4
Rina termenung. Bagaimana caranya untuk bisa menunjukkan kalau dia sebenarnya tidak ada apa-apa dengan Karnoto. Bagaimana? Barangkali dengan cara mengajak seorang pria bermesraan di depan Winda. Menunjukkan bahwa selama ini dia sudah punya pacar. Dan barangkali dengan cara demikian Karnoto akan mundur secara teratur. Tidak berani lagi mengganggunya. Tapi dengan siapa? Pria mana yang mau dijadikan begitu? Dan sebenarnya kalau sembarang pria, dia merasa jengah. Kalau kebenaran dapat yang cakep. Kalau jelek? Wah, wah, pasti akan jadi bahan ejekan Winda, Rina jadi serba bingung.
Belum selesai Rina memikirkan hal itu, Hernoto sudah berdiri di ambang pintu. Lelaki itu mengenakan pakaian dinas polisi dan tampaknya mau segera berangkat. Sementara Rina sudah selesai berpakaian seragam karyawati Mandala permai.
"Rina, aku ingin bicara sebentar," kata Hernoto.
Rina membenahi roknya yang sedikit lusuh. Lantas dia mengikuti Hernoto ke ruang tengah. Mereka duduk di kursi saling berhadapan.
"Bagaimana perkembanganmu di tempat kerjaan?"
"Baik-baik saja," sahut Rina sambil menelan ludahnya yang dirasa pahit. Sebenarnya sih banyak hal-hal yang menyakitkan, keluhnya dalam hati. Tapi hal itu perlu diceritakan kepada Hernoto.
"Aku harap kau mau melupakan apa pun yang telah terjadi," ujar Hernoto.
Dahi Rina berkerut. Apa maksud Hernoto mengatakan seperti itu? Insting Rina mulai merasakan ada apa-apa di balik ucapan kakak sepupunya itu.
"Aku memang sudang berusaha melupakan."
Hernoto manggut-manggut.
"Bagaimana sikap Karnoto selama ini kepadamu?"
"Biasa-biasa saja."
"Tidak pernah bicara apa-apa kepadamu?"
Rina menggeleng.
Aku tahu persis sifat Karnoto sejak masih sama-sama SMA. Dia sportif."
Tentu saja, karena dia reman dekatmu, pikir Rina. Dia memainkan jari-jari tangannya. Enggan rasanya kalau Hernoto membicarakan temannya itu.
"Semalam dia mengutarakan semua isi hati-nya kepadaku."
Rina masih memainkan kuku tangannya yang dipoles kutex warna jambu. Warna yang menyala. Dia lebih senang begitu dari pada mendengarkan soal Karnoto. Sebab ia sama sekali tidak tertarik.
"Dia minta banyak saran dan pertimbangan dariku. Lantas dia juga ingin tahu latar belakang kehidupanmu. Aku telah ceritakan apa adanya. Dia menanggapi setiap manusia pasti mempunyai latar belakang hidup yang berlainan. Ada yang baik ada pula yang buruk."
Rina tak menampakkan reaksi apa-apa. Malah ucapan Hernoto tidak masuk di telinganya. Sebab dia masih terus memikirkan bagaimana bisa mendapatkan pria yang mau mendukung rencananya. Rencana untuk berpura-pura jadi pacarnya. Tak lain agar Winda tidak selalu cemburu dan menganggap ada apa-apa antara dia dengan Karnoto.
"Jadi jelasnya, semalam Karnoto mengutarakan kesungguhannya ingin melamarmu," kata Hernoto.
Seperti ada guruh yang tiba-tiba mendentum telinga Rina. Gadis itu kaget sembari termangu.
"Apa yang barusan mas Toto ucapkan?" tanya Rina.
"Rina ingin menikab denganmu."
Sekujur tubuh Rina jadi gemetar. Denyut jantungnya keraz tak beraturan.
"Tidak, Mas." Rina berkata tegas.
"Kenapa tidak?"
"Aku tidak mau merusak kebahagiaa orang lain. Pak Karnoto itu sudah punya pacar yang namanya Winda. Karyawati di restauran itu juga."
"Pacar maaih belum hak apa-apa. Kecuali Karnoto dan Winda itu sudah bertunangan."
"Tidak, Mas. Aku mohon jangan paksa aku. Belum lama hati yang luka sembuh, sudah akan kambuh lagi. Dan hatiku sudah beku untuk menerima kehadiran pria manapun. Biarkanlah aku mencari hidupku sendiri, karena rasa kepercayaanku terhadap semua pria sudah hilang. Sulit bagiku untuk mencintai pria lagi," kata Rina bagai tratap yang minta perhatian. Kedua matanya berkaca-kaca. Dadanya bergelombang karena menahan isak tangisnya yang mau pecah.
"Jangan begitu, Rina. Selamanya kau tak bisa menuruti kata hatimu. Sebagai seorang wanita kau harus hidup berumah tangga. Harus menjadi ibu yang baik. Dan aku tahu, Karnoto lelaki yang baik pula untukmu."
"Maafkanlah aku, Mas. Aku sama sekali tidak bermaksud mengecewakanmu. Semua saran yang kau berikan kuakui baik. Tapi kalau semuanya itu berlawanan dengan hati kecilku, tak akan bisa mencapai kehidupan yang bahagia. Mungkin akan tambah menghancurkan hidupku. Sekali lagi maafkanlah aku, Mas."
Hernoto menghela napas berat. Dia sebenarnya kecewa, tapi dia juga akhirnya sadar bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan. Lagi pula peristiwa getir yang dialami Rina belum lama berlalu. Mungkin saja gadis itu masih menyimpan dendam dan kebencian terhadap semua pria. Ini semua dapat dimaklumi.
"Ya, aku mengerti apa yang kau rasakan. Aku pun juga tidak bermaksud memaksamu, Rina. Apa salahnya kalau aku menyampaikan keinginan Karnoto, kepadamu."
"Mas Toto terlalu baik dan sangat memikirkan nasibku. Aku tahu, Mas. Untuk itu aku merasa bahagia dan terlindung selama tinggal di sini."
Hernoto bangkit sambil tersenyum. Ditepuk- tepuknya bahu Rina lunak. "Lupakan semua yang barusan Mas Toto ucapkan, barangkali tidak berkenan di hatimu. Mas Toto berangkat ke kantor dulu, ya?"
Rina mengangguk. Hernoto melangkah pergi.
Rina masih duduk termenung sampai bis jemputan Mandala Permai datang. Klason bis itu nyaring bunyinya. Dan Rina buru-buru lari ke luar.
Di halaman dia sempat berpamitan dengan paman dan bibinya. Lantas dia naik ke dalam bis itu.
Rasa enggan bertemu dengan Karnoto semakin bertambah. Memang lebih baik menghindar jauh-jauh dari lelaki itu, tekad Rina setelah tiba di restauran. Tapi menghindar jangan sampai menyakiti perasaannya.
Ternyata sampai menjelang sore, Karnoto tidak ke luar dari kantor. Hati Rina yang sebentar- sebentar gelisah bisa teratasi. Dan satu jam lagi waktunya pulang, akan digantikan karyawati yang bertugas malam. Perasaan Rina sudah tak sabar menunggu tiba jam pulang. Ingin rasanya dia cepat pulang dan tidak bertemu dengan Karnoto. Sebab tatapan mata lelaki itu bagai manikam. Binar-binar matanya bagai pemburu yang akan menangkap kelinci.
Ketika Rina menatap lewat kaca restauran, di luar berhentu mobil sedan Honda Civic putih seorang lelaki muda berwajah tampan dan gagah segera turun. Ternyata setelah diamati lelaku itu adalah Handika. Jantung Rina berdebar-debar. Sebaiknya kudekati dia. Kudekati dai agar narn. Pak aku dan dia sudab berkawan lama. Semua ini untuk membukrikan kepada Winda.
Rina bergerak menyambug kedatangan Handika sambil membawa nota pesanan. Kedatangan Handika disambut dengan senyuman yang manis. Dan menampakkan sikap keakrabannya.
"Apa kabar, Rina?" sapa Handika.
Sesaat Rina terheran. Darimana lelaki itu tahu namanya? Mungkin dia kemarin sempat bertanya kepada Nina, Rosi atau mungkin yang lainnya.
"Ba... baik. Mau pesan apa, Mas?"
Handika menyebutkan pesanannya dan Rina menulisnya.
"Setelah selesai mengantar pesanan maukah kau menemaniku ngobrol barang sesaat?" tanya Handika.
"Tentu, tentu. Sebentar ya, Mas." Rina melangkah ke bar. Dia menyerahkan nota pesanan itu kepada Winda. Winda menerimanya dengan muka cemberut. Rina tak peduli tetap saja menunggu di dekat bar sampai pesanan itu selesai.
Rina membawa pesanan itu ke meja Handika.
"Duduklah. Kau dapat salam dari Rani," kata Handika tersenyum. Untuk kedua kalinya Rina terheran. Lantas dia duduk pelan-pelan di kursi yang bersebelahan dengan Handika. Inilah saatnya aku harus menunjukkan kepada Winda dan teman- temannya. Maka Rina semakin merapatkan tempat duduknya di sebelah Handika. Inilah kesempatan yang tak boleh di lewatkan, kebetulan sore itu tamu tidak ada satupun. Cuma Handika seorang.
"Mas kenal di mana dengan adik saya?"
"Di rumah."
"Di rumah mana?"
"Yomani. Sekarang aku tinggal di rumah orang tuamu."
Rina termangu.
"Sejak kapan tinggal di rumahku, Mas?"
"Kenarin."
Rina manggut-manggut.
"Setengah jam lagi kerja saya habis. Mas mau mengantar saya pulang?" kata Rina lembut dan mesra sekali.
Handika senang. Dia seperti kejatuhan bulan dari langit.
"Tentu, tentu..."
"Terima kasih lho sebelumnya. Saya ke bar dulu ya, Mas. Soalnya peraturan di sini tidak boleh terlalu lama ngobrol sama tamu."
Handika mengangguk. Rina berjalan tenang kembali ke bar.
Jam aplus karyawati Mandala Permai telah tiba. Baru Karnoto ke luar dari kantor dan muncul di restauran. Rina sudah bersiap-siap untuk pulang. Handika sudah menunggunya.
"Nina, sore ini aku pulang diantar pacarku. Sory ya, aku duluan," pamit Rina. Sengaja dia berkata begitu di dekat Winda.
Winda terjengah.
Lantas Rina berjalan menghampiri Handika yang sudah berdiri menunggunya. Rina sempat melirik pada Karnoto yang berjalan ke bar. Dan dia tahu kalau Karnoto sedang memperhatikannya. Rina merangkul lengan Handika dan berjalan meninggalkan ruang restauran. Semua perhatian karyawati di restauran tertuju padanya. Ah, tidak peduli. Inilah kesempatan bagiku untuk membuktikan bahwa aku tidak suka pada Karnoto.
Tapi dada Handika yang berdebar-debar. Kemesraan yang dilakuakn Rina cukup meng- herankan baginya. Rangkulan pada lengannya menimbulkan pijar-pijar hangat pada darahnya. Tidak salahkah apa yang dilakukan gadis itu kepadanya ? Baru beberapa hari ketemu sudah semesra ini. Apakah gadia ini terlalu gampang untuk diajak berkencan? Mungkin. Ya, mungkin. Karena sikapnya romantis.
Saat mobil yang dikemudikan Handika melun- cur meninggalkan halaman restauran, sikap gadis itu berubah dingin. Handika dapat melihat dari sikapnya yang diam dan murung. Tidak selincang tadi. Tidak seceria tadi.
"Tolong beri tahu ke mana arah jalannya. Maklum, orang pendatang," kata Handika.
"Terus saja, lalu di persimpangan itu belok. Suara itu begitu dingin. Tidak selembut dan semesra tadi. Itu yang dirasakan oleh Handika. Dan di persimpangan Handika membelok ke kiri. Sesaat dia melirik gadis yang duduk di sampingnya.
"Stop di sini," kata Rina. Lantas dia bergegas melompat turun. "Terima kasih. Sampai ketemu lagi." Pintu mobik dihempaskan sambik berlari masuk ke halaman.
Handika termanggu.
"Eeee... tunggu!"
Tapi Rina terus masuk ke dalam rumah.
Handika garuk-garuk kepala. Sialan! Mau mengantar disuruh singgah pun tidak, gerutu Handika dalam hati kecewa. Sesaat dia melongok ke arah pintu melalui kaca jendela, tapi gadis itu tak kelihatan lagi ke luar.
Maka Handika segera meluncurkan mobilnya. Gila barangkali gadis itu? Mudah-mudahan sih tidak.
***
5
Baru lima menit Handika melepaskan lelah di tempat tidur. Kakinya yang pegal karena dibawa mengelilingi perkebunan tembakau, mulai surut pegalnya. Kelelahannya sudah mulai hilang. Tinggal menghabiskan sisa-sisa keringat yang ada, setelah itu pergi mandi.
Dalam beberapa hari ini dia tidak ketemu dengan Rina, sebab sibuk memberikan penyuluhan kepada petani tembakau dan cengkeh. Tepatnya sudah lima hari dia tinggal di desa itu. Tinggal di rumah haji Anwar yang baik sekali. Dalam kesen- diriannya di kamar, ingatannya melayang.
Ingat pada Rina. Pertemuan kemarin tak bisa dilupakan, bahkan melekat dalam hati sanubarinya. Membuat gejolak keinginan untuk bertemu dengan gadis itu.
Tapu sikapnya begitu aneh? Pikir Handika tak habks mengerti. Mendadak begitu lembut dan mesra tapi akhirnya begitu dingin berlalu.
Seperti sebuah mimpi yang cuma bisa di renungi, namun sukar untuk menjadi kenyataan. Pasti dia mengalami sesuatu. Ya, itu pasti. Mungkin di restauran itu dia punya masalah. Kalau tidak kenapa sikapnya begitu?
Handika memperhatikan langit-langit kamar. Di sudut ada cicak yang saling berkejaran. Cicak otu pasti jantan dan betina. Sesungging senyum menghiasi bibirnya. Lantas dia jadi teringat Rani. Ya, Rani adiknya Rina. Dia pasti tahu apa sebabnya Rina begitu.
Maka Handika melompat turun dari tempat tidur. Dia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Sambil bernyanyi kecil dia mandi. Rani mendengar suara nyanyian Handika yang lapat- lapat sampai ke telinganya. Syair lagunya cengeng. Dan Rani dapat menafsir kalau lelaki itu sedang jatuh cinta. Atau barangkali mengingat kenangan indahnya masa lalu dengan menyanyikan lagu itu? Ah, tak tahulah.
Selesai mandi dan berpakaian, Handika sengaja duduk di teras rumah. Dia menunggu barangkali Rani kebetulan ke luar bisa diajak ngobrol. Sebenarnya dia bisa saja memanggil Rani, untuk ke luar menemuinya. Tapi ada rasa malu dan risih. Dia ingin pura-pura tidak sengaja atau ngobrol santai untuk sekedar ingin tahu penyebab Rina begitu. itu saja. Kalau sampai ketahuan ada maksud sama Rina rasa-rasanya canggung dan malu.
Tapi yang ditunggu ke luar bukan yang diharapkan Handika. Haji Anwar yang ke luar sambil senyum-senyum.
"Sedang melamun, nak Hans?"
"Ah, tidak, Pak. Kepingin duduk santai disini."
"Kerasan tinggal di rumah bapak?"
"Kerasan sekali. Dan semua penduduk di sini baik-baik."
Haji Anwar manggut-manggut.
"Bapak mau ke gudang dulu. nak Hans."
"Silakan, Pak."
Lelaki itu berjalan tenang. Handika memperhatikan lelaki itu sampai menyeberang jalan. Gudang yang dituju lelaki itu tidak jauh. Di seberang jalan dan menghadap ke rumahnya. Jadi Handika dapat melihat sampai lelaki itu masuk ke dalam gudang. Handika menoleh ke dalam rumah. Sebentar-sebentar dia melihat ke ruang dalam. Hatinya berharap Rani lekas ke luar dari kamarnya. Sementara sore itu dirasa sepi buat perasaan Handika. Ingin rasanya di sore itu ada teman yang menemani ngobrol. Dan Rani yanh diharapkan masih belum tampak.
Perasaan jenuh mulai menggerogoti pelan- pelan. Handika sudah lima belas menit duduk di teras, namun ia belum juga mendapatkan tanda- tanda kalau Rani mau ke luar. Atau sebaiknya kutunggu saja di kamar mandi? Pikir Handika. Biasanya gadis itu mengambil air sembahyang di kamar mandi. Ah, tapi tidak sopan menemuinya dengan cara begitu. Lantas dengan cara bagaimana?
Ada suara sandal menapaki lantai. Pasti dia. Handika menoleh, ternyata ibunya Rani. Tapi peremouan itu bergegas masuk lagi. Handika menghela napas panjang. Merenung lagi.
"Minum kopinya mumpung masih hangat, Mas."
Suara itu sangat dikenali Handika. Kali ini tak salah lagi. Dia menileh sembari bangkit tergesa. Lalu dia nyelonong saja masuk ke ruang tamu.
"Mas Hans ingin ngobrol sama kamu. Tidak ada, kesibukan kan? tanya Handika.
Rani menggeleng. Mereka duduk berhadapan di kursi tamu. Di antara mereka terbentang meja.
"Rani sekolah dimana?"
"SMA Negeri 1."
"Kelas berapa?"
"Tiga."
"Wah, sebentar lagi mau ujian ya?"
Rani mengangguk. Handika memperhatikan wajah Rani yang tertunduk malu-malu. Matanya, hidungnya, bibirnya persis seperti yang dimiliki Rina. Cuma bedanya sikap Rani masih kelihatan kekanak-kanakan. Belum sematang Rina. Dan kalau diperhatikan kecantikan Rina lebih menonjol.
"Kenapa Rina tidak mau tinggal di sini?"
" Dia bekerja di Tegal. Jadi lebih dekat kalau dia tinggal di rumah paman."
Handika mengabil sebatang rokok dan disulitnya.
"Sudah lama dia bekerja di restauran itu?"
"Lebih dari satu bulan."
"Dulu dia kerja di mana?"
"Jadi guru."
Handika termangu. Dia menggeser pentatnya lebih ke depan. Aneh, dulu jadi guru kenapa sekarang jadi palayan restauran? Pikir Handika heran.
"Kenapa tidak meneruskan jadi guru saja?"
"Ah, aku tak bisa menceritakannya, Mas?"
keluh Rani yang tampak sedih. Sebab dia sangat kasihan bila memikirkan nasib yang dialami kakaknya.
"Kenapa?" desak Handika semakin ingin tahu.
Rani mendesah sembari menggelengkan kepala.
"Tolong ceritakan kepadaku mengenai Rina. Terus terang saja, aku pernah bertemu Rina di Jakarta. Dia dalam keadaan kebingungan dan hampir tertabrak mobilku. Waktu itu aku ingin menolongnya, tapi dia menolak," tutur Handika.
Rani masih tampak berat untuk mencerita- kannya. Di sudut matanya menitik butiran air bening. Lantas diusapnya air mata itu. Sementara itu di ruang dalam ibu Rani mendengarkan pembicaraan mereka. Perempuan itu segera pergi lewat samping rumah memanggil suaminya.
"Percayalah, kalau ada hal-hal yang buruk, aku akan menyimpannya dalam hati. Aku tidak ingin menceritakan kepada siapapun," ujar Handika.
"Aku berat untuk menceritakannya, Mas. Sebaiknya Mas Hans secara pelan bertanya langsung kepada Mbak Rin."
"Aku ingin mendengar keteranganmu dulu, baru kemudian aku bisa mendekatinya secara pelan- pelan. Sebab waktu kemarin aku menemuinya sikapnya aneh sekali.
Detak sandal haji Anwar menginjak lantai teras. Handika jadi mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut pada Rani tentang Rina. Handika jadi kikuk.
"Memang aneh sifat Rina itu," ujar haji Anwar.
Handika terperangah. Dari mana Pak Anwar tahu apa yang sedang dibicarakan? Untuk menutupi rasa kikuk dan malu Handika tersenyum.
"Mungkin Rani sukar sekali untuk menceritakan. Tapi sayalah yang akan menceritakan kepada nak Handika mengenai Rina."
"Saya akan senang sekali mendengarnya, Pak."
Sebelum memulai cerita, haji Anwar menarik napas panjang.
"Anak itu selalu melanggar nasehat orang tua. Sifatnya hanya mengejar kesenangan saja, tapi tidak tahu bagaimana akibatnya. Pertama sewaktu dia pacaran dengan Gunawan. Aku sudah menasihati, karena pemuda itu menurut penilaianku tidak baik. Tapi Rina tetap mencintainya, bahkan rumah pemberianku dijual untuk membiayai kuliah Gunawan. Rina mengor- bankan apa saja untuk memenuhi kebutuhan lelaki itu. Motor yang kubelikan juga sampai dijual. Setelah Gunawan mendapat gelar, ditinggal kawin dengan gadis lain," tutur haji Anwar dengan emosi kejengkelan.
Handika termanung.
"Rina telah menjadi batu loncatan oleh Marlan. Kasihan Rina. Setelah mengorbankan segala-galanya, tapi akhirnya cuma disakiti. Ditinggal kawin dengan gadis lain.
"Berkat bantuan gurunya, Rina bisa mengajar di sekolah SD. Saya sudah gembira dan bangga, nak Handika. Apalagi dia sudah bisa melupakan Marlan. Tapi belum setahun menjadi guru sudah tergoyah imannya menghadapi Yudi. Lelaki ini lebih bajingan bila dibandingkan dengan Marlan. Pekerjaanya menjual perempuan-perempuan di hotel kepada kalangan cokong. Dan Rina telah dijual pula oleh lelaki itu di kamar hotel. Akhirnya terbongkar karena terjadi penganiayaan. Rina di tangkap polisi, lalu ditahan. Dia dituduh terlibat kasus pelacuran. Bayangkan saja, nak Hans. Bayangkan betapa memalukan perbuatan Rina. Dia sudah tidak jadi guru lagi dan dinilai masyarakat sebagai pelacur. Apakah ini tidak mencoreng nama baikku? Kehormatanku? Maka dia tak akan kuizinkan lagi menginjak lantai rumah ini! Aku tidak mau mengangap dia sebagai anakku lagi! Sungguh memalukan!" ucapan haji Anwar tambah emosi.
Rani menangis terisak-isak di samping ayahnya. Isak tangis gadis itu semakin menambah keharuan Handika. Sungguh tidak disangka kalau masa lalu Rina begitu getir. Menjadi permainan lelaki. Jadi terlintas di benak Handika sikap Rina kemarin. Barangkali gadis itu mau membalas dendam terhadap lelaki dengan cara yang begitu. Permulaan lembut dan mesra, lalu berakhir dengan dingin. Tak mau peduli lagi? Mungkin juga bisa begitu.
Sesaat suasana ruangan itu hening. Cuma isak tangis Rani yang masih berkepanjangan.
"Saya mengharap Bapak dan Ibu mau meng- ampuni kesalahannya," kata Handika memecah kebisuan. "Sebab gadis manapun tidak ingin mengalami nasib seperti Rina."
"Bapak dan Ibu ini sudah memaafkan berulang kali. Tapi dia memang sukar diatur baik-baik. Selalu saja yang dikejar cuma kesenangan semantara!" balas Haji Anwar yang nadanya kesal.
Handika menarik napas berat. Timbul keinginan- annya menemui gadis itu.
"Apakah Bapak sekiranya mengizinkan saya menemui Rina?" tanya Handika dengan dada berdebar-debar.
"Nak Hans mau menemui dia?" sepasang mat haji Anwar terbelalak.
Jantung Handika berdenyut keras. Rasanya mau copot melihat mata haji Anwar. Tapi kemudian haji Anwar merenung sesaat.
"Temuilah dia. Kalau nak Handika dapat mengarahkan ke jalan yang baik, bapak sebelumnya mengucapkan banyak terima kasih," kata haji Anwar.
Debar jantung Handika tidak lagi takut melainkan senang.
"Saya akan menemuinya sekarang, Pak."
"Silahkan Oya, diminum dulu kopinya."
Handika meneguk kopi itu sampai habis. Lalu dia beepamitan pergi. Haji Anwar memanggil istrinya untuk duduk di ruang tamu. Rani sejak tadi masih duduk di tempatnya.
"Bagaimana menurut penilaianmu terhadap nak Handika?" tanya haji Anwar kepada istrinya.
"Dia sangat baik. Orangnya pendiam dan sopan."
"Kau setuju kalau Rina menikah sama Handika?"
"Mana Handika mau sama Rina, Pak."
"Lho siapa tahu?"
"Aah, sudahlah. Jangan terlalu berkhayal," ujar Mariah pada suaminya sambil bangkit. "Di Jakarta sana banyak gadis-gadis cantk. Apalah artinya Rina."
Haji Anwar manggut-manggut.
***
Begitu sampai di tempat yang dituju, Handika segera turun dari mobil dan menhempaskan pintunya. Lantas dia melangkah menginjak halaman rumah menuju ke teras. Dia mengedarkan pandang sekitar halaman. Tak dilihatnya ada satu orang pun. Sepi. Lalu dia menekan tombol bel! yang ada di kusen pintu. Pintunya memang sudah terbuka, tapi di ruang dalam tak tampak ada orang.
Seorang lelaki gemuk muncul. Paman Rina.
"Selamat malam, Pak."
"Malam. Mau mencari siapa?"
"Rina ada di rumah, Pak."
"Ada... Ada. Silahkan duduk, saya panggilkan dulu."
Handika melangkah masuk, lalu duduk di kursi menghadap ke ruang dalam. Angin malam berhembus lewat jendela di belakang punggungnya yang terbuka. Sejuk. Handika mengedarkan pandang, dan melihat foto Hernoto dengan pakaian dinas dipajang di bufet. Ada foto lainnya, seorang gadis. Foto Yuli. Dan ketika pandangannya ke ruang dalam lagi, Rina muncul menghampirinya.
"Ada apa ?" tanya Rina dingin.
"A... anu, cuma ingin main." sahut Handika terbata-bata.
Rina menghenyakkan pantatnya si kursi bermalas-malasan. Sepertinya enggan menemui tamunya. Tapi Hamdika tetap tenang lantaran sudah tahu, kenapa gadis itu beraikap dingin!
"Apakah kedatanganku mengganggumu?"
Rina tak menyahut.
Handika tersenyum, Memperhatikan wajah Rina yang cantik tanpa dipoles bedak. Tanpa memakai warna rose di pipi sudah kelihatan sedikit merah kena sinar lampu neon. Bibirnya yang tanpa lipstik tetap merah jambu. Rambit yang terurai panjang diikat pakai jepitan plastik. Sehingga dia kelihatan anggun, membuat Handika tertegun.
Atau mungkin karena matanya yang dingin, senyumnya yang menyimpan kegetiran, membuat gadis itu memiliki pesona yang terselubung kemurungan. Dan lantaran nasib gadis itu sangat buruk, sehingga Handika jadi menaruh perhatian khusus. Bahkan mulai tertarik.
"Maaf kalau memang aku mengganggumu. Tapi kuharap kau senang menerima kedatanganku," kata Handika lunak.
Rina bertopang dagu sambil memandang ke luar. Dia lebih senang memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.
"Sedang apa tadi?"
"Membaca novel."
"Aku punya banyak novel. Kau mau?"
"Aku lebih senang beli kalau punya uang."
"Tidak suka pinjam?"
"Kadang-kadang."
"Kalau begitu besok aku bawakan, ya?"
"Tidak usah."
"Wah, dinginnya, pikir Handika sambil garuk- garuk dagunya yang tidak gatal.
"Sikapmu sekarang berubah, tidak seperti di restauran kemarin. Kenapa Rina?"
Rina mendesah. Seolah-olah ada sekejap memandang Handika, beralih lagi ke halaman rumah yang sepi. Sebuah mobil sedan Corola berhenti di depan rumah, Rina melihat Hernoto bersama Karnoto turun dari mobil. Jantung Rina jadi berdebar. Rasa gelisah dan cemas melonjak-lonjak dalam dadanya. Aku harus berubah sikap. Tidak lagi dingin dan tak acuh kepada Handika. Maka Rina mendadak tersenyum. Sikapnya yang dingin berubah sopan dan romantis Handika jadi heran ketika Rina berpindah tempat duduk di sebelahnya.
"Rina cuma senang menggoda Mas Handika. Sebenarnya Rina senang menerima kedatangan Mas. Tidak mengganggu Rina. Benar, tidak mengganggu kok. Mas Hans jangan marah, ya?" kata Rina mesra dan manja.
Handika senang, sekaligus juga bingung. Aneh benar sifat gadis ini. Tadi dinginnya minta ampun, tapi mendadak jadi mesra dan lembut.
"Mas Hans tidak akan marah padamu, Rina. Justru Mas Hans ingin melihatmu selalu ceria dan gembira."
Harnoto dan Karnoto melangkah masuk ruang tamu. Mereka memandang Rina yang begitu mesra pada tamunya. Padahal baru pertama kali itu Hernoto melihat lelaki itu.
"Selamat malam, Mas." Hendika mengangguk ramah.
"Malam."
Handika bangkit lalu mengajak bersalaman Hernoto dan Karnoto. Lantas mereka duduk di ruang tamu. Napas Karnoto tampak tersendat- sendat lantaran merasa cemburu. Rina tampak begitu mesra pada Handika.
"Tinggalnya di mana, Mas?" tanya Hernoto.
"Di Yomani. Di rumah orang tua Rina."
Hernoto termangu.
"Sejak kapan anda tinggal di rumah itu?"
"Lima hari. Kebetulan saya ada tugas untuk mengadakan penyuluhan kepada petani tembakau dan cengkeh."
"Anda dari fakultas pertanian?"
"Ya, saya sudah lulus setahun yang lalu."
"Insinyur pertanian?"
Hendika mengangguk.
"Sekarang saya bekerja di PTP pusat."
Karnoto baru ingat kalau lelaki itu pernah dilihatnya di restauran. Mengantar Rina pulang.
"Sudah lama kenal Rina?"
"Sudah hampir setahun, Mas. Saya kenal Mas Hans sewaktu di Jakarta," kata Rina menimpali.
"Ooo..." Hernoto bengong sambil manggut-manggut.
"Jadi nggak mas, kita pergi nonton film?" tanya Rina spontan.
Handika terperangah. Bingung. Tapi dia buru-buru mengangguk.
"Aku ganti pakaian dulu ya, Mas?"
Handika mengangguk lagi. Padahal pikirannya kacau. Benar-benar gila sifat gadis itu. Hamdika merasa dibikib bingung dan bodoh. Tapi tak apa- apa. Sampai di mana sifat gadis itu harus bisa kuselami.Pasti ada sesuatu di balik sifatnya yang begitu.
"Berapa lama lagi anda tinggal dirumah orang tua Rina?" tanya Karnoto nadanya tidak senang.
"Lusa saya harus kembali ke Jakarta. Sebab tahap pertama cuma baru survey. Setelah itu datang lagi ke desa Yomani selama dua bulan untuk memberikan penyuluhan dasar dan proses tanam yang baik. Tujuannya agar para petani bisa meningkatkan hasil tanamnya. Selain itu supaya ada kerja sama yang baik dengan PTP Tegal."
Belum puas pertanyaan yang hendak dilontarkan Karnoto, dari ruang dalam Rina sudah ke luar. Gadis itu berpakaian rapi dan cantik sekali. Sampai membuat Handika termangu.
"Yuk, Mas," ajak Rina untuk cepat-cepat pergi.
"Saya permisi dulu, Mas."
"Jangan malam-malam pulangnya, Rina."
"Ya, cuma nonton film kok. Yuk mas Toto, mas Karnoto."
Rina langsung merangkul lengan Hamdika dan menggendengnya pergi.
Masih belum habis rasa heran Handika ketika mengebudikan mobilnya. Apalagi sikap Rina sudah berubah dingin. Seperti sewaktu menemuinya tadi.
"Kita mau nonton di mana?"
"Terserah."
"Tapi aku kan belum tahu di mana gedung bioskopyang baik. Dan mana filmnya yang baik pula?"
"Terus saja. Nanti di bundaran sana belok kanan. Terus lagi, lalu belok kiri. Nah, akan kelihatan gedung bioskopnya."
"Belok kanan, terus lagi, belok kiri dan akan kelihatan gedung bioskopnya. Handika mengingat-ingat terus kata petunjuk jalan itu. Dia enggan bertanya, sebab takut diberi jawaban yang menyinggung perasaannya. Maka dia mengemudikan mobilnya pelan-pelan sambil mengingat kata-kata Rina.
"Sikapmu seringkali membuat aku bingung. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Handika.
"Tidak ada apa-apa."
"Kamu jangan berbohong."
"Kamu jangan memaksaku."
"Tapi aku tahu masa lalumu."
Mata Rina terbelalak. Ditatapngya Handika yang tenang sambil mengemudikan mobilnya.
"Rani-kah yang bercerita?"
"Tidak."
"Lantas siapa?"
"Kau jangan memaksaku."
Rina mendesah kesal. Sialan! Balas dendam. Pikir Rina.
"Berhenti di sini."
"Belum sampai gedung bioskop."
"Aku mau turun."
"Eee..., jangan!"
Rina tetap nekad mambuka pintu mobil.
Handika terpaksa menginjak rem dan mobil itu berhenti di pinggir jalanan. Ketika Rina mau melangkah turun, Handika lebih cepat menyambar lengan gadis itu.
"Tunggu. Kau tak kuizinkan pergi seorang diri."
"Biar! Lepaskan!"
"Jangan begitu Rina. Jangan begitu. Kau tak boleh menuruti kemauan hatimu semdiri," kata Handika lunak. Lembut dan membujuk Rina.
"Biaar!" Rina meronta.
"Rina, aku tahu kau pernah disakiti oleh lelaki. Nasibmu cuma jadi permainan lelaki, tapi semua lelaki itu belun tentu sama. Jangan punya anggapan begitu padaku," pinta Handika seperti merengek.
Rontaan Rina semakin reda. Lalu dia duduk di kursi mobil sambil tertunduk. Buru-buru Handika menutup kembali pintunya. Dan dia melihat di sudut kelopak mata gadis itu menetes air mata. Bening berkilau-kilau kena cahaya lampu. Sedangkan Handika menghembuskan napasnya yang sejak tadi di rasa mendesakkan dada. Terasa agak lega.
"Maafkan kalau ada kata-kataku yang tidak berkenan di hatimu. Maksudku cuma ingin bercanda."
Setetes air mata itu jatuh di rok bagian paha. Memang tidak terdengar isaknya, tapi justru kesedihan yang dirasakan Rina sangat menikam. Pedih hatinya. Masa lalunya bagai duri yang menusuk-nusuk hati dan perasaannya.
"Aku tahu perasaanmu. Namun dalam hidup ini tidak selamanya mendung. Tidak selamanya untuk menyesali nasib. Tapi justru kita harus memerangi nasib agar hidup kita tidak getir selamanya."
"Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraanmu. Kau mau menasehatiku? Mau berlagak baik di hadapanku? Percuma! Aku sudah menganggap semua lelaki itu pembohong! Munafik! Penipu!" kecam Rina dengan sengit.
"Terserah. Aku sudah tahu apa sebabnya kamu berkata begitu. Cuma apa salahnya kalau aku memperingatkanmu, bahwa semua lelaki belum tentu sama."
"Aku tetap tidak percaya."
Handika menggerakkan bahunya ke atas. Seakan-akan merasa sudah tak mampu memberikan saran lagi.
"Kita jadi nonton ya?"
Rina menggeleng.
"Kalau begitu kita cari tempat yang tenang, supaya bisa santai ngobrol. Mau ya?"
Rina tidak memberikan reaksi. Handika tahu kalau tidak ada reaksi berarti mau. Maka dia meluncurkan mobilnya. Namun dia bingung ke mana mwncari tempat yang tenang dan romantis? Jalanan di kota Tegal dia belum hapal. Ah, pokoknya jalan saja deh. Nyasar ke mana biarin.
Bulan separuh tergantung di langit. Cahayanya yang keperakan menerangi alam semesta. Memang tidak seterang kalau rembulan itu utuh. Namun bagi Handika yang menghentikan mobilnya di bawah pohon flamboyan cukup punya arti. Walau sebenarnya dia tidak tahu apakah tempat itu sering di gunakan untuk pacaran. Cuma yang dia tahu tempat itu tenang.
Handika memandang Rina yang sejak tadi diam.
"Terus terang saja, semua yang kau alami telah dicertakan ayahmu kepadaku. Aku turut sedih memikirkan perjalanan hidupmu. Aku turut sedih memikirkan perjalanan hidupmu," kata Handika memecah kebisuan.
"Apa sebenarnya kemauanmu?"
"Terlebih dahulu aku minta kau jangan menilai dengan prasangka jelek terhadapku. Sebab kalau hubungan kita, kau mulai dengan prasangka, bisa membangkitkan emosi. Rasa kepercayaanmu kepadaku akan hilang. Aku ingin hubungan kita tidak dengan prasangka, melainkan dengan perasaan."
"Perasaanmu bagaimana terhadapku?"
"Kasihan."
"Aku tidak butuh balas kasihan dari siapapun. Termasuk kamu."
"Yang lainnya lagi, intuisiku menyebabkan perasaanku bertumbuh terhadapmu. Sebelum aku mengenalmu selengkap-lengkapnya, intuisiku tumbuh waktu pertama kali kita jumpa di Jakarta."
"Kau masih belum tahu selengkapnya tentang diriku. Karena apa yang diceritakan ayahku sebenarnya belum seluruhnya kualami. Jadi seberapa kau mengenalku masih kabur."
"Itu bukan soal. Asalkan kau mau berkawan denganku, itu sudah cukup buat diriku."
"Dengan siapa pun aku mau berkawan. Tapi jangan harapkan apa-apa dariku. Apalagi cinta."
"Bagiku cinta soal kedua. Kenapa? Soalnya mana mungkin ada gadis yang percaya, belum benar-benar kenal sudah mengutarakan cinta. Bagiku yang penting, agar punya kepastian untuk memelihara perasaanku sendiri, sebab aku tahu perasaanmu sangat berbeda. Kau sudah mengalami kehidupan yang getir karena merasa menjadi korban permainan lelaki. Kau boleh percaya atau tidak, satu intuisi ini belum pernah kurasakan pada tahun-tahun yang silam."
"Jadi kau naksir sama Aku?"
"Boleh dibilang begitu. Tapi jangan menaruh prasangka buruk dulu. Menaksir itu belum mencapai tahap mencintai. Jadi sudah selayaknya kalau aku menaruh perhatian, mengenai kehidupanmu selanjutnya."
"Kau mau mengatur hidupku?"
"Sama sekali tidak bermaksud begitu. Cuma tak ingin melihat hidupmu selamanya terombang- ambing oleh nasib. Aku ingin dalam jidupmu bisa punya arti."
"Sudahlah, terlalu banyak omong juga tidak ada gunanya. Tentunya kau sudah tahu bagaimana sikap otmrang tuaku. Mereka begitu membenciku, karena aku telah merusak nama baik dan kehormatannya. Tak pernah bisa berbakti dwngan baik. Sebab selama ini aku hanya mengejar kesenangan. Terus, terus... masih banyak lainnya yang sangat buruk dan memalukan."
"perasaanku tumbuh bukan karena masa lalumu, tapi intuisi yang tak pernah bisa diuraikan sedetail- detailnya."
"Okey. Kalau begitu kita berkawan. Setuju?"
"Ya, Susah senang kita rasakan bersama. Kita jadi kawan setia."
Mereka saling bertukar senyum. Bulan yang tampak separuh di langit seperti ikut tersenyum. Bunga-bunga flamboyan yang sudah layu berguguran kena tiupan angin.
Mobil Handika meninggalkab tempat itu, sebab sang gadis minta segera diantar pulang.
***
6
Rina baru saja membersihkan meja tamu. Siang itu banyak tamu yang menginap di hotel. dan makan siangnya di restauran. Dari logat dialog mereka kebanyakan orang Jawa Barat. Di meja sudut tampak sedari tadi masih duduk ngobrol seoranb lelaki gemuk dan seorang perempuan. Perempuan itu tampak manja. Sedangkan lelaki gemuk setengah baya itu tampak romantis. Ah, pasangan yang serasi, pikir Rina.
Perempuan itu menggapaikan tangan ke arah Rina. Ada apa? Ternyata setelah didekati perempuan itu pesab roti dan minuman. Rina melayaninya dengan ramah.
"Sudah berapa lama kerja di sini. Dik?" tanya lelaki itu.
"Lebih dari satu bulan Om."
"Senang kerja di sini?" perempuannya ikut menimpali bertanya. "Biasa-biasa saja."
Setelah meletakkan roti dan minuman, Rina kembali ke bar. Tempat untuk ngumpul para karyawati restauran. Karnoto ke luar dari ruang kantor. Wajahnya tidak seceria hari-hari lalu. Sekarang tampak angker dan jarang tersenyum.
Rina cuma melirik Karnoto yang berdiri si samping meja bar. Lengan kanannya diletakkan di pinggir meja sambil merokok. Rina merasa tak nyaman ada lelaki itu. Padahal di ruang itu ada AC. Lebih baik menghindar pura-pura ke toilet. Dan Rina kemudian melangkah masuk ke ruang toilet. Karnoto melirik Winda yang sedang sibuk mem- bersihkan meja tamu. Ada juga yang melayani tamu. Karnoto menganggap ini suatu kesempatan untuk berbicara dengan Rina.
Maka Karnoto menyusul Rina ke toilet. Tak lama perempuan yang jadi bertanya pada Rina berjalan ke toilet juga. Tapi perempuan otu menghentikan langkahnya ketika mendengar pertengkaran Rina dengan Karnoto.
"Kau jangan mudah percaya dengan rayuan lelaki. Apalagi lelaki itu bertampang seperti Handika. Kau hanya akan dipermainkan."
"Maaf Pak, itu bukan urusanmu. Dalam hidup saya tak mau diatur oleh siapapun."
"Kau mau jadi perempuan binal?"
"Itu urusan saya, Pak."
Karnoto mendengus seperti kerbau di sembelih. Kesal bercampur jengkel.
"Kau tak percaya aku serius sama kau?"
Rina diam saja.
"Kau tak menyukai aku, ya?"
Rina tetap diam.
Ada suara dehem. Karnoto tergesa-gesa berbalik dan meninggalkan toilet itu. Ternyata perempuan tadi yang melangkah masuk sambil senyum-senyum. Rina membalas senyum perempuan itu sambil berlalu.
Karnoto kembali masuk ke kantor. Rina meneruskan pekerjaannya melayani tamu-tamu. Perempuan yang tadi sudah pulang bersama lelaki setengah baya itu. Entah mengapa pikirannya jadi ingat perempuan itu. Barangkali karena perempuan itu mendengar percakapannya dengan Karnoto. Perempuan itu tahu apa yang sedang mereka perdebatkan.
***
Sorenya perempuan itu datang lagi seorang diri. Pakaiannya sudah ganti. Rapi dan bagus sekali. Dia sengaja datang untuk menemui Rina.
"Mau pesan apa, Mbak?"
"Coca cola saja. Selain itu aku ingin berkawan denganmu."
Rina termangu. Perempuan itu langsung mengulurkan telapak tangannya. Rina menyalami.
"Riska."
"Rina.
"Setelah memgambilkan minuman, kita ngobrol sebentar ya?"
Rina mengangguk. Lantas dia mendorong box yang berisi bermacam-macam minuman. Riska mengambil dua botol coca cola. Rina mendorong box itu menjauhi meja Riska. Mereka duduk berdua sambil minum.
"Kau kerasan kerja di sini?"
Rina mendesah. Berusaha untuk tersenyum, agat keresahannya tidak terlihat.
"Kalau kau tidak kerasan, kau bisa pindah kerja di Surabaya."
"Kerja apa?"
"Sama seperti di sini."
Rina diam berpikir. Menimbang-nimbang tawaran Riska. Memang, sampai kapanpun perasa- annya tidak akan tentram kalau bekerja di sini. Semua Karyawati restauran sudah mengasingkan dirinya. Karnoto pimpinannya. Dan dia selalu mengejar Rina agar mau menikah dengannya. Jadi ketentraman hatinya bisa dialami kalau pindah kerja dari sini itu saja.
"Tapi di Surabaya aku tidak punya family."
"Kau bisa tinggal di rumahku. Aku cuma ingin menolongmu, karena aku tahu kau resah di kejar- kejar managermu. Ya, kan?"
Rina terperangah. Yang di duga Rina ternyata benar. Riska sudah mendengar apa yang di- perdebatkan dengan Karnoto di dalam toilet tadi siang.
"Aku tidak mau memaksamu. Itu terserah kemauanmu mau pindah kerja dari sini atau tidak."
"Kau di Tegal tinggal di mana?"
"Orang tuaku tinggal di sini. Aku pulang untuk menjenguk anakku yang tinggal bersama orang tuaku."
"Di Surabaya kau kerja di mana?"
"Di restauran dan night club sebagai penyanyi. Kau pulang kerja jam berapa?"
"Jam lima sore."
"Kalau begitu sebentar lagi."
"Ya."
"Kita pulang sama-sama saja. Nanti ku ajak kamu main ke rumahku, mau?"
Rina mengangguk senang. Sebuah mobil sedan putih berhenti di halaman restauran. Rina mengenali pengemudinya adalah Handika. Tapi lelaki itu tidak mau turun dari mobil. Dia menunggu di dalam mobil sampai jam kerja Rina habis.
"Aku dijemput temanku," kata Rina sambil memandang ke luar melalui kaca restauran. Memandang mobil Handika yang berhenti.
"Mana?"
"Tuh di dalam mobil."
Riska memandang mobil sedan putih yang berhenti di luar.
"Aku siap-siap dulu, ya?"
Riska mengangguk. Rina melangkah ke bar untuk mengambil tasnya. Semua karyawati di restauran itu sudah bersiap-siap untuk pulang.
Tinggal menunggu bis antar jemput tiba. Tapi Rina terlebih dulu pulang bersama Riska.
"Hay!" sapa Handika.
Rina dan Riska menghampiri mobil sedan putih itu. Rina dan Handika saling bertukar pandang dan senyum.
"Ayo kuantar pulang," ajak Handika. Dia membuka pintu depan.
Rina duduk di samping Handika sedangkan Riska duduk di jok belakang.
"Mas, kenalin dulu teman Rin."
"Oya," Handika memutar tubuhnya dan bersalaman dengan Riska. "Handika,"
"Riska."
Handika menstater mobil. Waktu mobil Handika meluncur, Karnoto yang berdiri di ambang pintu restauran cuma bisa mengamati. Lelaki itu tambah kesal.
"Kita nonton film yuk?" ajak Handika.
"Aku musti pulang dulu ganti pakaian," sahut Rina. "Masak pergi nonton pakai seragam pelayan restauran."
"Jadi mau pulang dulu?"
"Tapi..."
Rina merasa ragu-ragu.
"Kenapa? Takut dimarahi paman atau kakakmu?"
"Kalau begitu ke rumahku saja deh," ujar Riska. "Semuanya itu nanti bisa diatur. Kurasa bentuk tubuhmu tak jauh bedanya dengan tubuhku."
"Boleh deh."
Mobil terus meluncur di jalan raya. Dekat persimpangan mobil itu berhenti.
"Tunggu sebentar di sini ya, Mas?" Kata Rina. Handika cuma mengangguk.
Sebenarnya dia mau ikut turun dan tahu rumah Riska. Tapi karena Rina menyuruhnya menunggu di mobil, ya terpaksa keinginan itu dipendamnya. Dia hanya bisa melihat ketika Rina dan Riska masuk di mulut gang.
Aku akan berusaha sebaik-baiknya agar dia merasa senang di dekatku. Harus kuusahakan kemurungan dan sifatnya yang dingin bisa hilang. Dengan begitu pergaulanku bisa lebih akrab dan menyenangkan. Apalagi besok aku harus kembali ke Jakarta. Berarti perjumpaanku dengannya kali ini harus punya arti. Ya, selama bersamanya memang harus punya arti. Maka Handika menghela napas dalam-dalam, dan menganggap masa lampau gadis itu cuma nestapa. Tak perlu diratapi, jika gadis itu bisa kutarik dari kemulut hidupnya.
Handika menoleh, dan gadis itu telah muncul dari mulut gang bersama Riska. Gadis itu tidak lagi memakai seragam karyawati restauran. Tapi pakai blus berwarna merah jingga bergaris-garis hitam. Dan yurknya biru tua. Dia tidak kelihatan murung. Ceria. Hati Handika ikut ceria. Dan sore itu terasa lebih cerah dibandingkan sore-sore yang pernah dilewati.
Rina duduk di sebwlah Handika yang mengemudikan mobil. Riska duduk di belakang.
"Sore ini cerah sekali, ya?" kata Handika sambil meluncurkan mobilnya di jalan raya.
"Kemarin juga cerah," sahut Rina tersenyum.
"Tapi sore kemarin kayaknya lain.
"Kenapa?"
"Soalnya sore ini kamu ceria sekali. Tidak seperti kemarin murung. Jadi sore ini sangat cerah dan indah buatku."
Rina tertawa. Riska ikut tertawa. Dan Handika juga tertawa.
Handika bisa merasakan sikap Rina yang lain selama pergi bersamanya. Dia suka bercanda. Tertawa. Membuat perasaan Handika bahagia sekali.
Di dalam gedung bioskop Rina tak menolak kala Handika merangkulnya. Sampai waktu terakhir mereka berpisah, Rina mengecup kedua pipi Handika. Dan selapis kelembutan membalut hati lelaki itu. Segalanya jadi penuh arti.
***
Rina memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai pelayan restauran Mandala Permai. Dia sudah benar-benar tidak kerasan, lantaran sikap teman-temannya semakin memihak kepada Winda. Seakan-akan mereka secara tidak terang-terangan mengusir Rina dari restauran itu. Dengan cara demikian pasti Rina merasa tidak kerasan.
Memang benar. Rina tidak kerasan, dan hari itu Rina membolos bekerja. Dia lebih senang tiduran di kamar Riska sambil ngobrol. Dia sudah memutuskan hari itu tidak masuk, untuk seterusnya berhenti. Dia akan mengikuti jalan hidup Riska.
Merasa sudah sehati dengan Riska. Riska yang sudah janda itu punya nasib sama getirnya dengan Rina.
Tapi baru sehari Rina tidak masuk bekerja sedah membuat Karnoto resah. Lantas dua hari Rina tidak masuk membuat Karnoto, kalang kabut. Dia menghubungi Hernoto dan memberi tahu semua perubahan yang dialami Rina.
"Maka sewaktu Rina pulang diantar Riska, tanpa bisa mengendalikan emosi Hernoto menegurnya.
"Kau ini mau jadi apa sebenarnya, Rinan?! Sudah bekerja baik-baik di restauran malah terpengaruh teman!" kecan Hernoto.
"Mas Toto jangan menyalahkan teman. Semua yang Rina lakukan atas kehendak hati sendiri."
"Kenapa dua hari kau tidak masuk kerja?"
"Aku tidak kerasan kerja di situ."
"Apa alasannya?"
"Gara-gara tingkah pak Karnoto, membuat semua karyawati di situ membenciku. Semua memihak kepada Winda. Mereka menuduhku sebagai perusak hubungan Pak Karnoto dengan Winda."
"Itu cuma alasan yang kamu buat-buat. Apa sih kekurangannya Karnoto? Dia seorang manager. punya titel dan keluarganya terpandang. Kalau kau cuma mengejar kesenangan karena ingin mendapatkan lelaki tampan, lelaki ganteng, tapi hanya untuk dipermainkan, buat apa Rin? Buat apa?
" Jangan paksa aku untuk hidup berumah tangga dengan Karnoto. Dan karena dia, aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan. Aku mau mencari pekerjaan lain."
Riska yang sejak tadi mendengar percakapan itu tenang-tenang saja. Sebab sebelumnya Rina sudah bercerita mengenai Karnoto.
"Kau memang susah diatur!" kecam Harnoto kecewa.
"Maafkan aku, Mas. Aku memang selalu mengecewakan orang-orang yang menyayangiku. Tapu semuanya ini karena hidupku yang tak menentu. Aku ingin mencaru ketenangan. Ketentraman tanpa mau membuat orang lain susah. Maka untuk itu, malam ini juga aku akan pergi dari rumah ini. Selama saya masih tinggal disini, akan menjadi beban moral buat mas Noto," kata Rina parau.
"Kau mau pergi kemana?"
"Mencari ketentraman hati. Aku mohon jangan halang-halangi aku. Mas Biarkan aku menempuh jalan hidupku sendiri."
"Harnoto diam termenung.
Rina melangkah masuk ke kamarnya. Dia merapikan semua pakaian ke dalam koper. Sementara itu, Hernoto yang ingin tahu siapa sebenarnya Riska, bertanya pada wanita itu.
"Adik tinggal dimana?"
Riska memberitahukan alamatnya.
"Apakah Rina kira-kira sudah mendapatkan pandangan pekerjaan lain?"
Riska menganguk.
"Di mana?"
"Surabaya."
"Surabaya? Di tempat apa?"
"Restauran."
"Adik pelayan restauran juga?"
"Bukan. Saya penyanyi."
"Oo. Saya minta tolong supaya diperhatikan adik saya. Jangan pengaruhi dia terhadap jalan yang sesat. Sebab selama inu nasibnya selalu buruk."
"Saya sudah tahu, Mas."
Rina muncul di ruang tamu diikuti Yuli. Paman dan bibinya ikut menyertai pula. Tampaknya meeeka biasa-biasa saja. Tidak sedih melepaskan kepergian Rina. Sebab Rina waktu berpamitan bilang telah mendapat tempat kost. Tidak mengatakan persoalan apa-apa. Jadi mereka mengira baik-baik saja.
Riska ikut membantu Rina membawakan tas kecil. Lalu Rina berpamitan pada Noto. Angin malam menerpa Rina dan Riska yang berjalan meninggalkan rumah pamannya.
"Malam ini kau menginap di rumahku, dan besok pagi-pagi kita berangkat ke Surabaya." Rina mengangguk. Mereka memanggil tukang becak dan bergegas naik tanpa ditawar ongkosnya. Mereka menyusup ke dalam kulit Rina. Dan malam ini adalah malam terakhir buat Rina untuk tinggal dia kota ini. Besok dia akan memerangi kehidupan baru di kota Surabaya.
Selamat tinggal desa Yomani. Selamat tinggak desaku. Aku tidak akan kembali sebelum hidupku bahagia. Dan selamat tinggal pula mas Handika. Kalau kita ada umur panjang dan Tuhan akan mempertemukan kita, suatu ketika pasti bisa terjadi.
Itulah kata hati Rina ketika sudah duduk di dalam bis yang meluncur meninggalkan kota Tegal. Matahari masih separih mengintai bumi. Sinarnya yang keemasan membias di belahan timur.
***