PRAANGG!!
"ANAK TIDAK BERGUNA! LEBIH BAIK KAU TIDAK DILAHIRKAN DI DUNIA INI!!"
.
.
.
Suara alarm jam berbunyi, membuat ku tersadar akan mimpi buruk ku. Keringat bercucuran, nafas terengah-engah. Tenang Jes, itu hanya mimpi. Ya benar, itu adalah mimpi.
Setelah tenang aku bangkit dari tempat ku tertidur. Berdiri dan mematikan alarm yang mengganggu. Ngomong-ngomong jam menunjukkan pukul 23.45, kenapa alarm berbunyi di jam segini? Apakah aku salah mengaturnya ya. Bodo amat lah...eh?
Tunggu, sepertinya ada sesuatu yang...menempel di kaki ku.
Walau dengan penerangan redup aku bisa merasakan cairan lengket berwarna merah. Seketika badan ku bergidik ketakutan, kenangan buruk terbayang dalam pikiran. Tidak Jes, tidak mungkin hahaha..m..mungkin ini hanya sirup yang tumpah.
Yah, itu harapan ku. Namun tak dapat di pungkiri...cairan ini berbau amis dan sangat menyengat. Aku ingin sekali muntah, lagi-lagi kenangan buruk muncul dalam pikiran, tsk.
PRAANGG!!!
Suara apa itu?! Dari suaranya...tidak mungkin. Suara ini berasal dari kamar kakak! T..tapi, seharusnya tidak ada siapapun disana. Karena...kamar itu sekarang sudah tidak ada penghuninya.
Dengan badan gemetar aku mengambil benda tumpul seadanya di kamar. Perasaan ku saja atau kamar yang ku tempati berubah? Lupakan, aku harus mencari tau siapa yang berani masuk ke rumah ini.
Aku mendekat ke kamar kakak yang berjarak 2 ruangan dari kamar tidur ku. Perlahan, aku mendengar teriakan yang membuat ku terdiam sesaat.
"SIALAN, KAU BERANI MEMBANTAH KU?!"
Suara tinggi ini...ibu? Dengan langkah berat aku mengintip di kamar kakak, terlihat seorang pemuda meringkuk gemetar. Luka gores terlihat, bahkan ada beberapa luka yang belum sembuh dan masih mengeluarkan dar*h. T..tidak mungkin, apa aku salah lihat? Kak...Chandra?
Kenapa kakak bisa di sini, kak Chandra...sudah tiada 2 tahun yang lalu. Sial, apakah ini mimpi? Namun, entah mengapa aku bisa merasakan air mataku sendiri.
"Ibu...kumohon...ini sudah malam"
"MEMANG KENAPA JIKA MALAM?! Kalian...kalian berdua, jika saja kalian tidak ikut campur masalah kami...AYAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA!"
BAAK!!
Suara pukulan terdengar lagi dan lagi. Kak Chandra hanya diam dan menerima semua serangan ibu. Wanita yang ku sebut ibu terlihat menyeramkan dan selalu saja menyiksa kami. Berhenti, kumohon...
"Berhenti...k..kubilang berhenti! Jangan menyiksa...kak Chandra"
Namun pukulan tak dapat di hentikan. Ibu terus menerus memukul kak Chandra dengan gelas pecah yang tajam. Bahkan kakak tak menengok sedikit pun ke arahku. Seakan...mereka tidak dapat melihat ataupun mendengar suara ku.
Kumohon kumohon, jika memang mimpi bangunkan aku dari ini semua. Hiks, aku tidak sanggup lagi melihat ini. Huaaa...ku bilang hentikan!
.
.
.
Suara alarm berbunyi, membuat ku terbangun dengan wajah pucat. Air mata membasuhi pipi ku, mata sembab dengan banyak keringat yang bercucuran. M..mimpi? Tapi kenapa kamar ini terlihat sama seperti yang ada di mimpi sialan itu. Aku..aku...aku ingin keluar dari mimpi buruk ini!!
Tanpa kusadari, tubuhku terlihat lebih kecil daripada anak 15 tahun lainnya. Seakan aku masih berusia 12 atau 13 tahun. Dan tubuhku...terdapat luka yang masih jelas ku ingat saat masih kanak-kanak dulu.
Aku meringkuk gemetar, bersabar menunggu mimpi buruk ini selesai. Jam menunjukkan pukul 23.45, sama seperti mimpi ku sebelumnya. Suara teriakan tak dapat dielakan. Pukulan, teriakan...berisik! Benar-benar menjengkelkan
Sadar Jessy, itu bukan kak Chandra asli, dia hanyalah ilusi. Benar, hanya ilusi. Dan wanita iblis itu juga tidak nyata...tidak nyata! Namun, kenapa bisa serealistis ini? Benci, aku benci kenangan ini! Wanita itu selalu menyakiti kami, pergilah dari bayangan buruk ku sialan!
Ketakutan ku membuat mata ku lelah, dan lama kelamaan tertidur dengan sendirinya. Suara mereka...lambat laun menghilang.
.
.
.
Suara alarm lagi-lagi berbunyi, terbangun di jam dan situasi yang sama. Luka di tubuh juga menandakan aku sedang ada di masa lalu.
Aku kembali terdiam di kamar dan melamun. Pandangan begitu kosong seakan aku sudah pasrah dengan mimpi ini. Suara ribut kembali terdengar, lagi dan lagi. Aku teringat akan sesuatu...
Ibu bersikap seperti ini bukan tanpa alasan. Ini terjadi saat kak Chandra berumur 8 tahun dan aku 6 tahun. Semula keluarga kami hidup dengan harmonis, damai, dan tidak pernah membuat masalah apapun. Seingat ku ibu dulu juga masih bersikap hangat kepada kami berdua. Tawaan terdengar di keluarga kecil kami.
Sampai...pada suatu hari saat pulang sekolah aku melihat ayah membawa wanita lain masuk ke kamarnya. Mungkin ayah tidak sadar karena aku pulang cepat pada waktu itu. Kepolosan mengantarkan ku ke kamar ayah. Terdapat celah di pintu, dan aku...melihat sesuatu yang seharusnya tidak ku lihat. Mereka melakukan hal menjijikan di dalam, bahkan aku ingin menghapus ingatan ku saat itu.
Pandangan ayah bersama wanita brengs*k melakukan hal mes*m di kamar. Aku memberitahukan kejadian ini kepada kak Chandra di waktu saat orang tua kami tidak ada di rumah. Kakak tau hal yang kulihat merupakan satu masalah yang bisa saja membuat orang tua kami bertengkar.
Namun kami selalu melihat wanita itu masih saja berdekatan dengan ayah tanpa sepengetahuan ibu. Kak Chandra juga tidak tega kepada ibu, beliau harus tau hal ini demi kebaikannya. Yah itu yang kami pikirkan...nyatanya setelah kami menceritakan apa yang dilakukan ayah...ibu berubah. Ia menjadi parno, selalu saja melamun, dan terdiam jika berhadapan dengan ayah.
Sampai kesabaran ibu di luar batas, ibu langsung meluapkan emosi nya kepada ayah. Pertengkaran menjadi makanan sehari-hari kami saat itu. Teriakan, suara barang pecah, selalu terdengar. Dan akhirnya, mereka bercerai. Hak asuh jatuh di tangan ibu.
Aku dan kak Chandra berpikir sudah tidak ada lagi keributan di rumah ini. Walau tak punya ayah, kami masih memiliki seorang ibu. Ha..Hahaha bego, wanita itu saja selalu meluapkan amarahnya kepada kami!
Apa yang ibu harapkan dari suami seperti itu? Apakah seharusnya kami tetap diam dan berpura-pura tidak ada sesuatu yang terjadi? Dia tau bahwa pria itu melakukan kesalahan, tapi kenapa kami yang di pukuli?
Pftt, alasannya sederhana. 'Jika tidak ada kalian, ibu dan ayah pasti akan selalu bersama' ...konyol, benar-benar konyol. Bwahahaha...haha...aku...tak bisa mengontrol emosi ku. Amarah, kesedihan, ketakutan bercampur menjadi satu.
Lagi-lagi mata ku terasa berat, hoamm...aku mengantuk.
.
.
.
Suara alarm lagi... Teriakan, bekas luka, semua masih sama. Waktu juga tidak berubah seakan...aku terjebak dalam mimpi dan waktu. Aku..aku bisa gila jika mendengar ini terlalu lama!
Aku berlari ke kamar kak Chandra, dan benar saja kejadian ini terulang kembali. Entah kenapa rasanya badan ku bergerak sendiri. Pandangan kosong seakan tak berani melihat ini semua, dan hanya menyisahkan indra pendengar saja. Kini...aku sudah dekat dengan ibu.
Buka matamu Jessy, kak Chandra butuh bantuan mu! Perlahan mata ku terbuka, mendapati kakak yang masih saja meringkuk. Lukanya...menjadi bertambah.
Kumohon, aku sudah berusaha memberanikan diri ku. Keluarkan suara dan wujud ku, agar ibu dapat melihat ku. Aku ingin mengubah nasib walau hanya dalam mimpi. Jika benar ini hukuman untuk anak nakal seperti ku... Kumohon...ampuni saja aku kali ini.
"BERHENTI!"
Seketika kakak dan ibu terdiam, mereka memandang ke arah ku. Akhirnya mereka mendengar dan melihat wujud ku.
Kak Chandra dengan wajah khawatir dan ketakutan seakan menyuruhku untuk pergi dari sini. Sedangkan ibu langsung menarik tangan ku dengar kasar dan mendorong ku sampai terjatuh di lantai. Sial, jika ini tidak nyata kenapa bisa sesakit ini?
"Jessy!"
Dengan langkah sempoyongan, kak Chandra berjalan ke arah ku. Pandangan hangat dan khawatir dari seorang kakak. Dasar, padahal keadaannya lebih parah dari ku. Dia...hiks, masih bodoh seperti dulu.
"Aku tidak apa..."
Aku rindu dengan suara kak Chandra, aku ingin memeluk dan menangis di pelukkannya....seperti dulu. Namun ini bukan waktu yang tepat, ibu membawa benda tajam di tangannya.
Aku berusaha berdiri dan menghampiri ibu.
"Kenapa kau bersikap angkuh seperti itu? Kau berani melawan ibu?!"
"Aku...benci kepada mu! Kau bahkan tak pantas di panggil ibu!"
"Anak kurang ajar! Jika saja kalian..."
"Jika saja kalian tidak terlahir di dunia ini, ibu dan ayah akan terus bersama? Maaf ya, aku sudah hafal kalimat itu di luar kepala. Dan aku...juga sudah muak"
Ucap ku sambil mengernyitkan alis. Genggaman tangan terasa di bahu ku, tangan hangat ini...kak Chandra. Dia berbisik...
"Jessy, pergilah sekarang! Aku tak mau kau terluka!"
Aku tersenyum...
"Kak, aku sudah muak dengan tingkah wanita ini. Aku harap kita berpikiran hal yang sama. Walau dia ibu yang melahirkan kita, namun...tak sepantasnya dia menyiksa kita berdua. Benarkan kak?"
Kak Chandra terdiam tak percaya, begitu juga ibu. Gadis kecil yang sedari dulu meringkuk ketakutan dan selalu bersembunyi di belakang saudaranya. Kini bisa menatap sang ibu. Ini adalah kalimat yang selalu ingin aku katakan. Wajah kak Chandra berubah, pandangan mengarah di belakang ku. Ibu...dia ingin memukul kita lagi?!
"Sialan kau!"
Refleks aku melindungi kepala ku dari pukulan ibu.
Brukk
Pelukan hangat terasa...kak Chandra memelukku dengan erat. Dia melindungi ku...aku ingin sekali memeluk kak Chandra lebih lama. Mimpi ini terasa sangat nyata, entah aku ingin bangun dari mimpi ini atau tidak.
Ku lihat belum juga sempat memukul kami, tangan ibu berubah menjadi butiran debu. Dan terus berlanjut sampai ke kaki...dia...lenyap?
Tunggu, jika ibu lenyap kakak...
"Kak Chandra?!"
"Ya kenapa Jessy?" *senyum
Jangan tersenyum bodoh, sedikit demi sedikit tubuh nya juga menjadi butiran debu. Hanya saja...lebih lama ketimbang wanita iblis itu.
"Hiks..huwaaa aku tidak ingin kehilangan mu tetaplah bersama ku"
Aku memeluk dan menangis di pelukan kak Chandra. Aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak ingin! Jika kau mati, ajaklah aku.Jangan tinggalkan aku dengan bayangan yang masih saja mengantui diri ku.
"Huwaaa kakak"
"Kau kenapa sih? Hahaha, jangan menangis Jessy. Seperti mau kehilangan aku saja"
"Memang! Kau memang akan meninggalkan aku sendiri!! Hiks, tolong jangan pergi"
Kakak terdiam, dari wajahnya ia tidak mengerti apa yang ku maksud. Bahkan sepertinya ia tidak menyadari ibu atapun dirinya berubah menjadi butiran debu. Tak lama senyuman terukir, kakak mengelus kepala ku.
"Hahaha siapa yang akan meninggalkan mu? Aku akan selalu bersama adikku yang paling imut ini. Dan yakinlah kakak akan selalu menemani mu Jessy"
Perlahan tubuh kak Chandra habis berubah menjadi butiran debu. Namun senyumannya masih ku ingat, perkataan tulus dan yakin, pelukan yang hangat, semua...semuanya. Aku...pasti akan selalu rindu momen ini.
.
.
.
Suara alarm berbunyi...
APA? ADA LAGI?!
Aku bergegas bangun dan melihat jam di alarm, pukul 06.00 pagi. Kamar ini juga berbeda dari mimpi. Dan tubuhku, seperti anak umur 15 tahun lainnya. Akhirnya...aku bisa kembali, huftt.
Aku terdiam sesaat dan memikirkan sesuatu. Bagaimana...jika aku mengunjungi nya ya? Sudah 1 tahun aku tidak berani berhadapan dengannya. Tapi...kali ini harus bisa.
Aku bangun dari ranjang dan bersiap diri. Mengenakan pakaian pink dengan motif kelinci. Ah, apakah ini terlalu kekanakan? Ganti dengan pakaian biasa sajalah!///
Setelah semua persiapan selesai aku berjalan ke halte terdekat. Dan sampailah...
Ke pemakaman...aku berjalan dengan hati-hati. Mencari nama yang kucari dan tak butuh waktu lama, akhirnya aku menemukannya.
Pemakaman dengan nama "Chandra" di sana. Aku mendekat dan terdiam. Tak lama aku teringat hal-hal yang selalu di berikan kakak kepada ku. Pelukan di dalam mimpi masih saja terasa. Entah ada di samping atau jauh dari pandangan,aku merasa dia selalu ada bersama ku. Aku tersenyum...
Jessy datang kakak, semoga kakak tidak marah karena aku jarang berkunjung. Jujur saja setiap melihat kakak di sini, aku tak punya keberanian untuk datang. Dan sepertinya aku mendapat hukuman...ah tidak, tapi pengajaran dari mimpi tadi malam.
Aku juga sudah keterlaluan, 1 tahun aku tidak berkunjung kemari.
Kakak khawatir lagi dengan ku kan? Aku baik-baik saja, wanita itu juga sudah tidak lagi tinggal di rumah kita. Jika kakak menganggap aku kesepian, yah itu memang benar hahaha. Tapi aku bersyukur tak ada lagi yang menyakiti ku.
Gara-gara wanita itu kakak jadi seperti ini. Ah tidak, maaf aku tau kematian ada di tangan Tuhan tapi tetap saja...
Yah sudahlah...
"Semoga kakak tenang di sana ya" *senyum
Aku berniat menaruh bunga di atas pemakaman kakak. Tunggu, aku baru sadar sudah ada bunga di sini. Rumput dan tanaman liar juga sudah di bersihkan. Apakah ada orang yang berkunjung selain aku? Kakak orang yang tertutup...siapa dia? Sudahlah itu malah lebih baik, ada orang selain aku yang sayang kepada kak Chandra. *senyum
"Aku akan sering berkunjung, jangan khawatir"