Tema: Denyut Jantung.
-oOo-
Dengan susah payah, Runa berhasil membawa Ardina yang tengah pingsan ke dalam kamarnya. Ardina memiliki tubuh yang tidak terlalu berat, hanya sekitar lima puluh kilometer tapi dia bertubuh tinggi, ini kenapa Runa merasa Ardina lebih berat dari dugaannya. Runa menyeka keringat setelah berhasil meletakkan tubuh Ardina di atas karpet kamarnya.
Runa berkacak pinggang, mengatur napasnya yang kian terengah. Perasaan lelahnya bercampur dengan debaran tak karuan dalam dada. Dia menemukan kotak aneh yang sampe sekarang belum berani ia buka. Tapi, dia yakin jika kotak itu adalah kotak misterius yang dibawa badut pembunuh seperti dalam mimpinya. Dia terlalu takut jika mimpinya adalah pertanda jika dia benar akan mati dibunuh oleh badut. Terlebih, dia cukup terkejut jika Ardina juga ada sangkut paut dengan badut pembunuh dalam mimpinya.
Perlahan, Runa berjongkok di sebelah Ardina yang masih pingsan. Karena terkejut dan panik, Runa terpaksa menghantam kepala belakang Ardina dengan talenan kayu dengan cukup keras hingga ia pingsan. Runa mengecek napas Ardina yang masih terhembus tipis. Lalu, tangan lentik Runa menyentuh leher Ardina.
“Masih hidup,” lirih Runa yang masih bisa merasakan denyut nadi Ardina. Tanda jika Ardina belum mati. Hanya pingsan.
Tidak. Runa tidak berencana untuk membunuh atau melakukan hal buruk pada Ardina. Dia hanya ingin melewati malam ini dengan aman. Dan, dia akan meminta penjelasan pada Ardina. Nanti.
Runa bangkit dari jongkoknya dan membuka kelambu kamar Ardina. Mereka berada di lantai dua puluh lima . Mereka di dalam apartemen mewah milik Runa. Dan, kamar Ardina tidak memiliki balkon. Runa mengunci jendela kamar Ardina serta menutup kelambunya rapat-rapat lalu perlahan meninggalkan kamar Ardina. Ia mengunci kamar Ardina dari luar, memastikan jika Ardina tidak bisa pergi sebelum Runa datang nanti malam. Dia akan mengeluarkan Ardina jika malam penghargaan ini selesai.
“Maaf Ardina... aku akan kembali.”
Runa bergegas memasuk kamar dan mulai membereskan bbarang-barang keperluannya untuk menghadiri malam penghargaan nanti. Ia terduduk sejenak di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya tegang dan sedikit air mata yang menetes. Perasaannya masih sedikit kacau dia merasa denyut jantungnya berpacu cepat, berlomba dengan napasnya. Dia masih tidak percaya dengan mimpinya yang terlalu nyata itu. Tapi, penemuan kotak dan sikap aneh Ardina membuat nalurinya bersikap untuk waspada. Dan, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah dengan mengurung Ardina, si badut agar tidak berhasil melancarkan aksinya.
“Yah, aku siap... .” lirih Runa sambil bangkit dari duduknya dan menatapnke arah pantulan cermin di kamarnya. Ia sudah siap untuk menerima penghargaannya sebagai aktris terbaik. Juga, dia tidak akan membiarkan hari ulang tahunnya, menjadi hari kematiannya. Tidak akan.
-oOo-
“Ini nyata dan... aku masih cantik.”
Runa menatap pantulan dirinya di cermin. Penampilannya benar-benar persis seperti gambaran dirinya dalam mimpi buruk semalam. Ia merasa cukup tercekat dan perlahan menyisir rambutnya dan membuat rambutnya terikat oleh tangan. Dia sedikit membuat perubahan dari penampilan sebelumnya.
“Masih cantik.” Ujar Runa yakin. Sesaat, Runa mendesah dan kemudian membuka laci meja rias untuk mencari pita agar bisa mengikat rambutnya.
Namun, manik matanya menangkap sesuatu yang membuatnya membeku. Ia menemukan kotak misterius dari si badut dalam mimpinya, ada di dalam laci. Runa yakin, jika kotak itu sudah ia buang tepat saat ia berangkat ke butik untuk mengambil gaun. Tapi, kotak itu di sana. Tangan Runa bergetar menyentuh permukaan kotak itu. Perlahan, ia membuka kotak itu dan menemukan topeng badut di sana. Saat ia mengambil topeng itu, ia menemukan sebuah foto yang kian membuatnya membeku.
Ardina tewas. Dia tergeletak di atas lantai kamarnya dengan bersimbah darah dan sebuah pisau yang masih tertancap di dadanya.
Runa mendongak menatap ke arah cermin namun bukan pantulan dirinya yang ada di cermin itu. Melainkan pantulan seorang wanita memakai topeng badut. Dan, badut itu memakai pakaian yang sama persis dengan dirinya. Tidak, pantulan di cermin itu adalah dirinya yang memakai topeng badut. Runa kian tercekat dan perlahan menyentuh pipinya. Dan, bayangan dirinya memakai badut pun sirna. Dia kembali melihat dirinya tanpa topeng badut.
Sesaat, ia mendesah dalam dan menunduk menyentuh permukaan topeng badut yang tergeletak di atas meja riasnya. Perasaannya cukup kacau sebelum kemudian kembali menatap bayangan dirinya di cermin. Ekspresi panik dan kesedihan, perlahan memudar dan membentuk sebuah senyuman. Runa tersenyum dengan sangat dingin. Kedua manik matanya tak lagi berkaca ketakutan. Dia menatap bayangannya dengan mantap dan senyum yang semakin dingin. Misterius.
-oOo-
Sebuah layar TV tengah menayangkan sebuah berita yang membuat gempa semalam. Seorang reporter wanita tengah menyampaikan sebuah berita.
“Aruna Kimberly ditangkap oleh polisi setempat atas dugaan pembunuhan terhadap manajer pribadinya, Ardina Kristin. Ardina ditemukan tewas dengan luka tusukan di dada sebanyak tiga kali. Ia ditemukan tewas dalam kamar yang ada di kediaman sang aktris, Runa. Hal ini cukup mengejutkan karena Runa baru saja memenangkan penghargaan sebagai aktris terbaik tahun ini. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata sudah lebih dari setahun terakhir, Runa mengkonsumsi obat penenang dan diduga mendapat diagnosis skizofrenia yang disertai kepribadian ganda. Riwayat penyakit ini diungkapkan oleh dokter spesialis kejiwaan yang menangani Runa, dokter Alvian Anggara, saat dipersidangan. Dengan riwayat ini, Runa, kemungkinan tidak akan dipenjara melainkan menjalani pengobatan di sebuah Rumah Sakit Jiwa. Berikut laporan langsung dari olah TKP dan langsung di persidangan.”
-FIN-
Halo... terimakasih yang sudah mau membaca hingga akhir. Ini kisah akhir dari sang aktris, Runa.
Jangan lupa berikan jempol dan komentarnya gaes. Mampir juga dikaryaku yang lain. ^^
#Karya baru kemarin
#Tantangan 30 hari-period 5
Regards Me
Far Choinice