1
Dengan berbekal ijazah kesarjanaannya yang di dapat dengan susah payah yaitu dengan cara belajar tekun lebih dari empat tahun, Andika Sutrisno Anggara, SH (Sarjana Hukum), pergi ke jakarta dengan membawa sejuta harapan, kiranya dengan ijazah kesarjanaan yang didapatkannya dengan susah payah, dia akan mendapatkan pekerjaan yang enak. Sehingga dia bisa hidup mapan, dan bila mungkin kelak jika pulang kampung, dia bisa menunjukkan kebanggaannya pada teman-teman dan para tetangga sekampungnya. Namun harapan tinggallah harapan. Sampai sekian bulan dia berada
di Jakarta dan sekian ratus, surat lamaran dia kirim, tak satu pun pekerjaan yang berhasil dia dapatkan,
pulang Kampung?
Malu!
Sebab kalau dia pulang kampung tanpa hasil apa-apa di Jakarta, maka dia akan merasa sebagai pecundang. Sebagai seorang cowok, patang bagi Andika menyerah begitu saja. Maka dia pun memutuskan untuk tetap tinggal di jakarta, sambil terus berusaha mencari pekerjaan. Ya, siapa tahu suatu hari nanti nasibnya akan berubah.
Untuk bisa tetap bertahan hidup di Jakarta, Andika yang seorang sarjana pun akhirnya harus mau mengerjakan apa saja, meski pun itu pekerjaan kasar dengan upah yang kecil. Andika masih beruntung, karena di Jakarta dia punya sahabat yang baik, yang mau menampungnya, meski sahabatnya itu sendiri tinggal ngontrak dan bekerja sebagai buruh pabrik yang penghasilannya tidak seberapa. Sehingga dia tidak harus tinggal di emperan toko atau kolong jembatan.
Karena lebih sering nganggur ketimbang kerja- nya, membuat Andika akhirnya sering nongkrong dengan para pemuda yang juga tinggal di lingkungan itu. Sehingga akhirnya Andika pun berteman akrab dengan para pemuda pengangguran yang sering nongkrong dimulut gang.
Meski pun dia berteman dengan para pemuda pengangguran yang terkenal nakal dan suka usil, namun Andika senantiasa berusa untuk tidak berbuat seperti teman-temannya. Dia bahkan senan-tiasa tak melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim, menjalankan sholat lima waktu. Bahkan dengan harapan Allah akan memberinya jalan, tiap tengah malam Andika pun tidak lupa menjalankan sholat Tahajud. Ya, kepada siapa lagi dia akan memohon pertolongan dan perlindungan, kalau bukan pada sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa'ta'ala?
Sampai kini, Andika masih ingat nasehat dan wejangan kedua orang tuanya, ketika dia hendah pergi ke Jakarta.
"lebih baik puasa daripada harus mendapatkan makanan dari hasil kejahatan, anakku," begitulah ayahnya berpesan waktu itu.
"Ya, Pak."
"Satu hal lagi yang perlu kamu ingat."
"Apa itu, Pak?"
"Kamu boleh bergaul dengan siapa saja. Baik itu perampok, pembunuh, pencuri dan orang jahat lainnya, namun kamu harus bisa membatasi diri. Tetaplah ingat pada Allah. Karena hanya Dia-lah tempat memohon pertolongan dan perlindungan."
"Ya, Pak."
"Ingat, jangan sampai kamu tinggalkan sholat- mu..." pesan ibunya seraya menambahkan. "Hanya dengan sholat hatimu akan tenang. Dan hanya dengan sholat, kamu bisa membentengi imanmu sehingga kamu tidak akan terjerumus ke dalam lembah kenistaan."
"Ya, Bu."
"Kalau kamu nanti sudah bekerja, maka bapak berharap kiranya kamu jangan menggunakan aji mumpung. Kamu orang hukum, maka sudah semesti-nya jalan yang kamu tempuh pun harus sesuai dengan hukum yang telah kamu pelajari. Jangan malah bertindak KKN yang jelas-jelas melanggar hukum. Karena hal itu jelas sangat bertentangan dengan ilmu yang kamu pelajari."
"Tapi, zaman sekarang rata-rata pejabat KKN Pak."
"Biarkan saja mereka berbuat seperti itu. Yang penting kamu jangan ikut-ikutan. Bila perlu, kamu harus bisa menyadarkan mereka, kalau KKN itu salah dan dosa besar karena tindakan mereka menyengsara-kan rakyat."
"Tapi, bagaimana bisa kaya, kalau tidak KKN Pak?"
"Untuk apa kaya, kalau kekayaannya diperoleh dengan cara kotor, menghisap uang rakyat? Lebih baik hidup sederhana tapi mulia. Lebih baik miskin, tapi terpuji."
"Maka itu, Anakku. Agar kamu tidak terseret oleh arus kehidupan, kamu jangan sampai meninggalkan sholat lima waktumu. Dan kapan pun serta dimana pun kamu berada, hendaknya selalu mengingat Allah..." timpal ibunya.
"Ya, Bu, akan Andika ingat selalu nasehat bapak dan ibu."
Itulah petuah dan nasehat yang diberikan oleh ayah dan ibunya saat dia hendak pergi ke Jakarta Dan nasehat serta petuah kedua orang tuanya, sampai kini senantiasa Andika ingat. Sehingga meski pun sampai kini dia belum juga mendapatkan pekerjaan dan bergaul dengan anak-anak pengangguran lainnya, tapi Andika senantiasa tak pernah meninggalkan sholat lima waktunya. Bahkan, meski selama ini dia senantiasa mengalami kegagalan dalam mencari pekerjaan, tak membuat Andika kemudian kecewa dan putus asa. Dia terus berdo'a dan juga tak lupa melakukan sholat Tahajud di tengah malam, memohon kiranya Allah memberinya petunjuk serta jalan, agar dia bisa segera memdapatkan pekerjaan sebagaimana yang dia inginkan.
Budi, sahabat karib sejak kecil yang juga sekampung dengan Andika pun sebenarnya tidak tinggal diam. Sebagai sahabat yang baik, Budi pun senantiasa berusaha mencari-kan pekerjaan untuk temanya, dengan bertanya kesana-kemari. Namun sampai sejauh ini, Budi belum juga berhasil mendapat-kan pekerjaan untuk sahabatnya.
"Di pabrikmu bagaimana, Bud?" tanya Andika suatu hari.
"Susah, Dika. Sekarang aja sedang ada pengurang-an pegawai," desah Budi dengan wajah murung." Aku masih beruntung, oleh bos tenagaku masih dibutuhkan Kalau tidak, entah bagaimana nasibku."
Andika terdiam.
Begitu juga budi.
Untuk beberapa saat, kedua sahabat itu pun sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Budi kembali berkata, "Kamu jangan menyerah apalagi putus asa, Dika. Cobalah terus meng-irim lamaran ke perusahaan lain, siapa tahu siatu saat ada yang memanggil. Aku pun tak akab tinggal diam. Aku akan terus berusaha membantu menanyakan pada teman-teman, siapa tahu ada pekerjaan untukmu."
"Terimakasih. Bud. Kamu memang sahabatku yang baik. Tanpa bantuanmu, entah bagaimana aku..."
"Ah, lupakanlah. Apa yang kulakukan, belun seberapa dibanding kebaikan keluargamu pada keluarga-ku, Dika,"
Andika hanya bisa menghela napas panjang. Dia pun sebenarnya sudah kangen pada kedua orang tuanya. Namun rasa rindu dan kangen itu dia pendam dalam-dalam di hatinya. Dia sudah bertekad tak akan pulang kampung dengan kegagalan atau tangan hampa. Dia akan pulang kampung, setelah dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak dan baik di Jakarta sesuai dengan ijazah kesarjanaan yang dimilikinya.
Hari-hari pun dilalui oleh Andika dengan berharap dan menunggu, kiranya ada salah satu perusahaan yang dikirimi surat lamaran memang- gilnya untuk bekeraja. Dan sambil menunggu, Andika pun terus senantiasa berdo'a, memohon pada Allah agar kiranya dia cepat mendapatkan pekerjaan.
Tapi kapankah pekerjaan yang didambakannya dia peroleh?
Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.
Yang bisa dilakukan oleh Andika hanyalah ber- usaha dan berdo'a, kiranya Tuhan akan menolong- nya dan memberinya petunjuk. Sehingga dia akan segera mendapatkan pekerjaan sebagaimana yang diinginkannya.
***
2
Untuk mengisi waktu dan sekedar menghibur diri karena belum juga berhasil mendapatkan pekerjaan, Andika pun lebih banyak nongkrong di pos ronda yang ada di mulut gang bersama teman-temannya yang senasib sepenanggungan. Kalau tidak ngobrol, ya main catur, atau menggodai gadis yang kebetulan lewat. Dari pada mendekam seorang diri di dalam rumah kontrakan yang malah makin membuat pikiran tambah sumpek, bukankah lebih baik kumpul dengan teman-teman? Dengan ngobrol atau main catur, atau sekedar menggodai gadis yang lewat, sedikit banyak bisa melupakan penderitaan hidup yang sedang dialaminya. Atau kalau memang sedang milik, ada orang yang memberi pekerjaan. Ya, pekerjaan apa saja, yang penting menghasilkan uang yang halal. Yang penting tidak mencuri, mencopet, apalagi merampok. Itulah prinsip yang senantiasa Andika pegang sebagaimana yang disarankan oleh kedua orang tuanya.
Siang itu, ketika Andika dan teman-temannya sedang duduk-duduk kongkow di pos jaga yang ada di mulut gang, seorang gadis cantik berseragam sebuah SMU lewat.
Sebagaimana biasanya, jika melihat ada gadis lewat, maka teman-teman Andika pun akan usil menggodanya.
"Hallo, cantik? Pulang sekolah, ya?"
"Iya, Kak."
"Dimana rumahnya?"
"Itu..." Gadis cantik itu pun menunjuk ke rumah gedung bertingkat, yang membuat teman-teman Andika terpera-ngah, karena mereka tidak menduga sama sekali, kalau gadis cantik itu ternyata adalah anak orang kaya yang baru pindah di lingkungan mereka tinggal, yang menempati rumah besar dan megah serta mewah.
"Permisi, Kak, numpang lewat. Mari..."
Andika dan teman-temannya pun akhirnya tak bisa berkata apa-apa lagi atas kebaikan dan keramahan gadis itu. Sehingga mereka yang biasanya akan berusaha menahan kepergian gadis yang mereka goda, kini hanya bisa menganggukkan kepala, membiarkan gadis cantik putri orang kaya namun sopan dan ramah itu pergi.
Baru setelah gadis cantik itu pergi meninggalkan mereka, teman-teman Andika pun ribut sendiri.
"Gila, man! Manusia atau bidadari barusan?" gumam Mardi.
"Kenapa emangnya?" tanya Andika.
"Cantik sekali...!"
"Ya, namanya juga putri orang tajir!" gumam Yoyok.
"Tapi lain banget dia," kata Mardi.
"Lain gimana maksud kamu?" tanya Agus.
"Kebanyakan, gadis cantik apalagi putri orang kaya sombong. Tapi dia..."
"Iya, gumam Andika menimpali. "Jarang ada gadis seperti dia di zaman sekarang ini. Sidah cantik, putri orang tajir, tidak sombong, bahkan ramah lagi..."
"Mungkin karena dia belum mengenal kita jadi dia bersikap baik begitu," kata Agus.
"Aku rasa tidak, Gus. Aku rasa emang dasar sifatnya sudah naik."
"Mending kita buktikan aja besok. Bagaimana sikap dan tanggapannya terhadap kita, jika dia sudah tahu siapa kita," usul Agus.
"Baik. Aku setuju..."
Keesokan harinya, kembali Andika dan teman temannya pun menghadang gadis cantik putri orang kaya yang baru pindah. Kembali mereka menggoda, namun kembali gadis itu tidak menunjukkan sikap tak suka apalagi marah. Gadis cantik itu sebagaimana kemarin, tetap bersikap sopan dan ramah.
"Kamu tidak takut pada kami?" tanya Agus penasaran, belum yakin kalau gadis itu sungguh-sungguh memiliki sifat baik, sopan dan ramah.
"Apa yang harus saya takutkan?" balik gadis cantik itu bertanya.
"Orang lain, menganggap kami anak-anak beran-dalan, suka bikin resek. Itu sebabnya orang-orang segan pada kami. Bagaimana menurut penilaianmu?" tanya Andika.
"Saya tidak melihat hal seperti yang dinilai orang pada diri kakak semua. Saya malah menilai kakak semua baik dan ramah," jawab gadis cantik itu yang semakin membuat Andika dan teman- temannya kembali harus dibuat melongo bengong.
"Saya yakin, penilaian orang selama ini terhadap kakak semua salah. Kakak semua baik, benar kan?"
Mau tidak mau, Andika dan teman-temannya pun harus menganggukkan kepala.
"Kalau kakak-kakak orang jahat, tentu kakak-kakak sudah berbuat yang tidak-tidak sama aku. Tapi buktinya, kakak-kakak kan cuma menyapa. Bukankah menyapa orang lebih dulu merupakan ibadah? Bahkan dalam ajaran agama di jelaskan, bahwa pahala orang yang memberi salam lebih dulu pada orang lain, pahalanya tujuh puluh kali lipat dari orang yang membalas salam. Orang yang masih mau menyapa orang lain, itu tandanya kalai orang itu baik. Bukan begitu, Kak?" tanya gadis cantik itu sembari memandang Andika. Sepertinya gadis itu tahu, kalau Andika sampai saat ini adalah pemuda yang masih tekun menjalankan sholat lima waktu.
Mau tidak mau, Andika pun mengangguk.
"Baiklah, kakak-kakak semua, karena sudah siang, saya mohon pamit dulu. Saya harus berangkat sekolah, permisi..."
"Ya, ya, silakan..."
"Hati-hati...!" timpal Andika.
Gadis cantik itu tersenyum dan kembali memandang ke arah Andika sembari berkata,
"Makasih..."
***
Sejak keberadaan gadis cantk itu di lingkungan mereka tinggal, gairah dan semangat hidup Andika dan teman-temannya yang semula layu, kembali tumbuh. Senyum manis dan sahutan ramah serta sopan yang senantiasa ditunjukkan oleh gadis cantik putri orang kaya namun baik hati dan sopan itu, mampi membuat hati Andika dan teman-temannya terhibur.
Gadis cantik putri orang kaya itu, bukan hanya baik dalam sikap dan tutur katanya saja. Tetapi juga dalam sikap dan perbuatan. Tak jarang, dia membelikan Andika dan teman-temannya rokok atau makanan.
Seperti halnya siang itu, Andika dan teman-tamannya tengah duduk-duduk di pos jaga yang ada di mulut gang, gadis cantik itu tampak pulang sekolah dengan menjinjing sebuah kantong plastik.
Andika dan teman-temannya belum menyapa, ketika gadis cantik itu mendahului menyapa mereka, "Siang, Kakak-kakak?"
"Eh, Adik. Siang," sahut Andika.
"Lagi pada ngapain, Kak?"
"Ya, biasa. Nongkrong, ngobrol, main catur, dan..." sampai di situ Andika tidak meneruskan ucapannya.
"Dan apa, Kak?"
"Nunggu adik lewat," timpal Mardi.
"Ngapain nunggu aku?"
"Ya, pengin ngelihat senyum manis dan wajah cantik adik."
"Ih, Kakak bisa aja..."
"Suer! Kalau tidak ngeliat senyum manis dan wajah cantik adik sehari aja, kepala kami jadi pusing..."
"Kenapa memangnya?"
"Entahlah."
"Kakak bisa aja..."
"Itulah kenyataannya."
"Emangnya aku narkoba, yang bisa membuat orang ketagihan, sehingga kalau tidak ketemu dengan aku, kepala kakak-kakak bisa pusing?"
"Tidak tahu. Tapi begitulah kenyataannya."
"Oh ya, Kak. Aku ada sedikit rejeki buat kakak- kakak semua. Jika kakak-kakak semua menganggap saya teman, kiranya kakak-kakak mau menerimanya dengan ikhlas," kata gadis cantik itu sembari menyerahkan kantong plastik pada Andika.
"Apa ini?"
"Sedikit makanan dan rokok."
"Wah, kami jadi tidak enak sendiri..."
"Aku mohon, kiranya kakak-kakak mau meneri- manya. Karena saya memberinya juga dengan ikhlas..."
"Baiklah, terimakasih banyak."
"Sama-sama, Kak. Kalau begitu saya permisi dulu..."
"Ya. Sekali lagi, terimakasih banyak."
Gadis cantik itu pun kembali tersenyum, lalu berlalu meninggalkan Andika dan teman-temannya yang masih tertegun atas kebaikan yang ditunjukkan oleh gadis itu. Baru setelah gadis cantik dan baik hati itu menghilang dari pandangan mereka, Andika dan teman-temannya pun membuka isi kantong plastik pemberian tuh gadis. Dan ternyata isinya empat bungkus nasi serta dua bungkus rokok.
"Dia benar-benar gadis baik luar dalam, gumam Andika.
"Ya. Entah dengan apa kita bisa membalas kebaikan-nya," timpal Agus.
Begitulah. Sejak itu kini ada hiburan baru bagi Andika dan teman-teman setongrongannya, yang membuat mereka semakin bertambah betah nongkrong di mulut gang. Terutama saat pagi dan siang hari. Hiburan itu adalah lewatnya seorang gadis cantik putri orang kaya yang masih duduk di banku SMU, yang baru sebulan ini pindah dan menempati rumah bagus dan mewah yang ada di lingkungan itu. Meski gadis itu putri orang kaya, namun dia berangkat dan pulang sekolah tidak diantar atau dijemput dengan mobil. Dia justru malah lebih memilih jalan kaki dan naij angkutan umum. Dan gadis itu justru lebih memilih melewati gang di samping rumahnya, dimana Andika dan teman-temannya nong-krong, ketimbang lewat jalan besar yang ada di depan rumahnya yang mewah.
Karena kecantikkannya, membuat Andikavdan teman-temannya semula bermaksud iseng menggoda-nya. Namun gadis cantik itu tidak marah, tetapi malah membalasnya dengan sopan dan ramah. Bahkan senyumnya yang menawan, tak pernah lenyap dari bibirnya yang sensual. Itu pula yang membuat Andika dan teman-temannya jadi suka dan bahkan kemudian bersikap penuh persahabatan terhadapnya.
Tapi justru karena sikapnya yang ramah dan murah senyum itulah, sehingga membuat Andika dan teman-teman setingkrongannya malah segan padanya. Padahal kalau gadis lain yang lewat di gang itu, kemudian mereka sapa lalu jawabannya kurang enak, mereka bukannya takut, tetapi malah semakin menjadi-jadi. Memang benar peribahasa yang mengatakan, "Tutur kata yang halus, akan mampu membuat orang sejahat apapun jadi lemah."
Begitulah, hari-hari mereka lalui dengan penuh gairah dan semabgat semenjak kehadiran gadis cantik dan baik hati itu yang sampai kini belum mereka ketahui namanya. Dan rupanya, Andika serta teman-temannya pun seperti melupakan siapa nama gadis itu. Sehingga mereka juga lupa untuk menanyakan siapa namanya.
***
3
Sudah hampir tiga hari Andika dan teman-temannya tidak lagi melihat senyum manis dan ramah gadis cantik putri orang kaya itu. Senyum manis itu hilang bersamaan dengan ketidak munculan si pemilik, yang entah kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja, tanpa Andika dan teman-temannya tahu. Semua itu membuat Andika beserta teman-teman setongkrongannya jadi turut merasa kehilangan.
Dari sekian orang cowok yang nongkrong di mulut gang itu, Andika-lah yang benar-benar merasa kehilangan atas ketidak munculan gadis cantik dan ramah putri orang kaya itu. Jujur saja, sebenarnya sejak pertama gadis cantik itu pindah di kampung itu, dan sejak dia melihatnya, hati Andika sudah terpaut. Namun karena menyadari siapa dirinya dan siapa gadis itu, membuat Andika yang masih pengangguran akhirnya hanya bisa mengagumi gadis itu, tanpa berani mengutarakan isi hatinya.
Ya, apalah dirinya? Dia hanya seorang pemuda pengangguran yang tak punya siapa-siapa di kota Metropolitan ini. Dia tinggal bersama dengan sahabat baiknya, atau dengan kata lain dia numpang tinggal pada sang sahabat.
Ketidak munculan gadis cantik itu, benar-benar membuat Andika jadi merasa sangat kehilangan. Mulanya dia berusaha untuk memendam rasa kehilangannya dalam hati. Namun lama kelamaan, akhirnya hatinya tak mampu juga membendung rasa kehilangannya itu, sehingga akhirnya ia pun mencurah-kan juga rasa kehilangannya tersebut pada teman-temannya.
"Apa dia sudah lewat?" tanya Andika suatu pagi pada teman-temannya yang sudah lebih dulu nongkrong di mulut gang.
"Siapa?" tanya Agus.
"Si bunga Lily."
"Gadis cantik yang biasa lewat di sini maksud kamu?" tanya Mardi.
"Iya."
"Belum, tuh... ! Kami juga sedang menunggu- nya," tutur Yoyok.
"Hmmm... ada apa dengannya, ya? Kok sudah tiga hari dia tidak muncul?" gumam Andika
seperti bertanya pada diri sendiri.
"Iya. Aku juga sedang bertanya-tanya, kemana dia?" timpal Agus.
"Apa kagak mungkin dia pindah?" duga Yoyok.
"Masak sih? Dia dan keluarganya kan baru pindah kemari. Dan apa alasan mereka pindah? Mereka kan orang kaya," kata Andika
"Ya, siapa tahu mereka tak betah si sini," jawab Yoyok.
"Ah, aku rasa mereka tak pindah, Yok," tukas Agus.
"Ya, aku juga pikir begitu," timpal Andika.
"Terus, menurut kalian kemana tuh gadis?" tanya Yoyok.
"Itu yang aku kagak tahu, Nyong! Kalau aku tahu, kagak bakalan aku nyari-nyari!" sungut Andika.
"Naga-naganya, kamu tertarik ama tuh gadis, Dika?" goda Mardi.
"Ah, mana mungkin aku masuk nominasi bagi- nya?" sahut Andika dengan wajah murung.
"Kenapa memangnya?" tanya Agus.
"Iya. Kamu juga ganteng, Dika," timpal Yoyok.
"Guenya sih emang naksir sama doi. Tapi doinya..." Andika mengangkat kedua pundaknya sembari menger-nyitkan alis. "Selain putri orang berada, cantik lagi. Jika diumpamakan, ibarat si pungguk yang merindukan bulan. Manalah mungkin si punguk yang merindukan bulan. Manalah mungkin si punguk mampu menggapai rem-bulan?"
"Lho, yang namanya jodoh, Dika. Bisa aja," kata Mardi memberi dorongan semangat pada temannya.
"Ya, kalau jodoh. Kalau tidak...?" desah Andika. "Ah, sudahlah... sebaiknya kita tak usah membicara-kan hal yang tidak mungkin dapat kita raih. Aku merindu-kannya, karena dia sudah tiga hari ini tidak menam-pakkan batang hidungnya. Dan aku yakin, kalian pun tentunya merasakan hal sama sebagaimana yang aku rasakan..."
"Ya. Ada apa ya dengannya?" gumam Mardi.
"Iya. Sudah tiga hari dia tak tampak," timpal Agus.
"Apa mungkin dia sakit?" duga Yoyok.
"Bagaimana caranya agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Andika meminta pendapat teman-temannya. Namun yang dimintai pen-dapat, malah saling pandang satu sama lain, seakan mereka pun memintavpendapat satu sama lain.
Tak seorang pun yang memberi jawaban, sebab mereka juga tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Datang ke rumah cewek itu? Wuah, mereka tidak ada keberanian untuk itu. Gadis itu dari keluarga orang berada, terbukti dari tempat tinggalkan yang berada di rumah besar dan megah, dengan pintu gerbang dijaga petugas Satpam. Hanya saja, gadis cantik itu tidak sombong. Itu bisa dilihat dari caranya menunjukkan sikap yang ramah dan sopan, juga dengan tidak maunya pergi dengan diantar jemput pakai mobil. Padahal, sepertinya keluarga gadis itu punya banyaj mobil. Ya, gadis cantik itu memang memiliki banyak kelebihan. Menurut penilaian Andika, gadis itu bukan cuma cantik luarnya saja, tetapi juga cantik dalamnya. Ramah, sopan dan baik hati.
"Aku ada ide...!" desis Andika tiba-tiba.
"Ide apa?" tanya teman-temannya antusias.
"Kenapa kita tidak coba-coba tanya pada petugas satpam yang menjaga rumahnya?"
"Kamu berani?" tanya Agus.
Andika terdiam.
Ya, inilah persoalannya. Apa dirinya berani bertanya pada petugas satpam penjaga pintu gerbang rumah gadis itu? Lalu, apa jawabannya jika petugas satpam itu balik tanya apa maksudnya menanyakan gadis itu?
"Mending begini aja," kata Mardi.
"Apa...?" serentak semua temannya bertanya sembari mengarahkan pandangan mereka pada Mardi, ingin tahu saran atau pendapat apa yang akan disampai-kan oleh Mardi pada mereka untuk memecahkan persoalan yang ada, dimana mereka semua ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada si jelita. Sehingga sampai tiga hari, tak pernah terlihat.
"Ya, tunggu sampai dia keluar lagi," jawab Mardi sambil nyenger.
"Sial, kamu! Kami semua serius, eh kamu malah bercanda!" dengus Yoyok.
"Lagian, Kalian seperti mikir negara aja. Serius amat... Amat aja tidak serius. Dan pula, gadis itu toh bukan apa-apa kita," tukas Mardi.
"Bener sih, dia memang bukan apa-apanya kita. Namun selama inu dia sangat baik pada kita. Apa salahnya, kalau kita pun sedikit memberi peehatian kepadanya," tutur Andika memberi alasan.
"Ala, bilang aja kamu emang naksir sama dia," cibir Mardi.
"Kalau ya, kenapa emangnya? Tidak boleh?"
"Siapa yang larang. Yang penting, dianya mau tidak sama kamu?"
"Nah itu yang aku pikirin, Di. Tapi bagaimana juga sih, mensti dicoba."
"Berani emangnya kamu?" tanya Agus.
"Berani apanya?"
"Ya, berani nanggung resiko."
"Resiko apaan?"
"Ditolak..."
Semua tertawa ngakak, bahkan Andika pun turut tersenyum. Ya, apa yang dikatakan Agus memang benar. Jika dia ingin mencoba mendekati gadis cantik itu, maka dia harus berani menanggung resiko. Bukan hanya ditolak oleh gadis itu saja, tetapi bisa jadi resiko yang jauh lebih besar pun akan dia alami. Ya, misalnya di usir dan dimaki- maki oleh ayab gadis itu. Karena mereka orang kaya, sedangkan dirinya cuma anak pengangguran.
"Itu suatu tantangan," gumam Andika.
"Maksud kamu?" tanya Yoyok.
"Aku akan coba!" tegas Andika.
"Ngedeketin gadis itu?" tanya Mardi.
"Ya."
"Gila kamu... tidah salah?" gumam Agus.
"Tidak! Gua penasaran!" tegas Andika lagi.
"Wuah, kamu bener-bener nekad, Dika."
"Apa salahnya dicoba, ketimbang tidak sama sekali yang justru akan semakin membuat kita jadi penasaran. Dan sebagai langkah awal, gua akan memberanikan diri menanyakan sama petugas satpam rumahnya."
"Kamu bener-bener, nih?" tanya Yoyok masih tak yakin.
"Iya. Kalau kalian kagak percaya, akan aku buktiin nih hari juga!"
"Boleh, aku ingin tahu," sambut Mardi.
Tanpa banyak kata lagi, Andika dengan diikuti teman-temannya bergegas meninggalkan mulut gang, masuk kembali menuju ke rumah besar dan megah yang dihuni oleh keluarga gadis cantik itu.
Sementara Andika menuju ke pintu gerbang rumah megah itu, teman-temannya memperhatikan taruhan, apakah Andika benar-benar berani atau tidak.
"Gimana? Berani taruhan?" tanya Mardi.
"Boleh. Gua yakin dia kagak berani!" tegas Yoyok.
"Gimana dengan kamu, Gus?"
"Naga-naganya tuh anak nekad."
"Jadi, kamu pegang dia berani?" tanya Mardi.
"Boleh, lah. Berapaan?"
"Jeban-jeban," kata Mardi.
"Baik. Gua pegang dia berani. Nih uangnya." Agus menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan pada Mardi yang menjadi pemegang uang, sekaligus bersama dengan Yoyok dan yang lainnya memegang taruhan kalau Andika tak akan berani menanyakan gadis itu pada petugas satpam yang menjaga rumah besar dan megah itu. Tapi Mardi dan Yoyok juga yang lainnya harus terperangah, ketika dilihatnya Andika benar-benar nekad mendatangi pos penjagaan dimana dua orang petugas satpam yang sedang dinas jaga berada.
"Nah, aku menang!" seru Agus girang.
Teman-temannya pun mengeluh, dan mau tidak mau menyerahkan uang taruhan pada Agus.
Saat itu, di depan pos penjagaan, Andika tengah ngobrol dengan kedua petugas satpam yang jaga di rumah itu.
"Pagi, Pak..."
"Pagi. Ada apa, ya?"
"Mau tanya, Pak. Gadis yang sering lewat gang itu, yang tinggal di rumah ini, kok sudah tiga hari tidak kelihatan? Kemana, Pak?" tanya Andika.
"Oh, Non Rita."
"Jadi, itu namanya, Pak?"
"Itu nama panggilannya. Nama panjangnya sih Prita Anggun Lestari," tutur petugas satpam seraya bertanya, "Ada apa sih memangnya?"
"Tidak apa-apa, Pak. Cuma ingin tahu saja. Dia telah banyak berbuat baik pada saya, Pak. Jadi saya bermaksud mengucapkan banyak terimakasih kepada-nya. Namun sudah tiga hari ini, saya tak bertemu dengannya. Kemana dia, Pak?"
"Dia memang anak yang baik dan sopan. Walau dia putri orang kaya, namun dia tak pernah menunjuk-kan kesombongan. Kami pun suka kepadanya."
"Iya, Pak. Begitu juga saya, merasa sangat banyak berhutang budi padanya. Ingin rasanya saya bisa bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih atas semua kebaikannya. Namun sayang, sudah tiga hari saya tak berhasil menemuinya. Itu sebabnya akhirnya saya pun nekad kemari," tutur Andika.
"Non Rita ada di rumah sakit," desah petugas satpam dengan wajah murung.
"Di rumah sakit?" ulang Andika dengan kening mengerut.
"Iya."
"Kalau boleh saya tahu, rumah sakit mana, Pak?"
"Harapan Bunda," jawab petugas satpam mem-beritahu.
"Harapan Bunda Pasar Rebo?"
"Ya."
Andika manggut-manggut.
"Memangnya sakit apa, Pak?"
"Entahlah. Kami kurang tahu. Kami cuma mende-ngar malam itu nyonya dan tuan menjerit histeris, lalu menyuruh kami menghubungibrumah sakit dan dokter. Setelah itu, Non Rita dibawa ke rumah sakit," tutur petugas satpam.
Andika kembali manggut-manggut mendengar penuturan petugas satpam itu, namun hatinya bertanya-tanya, sakit apa yang dialami oleh gadis cantik jelita dan ramah serta murah senyum bernama Prita itu.
"Baiklah, Pak. Kalau begitu terimakasih," kata Andika kemudian.
"Sama-sama."
"Permisi, Pak..."
"Ya..."
Andika pun berlalu meninggalkan pos penjagaan, meninggalkan kedua petugas satpam itu hanya tampak saling pandang, seakan saling bertanya pada rekan masing-masing, siapa pemuda itu dan apa maksud sebenarnya dari pemuda yang lumayan tampan itu.
"Bagaimana, Dika?" tanya Agus menyambut.
"Rita di rumah sakit."
"Oh, jadi namanya Rita?" gumam Mardi.
"Ya."
"Wah, kami sungguh tak menduga, Dika," komentar Yoyok.
"Menduga apa?"
"Kamu ternyata berani juga."
Andika cuma tersenyum-senyum mendengar pujian temannya.
"Kami jadi kalah," keluh Yoyok.
"Kalah?" kening Andika mengerut. Kemudian bertanya ingin tahu apa maksud Yoyok yang sebenar-nya dengan mengatakan kalah. "Kalah apaan?"
"Kalah taruhan."
"Taruhan apa?" tanya Andika lagi ingin tahu.
"Taruhan, apa kamu berani atau tidak. Eh, ternyata kamu berani nanya sama petugas satpam keluarga itu. Padahal, kami bertaruh kalau kamu kagak beraani. Cuma Agus saja yang megang kamu berani. Jadi, Aguslah yang menang taruhannya," tutur Yoyok.
"Berapa-berapaan taruhannya?" tanya Andika.
"Jeban-jeban."
"Wah, kamu dapat duit lumayan dong, Gus."
"Ya, dasar rejeki," jawab Agus sambil nyengir. "Bagi aku, dong," pinta Andika.
"Beres."
"Aku mau ke rumah sakit, Gus."
"Ngapain?"
"Jenguk doi."
"Gila, kamu. Kamu benar-benar nekad, Dika."
"Entahlah. Yang jelas, hati aku belum tenang jika belun bertemu dengannya dan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya," tutur Andika dengan wajah menunjukkan kesungguhan.
Teman-temannya pun cuma bisa saling pandang dengan wajah heran dan kening mengerut mendengar penuturan Andika. Namun mereka pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya bisa menarik napas panjang. Mereka sadar, kalau Andika tampaknya tertarik dan jatuh hatu pada gadis itu. Dan mereka pun sebenarnya mendukung namun yang menjadi persoalan, apakah mungkin Prita yang cantik jelita dan putri anak orang kaya itu akan mau menerima cinta teman mereka yang masih pengangguran dan bukan anak orang berada? Andika memang orang sarjana. Namun toh kenyata-annya sampai kini dia masih jadi seorang sarjana pengangguran, belum bekerja dan tak berpenghasilan tetap.
"Sebagai teman, kami mensukung kamu Dika. Tapi, kamu yakin dengan perasaan kamu itu?" tanya Agus meminta kepastian, sembari memandang lekat ke wajah temannya.
"Maksud kamu, Gus?"
"Kami fahu, kamu sepertinya suka sama Rita. Tapi, apa mungkin cinta kamu tidak bertepuk sebelah tangan?"
"Kita harus mencobanya, bukan? Kalau kita belum mencoba, mana kita tahu apakah Rita suka padaku atau tidak?" jawab Andika.
Teman-temannya kembali hanya bisa saling pan-dang sembari mengerutkan kening dan mengangkat kedua pundak mereka. Sebagai tanda kalau mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah keinginan Andika.
Siang harinya, seusai menjalankan sholat Dzuhur, Andika pun memutuskan untuk pergi menjenguk Prita di rumah sakit. Hatinya belum tenang, sebelum dia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana keadaan gadis cantik dan baik hati itu sebenarnya.
***
4
Prita sungguh di buat terkejut bercampur haru, karena tak menyangka kalau Andika, salah seorang cowok yang sering menggodanya bila dia berangkat dan pulang sekolah lewat gang dimana Andika dan teman-temannya nongkrong, datang dengan membawa karangan bunga.
"Assalamu alaikum?" sapa Andika.
"Wa'alaikum salam..." sahut Prita. "Kak..."
"Andika," sahut Andika mempeekenalkan diri.
"Kak Andika, dari mana tahu aku disini?" tanya Prita.
"Tiga hari kamu tidak muncul. Itu sebabnya kami merasa kehilangan dirimu. Maka akhirnya kuberani-kan diri bertanya pada petugas satpam rumahmu. Dari merekalah aku tahu kamu sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini," tutur Andika.
"Terimakasih atas perhatian yang Kak Andika berikan," desah Prita dengan wajah menunjukkan keharuan.
"Lupakanlah... semua kulakukan karena kebaik- kanmu juga. Sungguh, aku dan teman-temanku benar-benar merasa kehilanganmu," tutur Andika.
Prita tak menyahuti. Gadis cantik yang murah senyum dan ramah itu, tampak terdiam dengan wajah murung.
"Maaf, jika boleh aku tahu, kamu sakit apa?" tanya Andika.
"Tidak apa-apa," desah Prita dengan suara petir.
"Aku berharap kamu cepat sembuh. Sehingga kamu akan kembali sekolah dan melewati gang dimana kami nongkrong. Kami sangat merindukan senyummu, Rita."
"Makasih..."
Keduanya terdiam beberapa saat dengan perasaan masing-masing. Sampai akhirnya, Andika kembali membuka kebisuan dengan memanggil nama gadis camtik itu, "Rita..."
"Ya?"
"Ehm... boleh aku... jadi temanmu?" pinta Andika dengan suara agak terbata.
Prita berusaha tersenyum, walau tampak getir. Kemudian dengan bibir tersenyum tipis, gadis cantik jelita itu menganggukkan kepala.
"Sungguh?" tanya Andika meminta ketegasan.
Kembali Prita menganggukkan kepala dengan bibir masih menyunggingkan seulas senyum tipis.
"Terimakasih, Rita. Kamu memang baik. Aku benar-benar senang dan bahagia, karena kamu mau menerimaku sebagai temanmu," desah Andika dengan senyum mengem-bang di bibirnya, dan dengan wajah menunjukkan keharuan serta kebahagiaan. Haru, karena dia tak menyangka kalau Prita akan mau menerimanya menjadi teman. Bahagia, sebab keingin-annya bisa terpenuhi. Biarlah hanya menjadi teman, asalkan dia bisa mengenal gadis jelita yang telah membuatnya terpesona.
"Aku juga senang kok bisa berteman dengan kakak," balas Prita.
"Oh ya, Rita. Boleh aku tanya?"
"Kakak mau tanya apa?"
"Kuharap kamu jangan marah."
"Tidak. katakan saja..."
"Kamu sakit apa?"
"Aku tidak sakit apa-apa."
"Kok harus dirawat di rumah sakit?"
"Hanya masalah kecil."
"Boleh aku tahu?" desah Andika.
"Untuk apa kakak ingin tahu?" Prita balik bertanya dengan mata memandang lekat ke wajah Andika, seakan ingin tahu, apa maksud cowok itu yang sebenarnya.
"Tidak untuk apa-apa. Kalau memanh tak boleh, juga tidak apa-apa. Lupakan," desah Andika lirih dengan wajah menunjukkan rasa penyesalan, karena dia telah lancang bertanya yang menyangkut privasi orang lain. Padahal, Prita baru saja mau menerima-nya sebagai teman, tak seharusnya dia berlebihan dalam menyikapinya.
"Tak apa. Aku percaya pada kakak. Biarlah kubagi cerita dukaku padamu." desah Prita lirih.
"Jika itu merupakan privasi-mu, sebaiknya tak perlu beritahu padaku," cegah Andika.
"Tak mengapa. Dan rasanya tak mungkin kupendam sendiri di dalam hati, yang akan semakin membuat dadaku terasa nyeri," keluh Prita.
"Kamu percaya padaku?" tanya Andika.
Prita mengangguk.
"Sekali lagi, terimakasih..."
Gadis cantik itu kembali tersenyum.
"Aku tak sakit apapun. Aku kemari, karena hendak bunuh diri," tutur Prita.
"Bunuh diri?!" ulang Andika dengan kedua mata membelalak kaget, tak menyangka akan mendengar hal itu. Kemudian dengan wajah menunjukkan rasa tak percaya akan apa yang baru saja gadis cantik itu, Andika bertanya, "Apa yang terjadi? Sehingga membuatmu sampai berpikiran pendek hendak mengakhiri hidup-mu?"
"Menyakitkan," dasah Prita dengan wajah seketika berubah murung.
"Boleh kutahu?" pinta Andika hati-hati.
Prita mengangguk. Matanya lekat menatap ke wajah tampan Andika. Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa ingin curhat dengan cowok itu. Dan entah mengapa, dia merasa kalau cowok itu bisa dipercaya.
"Aku bertengkar dengan pacarku," tutur Prita.
"Ohh..." keluh Andika.
"Malam itu, kupergoki dia sedang berjalan mesra dengan gadis lain. Kudatangi dan kuhadapi dia. Kami pun bertengkar. Pengkhianat dan penipu itu yang dulu saat merayuku mengatakan hanya aku seorang yang dia cinta dan sayangi namun kenyataannya apa yang dikatakannya dusta belaka, bukannya menyesali perbuatannya, dia malah menghinaku di depan gadis itu. Hatiku sakit. Aku pun kecewa. Kemudian kuputus-kan untuk mengakhiri hidupku saja, daripada harus menanggung kekecewaan..."
"Keterlaluan!" dengus Andika tanpa sadar.
"Kata-kan, siapa namanya dan dimana dia tinggal?" tanya Andika tanpa sadar.
"Untuk apa kakak tanyakan hal itu?"
"Biar kuberi dia pelajaran, dan jangan sebut namaku Andika, kalau tidak bisa memaksaknya untuk meminta maaf padamu atas apa yang telah dilakukan-nya yang telah menyakiti hatimu!" dengus Andika sembari mengepalkan tangan kanannya yang kemudian memu-kulkannya ke telapak tangan kiri. Hal itu membuat Prita seketika terperangah dengan mata semakin lekat menatap ke wajah tampan cowok itu. Sungguh, Prita benar-benar tak menyangka, kalau Andika begitu perhatian sekali padanya. Sampai-sampai, cowok otu tampak turut geram dan marah setelah mendengar penuturannya.
"Kak Andika..."
"Oh eh... Ya? Ada apa, Rita?"
"Terimakasih atas perhatianmu, namun kuras Kakak tak perlu menghajarnya. Aku sudah memikir-kannya untuk melupakannya. Aku sadar, di dalam bercinta pasti ada batas akhirnya. Aku tak mau memaksanya untuk tetap mencintaiku, kalau memang dia sudah tak ingin lagi bersamaku. Sebab kupikir, jika dipaksakan malah akibatnya justru tidak baik bagiku."
"Kamu memang baik, Rita. Sungguh bodohnya cowok itu, yang menyia-nyiakan dirimu," desah Andika.
"Mungkin di dalam pandangan kakak, aku baik. Tidak di pandangan cowok lain."
"Bukan hanya aku saja yang menilaimu begitu, Rita. Tetapi semua temanku pun mengatakan kamu gadis baik. Dan aku yakin, orang lain pun akan mengatakan hal yang sama sebagaimana penilaianku dan juga penilaian teman-temanku kepadamu," tutur Andika menyakinkan.
"Nyatanya, dia tidak seperti kakak dan orang lain. Di matanya, aku banyak memiliki kekurangan di banding-kan gadisnya yang baru," desah Prita dengan wajah murung.
"Apa kamu masih menginginkannya? Jika memang kamu masih ingin dia bersamamu, aku berjanji akan membawakannya untukmu," kata Andika.
Prita menggelengkan kepala.
"Tidak, Kak. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Biatkanlah dia dengan jalan hidup yang telah dipilihnya," desag Prita lirih dengan wajah tampak merenung.
"Baiklah, rasanya aku sudah terlalu lama meng-ganggumu. Maaf, aku harus pamit," kata Andika minta ijin. "Kuharap engkau cepat sembuh, agar kamu bisa kembali sekolah dan aku bisa kembali menyapa dan menikmati manisnya senyummu..."
Prita hanya tersenyum dan menganggukkab kepala lemah.
"Sampai nanati, Rita. Semoga kamu cepat sembuh."
"Kak Andika..."
"Ya?"
"Terimakasih atas kunjungannya."
Andika tersenyum.
"Sama-sama. Assalamu alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." balas Prita.
Andika pun kemudian melangkah meninggalkan ruang perawatan dimana prita berada.
Selang tak begitu lama Andika keluar dari ruang perawatan itu, dari luar masuk seorang wanita separoh baya namun masih tampak muda dan cantik, wajahnya mirip dengan Prita. Dan tentunya, wanita separoh baya itu, kalau bukan kakaknya, tentulah ibu Prita. Melihat wajah Prita yang agak berseri, wanita. separoh baya itu tersenyum.
"Siapa pemuda yang baru saja keluar dari sini?" tanyannya.
"Kak Andika."
"Anak mana?"
"Tetangga."
"Kenal dimana kamu dengannya?"
"Di gang."
"Anak yang suka nongkrong di mulut gang itu?"
Prita mengangguk.
"Sebaiknya kamu jangan berhubungan dengan anak-anak berandal itu, Rita." larang wanita setengah baya itu mengingatkan.
"Kenapa memangnya, Ma? Kak Andika baik. Mereka sebenarnya baik, asalkan kita juga bersikap baik pada mereka," tukas Prita dengan wajah menunjukkan rasa kurang senang atas sikap ibunya terhadap anak-anak yang biasa nongkrong di mulut gang yang salah satunya adalah Andika. "Jika dilihat dari luar dan sekilas saja, memang tampaknya mereka urakan. Tapi justru di balik sikap urakan mereka terdapat keterbukaan dan kesetiaan. Tidak seperti penipu itu. Tampangnya diam dan baik tetapi nyatanya apa?"
"Hei, kenapa kamu membelanya?"
"Karena kak Andika memang patut dibela. Dia baik, sementara mama malah menuduhnya yang tidak-tidak," sungut Prita dengan wajah menunjukkan rasa kurang suka atas sikap ibunya terhadap Andika.
"Kamu tampaknya menyukainya, eh?"
"Kalau ya, kenapa memangnya, Ma?"
"Jangan bikin malu keluarga, Rita."
"Rita memang sudah membikin malu keluarga dengan niat hendak bunuh diri. Namun perlu mama tahu, semua ini juga karena mama. Bukankah mama yang memperkenalkan Gilang pada Rita? Dan mama pula yang mendorong-dorong Rita agar mau menerima cinta Gilang? Mama katakan, Gilang anak baik. Gilang anak keluarga terhormat yang bisa mengerti perasaan Rita. Tapi apa yang terjadi, Ma? Apa...?! Dia tak lebih dari seorang penipu dan bajingan! Karena itu, Ma. Sebaiknya mama jangan lagi mencampuri urusan Rita. Dan Rita ingatkan, Ma. Jangan memandang orang cuma dari segi materi serta laurnya saja. Dan jangan menilai seseorang dari keluarganya. Belum tentu kak Andika yang orang tak punya memiliki sifat buruk. Tapi sebaliknya, Gilang yang kata mama dari keturunan keluarga terhormat, sikap dan perbuatannya justru memuakkan!"
"Terserah apa katamu. Namun yang jelas, mama tidak setuju dan tidak suka kamu bergaul apalagi berhubungan dengan anak pengangguran dan berandal itu! Apa sih sekolah mereka, paling bantet cuma tamanatan SMU!" tegas ibu Prita dengan wajah menunjukkan rasa ketidak sukaan jika ingat pada anak-anak muda yang nongkrong di mulut gang dekat rumahnya.
Prita terdiam. Dia tak ingin dan tak mau berdebat dengan ibunya, karena dia merasa percuma saja. Ibunya tetap saja tak akan mau mengalah. Ibunya selalu saja merasa dirinya paling benar.
Mungkin memang Andika dan teman-temannya cuma tamatan SMU. Tapi sikap dan tingkah laku mereka yang tampaknya urakan, sebenarnya penuh dengan tanggung jawab dan kesetiaan. Itu bisa dilihat dari cara hidup mereka, yang saling bantu dan saling dukung satu sama lain. Bahkan terkadang, rokok pun mereka join.
Prita hanya bisa manarik napas panjang dan dalam.
***