Kini Surya sudah kembali merantau Semarang, karena ia hanya libur 5 hari. Semenjak kejadian dimana ia dihianati Rina, ia hampir kehilangan semangatnya. Sekali-kali ia mengintip akun sosmed mantannya mengunggah foto mesra dengan kekasih barunya yamg bernama Riki.
Tak terasa waktu sudah 2 bulan berjalan, Surya tak sengaja melihat unggahan baru dari Rina yaitu foto pernikahan dengan Riki di beranda IGnya. Surya merasa sesak melihatnya, dengan mudahnya ia dilupakan. Ia mencoba tegar, meski membutuhkan waktu.
"Meski kamu meninggal luka di hatiku, aku akan ikut bahagia jika kamu bahagia dengan pilihanmu." batin Surya, ia sambil tersenyum dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Sekilas ia teringat keluarganya di Cilacap, ia bertekat bekerja lebih keras demi keluarganya. Ia harus bangkit, ia tak ingin berdiam diri hanya karena 1 perempuan.
***
Tak terasa waktu berjalan, saat ia sedang jam istirahat ia membuka akun sosmednya. Surya biasa iseng-iseng melihat video masakan di IG. Saat melihat beranda, mata ia terbelalak, melihat unggahan terbaru dari Rina, yaitu foto dimana Rina telah melahirkan bayi yang lucu.
Surya mecoba menghitung-hitung dimana terakhir Rina mengunggah foto pernikahannya. Surya menghela nafasnya, mencoba untuk tenang, karena pernikahan Rina dan Riki belum ada 7 bulan, berarti Rina sudah hamil 2 bulan sebelum menikah.
"Aku tak menyangka kamu bisa jadi begini." gumamnya.
"Aku akan mencoba melupakanmu meski sangat sulit." batin Surya dengan bibirnya tersenyum tulus.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan. Tak terasa 2 tahun lebih sudah ia lewati. Jika dihitung Surya sudah merantau di Semarang selama 4 tahun. Kini Surya sudah naik jabatan, ia rajin bekerja dan bersemangat dan selalu ramah, sehingga ia dipromosikan untuk naik jabatan. 2 tahun ia menajabat karyawan biasa, 1 tahun menjadi kepala toko, dan kini ia sudah berjabat menjadi Supervisor.
Dan ia sangat berwibawa, bawahannya sangat suka dengan sikapnya. Surya rela mentraktirkan bawahan-bawahannya makan bersama jika salah satu timnya ada yang tembus target. Tentu hal seperti ini semua bawahannya sangat bersemangat untuk bekerja.
Meski ia sudah menjadi Supervisor, ia tetap tidak lupa dengan keluarganya di Cilacap, dan mengirimkan uang. Ia juga tak lupa kewajibannya menjalankan Sholat.
Sudah 2 tahun ini, ia sudah tidak pernah melihat unggahan Rina di IG, karena Surya sendiri yang memblok akun Rina. Ia memilih melangkah maju, dan fokus bekerja demi keluarganya di Cilacap.
***
Hari ini, di jam 10 pagi, kini Surya sedang bersantai sendirian di salah satu caffe di kota Cilacap. Benar, Surya mengambil cuti selama 1 minggu. Dia hanya duduk sendirian, jarinya sibuk mengotak-atik keyboard laptopnya. Meski cuti ia tetap memantau timnya suapaya terkendali.
Dengan di temani secangkir kopi hitam, dan roti bakar di meja. Banyak daun muda bahkan wanita-wanita lainnya melihat ketampanan Surya. Ditambah kini Surya memakai kacamata minusnya, semakin bertambah ketampanannya.
Selama ia menjabat Supervisor ia selalu manatap layar monitor, sehingga matanya menjadi minus. Mau tak mau ia harus memakai kacamatanya, tapi ia hanya memakai saat membaca saja. Diluar membaca, ia melepaskan kacamatanya.
Saat ia sedang melihat-lihat laporan di layar laptopnya tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Kamu Surya kan ?" tanya seseorang wanita, yang kini menatapnya.
Surya mendongak ke arah sumber suara itu, matanya terbelalak melihat wanita yang ada dihadapannya. "Rina ?"
"Iya aku Rina."
Ternyata wanita itu Rina, lebih tepatnya mantan Surya. 3 tahun yang lalu berselingkuh dari Surya, dan langsung memutuskan hubungannya.
"Boleh duduk disini ?" tanya Rina ragu.
"Boleh silahkan." jawab Surya sambil tersenyum, lalu pandangannya kembali fokus ke layar laptopnya.
Rina yang duduk satu meja dengan Surya, tepat dihadapannya. Rina melihat Surya tanpa kedip, dan ia baru tau sekaramg Surya sudah memakai kacamata. Dan ketampanannya semakin bertambah.
"Gimana kabarmu ?" tanya Rina.
"Alhamdulillah baik." jawab Surya, lalu ia mematikn laptopnya, lalu ia melepaskan kacamata dan menyimpannya.
"Kenapa dilepas kacamatamu ?" tanya Rina.
"Aku hanya memakai saat bekerja dan membaca saja." jawab Surya sambil tersenyum.
Rina melihat senyuman Surya, ia merasa senyuman itu sangat tulus. Dan senyumannya tak pernah berubah sama sekali, saat ia terakhir melihat senyuman indah milik Surya.
"Gimana kabarmu Rina ?" tanya Surya.
"Baik." jawab Rina sambil tersenyum.
Surya melihat senyuman Rina, seolah ia mengerti ada kesedihan di hati Rina. "Kamu sendirian saja ? Dimana suamimu ?" ia bertanya.
Rina terkejut mendengar pertanyaan dari Surya, tetap sasaran. Karena saat ini Rina sedang memang sedang sedih.
"A-aku sudah bercerai." jawab Rina gugup lalu menunduk kepalanya karena malu.
Surya mengangguk-angguk kepalanya. "Kamu bercerai dari Riki ?"
Rina mengangguk-angguk pelan kepalanya. "Selama ini aku yang bekerja, itu juga demi anak kami. Mantan suamiku semenjak lulus kuliah ia tak mau mencari kerja, ia tak peduli nasibku dan anakku, jadi aku memilih bercerai darinya."
"Lalu anakmu ada dimana ?" tanya Surya.
"Aku menitipkannya di rumah orang tuaku, sekarang aku dan putriku tinggal rumah orang tuaku." jawab Rina, ia masih menunduk kepalanya.
"Kamu kerja apa sekarang ?" tanya Surya, jika Rina belum mendapat kerja ia mau menawarkan Rina pekerjaan, karena di kebetulan di dalam timnya ia membutuhkan petugas kasir, karena toko semakin ramai, tapi harus penempatan Semarang.
"Aku kerja sebagai office girl." jawab Rina malu.
"Tidak perlu malu, yang penting halal itu sudah cukup untuk menafkai anakmu." balas Surya tersenyum.
Hening, suasana hening kini Rina memberanikan menatap Surya, laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya. "Aku minta maaf."
"Sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memafkanmu." jawab Surya tersenyum.
Rina tidak bisa berkata-kata apa-apa, matanya berkaca-kaca, rasa penyesalan datang dibelakang. Seharusnya ia tak menduakannya, karena waktu itu ia merasa kesepian, tanpa kehadiran Surya di sisinya.
Rina mendapat saran dari teman kuliahnya, mencoba mengikuti pergaulan, dan untuk mencari laki-laki lain untuk pelampiasan sementara. Sehingga ia melakukan hubungan terlarang, dan hamil. Rina baru menyadari laki-laki seperti Surya itu jarang ada.
Surya yang selalu lemah lembut, murah senyum dan tidak pendendam. Surya mengambil tisu, dan memberikannya kepada Rina. Rina pun menerimanya dan menghapus air matanya.
Terasa hening, Rina mencoba mengalihkan pembicaraannya. "Kita berdua begini, apa tidak ada yang..." tanya Rina menggantung.
"Aku belum menikah." jawab Surya memotong ucapan Rina, dan Rina hanya bisa diam.
"Kalo begitu aku pamit dulu, aku waktunya masuk jam kerja siang." pamit Rina.
"Rina.." panggil Surya lembut.
DEG.
Rina terpaku setelah Surya memanggil namanya dengan lembut. Suara khas waktu ia dan Surya masih berhubungan. Jantungnya kembali berdebar waktu ia pertama kali bertemu dengan Surya.
"I-iya." jawab Rina.
"Kalo misal aku sedang libur, apa aku boleh mampir ke tempatmu ?" tanya Surya.
"Bo-boleh." jawab Rina gugup.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, yang semangat kerjanya." balas Surya tersenyum.
"I-iya, kalo begitu aku pamit." jawab Rina dan berlalu karena ia gugup melihat senyuman Surya.
Surya melihat Rina yang sudah bejalan jauh, ia tersenyum. Lalu ia memegang dadanya, karena jantungnya berdebar. Surya menghela nafas panjang untuk menenangkan jantungnya berdebar-debar.
"Aku belum siap untuk merasakan jatuh cinta lagi."
***
SELESAI.