Jovan Aletio, satu nama yang mengisi hatiku. Sudah satu tahun ini aku menjalani hubungan dengan nya. Kita sama-sama saling mencintai dan berbagi kehangatan bersama di malam hari.
Namun, ada satu hal yang mengganjal dihati ku. Dia tidak ingin menikahiku, tetapi dia juga seolah-olah memberiku harapan untuk lebih dari sekedar hubungan yang sedang kami jalani.
Seperti saat ini, aku iseng bertanya padanya mengenai pernikahan. "Sayang, besok aku ada undangan dari Rieta. Dia sudah mau menikah," ucapku seraya menatap nya yang tengah fokus dengan layar LCD dihadapannya.
"Datanglah, apa mau ku temani?" Dia menawarkan diri untuk menemaniku. Bukan itu yang aku inginkan, harus nya dia berucap 'Apa kau juga mau kunikahi?' ya seperti itu.
"Boleh, tapi... eum-" Aku sedikit ragu untuk berbicara.
Jovan akhirnya menghentikan pandangan dari layar laptop nya dan beralih memandang ku dengan lembut. "Kenapa sayang, bicaralah." Dia menarik ku dalam pangkuan nya dan menyelipkan sebagian rambut ku ke belakang telinga.
Aku menunduk memandang lantai marmer ruang kerja nya. Menghela nafas seperti seorang yang sudah pasrah dan lelah. "Aku juga ingin menikah seperti teman-temanku yang lain..." gumamku sekecil mungkin.
Dengan mata ku yang tidak mau menatap nya, aku kembali berujar. "Umurku sudah menginjak 30 tahun, dan orang tuaku sudah meminta kepastian dari keluargamu untuk menikahi ku atau tidak. Jadi bagaimana, apa kamu benar mau serius denganku?"
Jovan hanya menatapku datar. "Kita tidak perlu menikah, kalau itu jawaban yang kamu mau. Tapi, kita bisa tetap bersama seperti ini. Aku mencintai mu Geane," Jovan kemudian mencium bibir ku dengan lembut dan penuh perasaan cinta.
"Kenapa?" aku bertanya.
"Kenapa, apanya sayang?"
"Kenapa kamu sangat tidak ingin menikah?" Aku menatap wajah nya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudahlah, Geane jangan banyak bertanya. Yang perlu kamu ketahui adalah aku sangat mencintai mu sepenuh hati." Jovan memelukku.
Aku sudah lelah dengan ucapan dia yang berkata mencintaiku, tapi tidak pernah sekalipun berniat untuk mengikatku pada hubungan yang lebih serius.
Baiklah, untuk saat ini aku hanya mengikuti takdir yang sedang aku jalani. Tetap bersamanya hingga aku benar-benar merasa lelah dan tidak mampu lagi untuk bertahan. Sekarang, biarlah aku tetap mencintai nya seperti awal kita bertemu.
***
Sore hari aku baru saja pulang dari tempat kerjaku, aku mengecek ponsel tapi ternyata sudah hampir setengah hari aku tidak menerima kabar dari Jovan.
Aku sedikit gelisah akan dirinya. Berusaha menghubungi keluarga nya, namun hasil nya sama. Mereka tidak ada yang mengangkat nya.
Dengan pasrah aku berjalan menuju dapur dan membuat makan ku. Sudah hampir satu minggu sejak aku mengobrol dengan nya mengenai pernikahan itu.
Aku dan dia selama seminggu terakhir ini tetap seperti pasangan pada umumnya. Jarang sekali kami bertengkar untuk hal kecil. Terakhir kami bertengkar sudah sekitar 6 bulan yang lalu, itu karena dia tidak ada kabar seperti saat ini.
Dulu ketika dia tidak ada kabar aku selalu marah dan kesal pada nya. Tapi, karena sudah terlalu sering akhir nya aku jadi terbiasa. Dan juga aku sudah pastikan ketika aku bertanya 'kemana saja hari ini tidak ada kabar?' dia akan menjawab 'maaf sayang, hari ini aku ada proyek di luar kota dan keluargaku juga ikut'
Oke cukup tidak masuk akal dan sulit untuk di percaya. Tapi lagi-lagi aku tidak mau bertanya lebih banyak lagi, karena aku tidak ingin terjadi pertengkaran hebat lagi setelah itu.
Satu, dua, tiga jam aku selalu menunggu pesan atau telfon dari nya. Tapi sampai pukul 11 malam pun masih tidak ada balasan apapun bahwa WhatApps nya hanya ceklis satu. Artinya ponsel dia tidak aktif.
Karena terlalu lelah batinku, aku tak sadar bahwa aku sudah terlelap begitu saja di ranjang empuk ini.
Besok nya, aku mendapati sebuah pesan dari nomor tak di kenal. Dia mengirim ku berupa foto yang aku sangat amat mengenal orang yang berada di foto itu.
Iya, dia adalah kekasih ku. Jovan. Tapi dia tidak sendirian, dia terlihat sedang menyuapi seorang wanita yang seperti nya seumuran dengan kita. Mereka terlihat di sebuah ruangan yang tidak asing lagi untuk ku, itu terlihat seperti rumah sakit.
Batinku berkecamuk, siapa wanita itu?
Dengan tangan gemetar, aku membalas pesan itu bertanya, siapa dirinya mengapa mengirim ku pesan gambar seperti itu. Alih-alih bertanya siapa wanita di dalam foto itu.
Dia tidak menjawab pertanyaan ku, namun dia membalas dengan kalimat 'Wanita itu adalah kakakku, mereka sudah menikah.'
Terjawab sudah pertanyaanku. Aku terkejut dan langsung lemas sekali badanku. Pagi hari yang buruk.
Tanpa terasa aku sudah menitikkan air mata. Aku tidak habis pikir dengan Jovan, mengapa dia tega menyelingkuhi istri nya sendiri yang aku lihat dia sedang sakit.
Mulai saat ini, aku bertekad untuk tidak lagi berhubungan dengan laki-laki itu. Ternyata selama ini Jovan tidak menikahi ku karena dia memang sudah memiliki istri sah.
Aku juga tidak akan lagi menghubunginya dan kebetulan aku di mutasi dari pekerjaan untuk pindah ke Pulau Kalimantan. Aku sebenarnya ingin membicarakan ini pada Jovan kemarin, namun selalu tidak sempat. Dan kali ini aku sangat yakin untuk pergi dari nya.
Selamat tinggal kota kelahiranku dan selamat tinggal orang yang ku cintai di sini. Semoga kamu bahagia selalu. I Love You.