SENIN, 16 Desember 2019.
Hujan masih setia mengguyur jalanan ibu kota. Rintiknya terus berdatangan tak kenal lelah. Meski tidak terlalu deras, dengan hujan rintik ini bisa membuat seorang pria basah kuyup setelah sampai tujuan -tentu saja jika ia nekat menerobosnya.
“Gila! Udah jam empat aja. Bentar lagi tutup.” Monolognya ketika melirik ke arah jam tangannya.
Dengan gusar pria itu menatap rintik hujan dengan lekat. Berharap dalam hati agar hujan segera reda. Melihat hujan yang tak kunjung reda, pria itu memilih pilihan terakhir.
Ia mulai mengeratkan hem kotak-kotak dengan perpaduan warna hitam putihnya dan segera berlari kecil. Menerobos hujan yang mungkin sebentar lagi akan turun dengan deras. Tangannya terangkat untuk melindungi kepalanya dari tetesan air yang sedikit dingin.
Menjauhi kerumunan orang yang tengah menghindari hujan seperti dirinya beberapa saat lalu, pria itu dengan cepat melangkahkan kaki. Meninggalkan halte. Dengan mata yang sedikit menyipit ia terus menajamkan pandangannya. Menelisik ke dalam kerumunan tetes air untuk mengetahui sejauh mana lagi ia harus berlari. Langkahnya semakin cepat ketika mendapati tempat tujuannya tak jauh lagi.
“Hufft.. akhirnya..” napasnya agak tersengal setelah berlari kurang lebih sepuluh menit.
Tangannya menepuk bahunya untuk mengurangi basah yang sebentar lagi akan menyesap ke dalam kaos hitam yang ia pakai. Setelah dirasa cukup, pria itu kembali melangkahkan kaki dan masuk dengan tergesa. Tanpa henti sejenak, ia langsung mencari buku yang ia perlukan. Ya! Tempat ini adalah toko buku. Setiap satu bulan sekali ia membeli buku kemari, tentunya setelah menyisakan uang sakunya selama satu bulan.
“Ini dia.” Gumamnya. Dengan segera ia menuju kasir dan membayarnya.
“Ini, Mbak.” Pria itu memberikan buku bersampul biru tua itu kepada 'mbak kasir'.
Sembari tersenyum, wanita di depannya itu mengambilnya dan segera melakukan prosedur transaksi.
“Totalnya Rp 75.000 ya.” Ujar wanita itu dengan menyiapkan struk pembelian.
“Bisa disampul sekalian ga?” Tanya pria itu sembari mengeluarkan uang dari tasnya.
Tanpa memberi jawaban, wanita itu mengangguk dan segera menyampuli buku yang pelanggannya beli.
“Terima kasih.” Ujar pria itu ketika mendapati bukunya sudah diberi sampul.
“Terima kasih kembali dan selamat membaca.” Wanita itu tampak sangat supel. Atau mungkin itu karena pekerjaannya? Entahlah.
Pria itu kembali melangkah keluar setelah tersenyum menanggapi ucapan wanita tadi. Sepertinya dia mahasiswa.
“Saka!” Teriakan seseorang lantas membuatnya menoleh ke sumber suara.
🥀
Selasa, 16 Januari 2020.
Saka kembali ke toko lagi. Ia kembali membeli buku untuk bahan referensi tugas kuliahnya. Tak ada yang spesial. Semuanya berjalan seperti biasa. Bedanya, kalau bulan lalu ia harus berlarian menerobos hujan sore ini ia bisa berangkat dengan santai. Kuliahnya selesai sebelum waktunya. Dan itu adalah sebuah kelangkaan yang terjadi. Penjaga kasirnya pun masih sama seperti waktu terakhir kali ia kemari.
Rabu, 16 Februari 2020.
Kali ini, dengan langkah gontai Saka kembali ke toko buku. Pikirannya kacau. Baru saja adalah pengumpulan tugas. Tugas yang ia siapkan dengan penuh kerja keras hanya mendapat nilai C. Yang artinya itu ia ada pilihan untuk mengulang agar lebih baik berarti menambah satu semester lagi atau membiarkannya dengan risiko ia lulus dengan nilai pas-pasan.
“Arghhh!” dengusnya kasar.
Saat masuk ke dalam toko, ia langsung mendapati wanita penjaga kasir yang tengah tersenyum sembari melayani pembeli. Wanita yang sama seperti dua bulan terakhir. Tak terasa senyum tipis tercetak disudut bibirnya. Melihat interaksi wanita itu dengan seorang ibu yang membawa anaknya terasa sangat menenangkan.
Hei, apakah baru saja ia mengagumi wanita itu?
Dengan cepat Saka menepis pikirannya dan kembali melangkahkan kaki menuju rak novel. Mungkin ia butuh hiburan bacaan sejenak.
Kamis, 16 Maret 2020.
Saka kembali. Kali ini ia lebih bersemangat. Selain karena ia bisa mendapat keringanan nilai dengan mengerjakan 100 soal esai -meski jumlahnya yang sangat banyak, itu dapat mengurangi bebannya akan nilai C yang ia dapat beberapa waktu lalu- ia juga dengan bahagia bisa mengunjungi toko buku 'itu' lagi. Sepertinya sebuah perasaan tengah mendorongnya untuk segera menuju kesana.
Langkah kakinya lebar dan cepat. Dengan senyum yang sedikit ia perlihatkan, Saka masuk. Sepasang manik hitamnya langsung tertuju pada meja kasir. Nihil. Wanita yang tiga bulan terakhir melayaninya ketika membayar buku yang ia beli tidak ada di sana. Orang lain. Ia mendapati orang yang berbeda.
Tanpa ia sadari, senyum yang sedari tadi ia tahan agar tak terlihat seperti orang gila sepanjang perjalanan tadi, pudar. Bayangan wanita dengan surai hitam sebahu dan mata bulat yang berbinar ketika berbicara dengannya melintas sejenak. Apakah ia kecewa?
🥀
Saka tengah duduk di koridor kelas. Dosen pembimbing sudah keluar sejak sepuluh menit lalu. Ia termenung. Entah mengapa suasana hatinya akhir-akhir ini tak bersahabat dengannya.
“Oi, Saka. Bengong aja lo. Kayak cewek aja, galau yaa..” bias suara yang sangat Saka kenal, Eza teman sekaligus sahabatnya.
Saka yang mendengarnya hanya diam. Enggan menjawab pertanyaan sekaligus tuduhan yang mungkin ada benarnya juga.
“Ah elah. Daripada lo bengong terus nanti kena sawan mending ngerjain tugas esai. Gue juga belum selesai.” Ya, Eza adalah salah satu mahasiswa yang rajin. Ia selalu mengumpulkan tugas tepat waktu atau malah sebelum deadline ia sudah mengumpulkannya.
Tentu berbeda dengan Saka yang meski selalu mengumpulkan tugas tepat waktu, ia juga sering bermalas-malasan dahulu. Alhasil ia harus bekerja dua kali lipat agar tugasnya bisa selesai.
“Kemana?” tanya Saka setelah diam beberapa saat.
“Perpustakaan aja gimana? Tenang, bisa lebih fokus.” Tawar Eza.Tanpa menjawab tawaran Eza, Saka bangkit dari duduknya dan segera melangkahkan kaki.
“Etdah bocah! Ditungguin malah ninggal. Dasar, ayan!” suara bass Eza menggema di lorong yang sepi ini. Saka tak acuh, ia lebih memilih melanjutkan langkahnya. Toh, nanti Eza juga akan menyusul.
Memasuki area perpustakaan, Saka dan Eza segera mengambil kursi di dekat jendela, saling berhadapan. Selain karena perpustakaan ada di lantai dua yang memungkinkan kita melihat aktivitas di luar sana, dekat jendela adalah tempat paling nyaman bagi mereka.
Udah kayak cewek pokoknya mereka.
“Saka. Lo galau gara-gara ga liat cewek di toko buku itu, ya?” tanya Eza setengah berbisik. Saka sudah pernah bercerita perihal penjaga kasir yang ia temui beberapa bulan terakhir.
Saka yang sudah siap dengan bolpoin dan buku tugasnya berhenti sejenak. Menatap Eza sebentar lalu mengangkat bahu tak acuh.
“Ceweknya putih, rambut sebahu lurus, matanya agak bulat. Iya ga?” Tanya Eza lagi. Ia tak putus asa meski Saka terus saja tak memedulikan pertanyaannya.
“Apa sih lo?” sewot Saka sembari terus menulis.
“Tinggal jawab iya atau engga juga.” Cibir Eza. Entah kenapa ia jadi sedikit cerewet kali ini.
“Iya.” Jawab Saka pada akhirnya.
“Orangnya yang itu bukan?” tanya Eza sembari menunjuk seorang wanita yang tengah duduk menghadap Eza namun tertutup oleh buku yang dibacanya dengan posisi berdiri.
Saka diam. Ingin menoleh, tapi mungkin Eza ngaco. “Bukan.”
“Ck! Lihat dulu bambang!” Suara bas Eza terdengar tengah menggeram kecil. Membuat Saka mau tak mau untuk menoleh ke belakang.
“Ga kelihatan kayak gitu juga.” Tanggap Saka ketika mendapati wanita yang dimaksud oleh Eza tertutup buku yang dibacanya.
“Setdah! Geser dikit biar kelihatan.” Ucap Eza seraya memukul bahu Saka. Saka yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya memutar mata malas.
Saka bergeser sedikit. Memberinya sedikit luang untuk melihat siapa yang Eza maksud. Deg! Benar yang Eza maksud. Dia wanita yang sama dengan penjaga kasir yang akhir-akhir ini melayaninya.
“Bener kan?” tanya Eza. Saka mengangguk.
“Kesempatan, bro. Lo harus ke sana. Ajak kenalan.” Titah Eza dengan semangat. Matanya berbinar melihat kebahagiaan temannya ini di depan mata.
“Harus ya?” Tanya Saka.
“Iyalah. Lo udah mau lulus. Siapa tahu dia awet sama lo.” Jawab Eza sekenanya.
Saka berpikir sejenak.
“Doain gue, bro.” Saka beranjak dari duduknya. Meletakkan bolpoin yang masih ia genggam sedari tadi. Eza mengangguk sembari mengacungkan jempolnya.
Jarak mereka mungkin hanya berkisar lima kursi.
“Hai.” Sapa Saka saat berdiri di depan wanita itu.
Wanita itu mengangkat kepalanya. Melihat siapa yang datang menghampirinya.
“Hai.”
“Boleh ikut duduk disini?” tanya Saka seraya menunjuk kursi di hadapannya.
Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Nama lo siapa?” tanya Saka.
“Frasa.” Tanggap wanita yang bernama Frasa itu.
“Oh, gue Saka. Senang bisa ketemu lo.” Saka mengangkat tangannya ke udara, isyarat untuk meminta berjabat tangan.
Frasa menggapai jemari Saka dan tersenyum hangat. “Lo bukannya yang suka beli buku itu kan?” tebak Frasa. Saka tersenyum lalu mengangguk.
“Bulan ini udah beli?” tanya Frasa lagi.
“Udah, tapi bukan lo yang jaga.” Saka berbicara apa adanya.
“Pasti hari Kamis?” tebakan Frasa tepat sasaran. Saka kembali mengangguk.
“Gue dapat jatah hari Senin sampai Rabu aja.” Jelas Frasa.
“Ah, pantes aja.” Saka mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ternyata dia hanya kerja tiga hari.
“Terus kalau lo ga jaga toko, kerja apa lo?” tanya Saka penasaran.
“Free aja sih. Belum ada pekerjaan yang nerima hari Kamis sampai Minggu.”
“Gitu? Gimana kalau ikut gue bisnis cuci helm?” tawar Saka. Bisnis cuci helm memang sedang tren di kalangan mahasiswa. Selain karena mudah, banyak peminatnya juga.
“Lo boleh ikut kapan aja.”
“Cara kerjanya gimana?”
“Gampang aja sih. Gue bertiga sama temen gue. Nanti kita bagi tempat. Biasanya sih satu dua gitu formasinya. Kalau lo mau ikut bisa jadi dua dua. Biar genap.” Jelas Saka dengan mata berbinar, sepertinya Frasa mulai tertarik.
“Boleh. Gue ikut mulai besok, ya?” Yes! Frasa menyetujuinya.
“Oke.” Saka menganggukkan kepalanya.
“Btw, lo kuliah disini?” lanjut Saka.
Frasa mengangguk. “Jurusan Sastra Inggris.”
“Pantes ga pernah lihat. Ternyata beda gedung.” Tanggap Saka.
“Lo?” Frasa kembali bertanya.
“Gue jurusan pertanian semester lima.” Jelas Saka.
“Kating dong. Maaf dari tadi ga sopan.” Frasa tersenyum canggung ketika mengetahui pria yang di depannya ini adalah kakak tingkat.
“Gapapa, santai aja. Lo semester berapa?” tanya Saka mengalihkan kecanggungan Frasa.
“Baru masuk bulan Oktober kemarin.”
“Oh gitu. Mm.. boleh minta nomor lo?” tanya Saka hati-hati sembari mengulurkan ponselnya ke udara.
Frasa awalnya hanya diam, sedetik kemudian ia menangguk dan menerima uluran ponsel dari tangan Saka. “Ini, udah.”
“Oke.” Jawab singkat Saka ketika menatap layar ponsel yang sudah berisi nomor Frasa sekarang.
Lengang sejenak. Tidak ada yang berbicara. Baik Saka maupun Frasa sama-sama tidak bersuara. Frasa kembali membaca buku yang dari tadi sudah dia letakkan di meja.
“Sa.” Panggil Saka.
“Iya?” jawab Frasa.
“Lihat ponsel lo. Gue pamit.” Ujar Saka cepat. Lalu bangkit dan melangkah kembali ke tempat duduknya di samping Eza.
Frasa hanya diam lalu membuka ponselnya.
085236439***
Sa. Tc.
Mau bangun cinta sama gue?
Kalau jawaban lo iya, cukup balas pesan ini.
Kalau lo ga mau, anggap aja angin berlalu.
Frasa diam dengan senyum samar di sana. Sedang Saka yang awalnya duduk berhadapan dengan Eza memilih duduk di samping Eza. Bukan tanpa tujuan, ia ingin melihat respon Frasa dari tempat duduknya.
Ting! Notifikasi ponsel Saka berbunyi.
Frasa✨
Kenapa harus bangun cinta?
Karena bangun cinta itu semangat.
Kalau jatuh cinta, sakit.
Namanya juga jatuh.
Read.
Lihat ke arah gue, kak.
Saka mengangkat kepalanya dari ponselnya. Menatap Frasa dari jarak kurang lebih 10 meter dari tempatnya duduk. Terlihat di sana Frasa tengah tersenyum sembari mengangguk mantap.
Saka tersenyum senang. Dadanya sesak oleh rasa bahagia yang tak dapat ia bendung. Dengan perlahan Saka mengeja sebuah kalimat tanpa suara. “Fra- sa-ka”
Frasa yang tengah menatap Saka, dengan perlahan membaca gerak bibir Saka yang tengah mengucapkan sesuatu. FraSaka! Gabungan nama mereka. Senyum kembali terbut dari wajah manis Frasa.
Sedangkan Eza yang menyaksikan adegan PDKT Saka dengan wanita yang belum ia ketahui namanya itu, hanya menghela napas pelan. Lagi-lagi ia jadi nyamuk.
“Sadar lo. Gue jadi nyamuk, bego!” Eza menepuk kepala Saka dengan buku setebal 300 halaman dengan cukup keras. Membuat Saka menoleh ke arah Eza dengan sebal.
“Dia nerima gue.” Gumam Saka pelan.
“Apa! Lo jadian?” tanya Eza terkejut.
“Bukan. Gue mau bangun cinta sama dia, Frasa.” Jelas Saka.
“Apaan dah bangun cinta.”
“Lo ga bakal ngerti. Lo kan jomblo.” Ujar Saka dengan tetap menatap Frasa dengan senyum tipis.
“Bodo amat lah kutil kuda!” Eza mengalah meski harus mengatai Saka yang tidak-tidak.
Frasa di tempat duduknya tengah tersenyum dengan lebar. Terlihat deretan gigi putihnya dengan mata bulat yang berbinar. Terlihat sangat manis. Kak, semoga keputusan gue tapat. Menatap senyum Saka yang tampak pudar muncul, membuat Frasa sadar bahwa ada seorang teman Saka yang mungkin sedang menginterogasi Saka.
Frasa bangkit dari duduknya setelah merapikan bukunya kembali. Membuka ponselnya sejenak dan mengirim pesan kepadanya seseorang.
Kak Saka✨
Gue pergi dulu.
Besok ketemu lagi.
See you tomorrow kak:)
Saka yang melihat pergerakan Frasa ikut bangkit. Sebelum ia melangkahkan kakinya. Suara notifikasi ponsel membuatnya berhenti sejenak. Dari Frasa. Setelah membaca pesan singkat yang Frasa kirimkan, Saka kembali duduk karena ketika ia mengangkat kepalanya Frasa sudah hilang dari pandangannya.
Bangun cinta. Kuno banget ya. Jaman serba modern gini masih aja percaya mitos 'bangun cinta lebih awet daripada jatuh cinta'. Sa, ini Saka. Gue bakal buktiin kalau membangun lebih kokok daripada jatuh lalu bangkit lagi.
🥀
Hari ini adalah hari wisuda Saka.
Menggunakan kemeja putih yang dipadu dengan jas hitam serta jubah toga dan tassel, rasanya Saka adalah mahasiswa paling bahagia sekarang ini. Cum Laude, gelar yang berhasil ia dapatkan setelah bekerja keras hingga menyita waktu bertemunya dengan Frasa.
Tak lupa, Frasa sudah ada di sampingnya. Kata Frasa, tak sulit untuk membangun cinta dengan Saka. Karena Saka yang sudah menarik perhatiannya sejak awal. Meski sempat beberapa kali terjadi pertengkaran kecil, nyatanya Saka bisa membuat keadaan menjadi lebih baik lagi. Saka, pria yang usianya lebih tua 2 tahun dari Frasa, dapat membawanya hanyut dalam cinta yang dibangun dengan dewasa. Kini ia tahu, cinta lebih baik dibangun daripada dijatuhkan.
“Sa, gue gugup.” Ujar Saka sembari menggosok kedua telapak tangannya.
“Ada gue disini. Btw, Mama sama Papa kakak kapan kesini?” tanya Frasa, mengalihkan rasa gugup yang tengah menyelimuti Saka.
“Mm...” gumam Saka sembari menoleh ke kanan kiri untuk melihat kedatangan orang tuanya. Frasa ikut mengekor arah mata Saka. Ia sempat bertemu orang tua Saka beberapa bulan lalu.
“Mama! Papa!” panggil Saka dengan melambai kecil ke arah mereka. Orang tua Saka menoleh. Lantas menghampiri anak laki-laknya yang sudah mendapat gelar sarjana itu.
“Saka! Selamat, nak.” Ucap Mama Saka sembari memeluk Saka. Sedangkan Papa Saka yang melihatnya tersenyum dari belakang.
“Om.” Sapa Frasa sembari tersenyum ke arah Papa Saka.
“Makasih ya. Kamu udah bantu Saka jadi sarjana Cum Laude.” Ujar Papa Saka dengan menepuk pundak Frasa pelan.
“Besok, kamu lulus Mama sama Papa langsung ke rumah kamu bareng Saka.” Ujar Mama Saka mengikuti obrolan Frasa dan Papa Saka.
“Kenapa ga sekarang aja? Biar sekalian halal.” Celetuk Saka dengan alis yang diangkat.
“Kalau nikah sekarang, gimana kuliahnya Frasa, hm?” tanya Mama Saka dengan senyum yang tak kunjung reda. Frasa tertawa tanpa suara mendengar jawaban Mama Saka.
“Sa, besok gue ke rumah lo bawa 2 lusin cinta.” Ujar Saka pada Frasa.
“Kok 2 lusin?” tanya Frasa tak paham dengan ucapan Saka.
“Jumlah 2 lusin itu berapa?”
“24.”
“Nah, itu. Aku akan mencintai kamu dan menjaga kamu selama 24 jam. Tanpa jeda, tanpa henti. 24 jam sampai napas terakhir.” Jelas Saka sembari merangkul Frasa. Mama dan Papa Saka yang melihatnya tersenyum, membiarkan sepasang kekasih ini bertukar rasa.
Frasa yang mendengarnya hanya tersenyum malu.
“Dengar itu, Sa. Kalau Saka ga tepatin ucapannya, pukul aja “ canda Mama Saka. Sontak ucapannya mengundang tawa mereka semua.
Saka dan Frasa. Dua mahasiswa yang malu-malu ketika bertemu bisa membuat sejarah cinta mereka dengan indah. Satu jalannya, membangunnya. Jangan biarkan rasa itu jatuh. Meski ada luka yang datang silih berganti, masih ada jalan yang bisa ditempuh untuk kembali membangun rasa percaya agar tak sakit lagi.
Kami mengajarkan pada kalian, cinta itu butuh pengorbanan. Termasuk ketakutan. Takut tidak bisa mencintai adalah alasan klasik yang sudah kuno. Yang ada sekarang adalah, membangun cinta dari nol untuk mendapat nilai sebanyak mungkin.
Tertanda
Saka dan Frasa