Dahulu kala, hiduplah Nardi dan Ai, sepasang suami istri yang sudah memasuki usia renta, namun keduanya belum di karuniai seorang anak.
Kendati begitu keduanya tak pernah menyerah dengan terus berusaha serta memohon pada Sang Maha Kuasa untuk segera memberi mereka momongan.
Suatu hari, pasangan suami istri itu pergi ke sungai untuk menangkap ikan sebagai mana mestinya.
Akan tetapi tangkapan mereka hari itu tidaklah beruntung, sebab, sejak Fajar menyingsing bahkan kini hampir terbenam kembali, keduanya belum menangkap satu ekor pun ikan di sana.
Meski kecewa, namun keduanya tetap tersenyum berusaha untuk ikhlas.
Saat hendak pulang, Sang istri tiba-tiba menangkap siluet seekor emas seukuran ibu jari tengah berusaha melepaskan diri dari jaring milik suaminya.
Dengan telaten, Sang istri mengeluarkan ikan tersebut. Karena ukuran Ikan itu yang sangat kecil membuat Ai tak tega untuk memakannya, ia pun memutuskan untuk melepaskannya kembali.
Saat hendak melepaskan ikan tersebut, Sang Istri tiba-tiba mendengar sebuah suara. " Tolong rawat aku. "
Kepalanya celingak celinguk, mengedarkan pandangannya untuk menemukan sumber suara tersebut, namun sayangnya ia tak menemukan apapun, hingga suara itu kembali terdengar yang ternyata berasal dari ikan di tangannya.
Karena terkejut, Ia pun langsung melempar kembali Ikan itu ke sungai, namun ikan itu bukannya pergi, malah berenang ke arah mereka seraya mengatakan hal yang serupa. " Tolong rawat aku. "
Nardi dan Ai pun saling bertukar pandang, antara menuruti perkataan ikan itu atau pergi dan tak kembali ke sungai itu?
Di saat tengah dilema. Ikan itu kembali berkata. " Rawatlah aku, maka aku akan memberikan apa yang kalian inginkan? Termasuk keturunan yang selama ini kalian inginkan. "
Walau ragu, akan tetapi keinginan mereka memiliki bayi membuat Pasangan Suami Istri itu pun memutuskan untuk menuruti perkataan ikan itu, mereka membawanya ke rumah, menempatkan nya di sebuah kendi kecil serta merawatnya layaknya anak kandung.
Seiring berjalannya waktu, Ikan Mas itu pun tumbuh semakin besar, yang awalnya sebesar ibu jari kini sudah sebesar ukuran betis pria dewasa.
Karena sudah tak muat untuk mereka simpan di Ken, pasangan Suami Istri itu pun memutuskan untuk membuat sebuah kolam berukuran sedang.
Keduanya bahkan bersusah payah mengisi kolam itu dari air sungai yang terletak lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.
Butuh waktu dua hari tiga malam untuk mengisi air kolam itu hingga penuh.
Lengli, itulah nama yang mereka berikan pada ikan itu.
Setiap hari mereka akan memberi makan si Lengli dengan makanan seadanya.
Karena ukurannya yang tak biasa, mengundang penasaran dari seluruh warga desa, mereka berbondong-bondong ingin melihat ikan mas raksasa.
" Lalu kapan kalian akan membagi dagingnya pada kami? " Celetuk seorang pria berusia tiga puluh tahunan, sebut saja Dani Si Kepala Desa.
" Maaf, tapi kami tak berniat untuk memasaknya, karena Si Lengli sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri. " timpal Ai dengan nada tegas. " Jadi, tolong jangan berpikir untuk memakannya. " tambahnya.
Dalam sekejap, kerumunan itu pun bubar, meninggalkan rasa kecewa yang mendalam termasuk Dani Si Kepala Desa yang merasa sudah di permalukan oleh pasangan Suami Istri itu.
Karena merasa sudah di permalukan, Dani pun menjadi dendam dan mulai bersiasat untuk mengambil Si Lengli.
Pada tengah malam, ditemani oleh istrinya, Si Kepala Desa pun melancarkan aksinya. Tangannya menepuk air permukaan sebanyak tiga kali lalu memanggil nama ikan tersebut.
Tak lama kemudian, ikan itu pun langsung muncul kepermukaan, dengan sigap, Dani pun berhasil mengambil Si Lengli, ia bahkan langsung membunuhnya saat itu juga, mencingcang tubuhnya dan membagikan dagingnya pada esok paginya kepada seluruh warga desa kecuali kepada Nardi dan Ai.
Nardi yang hendak memberi makan Si Lengli tiba-tiba terkejut lalu berubah tak karuan ketika ikan yang sudah ia anggap sebagai anaknya telah hilang, ia bahkan turun ke kolam itu untuk memastikannya.
Namun sayangnya Si Lengli telah hilang entah kemana.
Menghilangnya Lengli secara tiba-tiba membuat Nardi dan Ai sangat sedih, mereka bahkan meminta bantuan rakyat di desa, namun hasilnya nihil
Sejak kedatangan Lengli, hidup mereka tak lagi kesepian, karena tanpa sadar rasa sayang itu tumbuh, membuat mereka akhirnya menganggap ikan itu sebagai putra kandung mereka sendiri.
Sudah satu minggu, sejak menghilangnya Si Lengli, membuat hidup mereka menjadi suram kembali.
Suatu hari, saat hendak ingin pergi ke ladang, tiba-tiba ada seekor ayam jago tengah berdiri di depan mereka lalu berkokok. " Tok petok petok Hulu Si Lengli di para sene di turuban ku dulang sontak. "
* Hulu- Kepala.
* Para sene- tempat orang dulu mengeringkan makanan yang terdapat di atas pembakaran.
* Di turuban- di tutupi
* Dulang Sontak- benda yang di gunakan orang dulu untuk menumbuk padi.
Nardi dan Ai pun saling bertukar pandang, sebab kokok kan ayam itu terdengar sangat berbeda dari biasanya.
" Tok petok petok Hulu Si Lengli di para sene di turuban ku dulang sontak. "
Kokok kan ayam itu terdengar kembali, sehingga mengundang penasaran pasangan suami istri itu, keduanya pun memutuskan untuk mengikuti ayam itu
" Tok petok petok Hulu Si Lengli di para sene di turuban ku dulang sontak. " Ayam itu kembali berkokok.
Pasangan Suami Istri itu saling bertukar pandang kembali, sebab, ayam itu telah membawa mereka ke sebuah pintu dapur yang di yakini milik Dani Si kepala Desa.
Meski ragu, tapi keduanya memutuskan masuk ke rumah itu yang kebetulan saat itu sedang kosong, tal ada siapapun di salamnha.
Seperti yang di katakan Ayam itu, mereka pun langsung ketempat yang di sebutkan.
Tanpa ragu, Si suami mengangkat dulang itu.
Alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan tubuh Si Lengli yang kini hanya menyisakan kepala dan tulang belulang yang sudah mengering.
Tubuh Ai seketika ambruk ke tanah, tangannya menutup mulutnya, dirinya tak menyangka dengan apa yang dilihat oleh kedua mata kepalanya sendiri.
Dengan perasaan sedih, mereka pun mengambil tubuh Si Lengli dan menempatkan Dulang itu ketempat semula.
Sesampainya di rumah, pasangan Suami Istri itu langsung menguburkan jasad Si Lengli dengan menggunakan kain kapan, layaknya manusia pada umumnya.
Sejak dirinya membunuh Si Lengli, membuat perasaan Dani menjadi tak karuan, apalagi saat ia menyadari bahwa jasad ikan itu sudah hilang entah kemana, awalnya ia mengira bahwa jasad ikan itu sudah di curi oleh seekor kucing.
Namun ia langsung menepis pemikiran tersebut, karena mana mungkin seekor kucing mampu mengangkat Dulang itu yang beratnya hampir mencapai lima kilo gram.
Ia pun menatap rumah pasangan Suami Istri itu. " Mungkinkah? " duganya, akan tetapi ia kembali menepis pemikiran itu lagi, sebab mereka tak tahu bahwa ia adalah orang yang mengambil Si Lengli.
Waktu pun terus berjalan, pasangan suami Istri itu pun perlahan mulai merelakan kepergian Si Lengli, meski terkadang mereka selalu menatap kolam di belakang rumah mereka.
Suatu hari, desa itu di landa paceklik, banyak panen yang gagal namun tidak dengan hasil panen Nardi dan Ai, karena semua tanaman yang mereka tanam semuanya tumbuh dengan baik.
Tak hanya itu saja bahkan Au tengah mengandung anak pertama mereka, bahkan tak lama lagi wanita tua itu akan segera melahirkan seorang anak.
Beberapa minggu kemudian, Ai pun melahirkan seorang putra dengan lancar nan selamat, keduanya memutuskan menamai putra mereka dengan Nama Lengli.
Sebagai ucapan syukur, Nardi dan Ai, memutuskan membuat sebuah acara syukuran, dengan mengundang seluruh warga desa untuk makan-makan gratis, keduanya bahkan mengundang seluruh keluarga Dani Si kepala Desa.
Namun tak ada satupun dari mereka yang datang menghadiri acara tersebut.
Meski tahu bahwa Kepala Desa itu adalah pelaku yang membunuh Si Lengli, namun keduanya sudah memaafkannya.
Setelah acara syukuran itu telah usai, Nardi dan Ai pun, pergi mengunjungi kediaman rumah kepala desa itu dengan membawa satu karung berisikan padi serta lauk pauk yang sengaja mereka pisahkan.
Meski Nardi dan Ai terus mengetuk pintu rumah itu, Namun tak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan terbuka untuk mereka.
Karena tak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan di buka, Nardi dan Ai pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sebelum pulang ke rumah, Nardi sempat berkata bahwa dirinya beserta istrinya telah memaafkan perbuatannya dan sudah melupakannya, jadi tak perlu lagi menyalahkan diri sendiri, karena semuanya telah berlalu
Dari balik pintu, Dani menangis seseguk kan menyesali perbuatannya.
Saat di hantui rasa bersalah, Dani pun ingin menebus dosanya, dengan membeli seekor ikan mas di pasar untuk mengganti Si lengli
Namun belum sampai ke rumah, ikan itu terus mati, tapi Dani tak pernah menyerah begitu saja, sia bahkan terus menerus membeli ikan mas setiap hari sehingga hartanya terkuras habis, bahkan Sang istri yang tak tahan dengan sikapnya memutuskan pergi bersama anak-anak mereka.
Jika waktu bisa di ulang kembali, Dani lebih baik membeli ikan di pasar dari pada mencuri ikan milik Nardi dan Ai. Namun nasi sudah menjadi bubur, yang sudah terjadi maka tak bisa di ulang kembali