Sebuah kenangan dariku tentang suami ojol ku.. yang tidak bergelimang harta tapi dia bergelimang kasih sayang tanpa batas padaku..
-----
"JADI KAMU DI PHK MAS???" begitu lah reaksi pertama ku malam itu mendengar kabar tak enak dari mulut suamiku Farhan. Dengkul ku rasanya lemas lunglai seketika, tubuhku tiba-tiba terhempas ke sofa tidak empuk di ruang tamu.
Namaku Adelia, ibu muda dengan dua orang anak, usia ku baru 25 tahun putra pertama berumur 3 tahun biasa dipanggil Toby putri kedua bernama Nana berusia 5 bulan..
ia menyodorkan amplop coklat berisi uang pesangon yang menurut ku tidak seberapa,, selama ini gaji mas Farhan cuma lima juta itupun kalau ada lembur, kalau tidak ya kurang dari lima juta, dan aku ibu rumahtangga tok jadi apa-apa tergantung mas Farhan. Aku juga tidak punya keahlian khusus tamat SMA kerja di toko terus nikah diumur 20 tahun! menikah muda juga sama pegawai staf keuangan bukan sama CEO perusahaan
lagian siapa aku bisa bersuami CEO??
seandainya hidup bisa milih ya...
"maaf ya dek.. mas mu ini nganggur dulu sementara sambil cari kerjaan.." ucap mas Farhan memelas.
Wajahku cemberut tak terima kenyataan.
"kamu pasti kerjanya malas kan mas? kamu ngga cerdas makanya jabatan kamu ngga naik-naik disana aja staf melulu ngga berubah.. akhirnya apa di PHK kan " hardik ku dalam satu tarikan nafas.
"astaghfirullah dek.. kamu bicara apa? aku sudah berusaha , lagipula perusahaan sekarang sedang sulit..."
"haallla.. sudah lah mas.. aku capek.. terserah kamu mau gimana yang pasti uang belanja sama kontrakan aku taunya ada..." sela ku kemudian, aku kesal bukan main, segera kutinggalkan mas Farhan sendiri.
***
Esok pagi aku menyuguhkan kopi hitam sama nasi goreng buat mas Farhan, suami ku itu tetap bangun pagi meski ia belum tau kemana dia harus mengais rejeki hari ini.
"dek.. uang pesangon bisa ngga mas minta sedikit buat modal..." tanya mas Farhan pagi itu, aku terperangah.
"apa mas?? ngga salah??" sinisku mendengar permintaan yang menurut ku tak masuk akal " ngga bisa mas.. kamu pikir pesangon kamu cukup untuk hidup kita sebulan kedepan?? aku nggak mau ya nanti ngutang ngutang sama warung atau apa.. kontrak kan juga ngga mau nunggak.. jadi kamu cari aja sendiri..."
Mas Farhan menarik nafas panjang.
"ya Allah dek.. nanti mas ganti kalau udah dapet hasil dari usaha nya.."
"mau usaha apa juga coba mas... kamu pinjem aja tuh sama ibu kamu yang suka pilih kasih itu.. jangan Wina sama Lily aja yang dipikirin...kamu kapan??" ujarku berapi-api
"kok kamu sampai nyalahin ibu sih??"
"terserah mas..kalau aku bilang nggak ya nggak mas... udah ah.. males.. aku mau mandiin anak-anak dulu..." pungkasku lagi-lagi meninggalkan mas Farhan sendiri dengan kegalauannya.
Tak lama mas Farhan bersiap mengenakan kemeja dan membawa map berisi ijazah S1 nya .. mau keliling cari kerjaan.
"doakan mas ya dek.. semoga hari ini dapet kerjaan.."
"iya.. amiin..." sahutku mencium punggung tangannya, lalu mas Farhan mencium pipi kedua buah hati kami.
"doakan ayah ya nak..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku tak peduli ,,hanya rasa kesal yang memenuhi rongga dadaku. Nyesek! kan malu sama sodara ku yang lain kalau mereka tau suamiku pengangguran sekarang!
Kulirik mas Farhan yang mulai melaju dengan maticnya.. dalam hati aku berdoa juga semoga Gusti Allah memudahkan jalan suami ku mendapatkan pekerjaan baru.
***
Genap satu Minggu mas Farhan mondar mandir cari kerjaan hasilnya Alhamdulillah Nihil!!
Aku tambah bete aja.. kenapa hidup kami bukannya makin maju malah makin mudur, jujur aja bahkan untuk kasih jatah mas Farhanpun aku rasanya malas.
Pagi itu seusai sarapan aku mengutarakan rincian uang pesangon yang sudah kupakai untuk isi token bayar PAM sama kontrakan belum lagi biaya susu sama diaper si kecil. Wajah suamiku terlihat mendung, mungkin seperti ada hantaman kuat menyerang jantung nya.
"mas ngga bisa ya gini terus bisa jadi gembel nanti kita..." keluh ku melengkapi sarapannya pagi ini.
"iya dek.. kamu yang sabar ya.."
Aku menekuk wajah tujuh lipatan. sabar sabar.. sabar sampai kapan.. sampai jadi gembel??!! keluhku dalam hati.
Sore hari suamiku pulang dengan wajah sumringah, aku yang menyambut kedatangan nya dari balik pintu ikut senang, bisa jadi ini pertanda mas Farhan sudah dapat kerja.
"Alhamdulillah dek.. mas dapet rejeki hari ini.." ucapnya dengan wajah berbinar menyodorkan uang dengan jumlah 35.000
"apa ini mas??" tanyaku heran
"begini tadi mas ketemu temen lumayan lah dia kasih kerjaan dikit, jadi tadi mas bantu-bantu di proyeknya dia,, jadi kuli panggul dek dikasih 50.000 terus 15.000 mas pakek untuk isi bensin.."
"cukup apa segini mas..." keluhku tak bersyukur.
"Masya Allah dek.. cukup kok kalau kita terima dengan ikhlas dan rasa syukur.." suamiku mengingat kan.
"iya cukup tapi kalau kita hidup di tahun 1965.. ini sudah 2020 mas.. " aku terus protes sementara mas Farhan lebih memilih diam ketimbang meladeni aku
***
Apa saja dilakukan oleh mas Farhan yang penting ia bisa menghasilkan, dan aku mau tak mau harus terima dari pada dapur ngga ngebul.
Pagi hari seperti biasa aku belanja sayur di abang keliling,, beberapa ibu-ibu di sekitar juga belanja disana.
"eh.. kamu Del.. lama ngga nongol..." tanya ibu Nurul sambil memilih beberapa ikan dan sayur disana.
"ah.. ngga kok Bu.. kitanya aja yang jarang ketemu .." aku berkilah padahal kenyataannya aku memang sengaja tidak mau belanja bareng ibu-ibu disana nanti keliatan susahnya lauk yang ku beli cuma tahu atau tempe sama sayur!!
iihhh sebalnya aku.
Aku pulang membawa ayam kali ini, yah karena papasan sama yang lain jadi terpaksa aku beli aja setengah kilo ayam sama beberapa sayur. Gengsi dong!!
langkah ku terhenti, seorang driver ojek online parkir di depan kontrakan ku.
"cari siapa mas??" tanyaku pelan.
Astaga naga.. saat sang driver menoleh ternyata mas Farhan!
Perasaan baru sekian menit yang lalu aku ikut ghibah soal suami tetangga ku Maya yang sekarang jadi ojol eehh malah suami ku sendiri yang jadi ojol!
"mas kamu..."
"iya dek... Alhamdulillah mas sekarang jadi ojol.. doain ya biar sehat terus rejeki mas lancar..."
"iya amin.." jawabku ketus segera masuk kedalam kontrakan.
Aku menyiapkan makan siang untuk keluarga ku, tetap saja ada perasaan tidak puas dalam hati. Wajahku tertekuk 100 lipatan.
Waduuhh kenapa apes gini ya hidupku..- lagi-lagi aku mengeluh.
"mas mau jalan lagi ya dek.. doain siapa tau banyak orderan..." ujarnya tersenyum sumringah
"iya.. udah sana.. ati-ati.. kamu ngojol nya jauh-jauh jangan di sekitar kampung kita,, terus sumpetin itu jaket sama helm.."
"lah emang kenapa?" tanya mas Farhan heran
"udah jangan bawel..." ketusku kemudian.
Mas Farhan patuh pada yang kuucapkan.. mungkin dia tau kalau aku tidak suka sama profesi barunya. Bagiku mas Farhan itu sarjana,, bukan lulusan universitas ecek-ecek.. malah jadi ojol. dia kerja kantoran aja hidup kami pas-pasan apalagi kayak sekarang.
Ya Allah.. sumpah malu bukan main kalau sampai tetangga pada tau kerjaan suamiku sekarang!
***
Tidak terasa setahun lebih sudah berlalu,, akupun mulai terbiasa dengan kerjaan baru suamiku. Bisa dibilang ada hikmahnya juga mas Farhan tidak kerja kantoran lagi jadi selain ngojol dia juga kerja sambilan jualan online atau makelarin apa aja yang penting menghasilkan dan halal.
Kami juga akhirnya tidak ngontrak lagi, kebetulan ibunya mas Farhan sudah lama memberikan kami sebidang tanah yang tak jauh dari kediaman mereka untuk kami bangun rumah, namun karena keterbatasan biaya jadi kami bangunnya nyicil,,, ada rejeki dikit beli bata.. ada lagi beli pasir dan seterusnya, sejak Mas Farhan tidak kerja dia juga jadi lebih banyak punya waktu untuk kejar target biar bisa segera jadi rumah kami walaupun belum sempurna betul, yang aku tahu sebagian uangnya juga berasal dari hasil ladang dikampung.
Namun sifat serakah dalam hatiku kadang ada aja yang bikin aku tidak puas. tapi mas Farhan selalu baik dan selalu mengarahkan aku dengan kelembutannya.
Aku ingat malam dimana aku dan mas Farhan bercerita banyak di dalam kamar kami.
"dek.. maaf ya kalau rumah nya masih belum bagus betul..* ujar mas Farhan kala itu.
"iya mas.. ngga apa-apa namanya juga nyicil bikinnya.. yang penting sekarang ngga ngontrak lagi..." sahutku sambil rebahan di dada suamiku.
"terimakasih ya dek.."
"sama-sama mas.. tapi ngomong-ngomong didepan itu kamu mau bikin apa?" tanyaku tentang kios kecil didepan rumah kami jaraknya kira-kira Dua meter di tepi sebelah kanan.
"ohh.. itu.. mas mau bukain kamu warung kelontong,, sekalian kamu kan pinter bikin kue.. siapa tau nanti kamu mau bikin usaha disana..." ujar Mas Farhan lanjut beranjak dari kasur sederhana kami, ia mengeluarkan buku tabungan dan ATM dari dalam lemari.
"apa ini mas...?" tanyaku heran saat pria sabar yang kunikahi lebih dari enam tahun itu menyodorkan benda ditangannya.
"ini tabungan mas yang mas simpan untuk nanti kita buka usaha..."
Aku terperanjat, kulihat nominalnya lumayan menurut ku yang jarang-jarang pegang uang banyak!
"kamu simpan ya.. nanti satu dua hari ini kita mulai aja isi kiosnya untuk buka warung..."
Liat uang di tabungan yang banyak tak hentinya aku hanturkan ucapan terimakasih pada suamiku yang penyayang itu.
"maafin mas ya dek.. kalau sebagai suami mas belum bisa membahagiakan kamu sama anak-anak kita,, mas juga belum bisa membuat rumah seperti yang kamu mau... mas ngga bisa bikin kamu bangga karena mas cuma bisa jadi ojol dan kerja serabutan..." lirihnya membuat aku tersentuh.
"mas ngomong apa sih..? kita mulai dari awal mas.. usaha kita nanti semoga berkah.." ujar ku mengalihkan pembicaraan, entahlah aku merasa ada yang sakit ketika kudengar ucapan mas Farhan barusan.
"iya dek.. mas yakin kamu bisa ya..."
"apaan sih mas.. bukan aku aja.. tapi kita berdua..." protes ku kemudian tubuhku dipeluk erat oleh sosok yang kucintai itu, rasanya begitu hangat dan damai.
Kami pun terus bercengkrama bercerita tentang masa depan hingga tengah malam, seakan tidak ada hari lain untuk kami berbagi.
***
Warung kelontong pun telah kami buka seperti keinginan mas Farhan, hari itu seperti biasa mas Farhan tetap cari penumpang dengan mengaktifkan aplikasi sambil bantu aku beres-beres warung. Jadi habis antar penumpang mas Farhan balik lagi kerumah, hingga beberapa kali. Tidak hanya kami berdua, ibu dan adik mas Farhan juga ikut nolong beres-beres.
Sore hari yang mendung.
"dek ada orderan mas narik dulu ya.. " pamitnya padaku.
"loh mas.. ini aku udah bikin kopi sama pisang goreng..." rajukku sambil membawa nampan kopi dan pisang.
Mas Farhan tersenyum sangat manis, ia meneguk sedikit kopi yang kutawarkan lalu mengecup keningku.
"mas ngga lama ya.. abis ini mas langsung pulang.."janjinya kemudian mengenakan helm dan jaket.
Entahlah ada yang bergemuruh dalam hati,, rasa aku tak ingin dia pergi....
***
Magrib pun berlalu.. Mas Farhan belum kembali,, aku coba berfikir jernih.. mungkin sedang ramai orderan. lagipula sekarang aku sibuk didapur menyiapkan makan malam setelah sholat magrib tadi.
Tanpa terasa waktu sudah pukul 22.00 aku tertidur di ruang tamu, sementara kedua buah hati kamu sudah kutidurkan didalam kamarnya.
Aku menguap sambil mengulet, Mas Farhan belum juga pulang!
tok... tok.. tok..
pintu rumah kami diketuk.. terdengar dari luar suara ibu mertua memanggil namaku beberapa kali.
Daun pintu terbuka, kulihat wajah ibu yang pucat basi.. felling ku tak enak melihat aura ini mertuaku itu.
"Aadeeelllll...." ibu mertua ku menghambur memeluk ku sambil terisak.
"ada apa Bu...?"
"kamu cepat ajak Toby sama Nana ikut ibu sama bapak ke rumah sakit.."
"loh siapa yang sakit..."
"mas Farhan di rumah sakit..dia kecelakaan....!!!" seloroh Wina karena ibu tak sanggup memberitahu ku.
Langit seakan runtuh menimpa kepalaku, aku lemas mendengar kabar buruk ini. Segera aku bersama anak-anak ikut ibu kerumah sakit.
***
Tubuh berselang infus itu lemah tak berdaya, beberapa alat dipasang. Aku tak hentinya terisak, teringat olehku betapa aku seorang istri yang durhaka, aku yang banyak menuntut suami, aku ya selalu tidak puas dengan apa yang suamiku beri.
Kini sosok yang selalu menyayangi ku tanpa pernah mengeluh bahkan tidak pernah kasar kepadaku sedang lemah tak berdaya.
"mas... bangun mas.. maafin Adel... Adel belum bisa jadi istri yang baik..." bisikku terisak di ruang ICU rumah sakit itu.
Dari info yang kudapat dari saksi yang berada disana, saat itu ada sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan dan mas Farhan yang baru selesai membeli makanan pesanan customer kebetulan sedang melintas. Kecelakaan tak terhindar ketika mobil itu hilang kendali.
Pemilik mobil bernama Handoko itu ternyata bertanggung jawab atas kelalaiannya!
"mas.. Adel janji kalau mas bangun Adel bakal berubah mas.. ngga lagi marah-marah..." janji ku berharap kedua mata indah milik suamiku akan terbuka, butiran lembut terus mengalir tanpa henti dari sudut mataku.
"maafin adel mas.. maafin..." ratapku menciumi punggung tangannya.
Tubuh itu tetap tak bergeming, ada ketakutan memenuhi rongga dadaku, rasanya begitu sesak...
Apakah ini pertanda aku akan jadi seorang janda??!
Ya Allah izinkan aku berbakti sekali lagi pada suamiku...- ratapku dalam relung hati terdalam.
"tiiiiiiiittttt.... "suara itu sangat nyaring terdengar aku panik ketika kulihat dilayar yang tadinya bergelombang kini lurus,,, seperti yang sering ku lihat di film-film.
"dokter... tolong dokter... " teriak ku histeris.
Seorang dokter dan beberapa suster datang.. aku harus menunggu diluar, aku harus mempercayakan cara kerja mereka dalam upaya menyelamatkan nyawa suami ku.
Tak henti hati ini berzikir memohon pada sang khalik untuk keselamatan suami.
Aku menanti dengan tidak sabar. Kemudian seorang dokter laki-laki keluar dengan wajah sedih.
"bagaimana dok suami saya.." desak ku tak sabar
"mohon maaf Bu kami sudah berusaha.. Allah lah yang menentukan.. semoga ibu dan keluarga diberi ketabahan..."
Duniaku jadi gelap kudengar sayup-sayup Isak tangis kedua orang tua,saudara mas Farhan dan kedua buah hati kami. Aku ikut hilang, hilang dalam tumpukan rasa bersalah ku pada Mas Farhan.
***
Tak ada kata terucap dari mulut ku,, aku membeku memeluk Toby dan Nana yang belum begitu paham dengan apa yang terjadi. Air mata ku surut tertahan oleh jutaan rasa bersalah ku. Jika waktu bisa kuputar.. akan aku terima suamiku apa adanya.
Aku teringat saat Zaki suami Maya bercerita betapa gigihnya mas Farhan untuk menghidupi aku dan anak kami, dan betapa dia mencintai ku sepenuh hatinya. Bahkan tanpa aku ketahui mas Farhan menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli asuransi, buat berjaga kalau dia tiada.
Kami juga menyelesaikan kasus kecelakaan yang menimpa suami ku dengan cara kekeluargaan, bahkan pak Handoko yang akan menjamin pendidikan Toby dan Nana.
Ya Allah... begitu banyak yang aku lewat kan.. begitu banyak cinta dari suami yang hanya kupandang sebatas uang dan pekerjaan semata. Aku lupa, dia manusia biasa, aku lupa ia juga butuh cinta dari ku.. cinta yang tanpa syarat, cinta yang akan selalu saling menguatkan dikala salah satu ada yang rapuh.
Aku hanya bisa menuntutnya ini dan itu, tapi dia tak pernah mengeluh,, meski sulit mas Farhan pasti akan usahakan untuk ku.
Kini tinggal kenangan,, sosok yang sangat mencintai ku sudah kembali pada sang khalik,, jasadnya telah masuk kedalam rumah keabadian.
Walaupun aku tidak punya kesempatan membalas cinta nya yang begitu besar,, tapi aku berjanji akan menjaga kedua buah hati kami.
Tenanglah mas Farhan.. tunggu aku di surganya Allah.. suami ojol ku...
-------
Terimakasih sudah membaca sampai akhir jangan lupa like and komentar nya...
cerita hanya fiktif belaka ya.. jika ada kesamaan tokoh atau cerita semua hanya kebetulan semata🙏🙏
Jangan lupa baca novel aku berjudul "setia itu sulit"