Seorang pemuda laki-laki berusia 17 tahun tampak sedang membaca sebuah buku di perpustakaan kota. Ia tampak sangat antusias dan membaca buku tersebut dengan saksama, dan buku yang ia baca berceritakan tentang sebuah dunia ajaib.
Berjam-jam telah ia lalui dan lewati, dan dirinya hanya membaca buku tentang dunia ajaib itu bahkan membacanya sampai selesai di hari itu juga.
Setelah selesai membaca dirinya mengembalikan buku tersebut, dan lalu segera pergi dari perpustakaan karena hari ternyata sudah petang dan akan segera menjelang malam.
"Aku pulang ...," ucap pemuda itu ketika memasuki rumah kecil dan sederhananya. Namun tidak ada yang menjawab ataupun menyambut kedatangan dirinya di rumah.
"Sepi seperti biasa," ujarnya sembari menata sepatu, menutup serta mengunci pintu, dan lalu segera menuju ke kamar untuk membersihkan diri sekaligus beristirahat.
Selesai dari kesibukannya di kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia langsung menuju ke kasur dan lalu merebahkan tubuhnya di atas sana.
"Andaikan aku memiliki sihir seperti dalam cerita buku itu, aku pasti tidak akan kerepotan dengan semua tugas-tugas sekolah," gumamnya terlentang sembari menatap langit-langit kamar.
Hufftt ...!!!
Ia menghela napas panjang nan berat seraya menutup matanya karena rasa kantuk dicampur lelah telah ia rasakan sedari tadi. Dan tanpa ia sadari, dirinya pun mulai perlahan ketiduran.
...
SreeKk ... SreeKk ...!
HUP ...!!
"Siapa pemuda ini?" terdengar suara seorang gadis ketika menemukan seorang pemuda laki-laki tengah tertidur pulas di tengah hutan.
DRAP ...!!!!
Pemuda yang dimaksudkan pun tiba-tiba terbangun dengan ekspresi sangat terkejut. Ketika ia terbangun, dirinya langsung melihat ke sekeliling yang hanya ada pepohonan rindang. Ia juga mendapati kalau dirinya terbangun di siang hari, yang seharusnya adalah malam jika seingatnya.
Ia tambah terkejut ketika mendapati seorang gadis cantik berusia sebaya dengannya, yang tiba-tiba ada di depan matanya. Dan juga gadis itu mengenakan pakaian seperti layaknya robot yang menambah kebingungannya.
"Halo? Apa kau tersesat?" tanya gadis itu keheranan karena ekspresi pemuda laki-laki itu yang hanya terpaku dan terdiam hanyut dalam kebingungannya.
"Ini pasti mimpi, 'kan? Atau pasti aku dipindahkan oleh setan ke tengah hutan seperti ini?!" racau pemuda tersebut yang justru tampaknya menakuti gadis itu.
Pemuda itu seketika menghentikan racauannya karena menyadari dirinya telah membuat gadis itu ketakutan karena sikapnya.
"Maaf, bolehkah aku bertanya?" ucap pemuda itu tampak mulai tenang.
"Bertanya? Tentu!" sahut gadis itu.
"Di mana aku?" tanya pemuda itu.
"Di mana? Kau sendiri tidak tahu dirimu barusan tidur di mana?" gadis itu kembali terheran-heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda itu padanya.
"Yang ku ingat terakhir aku pulang ke rumah sehabis dari perpustakaan kota, mandi untuk membersihkan diri, lalu berbaring dan mungkin ketiduran di atas ranjang." Pemuda itu mulai bergumam dengan sendirinya seraya mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelumnya.
"Kau ini aneh, ya?" cetus gadis itu.
"Ngomong-ngomong, pakaian apa yang kau pakai? Apa sedang ada acara cosplay di sekitar sini?" tanya pemuda itu kembali dengan keheranan menyaksikan baju yang tampaknya terbuat dari logam dan bersinar serta menyala kebiruan di tepinya. Di belakang atau di bagian punggung juga terdapat beberapa logam berwarna biru seperti mata pedang yang membentuk layaknya sebuah sayap.
"Hah? Cosplay? Kau sebut pakaian ini cosplay?! Apa kau tidak tahu dengan seragam ini? Kau ini aneh sekali, sih ...!" jawab gadis itu lalu terkekeh geli mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut si pemuda.
Jawaban tersebut sontak membuat si pemuda itu sangat bingung serta keheranan. Aneh? Pakaian seperti itu menandakan kalau dia sedang cosplay, bukan? Lalu apa maksudnya menyebut pakaian itu seragam?
"Kau kayaknya sakit, ya? Ayo ikut aku! Aku akan membawamu ke rumah sehat terdekat." Gadis itu tiba-tiba menarik salah satu tangan si pemuda untuk ikut dirinya.
"Eh? Tunggu, rumah sehat?"
"Bahkan rumah sehat pun kau tidak tahu? Dasar kau ini manusia jenis apa, sih?" sahut gadis itu.
"Di tempat asalku, tempat yang biasa menyembuhkan orang sakit itu namanya rumah sakit," sahut pemuda itu sembari terus berjalan menyeimbangi langkah si gadis.
"Rumah sakit? Lalu apa motivasi orang-orang sakit itu datang ke rumah sakit? Nama tempatnya saja sudah sakit," sahut si gadis yang justru menambah pemuda itu keheranan.
"Ya mereka datang untuk berobat agar sembuh dan kembali sehat! Lalu kenapa di sini malah namanya Rumah Sehat?!" sahut pemuda tersebut lalu memberikan pertanyaan kembali.
"Agar orang-orang sakit yang masuk ke rumah sehat itu bisa sembuh dan sehat, maka dari itu namanya Rumah Sehat," jawab gadis itu.
"Seharusnya nama di tempat asalmu diubah, tuh! Masa rumah sakit, sih?" lanjut gadis itu dengan bibir mengerucut dan melirik tajam pemuda yang berjalan tepat di sampingnya.
"Bodoh amat, lah. Aku tidak mau melanjutkan perdebatan tidak penting ini lagi," sahut si pemuda.
...
Mereka berdua pun terus berjalan menyusuri jalan setapak hutan menuju keluar hutan. Situasi tiba-tiba menjadi cukup canggung setelah perdebatan tidak penting itu.
"Ngomong-ngomong kita belum kenalan, ya?" cetus pemudai laki-laki menoleh kepada gadis yang berjalan di sampingnya.
"Modus!" sahut gadis itu memasang sikap cuek memalingkan wajahnya dari jangkauan pandang pemuda tersebut, namun di sisi lain dirinya malah cengar-cengir.
Pemuda itu menghela napas panjang setelah mendapatkan perlakuan cuek tersebut. Namun gadis itu akhirnya membuang sikap cueknya dan lalu memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, namaku Kalista La Vera, kau bisa panggil aku Kalista saja," ucap gadis bernama Kalista itu.
"Salam kenal, namaku Hirawan Iravan, kau bisa panggil aku Hira," ucap pemuda bernama Hira itu.
"Hira, nama yang menarik," gumam Kalista menyembunyikan tiba-tiba senyumnya.
~
Ketika mereka berdua berjalan keluar dari hutan tersebut. Hira dapat melihat sebuah perbatasan yang dijaga ketat oleh beberapa drone dan juga aparat di sana. Namun anehnya, beberapa aparat itu hanya bersenjatakan sebuah tongkat saja tanpa adanya senjata api layaknya aparat yang ia ketahui.
Hira dibuat terkejut juga oleh seragam para aparat itu yang juga menggunakan seragam logam, dan hampir sama dengan pakaian yang dipakai oleh Kalista. Namun pakaian yang dipakai Kalista memiliki perbedaan pada sayap pada punggungnya, karena para aparat itu tidak memiliki sayap pedang tersebut.
"Kalian berdua! Silakan lalu pemeriksaan sesuai prosedur!" pinta tegas salah satu aparat.
"Baiklah," jawab Kalista. Hira hanya mengikutinya saja.
Mereka berdua digiring untuk melewati sebuah lingkaran yang tergambarkan dengan sangat jelas di tanah yang kini mereka injak. Lingkaran tersebut tiba-tiba saja menyala berwarna hijau yang tentunya itu sangat mengejutkan Hira.
"Kalian aman, silakan masuk!" ucap salah satu aparat di sana.
Kalista pun berjalan memasuki perbatasan untuk menuju ke kota, tentunya diikuti terus oleh Hira yang berjalan di sampingnya.
"Aneh, ya? Padahal kau ini orang asing, tetapi lingkaran sihir itu mendeteksi kalau kau pribumi," gumam Kalista ketika berjalan melalui jalanan aspal bebatuan untuk menuju ke kota.
Pribumi? Apa maksudnya? Lalu dia mengatakan lingkaran sihir? Pertanyaan-pertanyaan itu berlalu-lalang di kepala Hira begitu saja.
"Bisakah kau jelaskan tentang dunia ini?" pinta Hira yang tentunya membuat Kalista terkejut dan tercengang.
"Apa? Kau ini lahir di mana, sih?" sahut Kalista terheran-heran.
Kalista menghela napas panjang dan lalu berkata, "baiklah, akan ku jelaskan singkat dasarnya."
"Sihir dan teknologi sudah berkembang sekarang, dan keduanya saling berkorelasi. Keduanya juga terus dikembangkan tanpa henti, dan sampai digunakan secara massal oleh orang-orang saat ini, bahkan juga dalam bidang militer atau pertahanan."
"Lalu yang kau tanyakan di awal tentang pakaian ku ini, aku akan menjelaskannya," ucap Kalista.
"Pakaian ini adalah seragam militer tingkat atas, dan memiliki beragam fitur yang disesuaikan oleh penggunanya masing-masing. Seragam ku ini juga memiliki sihir elemen dasar yaitu elemen angin, dan itu adalah elemen yang ku dapatkan sejak lahir."
"Lalu bagaimana dengan pedang di punggungmu itu?" tanya Hira.
"Oh ini?" sahut Kalista seraya mengulas tawanya. "Ini salah satu bagian dari seragam, dan tentunya juga digunakan sebagai senjata," ucapnya menjawab pertanyaan tersebut.
"Apa kau bisa terbang? Sihir yang ku lihat atau ku baca di buku dongeng itu ada yang bisa terbang," ucap Hira kembali bertanya dengan ekspresi polosnya dalam hal ini.
SET!
Di tengah Kalista ingin menjawab pertanyaan tersebut. Tiba-tiba langkah mereka berdua dihadang oleh empat orang pria yang tampaknya memiliki niat jahat. Dan keempat orang pria itu menggunakan seragam yang hampir mirip dengan Kalista.
"Hei, siapa orang baru itu?" tanya pria kesatu.
"Kalista, beraninya kamu jalan dengan lelaki lain selain aku, ya!" cetus pria kedua dengan wajah anehnya.
"Mau apa kalian?" tanya tegas Kalista yang tampaknya memasang sikap siaga di samping Hira.
"Aku hanya ingin melihatmu, sayang," sahut pria kedua.
Pria pertama tampak memberikan kode mata ke kedua rekannya selain pria kedua untuk melakukan sesuatu. Keempat pria itu tiba-tiba mengeluarkan senjata yang mereka miliki. Tiga pria menggenggam senjata api, serta satu lagi tampak dengan satu tongkat sihirnya.
"Hira, bersembunyilah! Biarkan aku mengurus keempat bedebah merepotkan itu," pinta Kalista kepada Hira. Hira pun berlari menuju balik sebuah kotak-kotak kayu yang tertata di pinggir jalan untuk berlindung.
"Kita akan urus bocah laki-laki itu nanti, sekarang kita urus gadis militer itu dahulu!" ucap salah satu pria kepada rekan-rekannya.
Mereka pun mulai menodongkan senjata ke arah Kalista yang berdiri berani di sana. Kalista lansung bersikap siaga dan diikuti oleh sayap pedangnya yang tiba-tiba bergerak naik dengan mata pedang ke arah empat pria itu.
Tanpa berbasa-basi lagi. Ketiga pria itu langsung menembaki Kalista serta serempak, sedangkan satu pria lagi tampak merapal mantra dengan tongkatnya.
DOR ... DOR ...!
WUUSSHH ...!!!
SLiingg ...!
Hira dibuat tercengang bercampur kagum namun juga cukup mengerikan menyaksikan pertempuran yang sedang terjadi di depan matanya.
Lantaran peluru-peluru yang melesat mengarah Kalista bukanlah timah melainkan bola-bola petir cahaya berwarna merah. Tiga pria yang menembak itu juga tampak merapal sebuah mantra, dan membuat pistol mereka bercahaya merah.
Hira juga dibuat kagum dengan aksi Kalista yang sangat handal dan ahli dalam pertempuran. Kalista loncat ke sana ke mari dan melesat ke langit untuk menghindari semua serangan itu. Beberapa serangan juga ia tangkis menggunakan mata pedang yang hadir sebagai sayap di punggungnya.
"Apa cuma segini doang kualitas bertarung kalian?" celetuk Kalista seraya terus menghindari serta menangkis serangan-serangan tersebut.
"Matilah ...!" ucap satu pria yang tampak merapal mantra dengan tongkat sihirnya.
Jdeerr ...!!!
Petir berwarna merah tiba-tiba menyambar Kalista yang beterbangan untuk menghindar serangan peluru. Petir tersebut berkali-kali menyambar tubuh Kalista tanpa henti dan tanpa ampun.
Hira tampak cemas melihat keganasan serta kekejaman petir tersebut yang menyambar tubuh Kalista tanpa henti. Bahkan akibat sambaran yang terus-menerus, dirinya sampai tidak dapat melihat keberadaan Kalista di sana karena cahaya petir yang menyilaukan.
"Hahahaha ...!!! Bagaimana?! Apakah kau masih meremehkan kami?!" teriak sang perapal itu.
DEG!
"Uhuk ..!!! Ke-kenapa? Apa yang ... terjadi?" perapal itu tiba-tiba saja tersungkur batuk-batuk dan melemah begitu saja. Berkat dirinya yang melemah, petir yang dibuatnya pun menghilang.
"Bagaimana? Apa energi sihirmu sudah habis?" cetus Kalista yang tampak baik-baik saja setelah semua sambaran petir yang ia terima.
"Sekarang giliran ku untuk menyerang, ya?" lanjut Kalista yang lalu melakukan sedikit tariannya dengan diiringi oleh beberapa mata pedang miliknya yang mengelilingi dirinya.
Dengan satu ayunan tangan dan mengarahkannya ke keempat pria tersebut. Pedang-pedang itu langsung melesat terhunus tajam ke arah mereka.
"Ampun ...!!!!" teriak empat pria itu berlutut ampun.
Jleebb ...!
Beberapa pedang milik Kalista pun menusuk tepat di samping dan mengitari mereka berempat membentuk sebuah kurungan yang mengurung mereka. Tampaknya Kalista memang sengaja untuk tidak membunuh keempat pria itu.
"Sedikit bumbu terakhir," ujar Kalista mendarat tepat di hadapan mereka berempat, dan lalu mengayunkan satu pergelangan tangannya memutar. Lalu terbentuklah sebuah lingkaran angin yang mengelilingi mereka berempat.
Setelah pertarungan singkat itu, Kalista yang merasa cukup puas bisa melawan empat penjahat yang lucu baginya. Dirinya pun menyerahkan sisanya kepada aparat-aparat yang ia panggil untuk memproses penjahat-penjahat itu sesuai hukum yang berlaku.
Hira berjalan menghampiri Kalista yang tampak baik-baik saja meskipun seragamnya kotor. "Apa perlu pergi ke rumah sehat?" gurau Hira yang lalu tertawa bersamaan dengan Kalista yang mendengarnya.
"Oh iya, ya. Padahal awalnya aku ingin mengajakmu untuk pergi ke rumah sehat, tetapi aku malah lupa," ucap Kalista sembari masih tertawa.
"Baiklah kalau begitu, mau terbang bersamaku?" tanya Kalista sekaligus mengajak Hira seraya mengulas senyuman manisnya.
Hira cukup dibuat tersipu berkat senyuman yang ia dapatkan. "Bo-boleh, di tempat asalku pun aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya bisa terbang, dan aku ingin mencobanya!" jawab Hira.
Kalista pun tiba-tiba merapalkan sebuah mantra untuk sepatu yang digunakan oleh Hira. Setelah itu ia menarik tangan Hira dan lalu meloncat terbang ke langit.
Lagi-lagi Hira sangat dibuat terkejut bercampur kagum dengan sihir Kalista. Dirinya bisa merasakan terbang tanpa harus naik pesawat hanya dengan Kalista yang menggandeng tangannya dan mengajaknya terbang. Entah mengapa Hira merasa sangat bahagia di momen ini, dan dirinya tak pernah merasakan hal bahagia ini sepanjang hidupnya
...
Dunia yang aneh, dan mengapa aku tiba-tiba berada di dunia ini? Segala sesuatu yang ada di duniaku pun ada di dunia ini, namun hanya ditambahkan sihir saja untuk membumbuinya.
Aku malah penasaran dengan dunia ini. Apakah keajaiban seperti di buku yang sebelumnya ku baca benar-benar ada di dunia sihir modern ini?
Memang benar sebelumnya aku pernah mengharapkan dunia yang ajaib seperti ini. Namun sepertinya tempat asal adalah tempat yang terbaik, mau sebagaimana susahnya dan sebagaimana buruknya.
Lalu bagaimana aku bisa kembali ke duniaku?
Meski begitu sepertinya aku akan baik-baik saja di dunia ini selama ada Kalista, walaupun tentunya aku tidak boleh terus-menerus mengandalkannya.
-Hira.
Selesai.