satu satunya keluarga yang kupunya.. "
Flashback Off
"Liu? "
Suara dari Ling membuyarkan lamunan Liu Xia.
"A-ah, iya? " tanya Liu Xia menatap Ling.
"Dimana... Keluargamu? " tanya Ling.
"A-ah, keluargaku.. Sudah tenang di atas sana. " jawab Liu Xia sambil tersenyum menatap langit.
'Dan adikku dihabisi orangtua mu, Xiao Ling... ' batin Liu Xia penuh amarah.
"Ah? Maaf, sudah menyinggung soal keluargamu. " ucap Ling penuh penyesalan sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Liu Xia sedikit tersenyum, lalu berujar, "Tidak apa. "
"Ayo, ikut aku kerumah ku dulu. " ajak Ling diangguki Liu Xia.
Di rumah Ling...
"Mami! Papi! Ling pulang! " teriak Ling.
"Haish... Jangan teriak teriak, Ling.. " tegur mami Ling membuat Ling tertawa kecil.
'Ah, kalian bahagia.. Diatas penderitaan ku.. ' batin Liu Xia marah.
Mami dan Papi menatap Liu Xia. Mereka tersentak, sepertinya mengingat Liu Xia.
Liu Xia tersenyum tipis, penuh arti.
"Apa kabar, paman? Bibi? Senang bertemu dengan kalian.. Lagi.. " ucap Liu Xia dengan mengecilkan suara pada kata terakhirnya sehingga tidak ada yang dapat mendengar nya.
"A-ah, kabar kami baik nak. Ling, pergi keatas dan biarkan dia berganti pakaian. Pakai milikmu dulu ya. "
'Darah kubalas darah, dan nyawa dibalas nyawa. Akan kubuat kalian merasakan kehilangan orang yang kalian sayang.. ' batin Liu Xia penuh dendam.
4 tahun kemudian...
Sudah 4 tahun berlalu sejak Liu Xia dan Ling bertemu. Dan kini usia keduanya sudah menginjak 18 tahun.
Saat ini, keduanya sedang berjalan bersama di trotoar tepi jalan.
Keduanya tampak bercanda ria bersama sama.
Tiba tiba, Liu Xia terpikir tentang dendamnya dan kematian adiknya.
'Apa... Aku harus memberitahu Ling? ' batin Liu Xia.
Ya, Liu Xia mulai mempercayai Ling sejak 2 tahun yang lalu karena Ling persis seperti adiknya yang sudah tiada. Ling juga sangat baik.
'Ah.. Kurasa harus kuberitahu.. ' batin Liu Xia.
"Ling.. " panggil Liu Xia.
"Ya? " sahut Ling.
Keduanya berhenti berjalan. Liu Xia pun berkata..
".. Kita ke taman dulu, ada yang harus kubicarakan" katanya.
"Baiklah, ayo! " sahut Ling.
Di taman..
"Ayo, ke tempat kita biasa datangi" kata Liu Xia.
Ling mengangguk. Keduanya pun pergi ke bagian taman yang sepi dan tenang, sekaligus temoat favorit mereka.
Setelah duduk, Liu Xia mulai menarik nafas.
"Hahh... Ling, apapun pendapat dan reaksi mu tentang pernyataan ku setelah ini, aku akan selamanya sayang padamu. Tolong, jauhi aku jika tidak suka, okay? " ujar Liu Xia pada Ling.
Ling kebingungan, tapi tetap menjawab. "Ya, baiklah"
"... Sebenarnya.. Aku ada dendam dengan orangtua mu" katanya.
Ling terkejut, nampak tak percaya.
"Ke-kenapa?? " tanya Ling tak percaya.
"Dulu, saat usiaku 11 tahun, aku punya seorang adik perempuan bernama Xiang An Wei. Mereka menabrak adikku yang menderita penyakit leukimia. Saat itu adikku berusia 9 tahun. Dan, ia.. Meninggal ditempat setelah ditabrak orangtua mu" ujar Liu Xia.
"Jadi.. Sejak itulah aku membenci mereka. Hiks.. Mereka.. Merenggut keluarga ku satu satunya saat itu.. Hiks.. Hiks.. " Liu Xia mulai terisak. Rindu, kecewa, sedih, dan amarah bercampur dalam hatinya.
Ling memegang bahu Liu Xia, menenangkannya. Liu Xia mendongak. Manik silver keunguannya menangkap manik hazel Ling yang menatap lembut dirinya.
"Dengar, jangan menyimpan dendam.. Dendam hanya akan membakar diri sendiri. Untuk apa berdendam? Untuk apa menyimpan amarah?Apa adikmu akan hidup lagi karenanya? Lagipula, apa kau mau adikmu tidak tenang diatas sana? " ujar Ling bijak sambil menatap manik silver keunguan Liu Xia.
Angin sepoi sepoi bertiup, helaian rambut coklat Ling dan rambut putih Liu Xia beterbangan.
Suasana sangat tenang, Liu Xia tampak berpikir sambil menatap manik hazel Ling.
Tak lama, Liu Xia tersenyum. Ia menatap Ling penuh terimakasih.
"Xie xie.. Karena menyadarkanku, Ling.. Sekarang aku sadar, dendam tak mengubah apapun yang sudah terjadi. Aku.. Minta maaf karena dendam pada orangtua mu dan menyembunyikan hal itu darimu selama 4 tahun ini.. Aku minta maaf.. " ujar Liu Xia dengan menunduk penuh penyesalan mendalam.
"Tidak apa.. Lagipula, kau sudah sadar" ujar Ling tersenyum lembut.
Mata Liu Xia pun mulai berembun.
"X-xie xie.. Ling... Arigatou gozaimasu.. "
END
.
.
.
.
.
Kira kira, apa pesan yang kalian dapatkan dari cerpen ini ya?
Semoga pesan nya cukup bermanfaat ya.
Sekian saya pamit undur diri,
Arigatou.