Betapa aku sulit untuk membedakan antara perasaan ini. Ketika kebencian sudah mulai memenuhi otak dan pikiran. Rasanya aku begitu sangat membencimu ketika kau dengan sengaja membuat aku cemburu. Namun betapa ini meresahkan aku. Aku tidak bisa berdiam untuk memikirkan kamu. Iya, nama kamu masih terpahat di hatiku. Padahal kamu sering menyakiti aku. Bahkan aku pikir itu kamu sengaja melakukan itu kepadaku. Entah apa maksudnya itu?
Seperti pagi tadi, kamu dengan senyummu yang mengembang mempamerkan kedekatan kamu dengan wanita itu. Entah wanita itu spesial buat kamu atau hanya kawan dekat mu. Entahlah, kamu yang tahu.
Anehnya, aku tetap diam membisu. Aku tidak memprotes dan bertanya akan hal itu. Aku masih terlalu kuat akan gengsi itu. Aku pikir, jika kamu masih ingin mengejar ku, kenapa kamu harus menunjukkan kemesraan kamu dengan wanita baru. Disaat kita sudah mulai menjauh dan sesungguhnya kita masih sama- sama saling ingin tahu posisi dan letak perasaan itu.
Setelah satu bulan kita sama-sama tidak bergeming. Akhirnya kamu berbicara kepada ku. Dan sekarang kita bertemu dan duduk saling berhadapan.
" Apakah kamu, sedikitpun tidak merasakan cemburu itu kepadaku?" tanya mu sambil menatap wajahku.
Aku masih diam belum berani menjawabnya. Apakah aku harus mengungkapkan segala kekesalan ku terhadap mu. Apakah aku harus mengaku kalau aku sangat cemburu? Apakah aku harus mengungkapkan kalau aku benci kamu ketika kamu diam membisu terhadap ku? Ini membuat sesak hati aku.
" Apakah wanita itu spesial bagi kamu?" tanya aku balik.
" Tidak!" jawab mu singkat.
" Ya sudah! Aku hanya berusaha mempercayai kamu. Namun kamu malah sengaja menunjukkan sesuatu yang membuat aku membencimu." kataku akhirnya.
" Maaf! Wanita itu private kepadaku dan aku seorang pelatih baginya." Ucap mu yang membuat aku kembali menarik nafas lega.
" Aku tahu itu! Tetapi kenapa kamu selalu sengaja membuat aku cemburu? Dan kamu tahu aku membencimu karena kamu tidak menjaga perasaanku. Aku juga memiliki rasa cemburu." ucapku akhirnya jujur.
Kamu tersenyum, akhirnya aku bisa mengatakan hal itu kepadamu.
" Kamu senang? Ketika aku benci karena kamu sengaja membuat aku cemburu. Dan ini kamu malah tersenyum?" kataku lagi rasanya ingin kembali marah kepadamu.
" Maaf! Tetapi aku sangat senang jika bisa melihat kamu cemburu." katamu.
" Walaupun itu menyakiti hatiku?" sahutku.
" Maaf!" katamu sambil tersenyum.