"Alex, kenapa Kau menutup mataku, Aku tak bisa jalan!"
"Sabarlah Kath, Aku punya sesuatu untukmu ...." Alex berbisik pelan di telingaku yang membuatku meremang. Dia menuntunku, mau ke mana? entahlah, aku menurut saja.
Aku dan Alex sudah 2 tahun menjalin kasih, dia sangat baik dan selalu memanjakanku. Kami saling mengenal sifat masing-masing karena sejak kecil kami selalu bersama.
"Sudah sampai dan sekarang bukalah matamu."
Aku membuka mata perlahan. Kuedarkan netra mengelilingi ruangan yang sudah disulap menjadi tempat yang romantis. Aku berdiri ditengah ribuan kelopak bunga mawar merah yang dibentuk hati, lilin putih bersinar mengelilingi ruangan dan Alex sangat tampan dengan tuxedo putih yang tampak serasi dengan gaun yang kupakai.
Alex bersimpuh di hadapanku tangannya mengambil sesuatu di sakunya.
"Kath, will you marry me?"
Kata-kata Alex sejenak membuatku terpaku, tapi kemudian air mata bahagia begitu saja keluar dari mata ini, tanpa berpikir aku menganggukkan kepala.
'Sudah lama aku mencintainya, saat dia melamarku kenapa aku harus menolak,' pikirku.
Alex membuka sebuah kotak hitam yang di genggamnya, Aku terpana saat benda itu menyilaukan mataku.
"HEARTH OF THE OCEAN."
Kata pertama yang keluar dari bibirku dan aku mengenali kalung itu. Aku terkejut sampai aku menutup mulutku karena tak percaya, bagaimana Alex bisa memilikinya.
"Kau suka Kath. Aku tahu, Kau sangat menyukai berlian. Cantik bukan? tapi kalung ini kalah cantik dengan dirimu Kath, karena Kau adalah berlian yang paling indah di dunia." Alex tersenyum lalu berdiri.
"Tunggu! Kau bisa mendapatkannya. Ini adalah kalung terindah Lex, dan Kau tahu kalung ini disebut juga dengan 'La Courde La Mer' kalung berlian biru milik raja Louis XVI dan ini pernah dipakai Rose Dewitt Bukater pada tahun 1912 saat kapal Titanic tenggelam. Banyak orang yang mencari harta karun ini dan tak ada yang tahu sampai sekarang siapa pemiliknya dan Kau--"
"ssssttttttt ...." Alex menghentikan kata-kataku dengan menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
"Kau tahu Kath, Kau sangat bawel. Aku ingin romantis tapi Kau selalu menggagalkannya dengan cerita sejarahmu. Kau tahu siapa Aku? Alex Daniel Roberth." lanjutnya.
Aku tahu, Alex adalah orang terkaya dan berpengaruh di negeri ini jadi bukan hal yang sulit untuk mendapatkannya. Aku hanya speecless saat benda yang aku teliti kebenaran ceritanya, kini ada di hadapanku.
Alex mengambil kalung itu dan memakaikannya di leherku, sesuatu yang tak bisa kubayangkan. Benda yang saat ini menjadi incaran semua orang, namun kini aku memakainya. Ku lihat hati berwarna biru itu, ku usap-usap dan muncul sinar yang sangat terang dan sangat menyilaukan. Tiba-tiba---
"Bagaimana, Kau suka Rose?" pertanyaan ini menyadarkanku dari keterjutanku akan sinar yang menyilaukanku tadi, aku mengerjapkan mataku dan menggelengkan sedikit kepalaku.
"Kau tidak apa-apa Rose, apakah kau sakit sayang?" tanya lelaki itu seraya mengusap lembut pipiku. "Bersiaplah Rose, Aku menunggumu untuk makan malam. Maaf, kalung ini biar aku simpan dulu. Aku akan memberikannya padamu tepat di hari pernikahan kita." lanjutnya. Lelaki itu melepaskan kalung berlian permata biru, memasukan ke sakunya sambil tersenyum padaku dan berlalu meninggalkanku di dalam ruangan, sendiri dengan kebingungan.
Aku duduk sendiri di depan cermin memandangi diriku yang tampak berbeda, "Kenapa lelaki itu memanggilku Rose, siapa dia?" tanyaku dalam hati.
Ku amati sekelilingku, tampaknya aku berada di sebuah kamar. Barang-barang di sini tampak mewah dan antik. Mataku tertuju pada lemari pakaian, aku membuka lemari itu, "Kenapa baju-baju ini sangat kuno, sebenarnya di mana aku? Kak Alex ... di mana dia?"
"tok ... tok ... tok."
Suara ketukan pintu membuatku berhenti berpikir. Seorang wanita paruh baya masuk dan mendekatiku, gayanya yang elegan dan tampak sedikit angkuh, "Ahh ... mungkin aku bisa bertanya padanya," pikirku.
"Rose, kenapa Kau lama sekali. Biar Aku membantumu berpakaian," wanita itu mengambil satu gaun dari lemari dan sedikit memaksaku untuk menurut padanya berganti pakaian.
"Tunggu! sebelumnya bolehkah Aku bertanya?"
"Tidak Rose, Kau tidak bisa bertanya lagi ataupun membuat pilihan. Setelah kita sampai di New York, maka pernikahanmu akan dilaksanakan dengan megah. Kau tahu! Ayahmu banyak berhutang budi pada keluarga Caledon Nathan Hockley. Menjadi istri Cal adalah sebuah keberuntungan Rose."
"Bu-bukan itu maksudku, Siapa Kau?" tanyaku tegas.
Wanita itu mengerutkan keningnya memperhatikanku dari atas hingga ke bawah.
"Aku bukan Rose, namaku Katherine. Aku tidak mau menikah dengan Cal, Aku hanya ingin menikah dengan kekasihku, Alex," tegasku.
"Plak ...." pedasnya wanita itu tiba-tiba menampar pipi kiriku dan terasa sangat panas.
"Dengar Rose, Aku tidak peduli siapa Alex, aku harap Kau bisa melupakannya. Ayo, semua orang sudah menunggu." wanita itu menyeret tanganku dengan kasar keluar dari kamar.
Tempat ini sangat indah, wangi cat dindingnya masih terasa. Barang-barang ini terlihat kuno tapi sangat mewah dan antik. Aku melihat banyak orang di sini, mereka sangat senang dan bahagia. Aku menuruni tangga dengan warna keemasan, ku lihat ada jam dinding besar di tengah-tengah pertemuan antara dua tangga. Seseorang berdiri dengan gagah dan tersenyum mengamati semua orang, tampak dia merasa bangga.
"Hallo tuan Thomas Andrews, selamat karena Kau berhasil membuat kapal yang mewah dan indah ini," sapa wanita yang baru saja berhasil menamparku tadi.
"Terima kasih nyonya Dewitt Bukatter. Aku harap Kau menikmati perjalanan ini," jawabnya.
"Aku dengar kapal ini tak bisa tenggelam, benarkah?"
"Ha ... ha ... ha ... nyonya Bukatter, Aku pastikan itu tak mungkin terjadi. ini adalah TITANIC."
"Apa!" teriakku karena terkejut, membuat semua orang menatapku.
"Aku berada di kapal Titanic, berarti ini di tahun 1912. Apa yang terjadi? Bukankah sebelumnya Kak Alex melamarku dan memakaian kalung Hearth of the ocean di leherku, lalu kenapa tiba-tiba Aku berada di sini, sinar itu ... ya sinar itu." Aku bermonolog dalam hati.
Aku menatap satu per satu orang di sekitarku, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan sepertinya mereka sedang pamer kekayaan. Seseorang menatapku dengan tajam dari seberang, sorot matanya membuat aku tak nyaman. Aku mencoba untuk menjauh dari orang-orang aneh ini, mungkin aku akan mencari jawabannya sendiri.
Aku berjalan mencari jalan keluar, mungkin saja ada pintu ajaib seperti doraemon di sini. Aku berjalan tanpa henti hingga aku keluar sampai di dek kapal. Aku takjub melihat luasnya lautan berselimut bintang-bintang malam. Sangat indah, hingga tak sadar aku terus berjalan hingga ke ujung kapal, tiba-tiba kakiku tergelincir dan hampir jatuh. Seseorang menangkap tanganku, "Hati-hati nona, lantainya licin karena cipratan air."
"Kau mengikutiku?" Aku buru-buru melepaskan pegangannya.
"Namaku Jack, Jack Dawson. Aku mengikutimu karena Aku tak ingin Kau berikiran pendek dan mencoba bunuh diri dengan melompat lagi." Jack tersenyum mengejek.
"Aku- bunuh diri? Aneh, untuk apa Aku bunuh diri," jawabku ketus. Tunggu, sepertinya dia orang baik mungkin sebaiknya aku tanya dia.
"Jack, apa benar ini Kapal Titanic dan ini tahun 1912?"
"hm ... apa Kau sedang hilang ingatan nona?" jawabnya kemudian tertawa keras.
Aku sudah jengah, dia pasti tak percaya. Sebaiknya aku kembali mencari jalan keluar, saat aku berbalik Jack menarik tanganku.
"Aku tahu, Kau bukan Rose Dewitt Bukatter. Terakhir aku bertemu dengannya, dia sangat manis tapi Kau sangat berbeda," selidik Jack membuatku mempunyai harapan.
"Benarkah, Kau percaya padaku Jack. Perkenalkan namaku Katherine, Kau bisa memanggilku Kathie. Aku berasal dari dunia 110 tahun yang akan datang. Aku tidak tahu mengapa Aku bisa kembali ke masa ini, dan aku ingin segera kembali pulang." Jack mendengarkanku tapi tampaknya dia sedikit tidak percaya, mungkin saja dia berpikir aku mengatang cerita.
"Baiklah, kalau tidak percaya. Aku adalah seorang dosen dan aku mempelajari sejarah. Sudah lama Aku mencari informasi dan sejarah tentang Kapal Titanic ini. Kau tahu Jack, Kapal terbesar ini akan tenggelam pada tanggal 14 april." sejenak aku terdiam, "Sial ... Jack, Kau tau ini tanggal berapa?" tanyaku.
"entahlah ... tapi kapal ini sudah berlayar selama tiga hari," jawabnya.
"Ayo, Jack. Kita harus menghentikan kapal ini berlayar."
Aku berlari dengan kencang, Jack mengikutiku di belakang. Aku berlari dan menabrak beberapa orang yang menghalangi jalanku, Aku tak peduli dengan ocehan orang-orang yang menganggapku tidak waras. Mungkin kehadiranku di sini bisa membuat kapal ini tidak tenggelam dan bisa mengubah sejarah.
"Hei, Kau salah jalan Rose. Kita harus menemui kapten. Ayo ikuti Aku!"
Aku mengikuti Jack berlari ke atas dek kapal menemui Kapten Edward John Smith. Dengan tergesa-gesa aku mencoba menjelaskan pada kapten Edward.
"Capt, tolong hentikan Kapal ini, sebaiknya kita putar arah sekarang juga. Di depan ada banyak gunung es, kapal ini akan menabraknya." Aku mencoba meyakinkan Kapten Edward untuk percaya padaku.
Kapten hanya tersenyum lalu berkata, "Nona, sebaiknya kau kembali ke ranjang hangatmu. Percaya padaku, Aku akan membawamu tiba di New York dengan selamat."
"Tidak. Kapal ini akan tenggelam besok!" teriakku
Semua orang tidak percaya, bahkan Jack menarikku menjauh.
"Jack, Kau tidak percaya padaku?"
"Dengar Rose maaf ... Kath, jika kau berteriak seperti itu maka kau bisa di usir bahan di penjara karena mengganggu masinis kapal. Sebaiknya kita cari cara lain," Jack menenangkan dan memelukku. Rasanya seperti pelukan Alex, di saat seperti ini hanya Alex yang bisa memberikan ketenangan dan kedamaian untukku. "Aku merindukanmu kak Alex" air mata tak bisa aku bendung lagi.
"Lepaskan tanganmu dari tunanganku, bodoh!" Cal tiba-tiba datang dengan menodongkan senjata di kepala Jack.
Cal dengan kasar menarikku, dia membuka mantelnya dan memakaikannya padaku.
"Aku tidak suka yang menjadi milikku di sentuh orang lain," tegas Cal, lalu membawaku ke kamar.
Pupus sudah harapanku, apa aku akan mati di sini tenggelam bersama 1500 penumpang lainnya. Besok! Aku hanya punya waktu sampai besok, Bila aku tak bisa menghentikan kapal ini maka aku tak bisa kembali ke duniaku. Lelah aku menangis hingga akhirnya aku tertidur.
Dingin sekali pagi hari ini, mungkin karena saat ini kapal ini berada di Samudra Atlantik Utara dengan suhu mencapai 2°C sehingga membuat hawa dingin menusuk kulit. Aku memakai mantel Cal yang kupakai tadi malam, aku ingin jalan-jalan menikmati hari terakhirku di dunia, karena dalam sejarah kapal ini akan tenggelam nanti malam. hehehe ... betapa bodohnya aku harus mati seperti ini.
Aku merogoh saku mantel dan menemukan kalung Hearth of the ocean si permata biru, "mungkin dengan kalung ini, aku bisa kembali. Ya, benar bukankah aku bisa ada di sini karena aku memakainya, mungkin jika aku memakainya sekali lagi aku bisa kembali ke duniaku," pikirku dengan senang.
Aku ingin memakai kalung misterius itu namun tanganku berhenti saat seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Kath ... ini aku, Jack. Bukalah pintunya,"
Aku segera membuka pintu, dengan cepat Jack menyelinap masuk dan aku segera menutup pintu dan menguncinya.
Jack duduk di sofa dengan santai, lalu menatapku dengan penuh pertanyaan.
"Apa yang ingin kau tanyakan Jack, katakanlah!"
"Apa benar kapal ini akan tenggelam malam ini? Apa Aku akan mati hari ini?" pertanyaannya membuatku terdiam. Jack menatapku sangat dalam, bola matanya yang biru membuat keteduhan dalam kecemasanku, sejenak aku terhipnotis. 'Apa aku mulai menyukainya?'
"Jack-"
"Aku tidak keberatan jika Aku harus mati hari ini, tapi Kau .... Kath, Kau tak boleh mati karena seharusnya Kau tak berada di sini." Jack menggenggam tanganku, kemudian bersimpuh di hadapanku, "Aku mencintaimu Kath, sejak pandangan pertama. Aku tahu ini konyol, tapi di akhir hidupku mungkin ini adalah hal terbaik yang ingin kulakukan. Aku ingin membawamu pulang," lanjutnya.
Aku merogoh saku dan menunjukan kalung permata biru pada Jack.
"Kau tahu Jack, ini adalah kalung Hearth of the ocean. Kalung inilah yang membawaku kemari, mungkin aku bisa pulang dengan memakai kalung ini, tapi aku punya permintaan. Aku ingin Kau melukisku dengan kalung ini untuk terakhir kalinya, Jack."
Jack menganggukan kepala, dengan sigap dia mengeluarkan alat lukisnya yang selalu dia bawa dalam tasnya, kemudian menggeser sofa untuk tempat aku duduk.
Aku sudah siap dilukis, Jack memandangiku kemudian dia berkata, "beautiful ...." Cantik, ya kalung ini terlihat cantik tapi aku belum memakainya, aku ingin Jack melukisku dulu, tanpa sehelai benang pun karena setelah itu aku akan memakai kalung itu dan pergi.
Aku cukup terkesima dengan cara Jack melukis, dia terlihat profesional. Setelah dia siap melukis tubuhku lalu aku memakai kalung itu, Jack dengan cepat menggerakan tangannya dengan lincah di atas kanvas hingga akhirnya selesai dengan sempurna.
Aku langsung dengan sigap melepas kalung itu, dan membuangnya. Aku menangis, "Jack ... aku tak bisa pergi dari sini. Aku juga mencintaimu. Aku tak bisa meninggalkanmu."
Jack memelukku, cukup lama hingga sesuatu terjadi. Seperti gempa, kapal ini berguncang. Suara riuh dari luar menarik perhatianku. Aku segera berpakaian dan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Aku dan Jack berlari ke arah asal suara. Orang-orang sudah ramai melihat bongkahan besar es yang masuk ke dalam dek kapal.
"Jack, kapal sudah menabrak gunung es. Berarti ini sudah pukul 23.40 Jack, kita harus menyelamatkan diri karena tiga jam lagi kapal ini akan tenggelam."
"Kita harus memberitahu kapten, untuk menyelamatkan orang-orang," kata Jack seraya menariku untuk berlari.
Orang-orang belum menyadari kematian yang mengerikan di depan mata. Aku melihat wajah-wajah yang tak bersalah, anak-anak ketakutan.
"Hei, suara apa yang mengerikan tadi?" tanya penumpang wanita gemuk dengan menggandeng kedua anak perempuannya, namun sang kelasi menjawab dengan tenang, "Semua baik-baik saja Nyonya." jawaban yang konyol bagiku di saat seperti ini bagaimana bisa tenang.
Tak berselang lama, riuh suara orang-orang yang mulai panik, saat kelasi mulai mengedor-gedor pintu kamar mereka, " Semua penumpang naik ke dek dan pakai jaket pelampung masing-masing."
Penumpang yang berlari kesana kemari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Air mulai memasuki kapal dan menggenangi area kelas ekonomi, dapur, dan restoran. Air yang meninggi membuat piring, gelas, bahkan kursi dan meja ikut terapung mengikuti arus air. Inikah yang mereka rasakan malam itu, bahkan alunan musik masih saja dimainkan di saat seperti ini.
Aku melihat tuan Thomas Andrews melihat jam besar di tengah tangga, mungkin dia melihat detik terakhir hancurnya kapal yang dia buat.
"Hanya anak-anak dan perempuan yang boleh naik sekoci," teriak sang kelasi. Jack menarikku dan mendorongku untuk naik sekoci.
"Rose, Kau harus naik. Aku nanti menyusul di sekoci berikutnya," ucap Jack memohon.
"Tidak, Aku sudah memutuskan kita akan bersama Jack." Aku tahu akhirnya pasti dia tak akan naik.
Tiba-tiba ada suara patahan yang sangat keras, kapal sedikit demi sedikit miring membuat aku tergelincir. Banyak diantara mereka yang menangis, ada juga yang pasrah dan berdoa, semoga Tuhan mengampuni mereka.
"Kath, berpegangan yang kuat sepertinya kapal ini akan patah!" teriak Jack memelukku dari belakang. Aku memegang erat kuat besi, benar saja kapal ini miring. Banyak dari mereka melompat dan jatuh ke air yang dingin.
Suara gemuruh bongkahan kapal yang patah jatuh ke air menimpa orang-orang yang tak berdosa. Teriakan riuh orang meminta tolong dan mengiba kepada siapa saja. Kapal akhirnya tenggelam dalam waktu kurang dari tiga jam.
Aku merasakan dinginnya air es menyentuh kulitku, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Jack mengangkatku di atas sebuah papan kayu.
"Jack, ayo naiklah!"
"Tidak, Kath. Aku harus memegang papan ini agar tidak terbalik," ucap Jack dengan bibirnya yang bergetar.
"Jack ...." lirihku menangis.
"Pakailah Kath, Kau akan selamat." Jack menggengam kalung bermata biru berbentuk hati, ternyata dia mengambil kalung yang tadi kubuang.
Air yang dingin membuat Jack semakin kaku. Detik kemudian suara riuh yang tadi terdengar kini redam seketika. Orang-orang tak sanggup melawan hipotermia dan akhirnya, beku.
"Jack ... Jack ... bangunlah," Jack terdiam dan melepaskan pegangannya dan tenggelam. Aku menangis, merasakan sakitnya ditinggalkan seperti ini. Aku memakai kalung Heafth of the ocean sebagai permintaan terakhirnya, kupandangi mata biru kalung itu, tiba-tiba sinar itu berkilau lagi dan membuatku tak sadarkan diri.
"Kath, kau sudah sadar sayang?"
Samar kudengar suara yang lembut, menghangatkan, bukankah itu suara kak Alex. Kubuka mata, benar saja wajah tampan berkharisma kini ada di hadapanku, memegang erat tanganku.
"Kak ... Aa-lex"
"Kathie, tenanglah jangan banyak bergerak, tubuhmu masih lemah." Alex membelai lembut pucuk kepalaku, "Jangan pernah menghilang lagi, Kath. Sudah dua tahun, Aku mencarimu seperti orang gila."
"Apa! Dua tahun. Bagaimana mungkin, bukankah baru dua hari?" tanyaku dalam hati, ingin ku bicara tapi bibirku masih terasa dingin, kelu.
"istirahatlah dulu, aku akan suruh orang untuk berjaga-jaga di luar," ucap Alex.
"tok ... tok ... tok." Seseorang masuk setelah mengetuk pintu.
"Maaf, sayang aku pergi sebentar. Ini Andrew, dia sekarang adalah bodyguardmu." Alex mencium keningku kemudian berdiri dari ranjangku dan mendekati Andrews lalu memberikan kode tangan, entahlah aku tak mengerti maksudnya tapi lelaki itu mengangguk mengerti.
Aku melihat pengawal itu lebih jelas, betapa terkejutnya aku, "Jack!"
Terima kasih, semoga suka dengan ceritaku. Mohon like dan komentarnya ya!
Cerita ini juga sedikit mengambil kisah dari film Titanic, jika tidak berkenan atau tidak sesuai ekspektasi, mohon maaf ya!