Tema : Benci dan Cinta.
Selamat membaca
-oOo-
Suara ombak bergaung nyaring, berbaur dengan angin laut yang menerpa wajah putih Naura. Ia memejamkan mata, menikmati suasana hangat yang ada. Pukul menunjukkan jam dua belas lebih lima belas menit, saat yang tepat bagi matahari untuk bersinar terik di atas sana. Namun, angin laut yang kencang, membuat terik itu menghangat. Terlebih, Naura duduk di dekat pepohonan kelapa yang cukup rindang. Ia duduk tanpa alas, membiarkan pantat dan kakinya menyentuh pasir putih yang juga terasa hangat. Sedikit kasar.
Perlahan, Naura membuka matanya. Manik matanya yang berwarna abu-abu, menangkap barisan burung yang terbang rendah di atas laut, menunggu ikan yang jadi mangsanya. Saat ikan-ikan kecil sedikit naik ke permukaan untuk mengambil oksigen, saat itulah para burung siap mengambilnya. Terlihat pula beberapa kapal nelayan terombang-ambing jauh di tengah lautan sana, hanya terlihat layarnya yang terbentang, warna-warni.
“Ketemu juga... .”
Naura menoleh dan menemukan sosok pria jangkung berkacamata dengan setelan jas lengkap dengan sepatu pantofel yang sedikit terendam pasir pantai. Rambut cepaknya berayun kecil saat angin menerpanya. Wajahnya tampak gusar dan serius, namun melihat Naura yang tersenyum, sedikit kelegaan terpancar dari wajahnya.
“Direktur Jo... ,” sapa Naura. Direktur Jo adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Bos sekaligus kekasihnya. Yah, sebenarnya, Naura hanyalah kekasih bayanga. Karena, direktur Jo sudah memiliki istri.
“Kamu pergi sejak dua hari yang lalu. Tanpa kabar, benar-benar membuatku cemas.” Direktur Jo melepas jas dan memakaikannya ke tubuh Naura yang hanya memakai gaun dengan potongan lengan kecil sementara ia kemudian ikut duduk di atas pasir sebelah Naura.
Perlahan, Naura meletakkan kepalanya ke bahu direktur Jo sambil melingkarkan tangan ke lengan direktur Jo. Direktur Jo, meraih tangan Naura dan menggenggamnya erat. “Nyonya Ana mendatangiku,” ujar Naura. Ana adalah nama dari istri Jo. "Dia memintaku pergi."
“Aku tidak mencintainya. Dia hanya wanita yang dijodohkan oleh nenek. Ini perjanjiannya dengan sahabatnya saat masih muda. Aku tidak mencintainya. Aku membencinya karena membuatku harus menikahinya saat aku sungguh jatuh cinta padamu."
“Aku tahu. Tapi, dia masih saja menang dariku. Dia memiliki status resmi. Sedangkan aku... tidak... tidak.”
Direktur Jo menarik lengan Naura, membelainya lembut, “Aku tidak akan meninggalkanmu."
“Jangan melakukan hal bodoh, Jo... .” lirih Naura yang menghilangkan kata ‘direktur’ pada sang bos. Dia mencintai Jo tapi bukan berarti dia mengijinkan Jo menyakiti Ana. Dia tahu mau berbuat hal lebih buruk lagi.
Jo melengos kecil lalu kembali menatap wajah Naura. Perlahan, ia menarik wajah Naura mendekat dan ia mencumbu Naura dengan lembut. Perlahan, Naura meneteskan air mata sambil menikmati ciuman Jo. Ciuman terakhir mereka. Karena setelah ini, Naura lebih memilih untuk pergi. Selamanya. Naura tidak ingin hidup dalam bayangan.
-oOo-
“CUT!!!”
Seorang sutradara ternama, Orlando, berteriak dari kursinya yang tak jauh dari tempat ‘Naura’ dan ‘Jo’ tengah melakoni adegan mesra mereka. Terpancar wajah puas dari Orlando yang mengacungkan jempolnya.
Naura adalah karakter yang dimainkan oleh Pia, aktris blasteran yang sedang naik daun. Sementara direktur Jo, dimainkan oleh Al, seorang aktor tampan yang juga mantan atlet bola basket. Sesungguhnya, Pia dan Al adalah dua artis yang sedang bersitegang. Keduanya dulu adalah sepasang kekasih tapi putus dengan tidak baik-baik karena isu perselingkuhan. Hal itulah yang membuat mereka saling membenci satu sama lain. Tapi, mereka memiliki akting yang apik dan profesional. Banyak yang menyukai akting mereka yang natural meski sebenarnya sedang berseteru.
Tepat setelah kata ‘CUT’ keluar dari mulut Orlando yang puas, Pia dan Al langsung saling menepis tangan dan melempar wajah. Mereka saling membersihkan tangan jijik seolah batu saja menyentuh hal kotor.
“Cih. Gue harus gosok gigi dengan kembang tujuh rupa!” omel Pia sambil menggosok bibirnya dengan tisu basah.
“Heh! Lain kali, sebelum adegan mesra... gosok gigi dulu. Bau jigong!” omel Al yang bergegas pergi dengan wajah jijik meninggalkan Pia yang menahan kemarahannya.
“Dasar tukang selingkuh! Puih!” Sungut Pia tak kalah jijiknya.
Di sisi lain, para kru nampak hanya menggeleng-geleng kecil melihat tingkah keduanya. Sudah dua bulan bekerja sama, mereka sudah hapal dengan tabiat Pia maupun Al. Benar-benar hubungan benci dan cinta yang sangat profesional!
-Fin-
Demikian Pia dan Al menjadi pemeran untuk tema hari pertama dalam tantangan cerpen 30 hari.
Semoga kalian menikmatinya. Nah, kalau kalian sudah baca hingga akhir, jangan lupa berikan love kalian ya... komentar dan baca juga karyaku yang lain.
Regards Me
Far choinice ^^