Kicau burung di hari pagi terus bernyanyi tak henti-hentinya, kadang kudengar berirama rancak, disaat lain berirama slow, suasana pagi meyenangkan hati.
Hangatnya matahari merasuki jiwaku dengan penuh lembutnya. Udara pedesaan menyejukkan nafasku membuat hati ini lega. Pemandangan hijau nan asri membuat mataku termanjakan. Liburan di desa memang yang terbaik.
Ya, saat ini aku berada di tempat kakek dan nenekku untuk menghabiskan liburan musim panas. Desa ini sedikit terpencil karena dikelilingi oleh banyak bukit.
"Aku bosan". Yumi berguling guling karena rasa bosan yang ia rasakan. Di desa tidak ada hal yang spesial yang bisa menarik minat gadis kecil itu. Yang bagus dari desa adalah udaranya yang sejuk dan bebas dari kebisingan kota.
Tiba-tiba Yumi terpikirkan untuk bermain di hutan. Mungkin di hutan ia bisa melihat hewan hewan seperti tupai dan kelinci untuk menghilangkan rasa bosannya. "Baiklah, sudah aku putuskan. Hari ini aku akan bermain di hutan untuk melihat hewan hewan imut".
Setibanya di hutan Yumi belum menemukan tupai ataupun kelinci yang ingin ia lihat. Tapi ia tidak menyerah dan masuk lebih dalam untuk menemukan hewan hewan imut.
"Kelinci dimana kamu ? Keluarlah... Kelinci...". Yumi mulai mencari ke semak semak dan di balik pohon. Saat Yumi menoleh ke arah kanan ia tidak sengaja melihat seorang anak laki-laki yang seumurannya.
Anak itu tengah menatap dirinya dengan keheranan. Yumi yang melihat tatapan itu langsung menjelaskan kepada anak itu agar tidak salah paham. "Ah.. aku sedang mencari kelinci di semak semak, tapi aku belum menemukannya dari tadi".
Anak itu tersenyum dan langsung menggandeng tangan Yumi dan menuntunnya ke suatu tempat. Yumi yang tangannya digandeng membiarkannya saja karena mungkin anak itu adalah anak desa sebelah yang sedang bermain di hutan.
Saat sampai di sana, Yumi melihat banyak kelinci yang tengah berkumpul di satu tempat. "Wah.. banyak sekali kelincinya. Mereka juga imut imut". Yumi mulai berjalan kearah para kelinci, dia mencoba untuk mengelusnya tapi kelinci itu malah kabur saat Yumi mulai mendekati mereka.
Yumi melihat anak laki-laki itu menghampirinya dengan membawa satu ekor kelinci untuk diberikan kepada Yumi agar ia dapat memegang dan mengelus kelinci itu. "Terimakasih". Yumi tersenyum dengan senyuman hangat yang terlihat diwajahnya.
Yumi dan anak laki-laki itu bermain hingga sore. 'Sepertinya sudah sore, sebaiknya aku lekas pulang agar kakek dan nenek tidak mengkhawatirkan aku', batin Yumi yang melihat matahari mau tenggelam.
"Hei sepertinya hari sudah sore, aku harus segera pulang. Nanti kakek dan nenekku akan khawatir kalau aku tidak cepat pulang", ucap Yumi kepada anak itu.
Saat Yumi ingin pergi ia ditahan oleh anak itu. Tangannya digenggam anak itu seperti tidak rela kalau Yumi pergi dan meninggalkannya. "Aku tidak bisa bermain lagi denganmu, besokpun begitu karena liburan musim panas sudah selesai".
Anak itu melepaskan tangan Yumi dengan ekspresi sedih. Yumi tidak bisa berbuat apa-apa melihat anak itu. Kini ia berjalan dan pulang ke rumah kakek dan neneknya.
Kini matahari mulai terbit menandakan hari mulai pagi. "Kakek jam berapa ayahku akan menjemput aku pulang ?", tanya Yumi kepada kakeknya.
"Bukankah ayahmu akan menjemputmu besok ?"
'Apa !? Bukankah hari ini adalah hari terakhir liburan musim panas ? Dan bukankah besok aku harus kembali bersekolah ?', batin Yumi yang menjadi bingung dengan apa yang dikatakan oleh kakeknya.
Tapi ia tidak memusingkannya karena ia bisa kembali bermain di hutan bersama dengan anak laki-laki kemarin.
Yumi lalu bergegas ke hutan untuk menemui anak itu. Saat sampai di dalam hutan ia melihat anak itu sudah menunggunya sambil duduk di sebuah batu besar.
Anak itu kini menuntun Yumi untuk pergi kesebuah danau yang indah. "Wah... aku tidak tahu kalau di hutan ini ada sebuah danau yang sangat indah".
Mereka berdua bermain kejar kejaran di sana. Mereka bermain hingga hari sudah mulai sore dan lagi lagi Yumi harus meninggalkan anak laki-laki itu. Sekali lagi anak itu menghentikan Yumi dengan menggenggam tangan Yumi. Tapi Yumi tetap harus pergi meskipun ia juga enggan berpisah dengan anak laki-laki tersebut.
Matahari kini sudah mulai terbit menandakan hari mulai pagi.
"Bukankah ayahmu akan menjemputmu besok ?"
Sekali lagi Yumi mendengar hal itu dari kakeknya. ia kini merasa ada yang aneh dengan situasi yang ia alami ini. Tetapi Yumi tak mempermasalahkannya. Ia kini langsung pergi kearah hutan untuk bermain lagi dengan anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu kini tengah duduk di sebuah batu besar seperti sebelumnya ia menunggu Yumi agar dapat bermain bersamanya.
Kali ini anak laki-laki itu mengajaknya bermain disebuah padang yang dipenuhi oleh bunga matahari. "Aku tidak tahu kalau di tengah hutan ada Padang bunga yang begitu indah". Yumi berputar putar menikmati sensasi yang ada di padang bunga tersebut.
Sekali lagi matahari mulai terbenam menandakan bahwa hari sudah sore. kali ini genggaman anak itu begitu erat. Seperti menandakan bahwa ia tidak ingin Yumi benar benar pergi dari sisinya. Tapi Yumi tetap pergi meninggalkan anak itu.
Matahari kini sudah mulai terbit menandakan hari mulai pagi. Kini ayah Yumi tengah menunggunya di samping mobil untuk membawa Yumi pulang. Tapi saat Yumi mengingat ekspresi terakhir yang dibuat anak laki-laki itu, ia merasa hatinya gelisah.
Tanpa pikir panjang Yumi mulai berlari ke arah hutan. Yumi ingin memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dengan anak itu. Saat ia melihat bahwa anak itu tengah duduk di sebuah batu besar seperti biasa ia merasa lega.
Tapi setelah melihat lebih detail, Yumi merasa tubuh anak itu kini mulai pudar menjadi serpihan cahaya kecil. "Tunggu... Jangan pergi..."
Anak laki-laki itu hanya tersenyum dengan air mata yang keluar dimatanya. Kini tubuhnya sudah memudar sepenuhnya menjadi serpihan cahaya dan terbang ke langit.
Yumi merasa terpuruk. Hatinya sakit karena harus kehilangan teman yang telah bermain bersamanya. Kini ia tahu bahwa semua kejadian aneh ini adalah ulah anak laki-laki itu.
Sekarang yang terlihat di sana hanyalah seorang gadis kecil yang tengah menangis dengan kencangnya.