Tepat pada Jum'at tanggal 13 yang sering dianggap dengan hari sial, aku diingatkan akan hal itu oleh temanku namun aku sendiri tidak percaya dengan tahayul.
"Ra lu jadi pergi kebukit sekarang?" tanya Dinda teman dekatku, ak hanya mengangguk yang mengartikannya iya, tidak tau mengapa Febri adik sepupu Dinda terlihat cemas orang yang sering dipanggil dugong itu sepertinya memiliki firasat buruk "Lu knp Feb, kek wajah lu cemas banget? ada masalah? cerita aj gapapa!" Tanya Rangga "Gapapa gak ada masalah kok, lu gak usah khawatir!" Jawab bohong Febri, aku dapat melihat kebohongan yang terdapat dimata Febri. Aku, Dinda, Rangga, dan Febri selesai bersiap untuk pergi kebukit, kami berangkat sekita jam 7 perjalanan menghabiskan waktu 1 jam, kami sampai disana tepat jam 8, karena bukit masih sedikit berkabut jadi Aku, Dinda, Rangga, dan Febri berjalan mengarah gubuk penjaga, disana disediakan cemilan dan minuman "Mbak sebelum kebukit baca dulu peraturannya" ujar wanita berseragam tersenyum ramah kepada kami "Iya mbak makasih pemberitahuannya" jawab Dinda, aku mengabaikan papan peraturan, aku bersama Rangga dan Febri berjalan melanjutkan perjalanan tanpa membaca papan peraturan "Ra.... baca dulu peraturannya Ra...Naura... bentar!!" ujar Dinda yang dari tadi masih ada didepan papan peraturan "Ya... paling cuman gk boleh buang sampah doang" Aku sendiri tidak peduli dengan hal seperti itu "Sebenernya gw khawatir sama lu Ra.." batin Dinda sambil mengikuti ku dari belakang.
Sampainya ditempat istirahat pertama
"Woi ada uler!!"
"Weh weh uler!!!"
"Awas Din.... ada uler!!"
"Uler? Dimana? Gk ada tu ngaco kalian"
Aku, Rangga, Dan Febri melihat seekor ular putih yang berada disebuah sumur tua, namun janggalnya hanya Dinda yang tidak melihatnya, disana sangat sepi hanya ada Aku, Dinda, Rangga, dan Febri. Tenggorokan ku terasa gatal tanpa aku pedulikan aku meludah disebuah baru dengan tulisan aksara Jawa "Ra!! lu gak boleh meludah disembarang tempat Ra..!!!" tiba-tiba Dinda marah "Emangnya kenapa?" Jawabku dengan santainya sambil menginjakkan kakiku ke atas batu dengan aksara Jawa itu "Lu gk boleh Ra... sekarang turunin kaki lu dari batu itu!" perintah Dinda yang hanya kubalas santai "Yaa..", tak lama setelah itu "Mbak... jangan kotori tempat saya!" suara gadis lembut yang membuat bulu kuduk berdiri itu mengejutkan ku, Dinda, Rangga, dan Febri "Emang kenapa mbak ini kan tempat umum, jadi boleh buat siapa saja lah!" Dengan tidak sopan Rangga naik keatas batu itu dan berdiri diatasnya "Berhati-hatilah..." kata-kata gadis itu membuat ku, Dinda, Rangga, dan Febri terdiam, gadis itu berjalan kearah hutan yang semakin lebat, "Ah sudahlah ayo kita pergi!" ucap ku mengajak yang lain meninggalkan tempat itu, terlihat dari ekspresi Dinda seperti ingin mengatakan sesuatu.
Sampainya diatas terdapat air terjun yang dibawahnya terdapat sungai yang dapat digunakan untuk berenang, disana hanya ada beberapa orang saja terdapat juga sebuah gubuk kecil lusuh dipinggiran sungai tersebut "Baik lah ayo... kita berenang..." Ucap Febri kegirangan "Woi... Tunggu...!" Rangga yang tidak pandai berenang berusaha untuk mengusul febri yang sudah berada dibagian yang dalam "Yok Din sekarang kita juga ikut berenang!" ucap ku sambil menarik tangan Dinda, Dinda hanya tersenyum tipis. Sudah sangat lama kami bermain di sungai itu jari-jari tangan kami mengerut seperti nenek-nenek, terlihat juga sepertinya akan turun hujan, "Loh baju gw mana?!" Ucap Rangga mencari baju gantinya yang tadinya berada diatas tas hitam yang dia bawa "Loh bukannya tadi disitu?" tanya Dinda "Ya tadi kan disini gw berenang trus gw taruh diatas tas item yang dari tadi gw bawa dari bawah sampai atas sini pas gw mau ambil lah gak ada! sekarang kemana coba?" Jawab Rangga panjang lebah, aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, aku melihat Febri yang berjalan kearah gubuk kecil lusuh dipinggir sungai tersebut, saat kembali wajahnya terlihat pucat dan ketakutan ditangannya membawa baju milik Rangga "Cepet kita pergi dari bukit ini!" Ucap Febri tak jelas "Emang kenapa?" tanya Rangga "Lah iya tadikan elu yang ngajak sekarang belum aja kita lihat-lihat yang lain udah mau pulang aja!?" Tambah Dinda, gw hanya diam ngelihat tingkat Febri yang aneh "Yaudah kita pulang aja deh!" Ujar ku mengajak yang lain buat pulang, padahal ini jam 10 siang namun terlihat sangat gelap dan berkabut.
Ditengah perjalanan turun dari bukit terdengar suara melodi musik, aku tidak terlaku mendengarnya dengan pasti, entah hanya aku saja yang mendengarnya atau yang lain juga saat aku berbalik dibelakang ku hanya tersisa 2 orang siapa lagi kalau bukan Febri dan Rangga lantas dimana Dinda "Loh Dinda kemana?" tanya Febri panik "Tadi dibelakang lo bego" Rangga dan Febri terlihat sangat panik namun aku sendiri hanya berdiri tak mengeluarkan satu kata pun dari mulutku, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras aku, Rangga, dan Febri terus berjalan menuruni bukit namun sepertinya aku, Rangga, dan Febri hanya berputar-putar "Lu yakin ini jalannya Ra?" tanya Rangga "Gw yakin tadi kita lewat sini!" jawab ku sambil mengedarkan pandanganku "Mbak kalo mau pulang bersihin dulu ya!" suara itu terdengar lagi suara gadis namun disana tidak ada siapa-siapa kecuali aku, Rangga dan Febri, aku teringat dengan batu besar yang aku ludahi saat naik kebukit "Ayo kita bersihin batu dengan aksara Jawa tadi!" Ujar ku dengan yakin, Rangga dan Febri hanya melihat satu sama lain dan mengangguk mengartikan iya.
Aku, Rangga, dan Febri dengan yakin berjalan lagi dan akhirnya menemukan batu dengan aksara Jawa itu, Rangga mengambil air dari sumur yang tak jauh dari batu itu aku bersama yang lain membersihkan batu itu "Keknya udah bersih!?" ujar Febri "Tapi dimana Dinda?" lanjut Febri, Tanpa kamu sadari Dinda berada disamping batu itu, Dinda terlihat pucat "Lu gk apa-apa Din? tadi lu kemana?" tanyaku kepada Dinda "Gk gkk... cepet pulang!!" Jawab Dinda ketakutan "Gadis itu tidak akan pulang, kembalikan batu saya!" suara itu muncul lagi, aku meyakinkan Dinda ada apa dengan dirinya, Dinda menjawab jujur bahwa dia mengambil sebuah kalung dengan bando berlian ungu disamping batu itu dia tergiur melihat kilauan yang ada dibatu tersebut, aku memintanya untuk mengembalikan, setelah itu Dinda mau mengembalikannya aku membuat perjanjian dengan hantu penunggu itu bahwa Dinda akan dilepaskan dengan gantinya dupa dan tetesan darah gadis muda, aku meneteskan darahku sendiri keatas dupa. Selesai dari bukit kami tidak akan kembali lagi kesini, mungkin hal ini akan menjadi kenangan terakhir kami kebukit itu.
Pesannya adalah kita harus mengikuti semua peraturan yang ada dan tetaplah jaga kesopanan kalian ditempat yang mungkin agak mistis, jadi maaf kalo cerpen aku gak sebagus ekspetasi kalian tapi tolong dukungannya ya karena ini cerpen pertama ku:)
Terimakasih sudah mau mampir jangan lupa tinggalkan jejak yah