"AAAHH....., KENAPA!! KENAPAAA!!!". Anak laki-laki itu menangis sambil meninju dinding kamarnya. "Kenapa hidupku semenyedihkan ini. Hiks...". Luapan emosi ia lampiaskan ke dinding itu. Ruangan itu kini dipenuhi oleh suara tangisannya. Gelap dan kusam hanya itu yang bisa menggambarkan suasana hatinya yang sekarang.
Setelah puas melampiaskan amarahnya. Anak itu duduk lemas dilantai sambil menangis. "Hiks... kenapa !? Selama ini aku terus bersabar. Aku terus berbuat kebaikan. Tapi kenapa !? Hiks... Aku hanya ingin mempunyai seorang teman. Apa yang salah dengan semua itu ?!"
Anak itu melihat foto ibunya yang berada di atas meja kamar. "Semua yang ibu katakan bohong !!". Dia mengambil foto itu dan ingin ia banting, tapi saat ia teringat senyuman ibunya yang tulus dan penuh kehangatan, anak itu langsung menghilangkan keinginannya untuk membanting foto ibunya. Dia menaruh kembali foto tersebut ketempat semula.
Sekarang ia tiduran dilantai kamarnya yang sudah seperti sebuah air es dingin. "Sampai kapan aku harus menjalani hidup seperti ini ? Aku sudah muak hidup di dunia ini". Anak itu menaruh lengan kanannya di atas mata untuk menutupi air mata yang masih mengalir.
Entah kenapa dia mulai merasakan rasa hangat dari lantai yang ia tempati. Rasa hangat itu seakan mengobati jiwanya yang sudah lelah akan rasa kehidupan dunia. 'Aku ingin merasakan lebih lama lagi rasa ini', batin anak itu.
Di dalam menara pemanggilan terlihat seorang wanita yang berumur tujuh belas tahun tengah melakukan ritual pemanggilan pahlawan. "Wahai sang penyelamat. Tolong selamatkan lah kerajaan kami !".
Seketika keluar seorang pria muda yang berumur enam belas tahun. Pria itu tengah tertidur ditengah lingkaran pemanggilan dengan lengan kanannya yang menutupi mata.
Wanita itu kini mulai menghampiri pria tersebut. "Pahlawan ! Tolong bangun Pahlawan !", panggil wanita itu yang mencoba untuk membangunkannya.
Pria itu mendengar seperti ada seseorang yang memanggilnya, ia lalu mulai membuka matanya dan melihat bahwa ada seorang wanita cantik dihadapannya. Wanita itu mempunyai rambut berwarna pirang dengan mata yang berwarna hijau.
"Siapa kamu ?", tanya pria itu.
"Pahlawan saya adalah orang yang telah memanggil anda", jawab wanita itu.
Pria itu lalu menoleh ke kanan dan kirinya untuk melihat situasi saat ini. Yang ia lihat kini hanyalah sebuah tembok putih yang melingkar. Terdapat sebuah lingkaran aneh ditengah lantai bangunan ini. 'Sepertinya aku berada didalam sebuah bangunan, dan wanita itu tadi memanggilku pahlawan' batinnya.
"Ah... pertama-tama mari kita obati dulu luka yang ada di tangan anda". Wanita itu kini mulai menggunakan sihir Heal untuk menyembuhkan luka pria itu.
Pria itu terkejut ketika melihat sebuah sihir yang dikeluarkan wanita itu untuk menyembuhkannya. 'Sebuah sihir !?', batinnya dengan muka terkejut.
Lukanya kini sudah sembuh dengan sangat cepat seperti sebuah busa yang ditekan dan akan kembali kebentuk semula.
Setelah selesai mengobati, wanita itu kini mulai memperkenalkan dirinya kepada sang pahlawan. "Perkenalkan nama saya adalah Sofie. Saya adalah orang yang diutus oleh kerajaan untuk melakukan ritual pemanggilan sang pahlawan".
Kesimpulan yang bisa ditangkap oleh pria itu adalah bahwa sekarang ia berada di dunia lain. Ia dipanggil kesini untuk mengalahkan sesuatu yang mengancam sebuah kerajaan. Dan dunia ini terdapat sebuah sihir.
"Aku Reil seorang siswa menengah atas".
"Kalau begitu tolong ikuti saya untuk kembali ke kerajaan dan menghadap sang raja".
Reil tetap dalam posisinya dan tak bergerak meskipun ia mendengar Sofie untuk mengikutinya. Sedangkan Sofie terheran karena melihat sang pahlawan tak kunjung bangun dan masih tetap dalam posisinya walaupun sudah ia minta untuk mengikutinya.
"Kenapa anda tak kunjung bangun ?" tanya Sofie kepada pahlawan.
Reil menatap Sofie dan mulai berkata, "Kenapa aku harus mengikutimu !?".
"Karena anda adalah seorang pahlawan", jawab Sofie dengan tenang.
"Pahlawan !?". Reil tersenyum dengan sinis. "Kamu pikir karena aku seorang pahlawan dan aku harus mengalahkan sesuatu yang mengancam kerajaan ini ?".
Sofie terdiam karena ia tidak tahu kalau pahlawan yang ia panggil akan mengatakan itu.
"Apa kamu tidak tahu betapa lelahnya aku !? Aku lelah dengan semua orang yang ingin memanfaatkan kebaikanku. Aku lelah dengan sorotan mata mereka yang begitu menjijikan. Dan sekarang kamu menyuruhku untuk menyelamatkan kerajaan ? Apa kamu tahu seberapa menderitanya aku". Reil berteriak kepada wanita yang telah memanggil dirinya.
"Saya memang tidak tahu apa yang telah anda alami di dunia anda. Tetapi saya sangat meminta tolong kepada anda untuk menyelamatkan kerajaan ini dari invasi Raja Iblis", Sofie tetap menyakinkan pahlawan untuk menyelamatkan kerajaan.
Melihat reaksi pahlawan yang masih diam saja dan tidak berkata apa-apa, ia pun mulai meraih tangan pahlawan dan menuntunnya untuk keluar agar bisa melihat situasi diluar sana.
"Lihatlah, apakah anda bisa melihat penduduk yang ada di sana", tunjuk Sofie ke arah penduduk.
Yang Reil lihat saat ini adalah sekumpulan orang-orang yang dipenuhi dengan luka. Reil juga melihat beberapa anak kecil yang sedang menangis.
"Para orang-orang itu telah diserang oleh sekelompok monster sehingga mereka harus lari dan membiarkan desa mereka hancur diserang monster. Dan anak-anak yang menangis itu, mereka telah kehilangan orang tua dan saudara mereka karena serangan para monster", ucap Sofie.
Reil hanya bisa diam melihat pemandangan didepannya. Memang penderitaan yang dialami Reil tidak sebanding dengan penderitaan yang sudah orang-orang itu alami.
"Jika hanya seorang pahlawan yang bisa menyelamatkan mereka, lalu siapa yang akan menyelamatkan sang pahlawan itu", tanya Reil sambil menatap kondisi para penduduk.
Sofie terdiam dengan kata-kata yang diucapkan pahlawan. Karena yang Sofie tahu pahlawan itu kuat karena Dewa akan memberikan pahlawan kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya.
"Aku ! Akulah yang akan menyelamatkan sang pahlawan itu", ucap Sofie yang menunjuk dirinya sendiri.
Reil melihat Sofie yang penuh akan keyakinan dimatanya. "Akan kupegang kata-katamu itu", ucap Reil.
Mereka kini menuju ke kerajaan untuk menghadap sang raja dari kerajaan ini. Dan Reil berharap bahwa kehidupannya di dunia ini akan jauh berbeda dengan kehidupannya semasa di bumi.