Perjalanan travel agak sedikit telat ke arah Bandung karena hari ini weekend.
Jalanan jadi macet, dan aku sudah bosan dengan pemandangan jalan. Saat sampai di Bandung, aku dipusingkan dengan alamat rumah baruku. Orang tuaku pindah rumah karena alasan finansial.
Di rumah kami yang dulu, kami sering didatangi penagih hutang, jadi kami pun pindah. Sudah hampir 2 tahun aku bekerja di Jakarta. Malam itu aku ke Bandung sekedar untuk mengunjungi orang tua dan rumah baru kami itu.
Aku lihat jam menunjukkan pukul 10 malam. Akhirnya aku memasuki areal perumahan dengan berjalan kaki. Jalanan sudah sepi, tidak ada satu pun orang yang bisa kutanya. Dengan berbekal feeling, aku mencoba mencari rumah no. 73 itu. Aku terus berjalan sambil memandangi nomor rumah, hingga tak berapa lama di depanku terlihat ada seseorang yang sedang berjalan. Aku berlari kecil mengejar orang itu, ternyata itu seorang wanita. Wanita itu berjalan menunduk, dan sampailah aku di sebelahnya.
"Maaf mau tanya...", ucapku.
Wanita itu berhenti lalu menengadahkan kepalanya. Matanya berair, dia terlihat sedang menangis. Aku jadi merasa tidak enak.
"Anda kenapa?", tanyaku.
Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Maaf, kalo rumah no. 73 tau tidak di sebelah mana?", tanyaku lagi.
Wanita itu tiba-tiba menatap tajam ke arahku. Aku sedikit kaget, aku mundur satu langkah darinya. Dan dia menunjukkan arah dengan tangannya ke sebuah rumah dengan pagar hijau. Jaraknya tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri.
"Oh, iya. Makasih ya...", pungkasku.
Aku pun meninggalkannya dan berlari menuju rumah itu. Dan benar saja, itulah rumah yang kucari sejak tadi. Begitu sampai, aku disambut hangat oleh kedua orang tuaku. Melepas rindu, kami pun mengobrol hingga larut malam. Sekitar jam 2 subuh kami kembali ke kamar. Kamarku kebetulan berada di bagian depan, dan jika kubuka jendelanya, akan langsung terlihat jalanan di komplek.
Malam itu entah kenapa aku tidak bisa tidur, aku merasa sangat gerah. Aku beranjak menuju ke jendela untuk membukanya agar ada sedikit angin yang masuk. Aku membuka gorden jendela. Dan... Hah! Di depan pagar rumahku tampak berdiri seorang wanita. Dia hanya berdiri sambil menundukan kepalanya. Setelah aku perhatikan, ternyata itu wanita yang aku temui di jalan tadi. Akhirnya aku tidak jadi membuka jendelanya itu, namun bergegas kembali ke tempat tidurku. Aku tidak memikirkannya dan mencoba untuk tidur.
Kejadian itu ternyata tidak berhenti sampai di situ. Malam berikutnya wanita itu ada lagi berdiri di depan rumahku, tanpa melakukan apa-apa. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, aku mengunci seluruh ruangan, takutnya dia seorang maling.
Wanita yang tiap malam berdiri di depan pagar rumahku itu kini semakin mencurigakan. Setiap malam aku selalu intip dia dari kamarku. Wanita itu sering melihat-lihat ke dalam rumah. Aku sudah melapor kepada keamanan komplek, namun tidak ditindaklanjuti.
Suatu malam, terdengar suara tangisan dari wanita itu. Meskipun di luar pagar, tapi entah kenapa suaranya begitu jelas dan sangat mengganggu. Aku mulai kesal, aku intip wanita itu lagi, dan dia masih berdiri di depan pintu pagar. Akhirnya aku bergegas membuka pintu depan dan keluar dari rumah untuk menegurnya. Aku mendekatinya, wanita itu kini terdiam dan kepalanya semakin menunduk tertutup oleh rambut.
"Maaf, anda ini siapa ya? Tiap malam lihat-lihat ke dalam rumah saya. Mencurigakan. Terus anda kenapa menangis? Sana pergi, daripada saya laporin anda ke polisi!", ucapku setengah mengusirnya.
Wanita itu sekarang malah balik melotot ke arahku, seperti menantangku.
"Apa-apaan anda melototin saya? Kenapa melihat saya seperti itu?", bentakku.
Aku kemudian berteriak untuk membangunkan orang tuaku. Terlihat mereka keluar dari pintu depan, dan aku langsung bilang kepada mereka.
"Pah, ini nih orang yang tiap malam sering lihat-lihat rumah kita. Telepon polisi pah!", ucapku.
Ayahku mengerutkan keningnya.
"Kamu bicara dengan siapa nak?", tanya ayahku.
Perlahan aku tengok lagi sosok itu, dia masih ada di depanku, tapi orang tuaku sepertinya tidak melihatnya. Wanita itu kini tersenyum dan matanya melotot tajam ke arahku. Tiba-tiba wanita itu melesat ke atas dan berubah menjadi asap putih sambil tertawa cekikikan. Badanku lemas seketika, dan aku pun terjatuh. Esoknya aku terkena demam, badanku panas tinggi. Aku jadi trauma tidur di rumah.
Setelah dengar cerita dari orang-orang sekitar komplek, wanita itu ternyata bernama Ayu.
Dulu rumahku ini katanya adalah rumahnya. Suaminya meninggal karena sebuah insiden. Dia tidak terima suaminya pergi meninggalkannya, oleh karena itu dia selalu menunggu suaminya pulang di depan rumahnya, sampai akhirnya dia bunuh diri.
Setelah kejadian itu, aku tidak mau lagi menginap di rumah orang tuaku. Dan jika berkunjung ke sana, aku lebih baik tidak bermalam, karena sampai saat ini wanita itu masih sering terlihat berdiri di depan rumah itu.
Karena keusilan makhluk itu, membuat beberapa warga komplek merasa resah. Bahkan ada pedagang atau pejalan kaki yang tidak sengaja lewat di depan rumahku pada malam hari menjadi korban gangguan dan penampakan wanita itu.
Di mulai dari cerita lima tahun yang lalu ada seorang pedagang bakso yang menjajahkan dagangannya hingga larut malam melewati rumah ini. Dulu, sebelum rumah ini di jual oleh pemilik sebelumnya dan akhirnya di beli oleh Papaku.
( Cerita dari sudut pandang Pedagang bakso )
Malam itu, lima tahun yang lalu, tidak seperti biasanya jalanan di perkampungan tempat saya biasa menjajakan bakso terasa sepi. Sampai jam 9 malam, baru 10 mangkok bakso yang saya jual.
"Sepi banget ya malam ini?", ucap saya dalam hati.
Sambil berjalan mendorong gerobak bakso dan memukul-mukul kentongan untuk memberi tanda bahwa tukang bakso sedang jualan.
Tepat di sebuah pertigaan jalan, saya sempat bimbang, mau belok ke kiri apa ke kanan, dua-duanya terlihat sepi. Akhirnya saya putuskan ambil jalan kanan.
Baru saja melewati dua rumah, ada seorang wanita bergaun putih keluar dari pagar rumah memanggil saya.
"Bang, baksonya satu ya!", ucapnya.
"Ya bu...", jawab saya.
Saya lihat wanita itu kembali masuk pagar. Saya pun langsung menyiapkan satu porsi bakso yang dipesan. Setelah usai saya menyiapkannya, saya pun mengantarnya ke rumah wanita itu. Sampai di depan pagar saya sempat heran.
"Kok pintu pagarnya ditutup ya? Diselot lagi, padahal ibu tadi perasaan tidak membuka dan tidak menutup pagar?", kata saya dalam hati.
Saya menepis keheranan itu, dan saya buka pagarnya. Walaupun diselot, tapi tidak dikunci. Saya langsung masuk menuju pintu. Namun pintunya tertutup. Sesampainya di depan pintu, perlahan saya ketok.
"Tok tok tok... permisi, ini baksonya bu...", kata saya kepada wanita tadi, yang saya yakini adalah penghuni rumah ini.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Kemudian saya ketok lagi pintunya.
"Tok tok tok... permisi, ini baksonya bu...", kata saya lagi, agak keras.
Akhirnya terdengar langkah kaki dari dalam rumah dan pintu pun dibuka. Yang membuka adalah seorang wanita muda.
"Ada apa mas?", tanya wanita muda itu.
"Ini mbak, tadi ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso sama saya", jawab saya kepada wanita muda itu.
"Ibu-ibu? Di rumah ini tidak ada ibu-ibu mas, saya di sini cuma tinggal bertiga dengan suami dan anak saya", kata wanita muda itu.
"Ya, tapi tadi sih masuk ke sini mbak", kata saya.
Tiba-tiba seorang lelaki muda, yang tentunya suami wanita muda ini keluar dari dalam rumah dan bertanya.
"Ada apa sih malam-malam kok ribut?", tanyanya.
"Ini abang tukang bakso ini mengantarkan bakso, katanya ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso. Padahal kan di rumah ini cuma kita bertiga?!", jawab wanita muda itu.
"Gitu aja kok ribut. Ya sudah, sini baksonya, biar saya yang makan, tapi bikinkan satu lagi ya buat istri saya", kata lelaki muda itu.
Saya pun menyerahkan semangkok bakso kepadanya, dan bergegas menyiapkan semangkok lagi. Setelah selesai, saya antar baksonya ke rumah tersebut.
"Ini mbak baksonya", kata saya sambil menyerahkan semangkok bakso kepada wanita itu.
"Duduk sini dulu mas", kata lelaki muda itu sambil mempersilahkan saya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu.
"Ya mas, makasih", kata saya.
Dia makan di teras, sementara istrinya masuk membawa bakso. Tak lama kemudian istrinya menyerahkan mangkok yang sudah kosong kepada saya, mungkin langsung dipindah ke mangkoknya sendiri.
"Emangnya bener tadi ada ibu-ibu pesan bakso? Jangan-jangan mas cuma ngarang aja biar baksonya laku?", kata lelaki itu berkelakar sambil tersenyum kepada saya.
"Untuk apa saya bohong mas? Saya kan tiap hari jualan di sini. Memang benar kok tadi ada ibu-ibu yang pesan", jawab saya.
"Ciri-cirinya bagaimana?", tanya lelaki muda itu.
"Ya ibu-ibu, tidak terlalu tua sih, pakai baju panjang warna putih, rambutnya agak panjang", jawab saya.
"Lalu dari mana asalnya, dan kemana?", tanya lelaki muda itu lagi.
"Tadi keluar dari rumah ini, dan masuk lagi ke rumah ini mas. Tapi yang saya heran, saya tidak mendengar dia membuka atau menutup pintu pagar, padahal waktu saya masuk, pagarnya ditutup dan diselot. Waktu saya buka selotnya, bunyinya cukup keras mas", jawab saya.
"Ya, tidak salah kata orang-orang di sekitar sini, memang dia kadang-kadang muncul, tapi saya sampai hari ini belum pernah bertemu sama dia", kata lelaki muda itu.
"Maksudnya mas?", tanya saya bingung.
"Kata orang-orang di sekitar sini, dia itu makhluk halus yang tinggal di rumah ini. Itu sih kata orang, kami sendiri yang tinggal di sini belum pernah bertemu", jawabnya.
Langsung merinding bulu kuduk saya mendengar penjelasan lelaki muda itu, ada rasa takut menjalar di tubuh saya. Dan rupanya ketakutan saya terlihat oleh lelaki muda itu.
"Gak usah takut mas, biasa saja. Ini uangnya", kata lelaki itu sambil menyodorkan uang 20 ribu rupiah kepada saya.
"Baik mas, makasih ya mas", kata saya sambil memberikan uang kembaliannya, dan bergegas meninggalkan rumah itu.
Setelah selesai saya letakkan mangkok di dalam gerobak, dengan penuh rasa ketakutan, saya pun langsung mendorong gerobak menjauhi rumah itu. Di sudut mata saya sekilas terlihat seorang wanita bergaun putih sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya dari balik rerimbunan pohon jambu air di depan rumah itu.
( Begitulah cerita yang ku ketahui tentang pedagang bakso dari beberapa warga komplek. Walau aku tidak begitu tahu pasti berapa banyak korban hantu wanita bunuh diri tersebut. )