Aku pernah membaca Jurnal milik kakekku, ia menceritakan tentang legenda rumah elf yang ada di tengah - tengah hutan. Rumah itu hanya bisa ditemukan pada tanggal 29 Februari di musim hujan.
Dikatakan terdapat 5 elf di sana, mereka semua merupakan keluarga yang gemar memakan daging dan juga berburu. Mungkin karena berada di tengah hutan yang terisolasi, maka mereka harus berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tapi, jurnal mengenai legenda rumah elf hanya sampai hobi mereka makan daging dan hidup terisolasi. Sisanya hanya lembaran kertas kosong yang memilik bercak cat berwarna merah gelap. Cover bukunya pun sudah seperti digigit hewan.
Untuk membuktikan keberadaan rumah elf aku berangkat dengan berbagai perbekalan dan juga biaya untuk sampai ke sana. Berdasarkan data perang yang di ikuti kakekku, lokasi hutan ini berada di Jepang dekat gunung fuji.
Butuh waktu 4 jam untuk sampai ke Jepang dan 2 jam perjalan ke hotel yang dekat dengan gunung fuji.
Sampai di sana, sekitar tanggal 28 Februari aku mulai mempersiapkan diri, mulai dari alat berburu untuk membela diri di hutan dan juga perbekalan bertahan hidup, semuanya aku lengkapi dan pastikan tidak ada yang tertinggal.
----
29 Februari di musim hujan, suasana cukup dingin aku harus memakai jaket tebal agar tidak kedinginan di dalam hutan, aku mempersiapkan smartphone dan telepon satelit jika tersasar agar mudah untuk di temukan.
Aku sudah memasuki hutan, aku sengaja memasang kamera kecil di kepalaku agar bisa membuktikan keberadaan rumah elf kepada dunia dan akan membicarakannya di internet.
Aku pikir hutan cukup menyeramkan, ternyata malah sangat indah. Burung berkicau dengan merdu, banyak sekali hewan - hewan di televisi yang bisa kutemui langsung, seperti kodok beracun.
Aku berjalan semakin dalam ke arah hutan, berusaha tetap tenang dan menandai jalan dengan batang kayu agar tidak tersasar. Semakin dalam aku masuk, perasaan mencekam mulai datang.
Namun, perasaan itu hilang menjadi perasaan senang. Aku melihat sebuah rumah di tengah hutan dengan atap berwarna hitam dan juga tembok warna coklat, rumah tersebut sangat indah.
Aku berjalan menuju rumah itu, sepertinya tidak ada orang di sekitar sana sehingga rumah terlihat sepi. Tapi, ada yang aneh aku mendengar seseorang sedang memasak di dalam sana.
Aku mencoba mengintip ke dalam, ternyata kakek benar. Aku melihat seorang wanita dengan telinga lancip ke atas dan wajahnya sangat cantik. Sudah dipastikan ini adalah rumah Elf yang ditulis kakek.
Wanita tersebut terlihat sedang merebus air di dalam panci besar. Aku penasaran daging apa yang dimasak oleh elf. Tiba-tiba ada seorang pria berbadan tegap menepuk pundakku, aku menengok dan wajahku di puku oleh batu sampai pingsan.
----
Aku terbangun di sebuah basemen, di sana cukup gelap, dan aku kehilangan barang bawaanku dan semua perbekalan yang telah aku siapkan, di sana aku melihat kepala manusia yang digantung.
Aku muntah seketika, perutku rasanya mual, dan bau busuk di situ mulai tercium sangat menyengat. Kepala manusia itu ada 2, tidak, ada 5 kepala manusia yang digantung.
Aku terkejut, aku bertanya tanya apakah ini rumah elf yang tadi? Kurasa bukan, aku hanya mengingat kalau aku dipukul oleh seorang pria tegap dan aku tidak sempat melihat wajahnya saat mengintip rumah itu.
Tiba - tiba terdengar seseorang membuka pintu, terdapat seorang pria tegap yang masuk ke basemen. Ternyata, ia adalah orang yang memukul ku tadi dengan bukti batu di tangannya yang masih ia pegang.
Pria itu memiliki telinga lancip, Ini elf! Aku melihat dengan seksama dan tidak salah bahwa itu adalah elf yang sedang memegang batu di tangan kirinya dan sebilah pisau di tangan kanannya.
Aku panik, melihat seorang elf yang tampan ternyata berusaha membunuhku, aku berusaha melawan namun sayang kakiku di rantai. Elf itu menghampiri salah satu kepal yang tergantung di sana dan membawanya ke atas, ku rasa itu akan di masak.
Setelah itu, ia kembali lagi dengan pisau daging yang besar. Ia menjambak kepalaku dan menjilati wajahku, mulutnya sangat bau! Aku menyerang dengan tanganku dan berhasil mengenai mata elf itu.
Aku pukul elf itu lagi dan lagi karena matanya yang sakit membuatnya tidak fokus. Aku berhasil mengambil kunci dari kantong elf itu dan membuka rantai kakiku. Aku mendorongnya dan memukul kepala belakangnya hingga pingsan.
Aku naik ke atas dari basemen dengan wajah ketakutan dan terkena liur elf, aku berusaha lari dari sana. Saat aku di sebuah ruangan yang ada meja makan aku melihat kameraku tergeletak menghadap dapur, aku mengambil kamera itu dan lari dari sana.
Aku melupakan semua perbekalan dan juga pakaian milikku, fokus utamaku adalah lari dari sana agar nyawaku selamat. Di tengah hutan, aku melihat anak elf yang sedang menyeret manusia yang pingsan dari hutan.
Aku berhenti sejenak untuk merekam itu di kameraku dan bersembunyi di belakang pohon, hal ini untuk membuktikan pada dunia bahwa rumah elf itu ada.
Setelah berhasil merekam tanpa ketahuan, aku lari kembali, kali ini pelan - pelan agar tidak terdengar oleh anak elf. Aku berhasil sampai keluar hutan. Aku tidak tau bagaimana caranya, tapi aku berhasil keluar.
Setelah itu karena kehilangan segalanya aku mau tidak mau berjalan kaki sambil merekam keadaan sekitar, untuk berjaga - jaga jika aku mati karena tidak fokus.
Untungnya, aku berhasil sampai hotel, 2 jam berjalan dengan modal identitas di dompet dan bukti kehilangan aku bisa masuk ke dalam hotel. Masuk hotel aku berusaha menenangkan diri.
Aku membersihkan tubuhku dari noda darah dan wajahku dari liur elf. Setelah itu, aku mengecek video dari kameraku tadi. Bisa dibilang semua hal yang ku tahu terekam sampai aku pingsan.
Ternyata, saat aku pingsan kamera itu dicabut oleh pria elf tampan tadi dan ia memberikannya pada anaknya yang berjumlah dua orang, mungkin yang ketiga bertemu denganku saat lari.
Video terus berjalan melihat dua anak elf memainkan kameraku, mereka terlihat "lucu". Hingga aku melihat pria elf naik dari basemen muncul sambil membawa kepala manusia yang kurasa kepala yang kulihat di basemen.
Anak elf itu tanpa sengaja mengarahkan kamera ke kepala itu, aku merasa mual dan terkejut, wajahnya sangat tidak asing, aku menangis sangat keras dan membuka jurnal kakekku lagi.
Aku melihat foto kakekku dan menangis semakin keras. Karena, aku melihat kepala kakekku yang sedang di masak di dalam panci elf itu.
Kuputuskan untuk menghentikan rekaman dan menghapus video itu serta membakar jurnal kakekku.
Aku tetap menangis hingga akhirnya aku menyadari sedang berada di atas meja makan selama ini.
Tamat